DENDAM 10

2355 Words
Yayu meremas tangannya yang saling bertautan, jantungnya berdegup kencang. Entah apa yang terjadi padahal sebelumnya dia sudah pernah ketempat itu. Di tatapnya langit penuh awan bergerombol. Dia berdo'a dalam hati semoga keputusan yang dia ambil tepat. Di angkatnya barang bawaannya menuju tempat itu. Dan disinilah dia sekarang lantai 20 rumah sakit Fajar Medical. Dia mencoba mengetuk pintu besar itu namun ragu, beberapa kali dia kembali meremas tangannya. Dia sangat tegang padahal tadi ketika berbicara di telpon tidak begitu tegang. Ting. Terdengar suara dentingan lift dan pintu lift yang terbuka. Yayu menoleh untuk mencari tau, tiga orang terlihat keluar dari dalam lift menuju ke tempatnya. Tubuhnya menegang sesaat ketika melihat siapa yang ada di hadapannya kali ini. dr. Saino bersama seorang laki-laki dan perempuan yang dia tau dan kenal dengan nama Pranoto itu mendekat padanya. "Yayu? Kebetulan sekali." panggil bu Pranoto melihat Yayu berdiri di depannya. dr. Saino merasa heran sedang Yayu mengangguk menahan emosi yang tiba-tiba datang. Amarah dan dendamnya kini timbul kembali. Namun dia merasa harus menahan semuanya. "Selamat siang," sapanya pada mereka, dan mendapat jawaban yang sama. Dokter Saino membuka pintu. "Silahkan masuk!" perintahnya. Yayu mengikuti di belakang mereka dan menaruh barang bawaannya di pojok ruangan dekat pintu masuk. Mempersilahkan mereka duduk. Dan memulai pembicaraan. "Jadi dr. Yayu apa benar Anda, berubah pikiran?" Lalu melihat koper di pojok ruangan. Yayu mengangguk. "Iya dok." Jawabnya singkat. dr. Saino tersenyum tipis. Bu Pranoto terlihat sumringah, tau maksut pembicaraan mereka. Pak Pranoto hanya diam mendengarkan. "Yayu apa kabar? Bisakah aku memanggilmu dengan sebutan nama saja?" tanya bu Pranoto. 'Ih... kenapa juga orang ini harus sok akrab.' Batinnya menimpali, di ikuti dengan sebuah anggukan kecil. Bu Pranoto yang merasa senang segera memeluk Yayu, entah apa penyebabnya namun dia ingin memeluk gadis yang menurutnya cantik di depannya ini. Ada rasa bersalah sekaligus haru menyeruak di relung hatinya. Yayu hanya diam meski ingin menolak, tapi dia merasa nyaman, seolah ibunya memeluknya. Namun, pikirannya mengingatkan bahwa anak ibu ini lah yang membuat ibunya meninggal. "Maaf bu saya gak bisa nafas,"ucap Yayu merasakan pelukannya semakin mengencang. Mengurai pelukannya dan menyeka air matanya. "Terimakasih telah memberikan kesempatan pada ànak Ibu," jawabnya. Yayu hanya terdiam tidak menjawab, tak tau apa maksutnya. Mengeratkan kembali giginya. "Maaf dok, tapi saya punya satu permintaan?" tanyanya lirih, takut ingin mengutarakannya. "Apa itu, katakan saja? Aku rasa mereka juga harus tau," jawabnya. Tak mengerti maksud yang dikatakan dr. Saino. Mengedarkan pandangan pada mereka lalu mulai berbicara. "Saya bisa menerima persyaratan kerja disini, tinggal dan merawat pasien itu selama 24 jam. Tapi ...," tidak melanjutkan bicaranya. "Tapi apa, katakan saja!" "Tapi bisakah dokter meminjamkan ku sejumlah uang?" Semakin menundukkan pandangannya takut di usir. 