Yayu POV~
Jam 5 sore aku sudah sampai di tempat kost ku. Aku masuk ke dalam kamar setelah mendengarkan omelan ibu kost menagih uang sewa kamar. Rupanya aku sudah menunggak selama satu bulan lebih, aku bener-bener lupa. Ibu kost memperingatkan ku agar dalam 24 jam melunasi uang sewa, jika tidak maka aku harus pergi dari tempat ini.
Kubanting tubuhku keatas ranjang, rasa sakit di lutut dan siku ku masih terasa. Ku biarkan tubuhku terlentang menatap langit-langit kamar, pikiranku melayang, hingga rasa kantuk menguasaiku.
"Yayu ... yu ... Kanayu ...? Hallo ... dah siap belum?"
Kudengar sebuah suara memanggil namaku, aku segera bangun mencoba berdiri namun gagal dan malah terjatuh karena lutut ku yang terluka tadi terasa lebih perih dan sakit.
"Iya mbak,, sebentar ya. Tunggu 15 menit lagi aku siap." Ucapku menjawab pertanyaan dari luar.
Setelah aku rasa cukup kuat aku bergegas ke kamar mandi lalu menjalankan mandi bebek(mandi cepat), kemudian bersiap dan keluar menemui mbak Tuti yang sudah menungguku.
"Ayok mbak! Maaf ya aku tertidur."
"Iya gak pa-pa. Gimana lukamu, dah mendingan?"
"Mayan lah mbak. Loch mbak kok matanya sembab, baru nangis ya? Mbak gak apa-apa kan? "tanya ku bertubi, karena kulihat matanya seperti habis menangis, dan di balas dengan gelengan serta senyum yang di paksakan dari si empunya bibir seksi itu. Aku tidak bertanya banyak, takut menyinggungnya bila terlalu kepo.
Untung saja kami gak telat, 1 jam sebelum jam buka kami sudah sampai di bar. Kami bersiap-siap dengan membersihkan setiap sudut cafe dan mulai menata keperluan lainnya. Malam ini pengunjung bar terbilang ramai, ya meskipun tak seramai hari kemarin.
"Tata ...." (nama panggilanku di bar) Panggil pak Rudi, manager bar padaku. Dan mengayunkan pergelangan tangannya mengisyaratkanku untuk mendekat.
"Iya pak, ada apa ya?"
"Kamu pergi ke toilet tamu pria sekarang ya! Lagi mampet tu katanya." Perintah pak Rudi padaku.
Aku memicingkan mataku, ingin protes tapi gak berani."Baik pak," jawabku singkat. Ya begitulah nasib jadi anak baru, harus mau di suruh-suruh.
Selesai dengan masalah toilet yang mampet, aku membereskan peralatan perang ku untuk kembali ke dalam bar. Tapi, sebelum aku pergi dari toilet aku mendengar suara kaki melangkah lalu sebuah bayangan mendekat menghampiriku seperti hendak memukulkan sesuatu ke kepalaku.
Tubuhku menegang, bersiaga dan mempersiapkan perlawanan. 'Sial semua karbol dan pembersih kamar mandi sudah aku letakkan di ember luar'. Batinku bersuara. Kini tinggal satu alat penyedot WC yang aku pegang. Sebelum dia beraksi aku melakukan perlawanan .
Dengan posisiku yang berjongkok maka dengan mudah aku berputar dan melayangkan pukulan ke arah selangkangannya hingga dia mengaduh dan akupun dengan cepat berdiri.
Menendangnya sekali lagi dan memukulkan alat itu ke arah kepalanya. Aku berlari keluar namun di kejar oleh temannya yang berjaga di pintu luar. Aku tak menghiraukan rasa nyeri di lutut ku dan terus berlari menjauh namun lagi-lagi sebuah tangan besar berhasil menghalau ku.
Aku mencium bau alkohol dari tubuhnya, wajah dan matanya terlihat memerah. Namun cengkraman tangnnya terasa sangat kuat. Aku terjengkit kesakitan saat dia dengan sengaja meremas sikuku yang terluka. Dia menyatukan kedua tanganku dan menguncinya ke arah belakang. Aku meronta, namun kalah kuat.
"Lepas! Lepas! Lepaskan!" Kataku penuh emosi dan nada bergetar.
"Coba lah kalau kau bisa manis!" Tawanya pecah. "Aku akan melepasmu kalau kau mau menemani kami malam ini." Ucapnya tajam dan di susul oleh tawa temannya yang berlari ke arah kami dengan memegang bagian selangkangannya.
Pria itu mengambil sebuah pisau lipat dari sakunya dan mengarahkannya padaku. Memainkan ujung pisau yang runcing dan terlihat tajam itu ke bagian pembuluh artery di leherku. Aku menegang, memalingkan wajahku ke arah berlawanan agar ujung pisau tidak mengenaiku, dengan terus berusaha melepaskan diri. Sesekali dia berusaha mencium dan menjamahku.
Aku benar-benar merasa marah dan tidak terima karena perlakuannya. Aku semakin memberontak dan dia semakin tersemangati untuk melecehkanku.
"Tolongggggg ...."
"Diam kau jalang!" Lebih mengeratkan pisaunya hingga menggoreskan sebuah sayatan di leherku. Aku terdiam merasakan sakit di leherku.Darah segar mengucur dari sana. "Beraninya kau berteriak, Huh. "Ancamnya dengan nada penuh amarah."Berteriaklah karena tak kan ada yang mendengarmu. Hahaha ...."
"Hentikan! Aku mohon hentikan!" Pinta ku seraya memohon.
Aku menangis dan terisak, ketakutan. Air mataku sudah luruh, ingin pasrah tapi aku tak terima, lebih baik mati daripada ternodai. Aku terus meronta dan berusaha melepaskan diri.
"Hussst ..., diam dan tenanglah! Aku tak akan menyakiti mu." Rayunya dengan suara serak dan seringaiannya.
Aku semakin ketakutan, tak tau hal gila apa yang akan menimpaku. Yang aku pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk lepas dan kabur darinya.
"Jangan takut aku akan memberikan kenikmatan padamu dan kau akan mendesah penuh nikmat di bawah ku."
"Tidak! Tidak! Tidakk ... Jangan! Lepaskan aku, aku mohon!"
Aku terus memohon, dan terisak menahan rasa di lecehkan dan di rendahkan.
Aku kehabisan cara, tentu berteriak bukan hal baik, tenagaku akan habis. Tiba-tiba terlihat sebuah lampu mobil menyorot di jalan yang saat ini tengah sepi karena sudah sangat malam. Aki berniat kabur lalu meminta pertolongan mobil itu tapi tidak tau caranya sementara diriku masih terkungkung lemah.
***
Sementara di dalam bar
"Pak Rudi, Yayu dimana? Tanya Tuti pada manager bar itu.
Tuti merasa aneh sudah lebih dari 30 menit tidak melihat Yayu di dalam bar.
"Oh Yayu? Lagi di toilet tamu pria. Aku suruh dia kesana. Tadi aku dapat laporan kalau toilet tamu pria mampet." sahutnya, kemudian berjalan meninggalkan Tuti yang merasa kesal dan dongkol pada nya.
'Ihhhh.... gimana sih pak Rudi, sudah tau disana biasanya di buat mangkal anak brandalan malah di suruh ke toilet itu sendirian.' Batin Tuti protes.
Tuti bergegas menuju toilet tamu pria yang letaknya di samping belakang bar yang terbilang sepi. Sementara toilet untuk karyawan ada di dalam bar.
Dan benar saja dugaan Tuti, dia mendapati beberapa laki-laki yang tengah mabuk mengelilingi Yayu, dan salah satu dari laki-laki itu menodongkan sebuah pisau lipat ke arah leher Yayu yang kini telah mengeluarkan darah.
"Sial banget itu orang! Beraninya dia." umpatnya lirih.
Dengan berkacak pinggang dan menudingkan sebuah balok kayu. "Hoooooe. Lepasin!" Teriak Tuti dengan galak, sontak mendapat perhatian dari dua orang disana dan ke-2 nya menoleh padanya.
Yayu dengan tubuh yang gemetar, sangat takjub ketika melihat Tuti dengan berani menghajar satu persatu teman penjahat itu. Saat cengkraman tangan laki-laki itu longgar, Yayu menggigit tangannya lalu melepaskan diri.
Laki-laki itu kemudian menyerang Tuti dan dalam hitungan menit telah terkapar menerima dua pukulan tinju dan satu tendangan tepat di bagian dadanya. Akirnya mereka dibekuk dan dibawa ke kantor polisi.
"Kamu gak pa-pa? Kita langsung ke rumah sakit aja ya! Takut lukamu tambah parah."
