Enggar POV~
"Sah."
Prosesi ijab qobul berjalan dengan mulus. Aku mengucapkan kalimat sakral itu dengan lancar dalam satu tarikan nafas.
Kami bersalaman untuk pertama kalinya, dia mencium punggung tanganku, ada gelenyar aneh dalam diriku yang tidak bisa ku jabarkan.
Kanayu, wanita misterius yang belakangan membuat Saino khawatir itu hari ini resmi menjadi istriku. Tapi, Saino tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahannya. Dan wanita ini sepertinya sama sekali tak ada rasa bersalah padanya.
Lalu apa maksud mama menikahkanku dengannya, tidakkah mama tau, Saino dan dia memiliki hubungan bahkan dia meminta uang pada Saino. Atau ada permainan lain dari wanita itu dan mama menjanjikan uang yang lebih besar sehingga dia mau dinikahkan denganku.
Oh... tidak, kenapa aku harus mengalami ini semua. Wanita ini tak ubahnya seperti Calista. Dan yang lebih aku sesali kenapa mama dan papa memberikan restunya.
"Sayang,,, Enggar! " mama memanggil namaku, aku memandangnya, dia menyodorkan kotak bludru persegi warna merah dengan inisial C. Aku membukanya, mataku melotot mengetahui isinya.
"Ma..." panggilku ringan.
"Pakaikan pada istrimu!" Ucapan mama terdengar seperti sebuah ultimatum.
Aku tak ingin membuat mamaku lebih marah lagi, kuambil cincin itu lalu kusematkan pada jari manis wanita yang bernama Kanayu yang kini telah menjadi istriku.
Moment ini seharusnya akan menjadi moment paling bahagia buatku karena dia telah memakai cincin pernikahan kami. Tapi, aku tak tau perasaan yang ku punyai saat ini. Aku merasakan Calista memandangku dengan ekspresi kecewa.
Aku tersenyum sinis dalam hati, cincin emas yang indah dan mewah bertabur berlian ini tentunya akan menjadi milikmu jika kau tak menghianatiku. Moonologku dalam hati.
Mama mengangguk pada wanita itu, dia mengambil satu lagi cincin di dalam kotak dan menyematkannya di jari manisku.
"Perfect." Mama tersenyum senang, dia terlihat sangat bahagia, papaku memberikan sapu tangan padanya, mama menggunakannya untuk menyusut air mata yang tidak sempat jatuh. Wanita itu tetap tenang tanpa reaksi apapun.
Semua prosesi telah usai. Para tamu telah pergi meninggalkan ruanganku. Disini tinggal mama, papa, aku, kanayu dan Calista. Kenapa Calista juga tidak pergi, ya karena dia memaksa tinggal tentu saja.
"Enggar, ikut mama ke kamar sekarang!" Tegasnya tanpa mau dibantah.Mamaku berjalan mendahuluiku di ikuti oleh papa yang mendorong kursi rodaku.
Mama duduk di sofa yang terletak di depan ranjang king size di kamar itu, melipat kedua tangannya di depan dadanya, memandangku dengan tatapan mematikan. Tatapan yang jauh berbeda dari beberapa menit yang lalu.
"Jelaskan!" Ucapnya.
Aku bergeming, menelan ludahku beberapa kali, aku ingin memeluk mamaku. Tapi, aku urungkan karena dia terlihat sangat kesal sekarang.
Dia memang tak pernah mengajarkanku untuk berbuat tanpa bertanggung jawab. Apalagi zina, dia selalu mengajarkanku untuk menghormati semua orang dan kalangan terlebih kaumnya. Dan aku sangat kagum dengan nya karena hal itu.
Aku selalu berargumen dan berbeda pendapat bahkan bertengkar dengannya. Sampai pindah dari rumah nya karena sikap mama. Namun aku tau dia sebenarnya sangat sayang denganku dan menginginkan yang terbaik buat ku.
Aku mengutuk diriku dalam hati, kenapa menuruti permainan Calista. Tapi, aku tau apa yang ingin kulakukan dan aku akan mencoba membuat mamaku mengerti.
"Enggar, Jelaskan! Kok malah diam sih?" Mamaku memandang papa dan menyuruhnya untuk duduk di sampingnya dengan tatapannya.
Papaku beringsut dari belakangku, mendudukkan dirinya di dekat mama dan kini dua pasang mata menatapku dengan tajam meminta penjelasan.
***
Yayu POV~
"Sah."
Suara itu terdengar memenuhi ruangan, menggema bersautan di kepalaku, aku kini telah resmi menjadi seorang istri, diriku bukan lagi seorang diri, meski pernikahan ini hanya sebuah pelunasan hutang tapi, semuanya sah menurut hukum agama dan negara.
Kami menandatangani surat nikah kami, dan untuk pertama kalinya aku menjabat tangannya. Jantungku tiba-tiba berdesir, ada rasa aneh merasukiku. Aku tak tau, atau mungkin karena aku lapar.
Aku ingin menangis, bukan tangisan bahagia melainkan sebuah penyesalan karena diriku menikah dengan orang yang membunuh ibuku. Bayangan ibuku yang terbujur kaku di dalam lemari waktu itu membuatku terpaku.
Air mata ku tak boleh jatuh aku meyakinkan diriku, ini adalah jalanku untuk membalas perbuatannya. ETO, lelaki tampan nan rupawan, idola nusantara yang dulu sempat memenuhi masa remaja ku, kini duduk disampingku sebagai seorang suami sekaligus pembunuh ibuku.
Semesta benar-benar telah mempermainkan hidupku. Aku harus menikah dengan orang yang pernah kusukai dan yang kini aku bencì.
'Ah... seandainya dia tidak menyebabkan ibumu meninggal apa kau akan bisa menerima dan mencintainya sebagai suamimu?' Aku tersenyum sinis dalam hati pada diriku sendiri, karena pertanyaan yang tiba-tiba muncul itu.
Jawabnya, mungkin saja. Siapa yang tidak akan senang menikah dengan nya. Aku mengenyahkan pikiran-pikiran yang bersliweran dalam hatiku untuk kembali ke alam nyata, karena merasakan sebuah jemari memegangku lalu menyematkan sesuatu di jari manisku.
Aku menatapnya sekali lagi dan melihat sebuah cincin emas bertabur batu berlian mengitarinya. sangat cantik, seumur hidup belum pernah aku melihat cincin seindah itu.
Seandainya ini adalah pernikahan ku yang sebenarnya, tentu saja aku akan menjadi seorang mempelai wanita yang paling bahagia.
Aku menoleh kearah Bu Pranoto. Dia mengangguk padaku, aku mengambil cincin di kotak yang dia sodorkan lalu menyematkannya pada jari manis ETO.
"Perfect," suara Bu Pranoto terdengar begitu bahagia.
ETO diam tanpa ekspresi namun, Calista yang tengah berdiri di belakangnya seperti sedang menancapkan sebuah belati dengan pandangan matanya padaku ketika aku sempat meliriknya.
"Enggar, ikut mama ke kamar sekarang!" Suara Bu Pranoto terdengar begitu kesal.
Dia berjalan menuju kamar diikuti oleh ETO yang di dorong oleh Pak Pranoto. Sedangkan aku masih tetap di tempat yang sama yaitu di ruang tamu.
Semua orang membubarkan diri, aku memeluk Chaca dan mbak Tuti sebelum mereka pergi dan mengucapkan terimakasih pada mereka. Aku tidak sendiri, seorang model wanita bernama Calista itu juga tetap disini.
"Seharusnya aku yang memakai cincin itu dan menjadi Nyonya Pranoto, bukan kamu," ucapnya penuh penekanan disertai nada benci, setelah tak ada orang di ruang tamu.
Aku mengernyitkan dahiku, kata-katanya membuatku tidak paham. "Maksud mbak apa?"
Dia menghempaskan dirinya pada kursi di depanku lalu mendongakkan sedikit dagunya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menumpukan salah satu kakinya pada kaki yang lainnya.
"Asal kamu tau aja, aku dan Enggar saling mencintai, dan aku tak akan membiarkanmu merebutnya dari ku. Camkan itu!" Tukasnya penuh dengan ancaman. "Enggar adalah ayah dari bayi yang sedang aku kandung ini," ucapnya menambahkan, dia mengelus perutnya yang masih tampak rata itu.
'Apa peduliku,' batinku bersuara.Aku tidak menanggapi kalimat atau menjawab semua kata-katanya. Dan aku rasa dia juga tidak perlu khawatir dengan kehadiranku bila mereka saling mencinta. Dan itu akan membuat pembalasan dendam ku semakin mudah.
"Heh... budek ya, lo?" Bentaknya kasar.
"Mbak sudah hamil berapa bulan?" Pertanyaan yang tidak seharuskan aku tanyakan tapi malah keluar begitu saja dari mulutku. Entahlah aku hanya penasaran sikapnya sama sekali tidak terlihat seperti orang hamil.
"Kenapa? Kamu pikir aku berbohong? Ini hasil USG nya," jawabnya ketus, sambil mengambil sebuah photo dari tas nya.
Aku hanya tersenyum menanggapinya.
Brak.Pintu kamar dibuka dengan paksa. Terlihat Bu Pranoto keluar dari kamar, menelungkupkan tangan kanannya dan melambaikannya dari atas ke bawah, tanda dia memanggil dan namaku yang dia sebut.
"Yayu, kemarilah!" Perintah Bu Pranoto padaku.
Akupun berdiri dari tempat dudukku, Calista memandangku sewot. "Iya Bu," jawabku .
Di dalan kamar itu terasa sangat panas padahal AC masih menyala, aku memasuki kamar itu dengan perasaan was-was.
***
Bersambung...