'Duh ... Yayu ... belum juga kerja sudah minta pinjaman, gak tau diri banget sich.' Hatinya bersuara, mencela sikapnya. Dokter Saino memandang bapak dan ibu Pranoto secara bergantian lalu mendapat jawaban anggukan dari mereka. "Berapa jumlah uang yang kau butuhkan dan untuk apa kalo boleh tau?" Yayu kemudian menceritakan semua kisahnya secara lengkap. Mulai dari cerita kematian ibunya, hingga hutang yang harus dia bayar, perjuangannya dalam mencari dana untuk membayar hutang, hingga dirinya harus dikejar-kejar oleh preman penagih hutang. Yayu bercerita dengan berurai air mata, meski dia sudah berjanji untuk tegar, namun kesedihannya kembali muncul ketika mengingat ibunya. Bu Pranoto yang mendengarnya ikut menitikkan air mata dan segera berhambur memeluknya. Tak tega rasanya mendengar cerita kemalangan nya. Yayu merasa sedikit canggung dengan sikap bu Pranotodan di lain sisi dia juga merasa nyaman dan terlindungi, seolah berada dalam pelukan sang ibu. Bu Pranoto memeluknya dengan begitu tulus, namun di lain sisi dia teringat kembali akan siapa bu Pranoto dan dendam dalam hatinya. "Lalu apa jaminan bagi kami kalau kamu akan melakukannya dengan baik. Apa kamu tau siapa dia?" tanya dr. Saino ingin tau. Dia takut bahwa Yayu tau siapa laki-laki itu lalu berusaha mengambil keuntungan dari nya. Yayu mendongak lalu menggeleng. "Enggak dok, waktu itu dokter gak bilang kan sama aku," jawabnya dengan menunduk. Sesekali membersit hidungnya dan bu Pranoto mengelua punggungnya. "Dia adalah Enggar Teguh Orlando Pranoto, anak ibu dan bapak," jawab bu Pranoto menyela pembicaraan mereka. Deg. Yayu tercekat. Detak jantungnya memburu kuat, di tahannya amarah yang sudah timbul dari tadi yang kini telah memuncak. "Maksud ibu?" tanyanya dengan suara bergetar. "Iya, anak ibu yang menyerempet ibumu," jawab bu Pranoto tegas. Yayu semakin kaget mendengar kenyataan yang baru dia terima. Kembali hatinya seperti teriris. Dokter Saino juga kaget, kebingungannya selama ini terjawab sudah. Diapun baru tau bahwa Yayu adalah anak dari korban kecelakaan yang melibatkan Enggar sepupunya itu. Pantas saja tantenya merekomendasikan dia sebagai dokter pribadi Enggar pasti dia punya rencana lain. "Yayu kami punya penawaran yang lebih baik padamu," ucap bu Pranoto penuh antusias. "Kami rasa kami tidak akan bisa meminjamkan uang dengan jumlah segitu besar kepada orang lain kecuali ...." menggantungkan perkataannya, dan menoleh mengamati reaksi Yayu. Yayu tertegun sejenak karena merasa tak punya harapan kemudian sedikit berbinar mendengar adanya pilihan lain. "Maksud Ibu, kecuali apa Bu?" tanyanya memberanikan diri. "Kecuali kamu mau menikah dengan Enggar, putra kesayanagan ku itu," jawabnya senang, bagaimana tidak karena harapannya untuk melihat anaknya menikah dan menggendong cucu akan segera terpenuhi. "Apa?" "Iya kamu tak salah dengar MENIKAH lah dengan Enggar dan kamu akan mendapatkan uang itu dan tak perlu mengembalikannya," ucapnya penuh penekanan pada kata menikah. *** Yayu POV~ 'Menikah, bagaimana mungkin aku harus menikah dengan nya, orang yang telah membunuh ibuku, yang memisahkan aku dengan satu-satunya keluargaku, orang yang beberapa hari lalu memberikan uang ganti rugi padaku dan telah aku tolak mentah-mentah, Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan, setelah semua penolakanku kemaren, kenapa kini aku harus kembali berhadapan dengan mereka dalam situasi ini. Ujian apa lagi ini? Apa maksud Mu dengan semua ini Tuhan? Apakah aku sungguh tidak pantas untuk bahagia, Tuhan. Apakah penderitaanku masih belum cukup, hingga Engkau masih menginginkan aku untuk terus terluka.Tuhan, tak pernah terlintas dalam hidupku bahwa aku akan menikah dengan orang yang kubenci dan seorang pembunuh ibuku sendiri. Aku telah berjanji di depan pusara ibuku, untuk menuntaskan dendam dalam hatiku atas kematian beliau. Ya Tuhan, kenapa Engkau memasukanku ke dalam lubang ini, katakan padaku apa yang harus aku lakukan?' Batinku meronta, memprotes kepada Tuhan tak terima, tapi otakku yang lain mengingatkan, bahwa aku butuh uang itu, SEGERA! Yayu masih diliputi kesedihan dan amarah karena kematian ibunya hingga dia lupa, bahwa Tuhan selalu menyertakan sebuah solusi bersamaan dengan datangnya sebuah masalah. Dan Tuhan tidak akan menguji kita, di atas kemampuan kita. ingatkan Yayu untuk lebih ikhlas. "Saya tidak bisa menjawab sekarang, bisakah Anda memberi saya waktu?" tanyaku. "Baik. Dalam waktu 24 jam kamu harus memberitahu aku, jika TIDAK kamu bisa memulai hidup mu di tempat lain," Kata bu Pranoto dengan gayanya yang anggun. "Tiga hari lagi aku akan berangkat ke London dan menetap disana selama 4-5 tahun untuk mengurus bisnis ku, jadi Enggar akan menjadi tanggung jawabmu setelah kalian menikah dan tentu saja kami percaya dengan kemampuanmu," lanjutnya menjelaskan. Bu Pranoto tau jika gadis itu baik, mandiri dan pekerja keras, namun agak keras kepala jadi diapun harus cepat bertindak. Dia merasa Yayu akan cocok dengan anaknya yang terlihat mandiri dan keras kepala itu, tapi sebenarnya sangat manja dan berhati lembut. "Baiklah, besok siang akan aku berikan jawaban untuk Anda." "Baik, dan aku berharap kamu akan memberiku kabar baik. Aku juga sudah lama pengen menggendong cucu," ucap bu Pranoto sumringah. Yayu mengerutkan dahinya, bu Pranoto tertawa, pak Pranoto dan dr. Saino hanya geleng-geleng melihatnya. "Baiklah Nak Yayu pergilah ke kamarmu dan aku akan menemui anak ku yang sedang tertidur itu," ucap bu Pranoto sambil membimbing ku ke kamar. Aku mengangguk nurut. "Istirahatlah! Bila butuh sesuatu katakan saja!" "Mmm.... bisakah saya keluar untuk mengurus keperluan saya malam ini?" tanyaku pada bu Pranoto. Ada sedikit rasa was-was dalam hatiku jika aku di usir dari tempat ini saat itu juga, pasalnya aku sudah tak memiliki tempat tinggal. Tapi untung saja bu Pranoto memberikan aku waktu dan tempat berteduh. "Tentu. Sekarang istirahat dan berbenahlah!" jawab bu Pranoto lalu meninggalkan ku di kamar sendirian. *** Blue Stone Bar Yayu berjalan memasuki bar yang telah mempekerjakannya selama dua hari itu. Dia masuk langsung menemui pak Rudi, manager bar dan menyatakan minta maaf karena tidak bisa melanjutkan kerjanya dua hari kedepan. Kini dia ada di ruang ganti menemui sosok kakak sekaligus sahabat bagi nya Astuti Widya, atau yang biasa di sapa Tuti. Memeluknya erat, berterimakasih dan berpamitan padanya. Yayu keluar dari bar, melangkah