Enggar POV~
Jam 9.00 malam mamaku baru tiba di ruanganku, wajahnya terlihat bahagia. Papaku sudah tertidur sejak tadi, hari ini dia menghabiskan waktunya untuk menungguku, selain karena khawatir juga karena mama yang menyuruhnya. Dan lusa mereka harus terbang ke London.
Mama menyapaku. "Sayang, kamu sudah makan?" Suara lembut mama membangunkan tidur lelap papa. Aku mengangguk dan tersenyum tipis padanya.
Papa bangun dari tidurnya, tersenyum lebar, lalu menyambut mama dengan pelukan dan ciuman mesra. Sementara aku di cuekin.
Papaku balik bertanya. "Mama sendiri sudah makan?" Kedua tangannya mengelus pipi mamaku. Mama menggeleng pelan.
"Nanti saja pa..."
"Ma, Saino mana? Kok gak ikut kesini?" Tanyaku mengalihkan adegan mesra mereka, 'gak tau apa aku baru patah hati malah selalu di suguhi pemandangan yang bikin iri.' Gerutuku dalam hati.
Aku sungguh iri melihat kemesraan mereka tapi, aku juga benci dengan pemaksaan mama menyangkut pernikahan dan pemberian cucu yang dia terapkan.
"Iya ni, kok mama sendirian aja, Saino kemana? Apa misinya sudah selesai ma? Apa semua baik-baik saja?" Sela papaku.
Mama mengangguk, memandangku dengan mata berbinar. Kemudian mulai menceritakan kejadian yang dia alami dan penculikan perempuan bernama Kanayu itu.
"Gimana Pa, mama hebat kan? semuanya sudah beres, terima kasih untuk pasukan papa yang datang tepat waktu. Besok kita bisa melanjutkan rencana kita." Kata mama antusias.
'Aduh... ada rencana apa mereka, mudah-mudahan gak ada hubungannya dengan ku.' Do'a ku dalam hati.
"Syukurlah ma kalo gitu, kita bisa terbang ke London dengan tenang dan meninggalkan Enggar di tangan yang tepat."
Deg.
Jantungku berdetak dengan lebih cepat, ternyata ada hubungannya dengan ku. Jangan bilang tentang rencana pernikahan itu, padahal aku cuma bercanda dan mama juga sepertinya tidak serius. Pikiranku semakin kacau.
"Mama rasa juga begitu pa, dan saat pulang nanti kita sudah bisa menimang cucu." Papa dan mama serempak tertawa, mengalihkan pandangan penuh harap padaku.
Masih bingung dengan pemikiranku sendiri, serta omongan mereka dan rencana aneh mereka, aku meracau dalam hati, menunjukkan deretan gigiku. "Maksud mama dan papa apa sih?" Pertanyaan klise itu, keluar begitu saja dari bibirku.
"Enggar, kamu jangan pura-pura lupa ya... besok adalah hari pernikahan kamu dengan wanita pilihan mama. Kamu sudah berjanji."
"Apa?"
"Bukan apa tapi, terima kasih Mama."
"Mama serius? Bukanya mama hanya bercanda?"
"Mama yang seharusnya tanya sama kamu, kamu serius? selalu menganggap omongan mama hanya bahan bercandaan aja, hah?"
"Ma... Enggar bener-bener gak percaya mama melakukan ini semua."
"Dan mama makin gak percaya, karena kamu selalu mengira mama bergurau dalam setiap perkataan mama."
"Ma... darimana mama mendapatkan wanita yang mau mama nikahkan dengan Enggar?" Ucapku penasaran. "Mama gak takut dia akan mengambil keuntungn dari mama, atau mama gak takut kalau dia bukan wanita baik-baik?" Kilahku. Aku bener-bener kehabisan kata dengan permintaan mama.
"Sayang... kamu harus percaya dengan pilihan mama!" Dukungan papaku membuat ku makin merana.
"Tapi, pa... aku belum bisa menerima seorang wanita untuk sekarang.
"Memangnya kenapa? Bukankah pacar 5 tahun yang sudah kau kenal dengan baik itu juga menghianati mu, dan mengambil keuntungan darimu, jadi apa salahnya kamu mencoba hal baru, papa yakin pilihan mama mu tidak akan mengecewakan mu.
"Coba deh mama dan papa pikir, mana mungkin seorang wanita baik-baik mau menikah dengan orang asing yang belum di kenalnya."
"Enggar! Mama gak suka kamu bicara seperti itu, mama tau dan yakin dia adalah wanita baik dan bisa membahagiakanmu." Bentak mama dengan nada penuh amarah.
"Aku gak mau nikah ma, gak untuk sekarang!" Bantahku tegas. "Mama dan papa tau sendiri kan aku baru saja di hianati dan lukanya masih belum sembuh ma... aku gak mau menikah hanya untuk sekedar mencari pelampiasan saja."
"Ini bukan pelampiasan, ini namanya move on Gar... menutup luka lamamu dengan cinta yang baru."
Aku memutar bola mataku. "Come on... aku gak cinta mama..."
"Come on... cinta akan datang dengan sendirinya, kamu pernahkan mendengar pepatah jawa yang mengatakan, withing tresno jalaran soko kulino( cinta itu datang karena terbiasa )." Eyel mamaku.
"Ma..."
"Sudahlah jangan merajuk! Mau gak mau, kamu tetep harus! Kemaren pun mama dan papa sudah bicara panjang lebar dengan mu dan kamu mengangguk menyetujui nya." Bentak mama tak kalah galaknya.
"Betul Gar, dari beberapa hari yang lalu sudah kita bahas kan?" Ucap papaku. "Sebagai laki-laki dewasa kamu harus memegang janjimu. Harus konsisten, jangan plin-plan!" Nasehat papaku kemudian.
"Tapi ma, pa,,,," aku menghela nafas dan membuangnya pelan." Baiklah tapi dengan satu syarat?"
"Katakan saja! Kami akan menurutinya." Ucap mereka bersama.
"Aku mau, setelah aku nanti menikah, mama dan papa tidak lagi ikut campur masalah rumah tanggaku!"
Mama dan papa saling pandang kemudian menatapku. "Kami akan turuti dan kamu juga harus berjanji untuk memberikan mama cucu secepatnya." Ancamnya.
"Baik." Jawabku tegas.
"Ayo pa kita pulang! Biarkan dia merenung dengan janji dan ucapannya itu. Bila dia tetep ngotot dan ingkar ya sudah lah kita bisa apa, biar saja kita mati menua tanpa bisa melihat cucu kita. "Suara melow mamaku menggema di ruangan ku dengan ekspresi yang tak bisa ku artikan.
Tak ada kata yang terucap dari bibirku, hanya mataku mengawasi langkah mereka keluar ruanganku.
Aku mengambil ponselku, hendak menghubungi Saino, tapi ku urungkan niat itu, mungkin Saino juga sedang di dera masalah dengan perempuan bernama Kanayu itu.
Aku mengacak rambutku, mengeram frustasi, 'siapa wanita yang akan mama nikahkan denganku?apa dia tau keadaanku, apa dia orang baik, apa dia.... "ahhhh..." pikiranku tambah pusing.
Flasback on
"Enggar! pokoknya mama gak mau tau, kali ini kamu harus menikah dengan wanita pilihan mama! atau kamu akan ikut dengan mama ke london selama 4 tahun. Tidak ada tapi-tapian! Mama sudah malas mendengar alasanmu dan kau selalu saja membuat mama kecewa." Ucap mamanya kesal, karena anak lelaki satu-satunya itu selalu menolak menikah dari dulu.
"Sudah lama mama dan papa ingin menimang cucu tapi malah wanita pilihanmu itu hamil dengan laki-laki lain. Jika kau masih ingin tinggal di sini maka kau harus menikahi gadis pilihan mama!"
"Jika kau masih ngotot dan bersikeras tidak mau menikah, maka kau akan mama ikut sertakan 'Dating Party', ketika kita sampai di London nanti dan kamu tidak boleh protes."Desak mama enggar tak bisa di ganggu gugat.
Enggar mengeram frustasi, sementara rasa sakit hatinya pada wanita yang dia cintai itu masih belum sembuh.
Bagaimana dia bisa menikah dan menganggap semua baik-baik saja. Kepercayaan dan kasih sayangnya selama 5 tahun itu hancur tak bersisa.
Dia telah menutup hatinya dan menguncinya rapat. Dia masih enggan untuk bisa menerima keberadaan orang baru di dekatnya, takut suatu saat dia akan di hianati kembali. Dia merasa masih memerlukan waktu untuk menenangkan diri. Tapi mamanya terus saja mendesak dan memojokkannya.
Mengacak rambutnya dan mengusap kasar wajahnya. "Baiklah ma, aku akan menikah dengan gadis itu." Jawabnya lesu.
"Benarkah?" Mamanya terdengar sangat sumringah dan bahagia, anak laki-lakinya akhirnya mau menikah. Di peluknya Enggar dengan erat dan dicium keningnya.
Enggar kesal dan merajuk memalingkan mukanya, menirukan gaya mamanya ketika merajuk pada papanya. Mama dan papanya yang melihat itu pun tertawa serempak.
" Lima hari lagi kau akan menikah dan akan menemui istrimu saat ijab kabul." Ucap Bu Pranoto senang.
Mata Enggar membola, 'apa mama nya sudah tidak waras, bagaimana mungkin secepat itu.' (Pikirannya kalut). "Apa? Tapi ma...."
"Tidak ada bantahan!"
'Hah'. Enggar menghembuskan napasnya dengan berat. Dengan terpaksa menerima seorang istri dari mamanya. Kalau saja Calista tidak mendua pasti sekarang mereka sedang menikmati bulan madu mereka.
Dia hanya berharap dalam hatinya, semoga calon istri nya adalah wanita baik-baik, yang akan menyayanginya seperti mamanya menyayangi papanya, tidak seperti rubah bertubuh bidadari yang telah dia pilih lalu dia percayakan hatinya tapi kemudian menghancurkannya .
Semoga istrinya tau keadaannya dan tidak mempermasalahkannya . Meskipun dia sangat ragu, karena kepercayaannya pada orang lain sedang lemah saat ini.
Flasback off
***
Enggar POV~
Suara gaduh dan berisik di ruanganku membuatku terpaksa harus bangun dari mimpi. Ku usap mataku dengan punggung tanganku, meneliti jam dinding yang tergantung di tembok, jam 6.00 pagi.
'Siapa sih, pagi-pagi gini sudah berisik di ruangan orang, selalu saja tidurku harus terganggu dengan hal-hal yang tidak penting, bahkan setelah semalaman aku terjaga dan kembali tak bisa tidur dengan tenang pagi ini.' Protesku dalam hati.
Aku bersungut-sungut, mangkel. Ku singkapkan selimut yang menutupi tubuhku, ku geser p****t ku agar memudahkanku untuk mengambil kursi roda. Setelah tubuhku berpindah ke kursi roda, aku langsung memenuhi panggilan alamku di kamar mandi.
Aku tertegun sejenak ketika keluar dari kamar mandi, mamaku berjalan begitu lincah dengan setelan baju khas Jawa, sanggul cantik menghiasi kepalanya dan make up tipis yang serasi dengan kulit putihnya, serta kebaya warna abu-abu yang menjuntai menutupi pinggulnya dan kain jarik yang membebat kedua kakinya dengan sangat rapat itu tak membuatnya susah berjalan.
"Sayang sudah bangun?" Sapanya padaku tanpa menoleh ku." Cuci muka trus sarapan dulu ya, setelah itu kamu ganti baju!" Perintahnya kemudian, dengan sikap yang sama tanpa mempedulikan ku.
Aku menghirup udara sebanyak mungkin, kemudian menghembuskannya perlahan.
"Sayang... sudah selesai cuci mukanya?" Ucapan papaku.
Aku menoleh, tersadar dari ritual inhale, exhale ku. "Belum pa."
"Cepetan dong! MUA nya nanti gantinya mau merias yang lain." Ujar papaku dengan senyum simpulnya.
Hari ini papa ku terlihat lebih muda, dia mengenakan setelan tuxedo lengkap warna abu-abu , warna yang senada dengan baju punya mama.
Aku mengangguk, menuju kamar mandi, menuntaskan ritual pagiku lalu menuju ke meja untuk sarapan.
Selesai sarapan aku benar-benar di make-up sedemikian rupa, namun sebelumnya aku meminta untuk di panggilkan tukang pangkas rambut untuk memangkas rambutku hingga habis.
"Enggarrrr... kamu apa-apaan sih?"
"Mama... mama udah janjikan gak akan ikut campur."
Mamaku memekik kaget melihat kepalaku kini bener-bener plontos. Padahal beberapa kali mama menyuruhku untuk memotong rambut panjangku tak ku hiraukan.
Tak berapa lama kemudian Saino, om dan tante serta Adi datang ke ruanganku. Akhirnya hari ini tiba juga, sampai tante ku menyempatkan hadir disini.
Papa, om dan tante menunggu di ruang tamu sedangkan Saino dan adi menemaniku di dekat ranjang.
"Eghmm... " suara deheman Saino mengalihkan pandanganku padanya.
"Apa sih?"
"Mmmm... yang udah mau merit duluan, gak nerfes nih?" Goda Adi dengan senyum terjahilnya, lalu menekan kacamatanya yang tidak terjatuh.
Aku memutar bola mataku. "Mau lu gantiin gue?" Jawabku kesal.
"Emang boleh? Aku mau loch. "Ujar saino santai.
"Sialan lu, lu seneng ya kalo gue bernasib sial dengan 'kencan buta' yang diatur sama mama?" Omelku.
Mereka tertawa terkikik mendengar omelanku. Ku raih peci yang menutupi kepalaku dan ku lempar kepada mereka.
Mata mereka membola hingga tersedak air liur mereka. " OMG, ada apa dengan mu?" Tanya mereka serempak
Aku hanya mengangkat bahuku, membiarkan mereka termangu. Kemudian mengangkat telepon dari sekretaris sekaligus orang kepercayaanku.
****
Bersambung...