Yayu mendesis sambil memegang lehernya." Ssshhh ... udah mbak gak usah, ini cuma luka ringan aja kok, di kasih betadine sama plester aja juga udah cukup kok."
Tuti mengangguk mengerti." Ya udah kalo gitu kita pulang aja! Lain kali jangan ketempat itu sendirian apalagi larut malam, biasanya banyak anak mabuk dan orang gila disana," jelas Tuti pada Yayu, keduanya keluar dari kantor polisi lalu pulang ke tempat kost.
***
"Kamu istirahat aja ya, mending besok kamu gak usah masuk kerja dulu, lebam-lebam gini tubuhmu penuh luka dan lagi kaki sama lehermu masih sakit banget kan?" usul Tuti pada Yayu dan di balas dengan anggukan.
Yayu memelukTuti dengan erat, menangis dan terisak dalam dekapannya.
Tuti mengurungkan niatnya meninggalkan Yayu. Dipeluknya tubuh Yayu lalu di elusnya puncak kepalanya." Nangis aja sampai kamu puas, tumpahin semuanya biar gak sakit!" kata Tuti yang kini duduk dan memeluk Yayu.
Hiks ... hiks ... hiks ...
"Makasih mbak ... makasih banget. Kalau gak ada mbak tadi, aku gak tau lagi jarus gimana, aku pasti sudah ..."
Hiiks... hiks... kembali Yayu terisak mengingat kejadian yang baru dia alami.Dia benar-benar takut.
"Iya sama-sama, kamu kan sudah seperti adikku sendiri Yu dan aku yang membawamu kesana, jadi itu juga sudah tugasku untuk menjagamu. Yang penting mulai sekarang kamu kudu lebih hati-hati lagi!" pintanya pada Yayu seraya menepuk punggungnya dengan lembut. Yayu pun mengangguk pelan.
'Mbak Tuti memang seorang Hero, seperti apa yang Chaca ceritakan.' Pikirnya dalam hati.
Flashback on
Cafe Melody
"Oh ya Yu, tadi aku lihat kau sepertinya masuk kesini bareng sama mbak Asti atau Tuti ya?" tanya Chaca memecah keheningan yang mereka ciptakan kala menyantap makanan waktu itu.
Yayu mengangguk. "Iya, tadi kami papasan di depan. Kok kamu tau, emang kamu kenal dia juga? Aku dan dia tetangga kost-kost-an, dia sudah seperti kakak ku sendiri, dia orangnya baik dan peduli," jawabnya sedikit penasaran.
"Owh ... aku kenal kok dengan dia. Tadi aku sebenarnya janjian sama dia sebelum ketemu sama kamu. Tapi, dia telat datang katanya kerjaannya gak bisa di tinggal," cerita Chaca.
"Loch kok bisa kenal sih Cha, aku kok gak tau?"
"Ih ... aku juga gak tau kamu tetanggaan sama dia padahal aku sering maen ke tempat kost-mu kan?"
Yayu tersenyum riang, Chaca menyebikkan bibirnya."Ada yang penting ya sampai janjian sama mbak Tuti? Eh tapi kok dia cepet banget perginya ?" tanya Yayu penasaran.
"Oh itu, aku cuma mengantarkan sebuah titipan buat dia," jawab Chaca.
Yayu mengangguk pelan. Mengunyah spaghetti yang ada di mulutnya. Mengambil gelas air di depannya dan menenggaknya habis.
"Mmm ... kamu kenal banget ya sama dia, sampai nganter titipan buat dia, emang dari siapa sich?" Yayu bertanya penuh selidik, takut Chaca sahabatnya akan menghakimi mbak Tuti.
"Gak deket juga, cuma tau dan kenal dia." Berhenti sejenak sebelum meneruskan ceritanya. "Mbak Tuti itu Pacar lebih tepatnya tunangan sepupuku, anak budhe ku, kakaknya mama. Tadi aku ngasih titipan dari budhe buat mbak Tuti." Cerita Chaca yang di tanggapi 'owh' dari Yayu. Yayu seneng karena Chaca rupanya kenal mbak Tuti dan tidak menghakiminya.
"Oh ya? Aku baru tau kalo mbak Tuti juga punya pacar. Aku kira dia masih singgle, soalnya aku juga gak terlalu deket dengannya waktu kuliah, selain jarang ketemu karena sibuk,setauku mbak Tuti juga terbilang tertutup masalah pribadinya." timpal Yayu. Ada sedikit rasa bahagia karena mbak Tuti juga punya pacar lebih tepatnya tunangan.
"Iya itu dulu." tambah Chaca.
"Maksudmu, mereka sudah putus?"
Chaca menggelengkan kepalanya, Yayu mengernyitkan dahinya. "Rey, sepupuku sudah mati 2 bulan yang lalu, karena kangker paru-paru. Padahal sebelumnya mereka sudah memiliki rencana untuk menikah tahun depan tapi, akhirnya semua rencana bahagia itu harus gagal karena kematian Rey. Aku juga sedih banget sich lihatnya. Mereka saling mencintai dan begitu bahagia." Cerita Chaca hingga menitikkan air mata.
Yayu yang mendengarnya ikut bersedih dengan mata berkaca-kaca. "Dulu itu sepupuku Rey hidupnya sempat bener-bener rusak sebelum kenal dengan mbak Tuti. Setiap hari kerjaannya hanya main dan main, club malam, tempat hiburan dan casino adalah rumahnya. Dia jarang sekali pulang bahkan dalam sebulan bisa di hitung dengan jari. Papa dan mamanya, yang notabene budhe ku tak pernah memperdulikannya mereka hanya memberikan uang dan harta pada Rey, mereka sendiri juga jarang pulang karena mengurusi bisnisnya. Aku kasian banget sama dia. Untung mamaku gak gitu, meski kadang gak ada di rumah. Jadi deh Rey kenal sama temen-temen nya yang nakal itu kemudian kenal rokok,minuman keras bahkan obat-obatan terlarang. Clubing, racing, dan gambling adalah hiburan atau bisa di bilang itu adalah hidunya. Hingga suatu ketika Rey jatuh sakit dan di vonis dengan penyakit kanker paru-paru stadium 3. Sebenernya kata dokter, kemungkinan dan harapan untuk sembuh itu selalu ada tapi, dia yang tidak bisa menerima keadaannya itu dan orang tuanya yang terlalu sibuk dan tidak tau karena Rey malas memberitau mereka, membuatnya semakin merusak dirinya dan kesehatannya. Sampai pada suatu malam sehabis mabuk dan beradu mulut dia di hajar beramai-ramai oleh beberapa orang hingga babak belur dan pada saat itu mbak Tuti datang menyelamatkannya. Sejak saat itu hidup Rey mulai berubah karena dia mencintai mbak Tuti, berusaha berjuang melawan sakitnya dan mendapatkan cintanya. Aku bahagia melihat nya bahkan mereka akirnya memutuskan akan menikah. Sebelum akhirnya 2 bulan yang lalu penyakit Rey tiba-tiba kambuh dan merenggut nyawanya." Cerita Chaca dengan meneteskan air mata mengingat kenangan sepupunya.
Flashback Off
Tuti mengurai pelukannya, di tatapnya wajah Yayu lekat-lekat, dia ingin bertanya tapi takut menyinggungnya. "Yu tadi sore kayaknya aku denger ibu kost menagih uang kost sama kamu ya?" ucap Tuti yang akirnya memutuskan untuk bertanya. Memecah lamunan Yayu.
Masih diam dan belum sepenuhnya sadar. "Eh iya, apa mbak?" Tanyanya kikuk.
"Itu ibu kost, tadi sore marah-marah ya minta uang sewa sama kamu?" Ulangnya.
"Iya mbak, aku lupa kalo sudah nunggak sebulan rupanya." jawabnya.
Menyodorkan uang pada Yayu. "Ini pakai saja dulu nanti bisa kamu kembalikan kalau kamu sudah ada." Ucap Tuti.
Menerima uang itu dan kembali menyodorkan pada Tuti, memasukkannya kedalam tas kerena tidak di terima. "Makasih banget mbak tapi, beneran deh gak usah. Mbak pakai aja buat keperluan mbak. Aku masih punya tempat tinggal kok." Ucap Yayu menjelaskan. "Tenang saja aku akan baim-baik saja. Makasih ya mbak, kamu emang baik." Kembali Yayu memeluk Tuti dengan erat dan dibalas dengan pelukan yang sama eratnya.
Yayu sudah tau apa yang akan dia lakukan dan kemana dia harus pergi. Dia merasa beruntung karena bisa mengenal Tuti dan kini mereka ĺebih dekat, namun dia juga tak mau merepotkan Tuti dengan masalah keuangannya, karena dia juga tau jika Tuti juga memiliki tanggungan.
***
Bersambung....