DENDAM 17

1512 Words
Enggar menggeliat terbangun dari tidurnya. Matanya mengamati sekitarnya namun tidak dia temukan siapa-siapa. Mama, papa atau sepupunya Saino tidak ada di ruangan itu. Dia memijit pelipisnya yang terasa berdenyut kemudian bangun dan menggeser tubuhnya hingga dia bersandar pada punggung ranjang. Dia meneguk habis segelas air yang dia ambil dari nakas di samping ranjangnya. Dia terlihat begitu gelisah, entah apa penyebabnya. Dari kemarin sepulang dari 'Miss Mermaid' dia tampak lebih sering melamun.  Bahkan mama dan papanya yang bersenda gurau, bermesraan dan saling bercanda tak membuatnya marah. Mereka berdua seperti sepasang kekasih yang telah lama berpisah dan baru di pertemukan kembali.  "Gar.... gimana tadi rencana mama? Kamu setuju kan?" Pertanyaan mamanya yang tiba-tiba itu hanya dia jawab dengan anggukan, tanpa mau bertanya tentang rencana apa. Mama dan papanya yang sedikit heran saling pandang kemudian memeluk anaknya itu dengan antusias. Hingga pagi hari ini Enggar masih belum bisa tertidur, sampai pukul 8 pagi dan baru bisa memejamkan matanya tiga puluh menit yang lalu, sebelum akhirnya dia terbangun. Dia menajamkan pendengarannya, mengerutkan dahinya. Sepertinya dia mendengar pintu utama yang dibuka. "Silahkan masuk!" Dia mendengar jelas suara Saino mempersilahkan seseorang memasuki ruangannya. Kemudian diikuti okeh beberapa derap langkah kaki memasuki ruangan, sebelum akhirnya pintu tertutup. Dengan hati-hati dia meletakkan kembali gelas kosong yang dia genggam ke atas nakas, dia mendengarkan dengan seksama pembicaraan yang terjadi diluar. "Jadi dr. Kanayu apa anda benar, berubah pikiran?" Kembali Enggar mendengar suara dalam Saino yang bertanya kepada seorang yang bernama Kanayu. Dia seperti pernah mendengar nama itu tapi, dia lupa dimana. "Iya dok." Terdengar suara seorang wanita yang menjawab pertanyaan Saino. Namun tidak terdengar dengan jelas suara wanita itu. Hal itu membuatnya menjadi sangat penasaran. Ia mulai merasa gelisah, ingin turun dari ranjangnya, lalu berjalan ke ruang tamu. Matanya melihat kakinya yang masih dibalut dengan gips dia tidak bisa berbuat apa-apa ditambah kursi rodanya berada jauh dari jangkauan tangannya.  Dia menjadi semakin penasaran dan frustasi apalagi sesaat kemudian dia mendengar suara mamanya begitu antusias. Mamanya seperti mengenal seorang yang bernama Kanayu itu dengan baik. "Yayu apa kabar? Bisakah aku memanggilmu dengan sebutan nama saja?" "Maaf Bu, saya gak bisa napas." Perempuan itu menjawab dengan suara yang sangat pelan, hingga Enggar lagi-lagi harus mengepalkan tangannya karena amarah. Dia semakin penasaran dengan sosok  bernama Kanayu itu. "Berapa jumlah uang yang kau butuhkan dan untuk apa kalo boleh tau?" Deg.  Hati Enggar seperti di hantam oleh sebuah godam, ketika dia mendengar suara Saino yang sedikit keras namun tegas tetapi tidak mengintimidasi. Seketika pikirannya kosong, melemparkannya ke masa lalunya. Flashback on "Sayang.... "suara Calista merengek pada Enggar. "Mmmmm....." tanpa memperhatikan ekspresi memelas Calista. Enggar mencoba mengganggu kekasihnya itu, dia ingin tau reaksinya saja. Dia ingat bahwa besok adalah peringatan 4 tahun mereka jadian. Dia pengen tau apa kemauan kekasihnya kali ini. Tiga tahun yang lalu Calista cukup menguras dompetnya dengan meminta di belikan tas, diamond dan barang berharga lainnya. Dia bisa saja meminta uang dari mama atau papanya , tapi dia bener-bener pengen mandiri jadi diapun memenuhi semua keinginan Calista dengan uangnya sendiri. Dia yang begitu naif, sangat senang ketika mendapat beberapa ciuman dan ucapan terimakasih, tapi hingga saat ini keinginannya untuk mengenalkannya pada keluargannya belum Calista penuhi. "Puppy..... sayanggg" Cup. Bibir Calista mendarat ringan di bibir Enggar. Enggar yang biasanya langsung mengerang ringan dan membalas kecupan singkat itu, kali ini hanya mengerjap-erjapkan matanya beberapa kali lalu kembali menekuri laptop nya. Calista yang dengan cepat menjauhkan wajahnya untuk melihat reaksi Enggar itu semakin kesal dan kecewa. Merasa di abaikan dia memasang muka masam nya dan mengerucutkan bibirnya. Tapi Enggar sama sekali tidak meliriknya, bahkan Enggar sesekali menjulurkan lidahnya lalu membasahi bibirnya, menggoda Calista. Calista semakin geram dan keki, dia menghentak-hentakkan kakinya dan berniat untuk pergi. Namun sebelum dia pergi, dia menjalankan godaan terakhirnya. Calista mengambil laptop Enggar lalu dia duduk di pangkuannya kemudian dia meraba lalu meremas  rambut sebahu Enggar dengan kuat. Cup. Kening. Cup. Pipi kanan. Cup. Pipi kiri. Cup. Hidung. Cup. Bibir atas. Cup. Bibir bawah. Cup. Leher dengan isapan yang lama dan dalam hingga berjejak merah, dia seolah menyalurkan kemarahannya pada leher Enggar. Enggar hampir saja terbuai dan mendesis. Namun Calista menyudahi aksinya dan kemudian turun dari pangkuannya untuk pergi karena merasa tidak di perhatikan. Belum sempat dia melangkah, pergelangan tangan Calista sudah ditarik oleh Enggar hingga dia harus jatuh ke pangkuannya lagi. Calista berusaha melepaskan diri, namun pelukan Enggar semakin erat. Dia mengerucutkan bibirnya. Di dorongnya d**a Enggar lalu, di pukulnya d**a bidang Enggar dengan keras dan memalingkan mukanya. Enggar tersenyum dalam hatinya, melihat kekasih hatinya merajuk. Ditatapnya wajah Calista dengan penuh cinta di tariknya dagu Calista untuk kemudian dia kecup bibirnya lembut, dilumatnya dalam, penuh gairah.Calista pun membalas ciuman dan pagutan bibir Enggar. Mereka melepaskan pagutan bibirnya setelah mereka merasa kehabisan napas. Di elusnya pipi Calista dan di dekatkan kening mereka hingga bersatu, napas mereka masih memburu. "Maaf..... aku tadi cuma bercanda, tadi kamu bilanh apa sayang?" "Mmmm...." "Ayolah sayang, miu-miu..." "Mmmm...." "Jadi kamu gantian gambek, gak mau bicara sama aku nie, apa kamu pengen aku pergi aja?" Belum sempat Enggar berdiri, Calista mengalungkan kedua tangannya pada bagian belakang leher  Enggar. Calista menggeleng pelan, menempelkan kembali kepalanya pada d**a bidang Enggar.  "Puppy, kamu tau gak besok hari apa?" Tanyanya kemudian. "Hari jum'at." "Maksudnya hari besar apa yang terjadi besok?" Cetusnya bersungut-sungut. "Oh... besok kan tanggal 28 oktober kan, hari sumpah pemuda kan?" Ledeknya menahan tawa, dia menggigit bagian dalam pipinya untuk menahan tawanya. "Puppy..... becanda aja dari tadi, masa hari jadian kita lupa sih...... Hari sumpah pemuda itu hari ini sayangggg.... besok itu tanggal 29 oktober dong." Jelasnya ketus, dia menarik kepalanya dari d**a bidang Enggar lalu memalingkan mukanya yang dimasamkan. Enggar terkikik geli, dia sudah tidak bisa lagi menahan tawanya. Sepasang mata kembali mengarahkan pandangannya padanya dengan tatapan membunuh. "Iya sayangggg... aku tau tanggal 28 oktober itu hari Sumpah Pemuda dan tanggal 29 oktober itu sumpah ku cinta padamu." Jawabnya sumringah dengan mengerlingkan matanya. "Ih.... garing tau gak, bikin sebel aja. Huft." Ucapnya manja. "Ihhh.... tambah gemes deh." Tirunya." Jadi rencananya mau kemana kita?" Tanyanya kemudian. "Ogah ach. MALES."  "Beneran nie gak mau kemana-mana, hadiahnya juga gak mau hemm?" "Mmmm...." "Cie... masih ngambek ni ye?" Sambil menunjukkan jari kelingkingnya." Iya deh, aku minta maaf, aku bakalan nuruti semua kemauannmu , okey, Deall? Jangan ngambek lagi ya, pleeaseee!!!" "Serius?" Tanyanya menyakinkan. "Maksudnya?" Jawab Enggar pelan, takut dia ngambek lagi. "Iya, serius mau nuruti apa mauku?" Kini tangan Calisnya bersedekap di depan dadanya menanti jawaban Enggar. Enggar mengangguk tanda setuju. "Gak boleh ingkar loh..!" Katanya kemudian. "Iya sayang..." jawab Enggar meyakinkan. Calista segera memeluknya dengan mesra. Dia begitu senang karena rencananya untuk menguras uang Enggar kali ini berjalan dengan mulus, meskipun dengan sedikit drama. Dia bahkan sudah mendaftar barang apa saja yang akan dia beli dan kemana saja tempat liburan yang akan dia datangi. 'Penantianku selama 4 tahun gak boleh aku sia-siakan, selama 3 tahun aku sudah menahan keinginanku dengan meminta barang kelas-2 dan kali ini aku tak akan peduli, meski Enggar harus melarat.' Gumamnya dalam hati. Flasback off "Apa?" Tubuh Enggar terjengkit kaget ketika mendengar suara seseorang berteriak. Jantungnya berdesir mendengar suara perempuan itu, dia mengenalinya. Dia adalah dr. yang beberapa hari kemarin datang namun tidak muncul lagi dan kini dia muncul untuk meminta uang pada Saino. 'Ada apa dengan semuanya, mungkinkah Saino menghamilinya, atau Saino merusak hidupnya.' Pikirannya kembali bertanya-tanya. ' Tapi mana mungkin itu terjadi sementara setahu Enggar, Saino adalah lelaki baik yang tidak pernah tertarik untuk berhubungan dengan wanita.' Lagi-lagi pikirannya menjadi bingung. Siapa yang tak kenal Saino Arian Teguh Pranoto, seorang dokter muda berbakat.  Pewaris 'Arian Pharmaceuthical Corp.' .Sama halnya dengan Enggar terlahir dengan darah Pranoto yang sudah tak di ragukan lagi ketampanan dan wibawanya selalu menarik bagi kaum hawa, dan menjadi perbincangan dimanapun dia berada. Setiap wanita di kota ini tentu akan bertekuk lutut dan mengantri untuk mendapatkan cintanya. Namun sayangnya laki-laki dengan tubuh tegap dan potongan rambut cepak itu sama sekali tidak tertarik dengan masalah yang menyangkut makluk bernama wanita. Baginya One night stand atau menikah tidak akan pernah ada dalam kamus hidupnya. Melajang dan mengabdikan dirinya pada farmasi dan pasiennya adalah hal yang cukup membuatnya bahagia. Padahal selama ini ibunya atau ayahnya sama sekali tidak pernah mengatur kehidupan cintanya, terlebih ibunya selalu menyuruhnya untuk melakukan kencan buta atau setìdaknya memberikan nya cucu entah darimana, ibunya tak mau tau dia hanya ingin seorang cucu, anak Saino, bayi mungil yang bisa dia pamerkan kepada para sahabat sosialitanya dan seorang pewaris Arian Pharmaceutical Corp. , namun sayangnya mimpi ibunya itu harus pupus. Pasalnya selama 33 tahun hidupnya, tak pernah sekalipun dia berpacaran. Dia lebih memilih belajar dan mendalami ilmu kedokteran. Dia berpendapat bahwa seorang wanita adalah makluk yang sangat merepotkan, mengingat ibunya sendiri adalah seorang wanita, dan dulunya dia selalu merasa kerepotan dan kelimpungan menghadapi kemauan ibunya. Saino begitu malas untuk memikirkan masalah percintaan atau wanita. Dia takut jika sosok ibunya yang selalu cerewet dengan kehidupannya yang tak pernah mengurusnya akan hadir dalam hidupnya sebagai seorang pendamping hidup. Ditambah ibunya yang seorang sosialita terkenal yang selalu memamerkan kehidupannya, membuatnya merasa kesepian dan kehilangan sosok seorang ibu, padahal banyak sosialita yang tetap mencintai anak-anak nya tapi tidak dengan ibunya. Yang selalu meninggalkan dia sendirian. Untung saja bu Kristina Hartanti yang tak lain adalah ibu Enggar selalu sayang padanya dan memperhatikannya. Bahkan sebagian hidupnya dia habiskan di rumah Enggar.  Dia belajar tentang kasih sayang dan seorang wanita yang baik dari ibu Kristi. Dia menyayangi nya melebihi rasa sayangnya pada ibu kandungnya dan ayah kandungnya yang selalu tidak ada di rumah itu. "Sayang...? Kamu udah bangun ya? Mau ke kamar kecil?" Suara nyaring mamanya kini mengagetkannya. **** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD