DENDAM 16

1711 Words
Enggar POV~ "Mama.... kapan dateng ma?" Tanyaku pada mama yang sedang asik memotong buah di dekat ranjang ku. Dia mengalihkan pandangannya padaku, lalu tersenyum simpul. Senyum yang akan selalu kurindukan meski dia sangat cerewet. "Sejak siang tadi mama disini, ni buah-buahan di lemari es sudah hampir habis mama kupas." Jawabnya dengan tersenyum menunjukkan hasil kupasan buahnya. Aku hanya tersenyum melihatnya. "Kamu mau apa biar mama bantuin? Bentar mama cuci tangan dulu." Ucapnya kemudian berlari ke wastafel di dapur untuk cuci tangan. "Mau ke kamar mandi ya?" Tanya mamaku karena aku sudah menata kursi rodaku dan menguncinya. "Iya ni ma, dah kebelet."  "Kamu di kasur aja ya biar mama ambilin pispot nya." Suruhnya padaku, tapi kali ini aku tolak. "Mama jangan ngajak berdebat ya, udah gak tahan ni ma..." protesku pada mama, dia hanya menahan tawa. Untuk sekarang mama membiarkanku pergi ke kamar mandi sendiri, karena aku juga harus belajar mandiri dan membiasakan keadaan baruku agar aku nanti gak terlalu repot dan frustasi bila tak ada orang lain di sampingku . Lagian untuk urusan ke kamar mandi masa harus di bantu orang lain. Jadi geli sendiri membayangkannya.  Selesai dari kamar mandi aku mengayuh kursi rodaku mendekati mama. Untungnya sudah hampir 1 bulan dan luka di tangan dan sikut ku lumayan membaik jadi sudah tidak terasa begitu sakit bila di gerakkan. "Ma,,,, kok mama ada  disini sih? Bukanya jadwal papa hari ini mau ke Bandung?"  "Oh itu. Mama lagi pengen disini nemenin 'Brownies' mama. Biarin lah 'Pala' mama ke Bandung sendiri, besok juga udah pulang lagi kan ketemu mama." "Wah...wah... bahasa mu ma.... sangat gaul juga rupa-rupanya, sampai aku gagal paham ni." Ledekku pada mama, dia hanya mengangkat kedua bahunya dan tersenyum mengejek.  "Makanya jadi anak muda tu gaul Gar gaul.... biar terus tau bahasa gaul." Ejeknya. "Emang kamu gak tau apa itu 'Brownies' sama 'Pala'?" Ucapnya pengen tau. Aku menggeleng pelan. Dia tertawa yang ditahan. "Mama... 'Brownies' itu setauku nama kue kalo 'Pala' kan nama bumbu masak ya kan?" Kataku dengan memberengut. Mama meledekku dengan mencebikkan bibirnya tanpa menjawab. "Gimana tadi kamu udah ketemu sama calon dokter barumu?" Tanya mamaku . Aku menggeleng pelan. "Belum ma, aku tadi tertidur, kepalaku pusing banget." Kataku menerangkan. "Oh... ya mudah-mudahan dia menerima tawaran job nya." Ucap mamaku seperti putus harapan. "Ya iya lah masak gak diterima, lagian ya, mama ku sayang.... kalaupun gak ada dokter baru aku bisa sendiri kok, ato mama cari perawat aja ma, kan sama saja." Usulku pada mama . Dia hanya melirikku dengan tatapan tajamnya yang tak bisa ku artikan. Aku menunjukkan jajaran gigi putihku, merasa kaka-kataku barusan menyinggung mamaku." Oh ya ma, lusa aku mau keluar bentar aja, boleh ya ma? Pleasee!" Rengekku memelas.  "Di tempat kerjaku ada interview karyawan baru ma, dan aku mau aku bisa hadir disana, aku mau interview langsung mereka, ya,ya,ya....boleh ya....?" "Sama siapa?"  "Sendiri ya ma." Mata mama langsung membola mendengar ucapanku. "Eh ya... sama Saino ya?"  "Kalo kamu pergi sama Suro, sama Londo akan mama ijinin, selainnya gak usah ngarep aja, lagian jaman now Gar, kamu kan bisa pakek Zoom atau apalah itu istilahnya." Ucapnya tegas. "Yah mama, kalo banyak orang mah namanya rombongan ma, kan gak asik ma aku butuh ketenangan." Protesku . "Ya udah kalo gak mau rame-rame ya jangan pergi, kalo butuh ketenangan ya tetaplah disini.ok!"  'Huft' aku mendengus dalam hati, kalo mama udah begini pasti sulit ni di bujuknya, harus panggil papa atau Saino ni.  ......... Setelah perjuangan panjang dan memakan waktu lama akhirnya hari ini aku diperbolehkan keluar oleh mama, ya walaupun cuma sebentar kan lumayan buat refresing, bisa menghirup udara luar. SUV Land Rover warna hitam sudah menungguku di bawah, dua orang pengawal yang mama siapkan untuk ku tak jadi ikut, akhirnya aku bisa pergi tanpa diawasi, masih aja Mama ku sangat protektif padaku. Padahal usiaku sudah tiga puluh tahun bukan lagi tiga tahun.  