"Sayang....? Kamu udah bangun? Mau ke kamar kecil?" Suara nyaring Mamanya kini mengagetkannya , dia kembali menajamkan pendengarannya, lalu mencari suara di luar. Tapi dia tidak mendengar apapun.
"Sayang... kok malah nglamun sih?" Kembali Bu Pranoto bertanya pada anaknya, karena tidak merespon ucapannya.
"Eh mama.... mmmm gak usah ma! Bisa tolong ambilin air aja gak ma? Aku haus ni."
Mamanya mengangguk mengambil gelas kosong di nakas, lalu pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Menyodorkan air minum pada Enggar. "Ni... minumnya hati-hati!"
"Makasih ma." Enggar merasa penasaran tapi ada rasa tidak enak untuk bertanya pada mamanya. Apalagi bila menyangkut sepupunya Saino.
Dia hanya ber do'a untuk kebaikan Saino dan semoga saja perempuan itu bukan seorang rubah betina seperti halnya Calista. Yang rela menjajakan dirinya demi uang dan kemewahan.
"Saino mana ma?"
"Udah turun, lagi ada pasien penting yang harus dia tangani katanya. Malam baru bisa kesini."
Enggar mengangguk mengerti.
--------
Enggar POV~
Malam harinya di kamar ku setelah pemeriksaan rutin.
"No, kamu kenapa?" Tanyaku pada Saino yang agak gelisah
"Mmm... gak pa-pa."
"Pasti kamu lagi mikirin seseorang ya?" Tembakku langsung, aku malah di buat kaget oleh reaksinya, yang seakan bertanya balik 'kok tau?'
Kemudian dia berkata,"enggak.... aku cuma merasa gak enak aja tadi siang gak bisa nemanin kamu." Dengan nada ter bata.' Dia agak aneh, mungkin terjadi sesuatu dengan oerempuan bernama Kanayu itu.' Pikirku.
"Oh... gak pa-pa kan udah ada mama." Jawabku meyakinkannya tapi, dia seperti tidak konsentrasi dengan pembicaraan kami.
"Mmmm No....?"
Kata-kata ku terputus karena mama tiba-tiba datang dan menarik Saino ke ruang tamu, sedang papa menemaniku untuk mengobrol di dalam.
Di ruang tamu
"Saino, Yayu belum pulang ya?" Terdengar suara mamaku yang begitu khawatir. Ada apa dengan perempuan bernama Kanayu itu, jadi bener dugaanku ada sesuatu dengan perempuan bernama Kanayu itu. Apa dia menghilang, atau dia tidak pulang.
"Iya tante.... dia belum pulang, dia juga tidak menelpon memberi kabar." Kali ini aku dengar suara Saino yang sedikit gugup menjawab pertanyaan mama.
"Kalo gitu kamu hubungi dia sekarang!" Kata mamaku memerintah Saino.
"Iya tan."
"Tan,,, no nya gak ada yang mengangkat. Apa sebaiknya kita lapor polisi saja?"Suara Saino kali ini bener-bener panik, aku sangat jarang melihat dia khawatir dengan seorang wanita jika bukan orang penting, seperti mamaku.
"Tenang dulu ya Saino! Kita tunggu sampai besok, kalau dia belum pulang baru kita lapor polisi." Kata mamaku menenangkannya.
"Iya tante baiklah. Tante juga harus tenang, aku yakin semua baik-baik saja, dia wanita yang kuat." Jawabnya yakin.
Setelah mereka selesai ngobrol di ruang tamu ke duanya pergi ke ruangannku untuk berpamitan dan meninggalkanku sendirian dalam rasa penasaran.
-----
Siang ini aku ada jadwal kontrol dan fisioterapy serta sesi Psikologi dari pagi hingga siang hari. Seperti biasa Saino dengan sabar menemaniku menemui dokter ahli . Tidak ada suster yang berurusan dengan ku.
Mama tidak mengijinkannya, meskipun aku sudah meminta. Kasihan kan Saino jika harus double kerjanya. Tapi ya itu, mamaku tetap memaksa.
Jam 2 siang aku kembali ke ruanganku. Mama menyambut kami dengan wajah yang tampak gelisah.
"Pa... bawa Enggar ke dalam buat istirahat dulu ya! Aku mau bicara pentinh pada Saino." Perintah mamaku pada papa. Papaku mengangguk, mendorong kursi rodaku dan membantuku untuk kembali ke ranjang.
Menurutku sangat lucu jika papaku tanpa merasa malu mengikuti perintah mama, seorang pemimpin rumah sakit besar dan yayasan yang terpandang harus takut dengan istri.
Sesaat kemudian terdengar suara Saino yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon.
"Hallo Yayu? Ini Yayu kan, kamu sekarang dimana. Kenapa belum pulang?" 'Oh... Saino berbicara dengan Yayu, jadi semalam dia gak pulang, apa dia juga melacur ke tempat lain, kasian Saino.' Pikirku.
,,,,,,,,
"Apa? Bagaimana keadaannya? Apa lokasinya sudah ketemu?"
,,,,,,,,
"Ok... baiklah aku juga akan secepatnya kesana. Terimakasih banyak."
Apa yang terjadi, aku semakin khawatir, Saino kembali terdengar panik.
"Tan dia ada di alamat ini, aku akan kesana secepatnya."
"Baiklah aku ikut dengan mu."
'Kemana mereka akan pergi, kenapa mereka begitu panik, apa perempuan yang bernama Yayu itu sedang berulah.' Monologku dalam hati.
Mama tiba-tiba muncul. "Pa... tolong kirim 5 orang Body Guard pada ku ya! Aku akan share tempatnya pada papa, secepatnya . Gak pakek lama pa!" Teriak mama pada papa.
"Iya ma... okay."
"Pa kami pergi dulu, da sayang, see you." Ucap mama tanpa menciumku lebih dulu. Dan papa hanya melambaikan tangan, sedang tangan kanannya dia gunakan untuk memegang telpon dan berbicana dengan kepala Body Guard nya.
Setelah selesai papa dusuk di sampingku, memijat keningnya, sesekali menghirup udara dalam dan menghembuskannya pelan.
"Pa ada apa sih? Kok kalian sangat panik?" Tanyaku penasaran.
"Nanti sebaiknya kau tanya mamamu langsung. Papa mau rebahan sebentar dulu ya? Pala papa pusing ni, papa baru tidur sebentar tadi. Mamamu sudah menarik papa ke sino.
"Iya papa."
Ada apa sebenarnya dengan wanita bernama Kanayu itu? Apa hubungannya dengan Saino??
****
Bersambung...