menuju tempat kost nya. Dia berpamitan pada bu kost dan berjanji akan melunasi uang sewa kost beberapa hari ini. Dia memasuki kamar kost nya untuk mengambil boneka Teddy Bear dan buket bunga matahari peninggalan terakhir ibunya. Brak. Suara pintu kamar kost nya dibuka dengan paksa. Yayu kaget, spontan menoleh dan mendapati para preman penagih hutang itu lagi. Dia mengancam semua penghuni kost agar tidak melapor ke polisi atau Yayu akan mereka bunuh. Sebelum Yayu melawan, Yayu sudah lebih dulu di bius dan di gotong ke mobil mereka. Tas dan ponsel Yayu tertinggal di kamar kost. Ibu kost yang tau kejadian itu dengan cepat menghubungi Tuti, dia tau Tuti selama ini dekat dengan gadis itu. "Apa? Lalu bagaimana keadaan Yayu sekarang buk?" tanya Tuti kaget. "Tadi dia pingsan dan di bawa ke mobil mereka, mereka mengancam akan membunuhnya jika kita melapor pada polisi," jawabnya. "Oh ya ... nomer seri mobilnya ABC 5533." "Okay buk, makasih banyak." Tut. Suara telepon di matikan. Tuti segera melapor ke kantor polisi dan menghubungi teman lamanya untuk menemukan lokasi Yayu. Hampir tengah malam tapi lokasi Yayu masih belum di temukan. 'Sial, sial, sial.' Umpat Tuti dalam hati. Tak mungkin mereka akan menghilang tanpa jejak. 'Mereka pasti akan aku temukan.' Janji Tuti dalam hati. Jam 02.00 siang, dan Tuti masih belum mendapat kabar tentang Yayu. "Asti, kami menemukan mobil itu." Suara teman Tuti mengagetkannya. Tuti tersenyum miring, dikepalkan tangannya hingga bergemeretuk." Mampus kalian," ucapnya. Drrrttt ... drrttt ...drttt ... Suara telpon Yayu bergetar menampilkan nama dr. Saino. Tuti menjawab panggilan itu. "Hallo?" ... "Iya benar. Tapi, Yayu sekarang sedang tidak ada. Dia di culik." ... "Kami belum tau, datanglah ke gedung tua di Jalan Kerapan no.7 . Kami dalam perjalanan kesana." ... "Baik. Terimakasih." Tut. Setelah mematikan ponselnya Tuti bergegas ke alamat yang di tuju. dr. Saino tiba tak lama berselang setelah kedatangan Tuti, dr. Saino datang bersama dengan bu Pranoto dan beberapa body guard nya. Tuti, dr. Saino, empat orang body guard dan dua orang teman Tuti memasuki gedung tua itu. Bu Pranoto dan satu body guard tetap menunggu di mobil.Tuti mengeram menahan amarah, dia melihat Yayu sedang di sandera dan di ikat pada sebuah balok kayu penyangga bangunan. Beberapa luka lebam ada di kaki dan tangannya. Dia ingin segera membebaskan Yayu sesaat kemudian dia melihat ada sekitar sembilan orang memasuki ruangan itu. Mereka mulai mengitari Yayu dan berbincang-bincang seolah melakukan transaksi tawar menawar. Kemudian saling berjabat tangan. "ANGKAT TANGAN! JANGAN BERGERAK! KALIAN TELAH KAMI KEPUNG." suara pengeras suara dari polisi memekakkan telinga, membuat semua orang yang ada di dalam gedung kalang kabut. Kesempatan baik itu tak di sia-siakan oleh Tuti. "HOE. JANGAN KABUR KALIAN!" teriaknya bengis dengan menunjuk dan mata memelotot. Para preman itu mengarahkan pandangan pada Tuti, tidak butuh waktu lama untuk membekuk para preman sekaligus lintah darat itu. Pertempuran yang melibatkan Tuti berikut bodyguard, dua orang teman Tuti dan dr. Saino itu pada akhirnya di menangkan oleh Tuti dan preman itu di amankan dengan segera. Aksi pukul yang baru saja terjadi membuat dr. Saino sempat terkena pukulan sebelum akhirnya di selamatkan oleh Tuti. Yayu mereka bawa ke rumah sakit dan mendapat perawatan intensif begitu juga dengan dr. Saino. Dirinya kini sedang meringis menahan alcohol yang di oleskan ke pelipisnya oleh Tuti. Dan sesekali mencuri pandang ke arah Tuti. Setelah Yayu siuman dia kembali berterimakasih pada Tuti karena sekali lagi menyelamatkan nyawanya. Tuti hanya mengangguk senang melihat Yayu siuman dan tersenyum kembali. *** Yayu POV~ Aku terbangun ketika mendengar suara berisik di sampingku. Aku membuka mata, melihat langit-langit rumah sakit dan mencium bau khas rumah sakit. Aku meneliti sekitarku, terlihat mbak Tuti yang membantu dr. Saino yang sedang meringis menahan olesan alcohol di pelipisnya, sesekali mencuri pandang padanya, aku tersenyum dalam hati dan bu Pranoto yang terlihat khawatir dengan keadaanku. Bu pranoto menghampiriku saat tau aku sudah siuman. Mbak Tuti juga mendekat padaku. "Yayu ... kamu tak apa-apa?" tanya bu Pranoto dan Mbak Tuti padaku dengan nada khawatir secara bebarengan. Aku menggeleng dan tersenyum dengan di paksakan untuk meyakinkan mereka. "Syukurlah kalo gitu. Ibu tadi sempet sangat khawatir padamu." "Makasih Bu," jawabku kemudian. 'Maksudnya apa sih, kenapa dia harus sampai sebegitu khawatirnya.' Gumamku dalam hati. "Yayu ... kau membuatku khawatir saja, awas aja kau melakukan itu lagi, kamu kok gak cerita sih masalah hutangmu?" tangis mbak Tuti pecah, dia memelukku dengan tangan gemetar, ada kehangatan merasuki hatiku. "Maaf mbak ... dan makasih banyak, mbak telah menolongku lagi," ucapku dengan memeluk dia balik. "Ingat ya! Kau punya hutang budi padaku." Candanya kemudian merenggangkan pelukannya. Aku mengangguk dan dia mencubit pipiku yang terasa nyeri karena tamparan preman itu. "Makanlah bubur ini selagi panas, kau pasti lapar ini sudah jam 07.00 malam!" Perintah mbak Tuti menyodorkan satu sendok padaku dan langsung aku terima. "Kamu gak perlu khawatir, semua hutangmu sudah ibu bayar, sertifikat sawah dan rumah mu di kampung sudah aman." Ucapan bu Pranoto mengagetkanku. "Iya, gak perlu berterimakasih. Yang penting kamu sekarang cepet pulih dan jalankan tugasmu," katanya menambahkan. Aku mengangguk mengerti maksud ucapanya. Meski aku tak bisa menerima, namun aku tak punya pilihan lain, mungkin ini semua adalah jalan terbaik untuk ku. 'Ya Tuhan kuatkan aku.' Do'a ku dalam hati. Mbak Tuti memandangku bingung, aku mengelus pergelangan tanyannya lalu berbisik di telinganya. "Oh ya Yu, tadi Chaca juga kesini menengokmu. Nanti dia akan kembali lagi setelah selesai kerja." Cerita mbak Tuti padaku. Aku menggangguk. Menelan obat yang diberikan dokter setelah selesai makan dan terlelap tidur karena kecapean. Berharap aku terbangun dan bersama orang-orang yang kucinta. ***** Bersambung ... Hallo sahabat pembaca.... semoga kalian suka ya dengan ceritaku. Please kasih koment tentang apapun, karakter atau plot atau setting dari cerita ini ya. Kalo suka tekan juga tombol lovenya . Terimaksih, itu sangat membantu ku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD