DENDAM 20

1044 Words
Enggar POV~ "Baiklah San, terimakasih. Aku percaya padamu. Lakukan sesuai rencana kita dan kabari aku bila ada berita baru."   Tut. Aku mematikan ponsel ku, kemudian bergabung dengan obrolan ringan Saino dan Adi di sisi ranjangku. Di ruang tamu terdengar sangat gaduh, suara perempuan tengah berteriak-teriak. "Puppy sayang... jangan tinggalin aku!" aku mengenalnya, suara yang begitu aku kagumi itu tapi, tak mungkin dia ada disini. 'Apa aku sedang bermimpi, kenapa suara perempuan itu begitu nyata?' tanyaku dalam hati. Saino dan Adi saling berpandangan, kemudian menatapku penuh tanya, aku hanya menaikkan bahu. Sekali lagi terdengar suara manjanya. "Enggar sayang... kami datang menjemputmu," ucapannya sungguh tak tau malu. Aku meminta Saino dan Adi untuk membantuku duduk di kursi roda dan mendorongku keluar menuju ruang tamu. Seorang wanita cantik, dengan tubuh ramping nya, rambut panjang dan kaki jenjang nya yang membuatku selalu meremang.  Perempuan yang selama lima tahun ini ku kagumi dan ku puja dan beberapa bulan lalu telah menorehkan luka pada hatiku, ya Calista. 'Kenapa dia ada disini, bagaimana dia tau aku disini?' Pertanyaan yang tiba-tiba hadir dalam hati. Dia terlihat sangat sexy, dengan busana mini warna merah V-neck kurang bahannya yang memperlihatkan sebagian payudaranya. Jika dulu aku akan sangat senang bila dia berpenampilan menarik seperti ini, aku bahkan sempat merasa bangga, namun tidak untuk saat ini, aku muak melihatnya, apalagi sikapnya, yang ternyata baru kutau sangat bar-bar dan jauh dari kata beradap. Ketika aku tiba di ruang tamu, dengan tanpa rasa malu dia berhambur kepelukanku, memelukku dengan manja. Ingin sekali ku memaki dan mengusirnya tapi tak kulakukan, aku ingin tau permainan apa yang sedang ada di otaknya. Let's play. Aku mengajaknya masuk ke kamar private ku, sesaat sebelum aku beranjak dari ruang tamu, ku tatap wajah orang-orang yang berdiri mematung di ruang tamu, dengan berbagai ekspresi. "Enggar maafkan aku, aku salah, jangan tinggalin aku ya, pleaseeee!" ucapnya dengan nada memelas, ditambah isakan lirihnya, apa dia pikir aku akan percaya? Enggar lama tentu saja akan mudah luluh dengan air mata buaya nya. Tapi, jangan lupa aku telah tau sikap burukmu dan jangan harap kau akan dengan mudah mendapat kepercayaan dari ku. Aku bergeming memandang dirinya yang meneliti seluruh isi ruangan. Aku tercekat ketika sekelebat pemikiran merasukiku. 'Enggar... jangan naif, lihatlah dia , dia pasti akan tertarik kalau tau kau kaya raya dan pewaris sebuah rumah sakit ternama. Jangan bilang kau tetap akan percaya dia begitu tulus mencintaimu, apa kamu baru sadar dia bukan gadis itu, bukan putri duyung mu.'  Aku tertawa dalam hati, menertawakan diriku sendiri, betapa bodohnya aku hingga bisa mencintai orang seperti dia. Dan menghabiskan lima tahun kehidupanku dengan menua bersama dan mengharapkan masa depan indah secepatnya. Dia bener-bener perempuan tak tau malu, muka tembok. Apa dia tidak tau rasa sakit nya dihianati oleh orang yang kita percayai. Rasa sakitnya tertusuk belati, disaat aku selalu menjaga dan melindunginya, selalu menahan hasrat untuk tidak menjamahnya, demi waktu nanti di saat kita sudah resmi. Namun dengan mudahnya dia merusak semuanya. "Sayang... kita pulang ya, aku akan merawat mu dan anak kita dengan baik. Aku janji gak akan lagi pergi tanpa pamit, aku janji mau untuk dikenalkan dengan orang tuamu. Aku janji melakukan apapun yang kau mau asal kau kembali padaku," ucapannya padaku kali ini lebih terdengar aneh dan mengada-ada.  Sikapnya telah membuatku kehabisan kata, selama tiga tahun aku membujuknya untuk bertemu dengan keluarga namun selalu berakhir dengan penolakan dan alasan, kini dengan gampangnya dia menawarkan diri. Aku mengeram dalam hati, menahan umpatanku dan menggigit bibir bawahku.  