Interview akan dimulai pada jam 8 pagi waktu setempat. Jam tujuh lebih tiga puluh menit aku sudah sampai di pelataran parkir wahana permainan baru milikku. 'MISS MERMAID' bibirku menerbitkan sebuah senyum puas ketika melihat papan nama tempat ini. Interview berjalan lancar, Sesuai rencana interview tersebut akan selesai pada pukul sembilan tiga puluh. Para peserta yang telat maka tidak akan bisa mendapat kesempatan untuk bekerja di tempat ku.  Aku paling benci orang yang ngaret dan selalu tidak tepat waktu, bagiku itu sangat tidak menjunjung tinggi kinerja dan kualitas sebuah pelayanan untuk pelanggan. Serta tidak bisa menghormati pekerjaan mereka. "Enggar, lu duluan ke mobil ya! Gue mau ngobrol bentar sama temen gue disana." Terang Saino padaku."cuma bentar kok, beneran." Tambahnya, takut aku protes. "Ok. Terserah lo aja lah." Jawabku pelan. "Minta sekretaris lu buat nganterin lu dulu bisa kan?" Mobilnya sudah aku parkir di depan taman di bawah pohon rindang ." Katanya menjelaskan. "Mmmm... ok." Saat ini aku sudah berada di dalam mobil, meneliti keramaian di sekitar wahana permaian air yang nantinya akan beroprasi dan siap dibuka dalam waktu 6 bulan lagi.  Wahana ini sekarang masih dalam proses penyelesaian tahap akhir, baik renovasi tempat, maupun perekrutan dan pelatihan karyawan baru. Aku mau semua karyawanku di latih dan di karantina agar kinerja mereka selalu memuaskan. Aku duduk di kursi penumpang bagian belakang. Menyandarkan tubuhku dan meminum ice lemon tea favoritku. Marasa bosan karena sudah sekitar dua puluh menit Saino belum datang. Sial juga dia katanya cepat tak taunya malah lama. Aku mengambil kamera kesayanganku, memasang lensa dan menyetel nya. Ku tatap pemandangan luar dari dalam mobil yang terlihat jelas namun tak bisa terlihat dari luar isi dalam mobil. Mataku menatap pada sebuah pemandangan yang cukup menghiburku. Seorang perempuan tengah berlari mengejar seorang laki-laki jangkung.  Yang pada akhirnya perempuan itu tidak sanggup mengejarnya, sepertinya itu tadi jambret terlihat jelas dari rasa kesal yang tercetak dari wajah perempuan itu.  Namun tak ada orang sekitar yang membantu. Hingga dia lagi-lagi harus terjatuh karena terpeleset oleh botol air minum yang dia lemparkan sendiri. Dia makin tampak aneh karena duduk dengan tenang di tanah tanpa menghiraukan lalu lalang orang di sekitarnya. Melihatnya kelelahan dengan peluh bercucuran dan penampilan acak-acakan membuat jantungku berdesir.  Membayangkan dirinya dalam dekapanku dan memohon untuk dipuaskan. 'Gila..... Aku pasti kurang tidur.' Pikirku dalam hati. 'Penghianatan Calista masih menyisakan lara, malah aku sekarang telah tergoda, oh... tunggu aku tidak tergoda hanya saja naluri laki-laki itu tentu selalu ada.' Perang batinku seolah tak usai . Pemandangan itu membuatku reflek membuka jendela SUV ku dan tanpa aku sadari memotret dia beberapa kali, ketika dia menyadari nya segera ku tutup jendela mobilku. Sialnya perempuan itu malah mendekati mobil SUV ku, jantungku seolah keluar dari persembunyiannya. Aku tidak menyukai ini, tapi tubuhku bereaksi terlebih dulu. Pikiranku seperti terhipnotis dengan tingkahnya, yang tak ku tau kenapa. Dia yang berterima kasih pada mobil SUV ku setelah meminjam kaca spion untuk merapikan dan menguncir rambut serta usapan tangannya di wajahnya yang berantakan terlihat sexy di mataku. 'Oh Tuhan... apa aku sudah gila, atau kurang belaian, sehingga orang aneh dan berantakan di depan ku itu membuatku meremang.' Bugh. Suara pintu mobil di tutup dengan keras, membuatku terjengkit kaget. "Apaan sih lu, No,,,, bikin kaget aja." Semprot ku keras. "Lagian lu juga sih bengong aja di dalam mobil, kesambet setan baru tau rasa lu." Guyonannya yang menyebalkan. 'Belum tau dia kalo aku baru kesambet bidadari bermata lebar ' Batinku menimpali. Aku memutar bola mataku, merasa jengah dengan semuanya. Penghianatan kekasihku membuatku sulit untuk mempercayai lagi seorang perempuan, selamanya, atau ya minimal juga gak sekarang jadi biar semua clear dulu. Tapi entahlah sepertinya naluri lelakiku sangat tertarik dengan perempuan bermata lebar itu. "Kita ke Cafe Melody !" Perintahku pada  Saino. Diapun hanya mengangguk mengikuti perintahku. Mobilku berhenti pada tempat parkir yang ku kenal. Sudah lama rasanya tidak kemari. Kubuka jendela mobil di sampingku lalu ku hirup udara yang seketika menerpa wajahku, harum nya aroma kopi dan sedapnya kue serta bumbu dapur menguar memanjakan hidungku. "Lu mau keluar atau aku yang memesan?" Tanya Saino padaku. "Lu aja dech, males gue. Biasa bolu pisang ya, mm....minumnya gak lah masih ada tu." "Okey, tunggu sebentar. Lama-lama gue jadi jongos lu juga ni." Komentar Saino padaku sebelum turun dari mobil. Aku terkikik geli mendengar omelan sepupuku itu. Dia kadang memang sangat menyebalkan tapi, dia juga sayang banget sama aku, atau mungkin karena kita beda usia tiga tahun, dia selalu menjadi sosok seorang kakak bagiku. Dan mungkin juga karena kita sama-sama anak tunggal. Sial. Lagi-lagi aku harus menunggu lama di dalam mobil, sudah hampir empat puluh lima menit Saino belum kembali juga. Kuambil telpon di kursi sampingku. Dengan segera mendial no Saino. "Hallo boss?" "Ngapain sih lu No, lama bener, buruan lah!" "Sabar-sabar, bolu pisang pesananmu masih dalam proses pembuatan." "Apa? Gak jadi aja deh, kita balik sekarang!" "No.no.no.no.... aku udah bayar bolunya so, aku musti tunggu hingga mateng." "Aku...." Tut.tut.tut.tuttt.... Brengsek. Belum selesai kata-kata ku dia malah mematikan sambungan telpon kami. Aku mengeram kesal.  Dia juga pasti sengaja, dan mencuri kesempatan untuk tebar pesona, apalagi Cafe Melody termasuk Cafe  E-lite Jadi pengunjungnya tentu saja orang keren papan atas. Lama sudah aku menunggu di mobil hingga rasa kantuk menghampiriku. Ku rebahkan tubuhku pada kursi yang sudah ku tata letaknya. Drrrt...drrttt....drrrtttt... Aku terjengkit kaget menďengar ponsel ku berdering.  'Hallo sayang... kok belum pulang? Belum selesai ya?' 'Och,,,, iya Ma belum, bentar lagi aku pulang ma, sekalian makan siang di luar ma, udah siang ini.' 'Oh,,,, ya udah, hati-hati! Jaga diri baik-baik!' 'Iya Ma. Bye' Tut. Ponsel kumatikan. Sudah jam 12 lebih tapi belum ada tanda Saino balik . Dan posisiku masih di dalam mobil di tempat parkir Cafe Melody. Ku raih ponsel ku dan mendial no Saino. 'Iya gue dah mau keluar ni.Tunggu bentar, lu pengen makan siang sekalian gak disini?' 'Gak, kita ke tempat lain aja, cepetan!' Tut. Kali ini ponsel ku matikan duluan sebelum dia menjawab. Ku ambil ice lemon tea ku bermaksut untuk meminumnya tapi, ku urungkan karena kini telah mencair. Aku mengalihkan pandanganku keluar jendela, hatiku derdegup ketika mataku menangkap sosok perempuan yang berjalan dengan di gandeng oleh perempuan lainnya. Dia adalah perempuan tadi. Sepertinya dia terluka lumayan parah hingga harus di papah, bertepatan dengan dia masuk dia dan temannya hampir bertabrakan dengan Saino. Mereka seperti saling sapa dan akrab. Aku jadi sangat penasaran. Saino membawa perempuan itu keluar dan berbincang-bincang, sebelum akhirnya saling melambaikan tangan dan Saino berjalan ke arah mobil, sedang perempuan itu mematung di tempatnya tersenyum dengan manis pada Saino. Senyumnya sangat manis, tidak hanya manis tapi tububku seperti tersihir melihatnya. Ketika Saino membalas senyumannya ada rasa tidak terima dalam hatiku. Entah kenapa.  Aku mengagumi senyum itu beberapa saat sebelum akhirnya Saino masuk ke dalam mobil dan kami pun pergi meninggalkan tempat itu untuk mencari makan dan kembali ke rumah sakit. Rencanaku memaki dan memarahi Saino untuk aksi lamanya di Cafe tadi mendadak sirna, akupun hanya terdiam hingga tiba di rumah sakit. Aku merasa sangat penasaran dengan perempuan itu. Rasa yang begitu lama tidak pernah aku rasakan ketika aku bersama Calista. *** Bersambung.....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD