Sore yang indah, semburat merah mewarnai langit putih yang cerah membentang. Semilir angin menerpa anak rambut sebahu yang dibiarkan tergerai tanpa tali.
Seorang lelaki duduk diatas kursi rodanya dengan sebuàh kuas yang dia pegang di tangan kanannya sedang tangan kirinya memegang paĺet dengan tinta warna hitam dan putih.
Sebuah kanvas ukuran 40×60 cm berdiri kokoh pada sebuah easel kayu dihadapannya. Pada permukaan kanvas terdapat sebuah lukisan seorang lelaki dan perempuan yang saling duduk bersandingan, tertawa dan memandang ke depan penuh kebahagiaan.
Sedangkan si pelukis,Enggar. Sepeninggal mama dan papanya masih berdiam diri di rooftop rumah sakitnya.
Ekspresinya kosong, seperti tidak berkonsentrasi dengan lukisannya, dia memandang lukisan itu namun dengan tatapan menerawang.
Flasback On
'Sayang ... kamu dengerin aku dulu donk, dia emang pacar aku, tapi kamu adalah ayah dari anak yang aku kandung.'
...
Suara merdu Calista yang sedang berbicara dengan seseorang di telpon, serasa berbisik di balik pintu kamar mandi, masih bisa tertangkap dengan jelas oleh indra pendengaran Enggar. Enggar yang tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar kemudian mencubit pipinya, dia berdesis merasakan sakit.
'Sayang ... kamu harus percaya padaku, hanya kamu yang aku cinta, dia cuma seekor anjing kecil yang menghasilkan banyak uang untuk aku hamburkan.' Sebuah seringaian rubah tercetak disana, yang tak bisa Enggar lihat.
...
'Tentu, aku hanya mencintaimu dan tak akan pernah berpaling, kaulah segalanya bagiku.'
...
'No.no.no ... kamu sangat berbeda dengan nya, kamu sangat pintar dan berkarisma, kamu tak tau selama empat tahun lebih aku harus menahan amarah dan kesabaranku menghadapi nya, dia itu, bayi dewasa yang bodoh dan mudah di perdaya.'
...
Hati Enggar meradang, dia mengepalkan jemari tangannya dengan kuat. Menahan amarah yang menguasainya. Ternyata selama ini dia benar-benar jadi sapi perah dan hanya di jadikan sebagai tambang emas. Diapun mengumpat dalam hati.
'Tentu saja, love you beib. Besok kita ketemuan ya, anak kita udah kangen banget sama kamu, aku harus pergi dulu mengurus bayi dewasa itu.'
...
'Bye beib, love you too.'
Flashback Off
Tanpa dia sadari Enggar mengeratkan giginya hingga bèrgemeletuk. Lamunannya membawanya pagiitu, dimana dia mendengar perbincangan Calista dengan entah siapa, yang dia sebut sebagai ayah dari anak yang dia kandung.
Plok.plok.plok..
Terdengar suara tepuk tangan dan derap kaki melangkah menghampirinya. Enggar dengan terpaksa kembali ke alam nyata.
Di dengarnya suara pujian namun dengan nada yang terkesan bercanda dan meremehkan."Wah ... wah ... wah ... impresive! Bener-bener luar biasa, Picasso bakal kegeser ni namanya." Puji seseorang lelaki dengan potongan rambut spike nya dan kacamata minus yang bertengger di wajahnya. Yang tak lain adalah sahabat karibnya Adi.
'Sialan. Ngapain juga mereka kesini, kayak gak ada kerjaan aja.' Batin Enggar dengan tangan penuh cat lukis itu. Dia tau mereka bermaksud baik, untuk menghibur dan menemaninya tapi sepertinya bukan di saat yang tepat.
Enggar menghentikan sejenak acara melukisnya, menaruh kuas pada wadah penuh tiner dan membersihkan tangan kanannya dengan lap penuh warna di pangkuannya, menyibakkan rambut ke belakang telinganya, lalu menoleh ke arah datangnya suara untuk memastikan dua orang yang merusak waktu santai sorenya.
Berdecak. "Wah ... wah ... wah ... ada angin apa rupanya? Hingga aku kedatangan tamu istimewa hari ini." Balasnya sarkas dengan senyum miring.
"Dah ah ... jangan resek, pergi sono! Ganguin orang aja lu pada disini." Dengusnya kesal. Hatinya sedang mengeras mengingat wanita yang dia kasihi menghianatinya.
"Ya elah ... my men ... udah baik-baik kita jenguk. Malah di usir lagi, padahal gue udah dandan keren dan ganteng gini." Celoteh Adi, laki-laki berkaca mata dengan gaya santai, menepuk pundak sahabatnya itu dan mengamati hasil karyanya, dia tau kalo suasana hati sohibnya ini sedang tidak enak. Tapi dia tak ingin melihat Enggar terus sedih dan patah hati.
"Well done. Menakjubkan." Timpal seorang lainnya dengan senyum simpul yang menenangkan, yang tak lain adalah sepupunya, Saino. "Bagus Gar, hobimu ini akan membantu percepatan pemulihan jiwa mu." Terangnya kemudian.
"Iya bagus, tapi kalo disamain dengan lukisan anak TK." Celetuk Adi dengan tawa yàng meledak. Sesaat kemudian terdengar dia mengaduh kesakitan karena sebuah sandal mendarat di rambut spike rapinya sebelum jatuh ke tanah.
"Sialan! Mulut lo belum pernah dijadiin kanvas ya," makinya. Dan diapun hanya nyengir kuda. "Mood gue jadi hilang ni gegara ocehan lu." Katanya bersungut-sungut.
"Peace ... peace ... peace ...." jawab laki-laki berkaca mata itu. Sedangkan lelaki dengan manik mata hitam dan rambut cepak di sampingnya hanya mengulum senyum melihat tingkah mereka.
"Ino, lu gak betah ya ngurusin gue, kata mama lusa mau ada dokter jaga baru buat ku." Tanya laki-laki bernama Enggar itu kepada sepupunya Saino.
"Mmmm ... masalahnya kerjaan gue numpuk-numpuk lah, lu kan tau bentar lagi mama dan papa lu juga bakal ke London. Tenang saja kok, dia lulusan terbaik udah gitu cantik," Terangnya dengan nada menggoda dan mengedipkan sebelah matanya. Namun mendapat balasan sebuah decihan ringan.
"Adi, gimana lu jadi pergi gak lu ke club hari ini?" Tanya Saino.
"Males lah No, kalo lu gak pergi gue disini aja."
"Ya udah lah kita pesen makanan dulu ya? gue laper," àjaknya .
Mereka berdua mengangguk menyetujui.
***
Enggar POV~
"Enggar jangan lupa ya, hari ini dokter barumu akan datang. Kamu harus berkenalan dengan nya langsung! sapa tau dia tipe mu," ucapan Saino meledek sekaligus mengingatkanku.
"Mmmm ...."
"Dia akan datang sebentar lagi, mungkin masih di lobby bawah."
"Mmmmm ...."
Kring ... kring ...
Suara intercom ruangan ku berbunyi, Saino dengan segera menjawabnya. Dia mengaktifkan mode loud speaker.
"Hallo selamat pagi? dengan dr.Saino."
"Hallo dok selamat pagi, baru saja dr. Kanayu tiba, dia bilang sudah ada janji dengan dokter, dan saya sudah mempersilahkan dia untuk naik ke lantai 20."
"Oh ... Ok. Terimakasih Maya."
Tut. Suara intercom tertutup.
Saino memperhatikanku. Aku meliriknya ."Apa?" Ucapku ketus, malas saja bila pagi-pagi harus mendengar ledekan darinya.
Dia tersenyum dengan menaik turunkan alisnya. "Buat lu aja! dari kemarin kayaknya lu minat banget sama dia." Dengusku kesal.
"Awas ya, jangan sampai lu nyesel kalo dia jadian sama aku," jawabnya dengan menyunggingkan senyum.
"Terserah."
"Gue ke depan dulu, sapa tau dia sudah tiba," ucapannya kemudian, mengalihkan topik yang lumayan menyebalkan bagiku.
Aku hanya mengangguk. "Minum obat sama vitamin mu dulu, nanti siang aku temani kontrol setelah kenalan dengan dokter cantik," katanya, kemudian melangkah pergi ke arah pintu utama.
Ku dengar suara pintu utama kamarku terbuka, tak ada suara apapun selama beberapa menit. Kemudian suara Saino mempersilahkan seseorang masuk terdengar dan disusul suara pintu utama yang tertutup.
Jantungku tiba-tiba berdesir dan berdetak lebih kencang, aku tak tau kenapa mungkin akibat beberapa hari ini aku kurang tidur dan rasa stress yang melandaku semakin besar, penghianatan itu benar-benar menguras pikiranku. Apalagi kaki ku yang kini harus di gips, sehingga membuatku kurang nyaman untuk bergerak. Belum lagi masalah pekerjaan dan proyek baru yang menumpuk, dan aku tak bisa tinggal diam. Dua minggu lebih aku meninggalkan proyek wahana bermain baru ku itu. Untuk selanjutnya aku tak boleh ketinggalan, karena aku juga ingin segera menyelesaikan pembangunannya dan mematangkan konsepnya.
Aku merasakan tenggorokanku kering, ingin menghabiskan air putih yang beberapa menit yang lalu aku minum, mencoba meraih gelas di nakas samping ranjangku, kurang sedikit lagi dan prang ... suara gelas terjatuh memenuhi ruangan.
Saino berjalan dengan cepat menghampiriku, mukanya sangat khawatir. Aku nyengir kuda, dia mengelus dadanya. "Lebay lah lu. Ambilin gue air sama kasih gue obat tidur dong! Kepalaku pening banget, dan gak mau untuk diajak tidur." Kataku pada Saino.
Tanpa bertanya banyak diapun melakukan apa yang kuminta. "Hati-hati! ntar jatuh lagi, biarin aja tu sampahnya, nanti tak suruh orang buat beresin." Suruhnya tegas.
Aku mengangguk, mengerti. "Ni cepetan minum, biar lu bisa cukup istirahat." Perintahnya dengan menyodorkan segelas air putih dan kaplet obat.
Kuteguk air itu setengah gelas lalu ku minum kaplet berwarna putih yang dia berikan padaku.
"Lu gak mau lihat dr. Cantik itu? "Tanyanya menggoda.
Aku memutar bola mataku. "Ambil!ambil ... ambil saja! Sudah lah mataku sudah mengantuk, aku mau rebahan dulu, kalo udah selesai kabari aku biar aku gak ketinggalan berita!" ucapku aku buat seramah mungkin.
Dia mengulum senyum lalu kembali ke ruang tamu. Aku sudah memejamkan mataku tapi belum terlelap, sehingga aku bisa mendengar suara di luar.
Suara Saino yang berdehem lumayan keras, membuatku geleng-geleng kepala, jadi penasaran dengan ekspresinya. Sesaat setelahnya terdengar suara seseorang sedang membersit hidung lalu menyuarakan kata maafnya.
Suaranya terdengar begitu merdu. Seolah aku pernah mendengar suara itu sebelumnya, jantungku kembali berdesir, detakannya terasa lebih kencang. Aku mengelusnya pelan, menyuarakan pada diriku untuk cepat tertidur.
Namun sepertinya indra pendengaranku lebih tertarik dengan percakapan yang ada di ruang tamu. Aku membuka mataku, mencoba menghayati suara itu, tapi tak ku temukan dimana aku pernah mendengarnya. Aku tidak tau apa yang mereka bicarakan karena terlalu terbuai dengan suara nya yang menghanyutkan.
Tiba-tiba ada rasa penasaran dalam hatiku untuk bisa melihat dan berkenalan dengannya. Sepertinya Saino masih belum berniat mengenalkannya padaku.
Sudah lama aku menunggu belum juga dia masuk ke kamar ku, hingga obat tidur itu mengalahkan kesadaranku, sempat kulihat sebuah bayangan seorang perempuan di belakang Saino dan untuk detik selanjutnya aku sudah tak ada lagi disana. Obat itu mengalahkanku.
Ketika aku bangun aku sudah mendapati mamaku tesenyum di samping ranjangku. Mengupas buah dan menungguku.
****
Bersambung ...