Ada banyak pertanyaan yang ini aku lontarkan, namun aku urungkan, aku masih belum bener-bener mengerti dengan perubahan sikapnya, lalu kemunculannya yang tiba-tiba. "Sayang.... puppy sayang... kamu kok diem aja sih... kamu lihat kan ini aku Calista, kamu gak lupa ingatan kan?"  Deg. Jantungku serasa diremas lalu dikoyak dengan paksa. Apa maksut dari ucapannya itu. 'Lupa ingatan, oh... jadi kau mengira aku lupa ingatan. Baiklah mari kita bermain rubah sialan.Dasar rubah setan, tak tau malu, mengaku hamil anakku.' Aku bermonolog dalam hati mencoba mengikuti permainan perempuan itu Dia mengatakan ingin menikah dengan ku  ketika aku tanyakan apa maunya dengan dalih, demi cintaku dan anak ku yang tengah dia kandung. Aku tersenyum sumbang dalam hati. Betapa pintar nya dia memainkan kata. Bahkan dia berkata, dia rela untuk terus bekerja, ketika kami nanti sudah menikah. Aku tidak berjanji untuk menikahinya. Pertama karena hal itu tidak akan pernah aku lakukan, kedua karena aku harus menikahi wanita pilihan mama. Aku hanya berjanji untuk memberinya tempat tinggal, walaupun aku yakin laki-laki yang telah menghamilinya itu bisa memberikan lebih, yah... itu adalah pilijan dia sendiri dan yang musti aku cari tau sebabnya. Brak. Suara pintu yang dibuka dengan paksa. Aku menoleh dan mendapati mamaku berjalan dengan cepat ke arahku. Plak. Satu tamparan keras mendarat di pipiku. 'Sial semoga mama tak mendengar pembicaraan kami,' do'aku dalam hati. Hatiku tertegun, mendengar mama berteriak dengan nada kecewa. "Kau benar-benar mengecewakan mama dan papa! Kami tidak pernah mengajarkanmu berbuat zina. Apa ini balasanmu pada kami." Mama menitikkan air mata, mundur beberapa langkah. "Mama tidak akan memaafkanmu Enggar. Mama KECEWA." Mamaku berbalik arah lalu keluar dari kamar, aku mengejarnya berusaha menjelaskan, Calista membuntutiku di belakang. Aku panik dan takut bila mamaku percaya dengan drama Calista. Ku kayuh kursi rodaku menuju ruang tamu, aku sempat terdiam sejenak ketika sampai di lorong, seorang wanita cantik, sangat cantik memakai kebaya berwarna putih dengan bawahan kain jarik, make up nya natural dan sangat serasi dengan penampilannya.  Hatiku kembali berdesir, ketika manik mata kami bertatap, dalam tiga detik dia memutuskan tatapannya lalu mengamati jajaran lantai di bawah kakinya. Ada rasa tidak terima dalam hatiku. Ingin rasanya ku berteriak padanya untuk memandangku sebentar lagi. Aku mendengus dalam hati, lalu membiarkan perasaan aneh itu berkecamuk disana. Tujuanku saat ini adalah mama. Mama menangis terisak di bahu papa, aku menghampirinya dan berusaha memeluk mama tapi, tangan papa menepisnya dan memeluk mama semakin erat.  "Pernikahan ini harus tetap terjadi apapun alasannya mama tak akan membatalkan. Cepat laksanakan ijab qobul itu!" Mamaku memerintahkan dengan suaranya yang serak. "Mama akan berbicara denganmu setelah ini," kata terakhir yang aku dengar sebelum aku memulai ijab qobul ku. Saino mengambilkan segelas air untuk mama dan menyuruhnya untuk minum. Akad nikah akan segera dimulai, semua orang mengambil tempat duduk di ruang tamu, kecuali Calista yang memilih tetap berdiri di belakangku. Wanita yang tidak kutau siapa namanya itu duduk tepat di sampingku. Pak penghulu memberikan pengarahan, menyodorkan secarik kertas dengan tulisan kalimat qobul beserta nama mempelai wanita dan ayahnya. Mataku membola ketika membaca nama Kanayu Utari sebagai mempelai wanita, itu berarti wanita ini adalah kekasih Saino.  Sontak aku bertanya-tanya dalam hati. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD