DENDAM 14

2301 Words
Enggar POV~ Aku membuka mataku dengan pelan kemudian mengerjapkannya beberapa kali, bau khas rumah sakit menyusup ke dalam indra penciumanku. Ku arahkan pandanganku ke samping ranjang ku. Disana ada mama, sedang tertidur. "Ma ... mama?" Suaraku parau memanggil mamaku yang menggenggam jemariku dengan erat. Mama terbangun dari tidurnya. Wajahnya terlihat lelah, kantong matanya menghitam."Enggar? Alkhamdulillah nak, kamu sudah bangun sayang?" Matanya berbinar-binar. Dia bangun dari duduknya lalu memencet tombol pemanggil dokter darurat. "Kau tidak apa-apa sayang? Kau butuh sesuatu?" Tanyanya panik, karena aku masih diam. "Mmm ... air ma, tenggorokanku kering." Jawabku pelan. Segera mamaku pergi ke dapur,menuangkan air ke dalam gelas dan memberikannya padaku. Aku meraih gelas itu lalu meminum isinya dalam sekali teguk hingga aku tersedak. "Pelan-pelan dong sayang ... minumnya!" Perintah mamaku yang segera mengambil gelas dari tanganku, menyerahkan tisue dan menepuk-nepuk punggungku. "Ma ...?" Masih menepuk pundakku pelan."Mmmm ... apa sayang?" Jawabnya tanpa memindahkan badannya yang berada di belakang ku. "Ma,Mama ...?" Rengekku manja, sudah lama sepertinya aku tidak melakukannya. "Iya sayang ... ada apa sich, kayak balita aja masih suka merengek." Cecarnya ketus, dan beringsut ke depanku. Aku menunjuk pada kakiku yang dipasang gips dan semua luka di tubuhku. Aku mencebikkan bibirku, mamaku tertawa dan mengusap sudut matanya. "Ih ... Mama kenapa sich kok nangis, aku kan gak pa-pa Ma. Kan aku yang sakit Ma, kok malah Mama yang nangis sih. Emang berasa ya sakitnya?" Godaku manja. Mamaku melotot padaku dan menghantam lenganku yang di perban, aku meringis menahan sakit. "Syukurin tuh, KUALAT. "Balasnya tak terima. Aku memutar bola mataku. Lalu kamipun tertawa bersama. Aku sesekali menahan sakit pada lukaku. "Ma ... ini aku kok bisa kayak gini sih ma?" Tanyaku penuh selidik. 'Apa tabrakan itu nyata dan terjadi.' Batinku bertanya. "Mmm ... ya ... apa kamu lupa?" Tanyanya kembali. "Gak semua sih ma ..., tapi aku kayaknya sedang bermimpi loch, aku mimpi kita janjian buat makan malam, lalu ...." Mataku membola, bayangan-bayangan Calista yang menghianatiku dengan laki-laki lain, hingga kabar kehamilannya yang aku dengar sendiri dan aku ... tabrakan itu? Rem motor ku yang aku tumpangi. Sial. Semuanya nyata dan bukan mimpi. Aku menutup mulutku, masih tak percaya. Aku ingat semuanya, jadi itu bukan hanya sekedar mimpi, tapi hal nyata yang terjadi padaku. Tubuhku mulai bergetar, rasa sakit itu kembali memenuhi hatiku. Lebih kepada rasa sakit karena penghianatan Calista. "Ma .... aku?" Pandanganku tertuju pada kakiku yang membengkak karena adanya gips disana. Mamaku tersenyum. "Gak parah kok, masih ada harapan buat mu sembuh dan berlari seperti sedia kala. Semuanya tergantung dari usahamu." Mamaku mengelus gips yang membungkus kakiku. "Kamu harus melakukan oprasi lagi nanti, tunggu penjelasan dari dokter ya! Kami pasti akan mencari dokter terbaik untuk merawatmu, bila perlu kita ke luar negeri." Rasa sedih terpancar dari raut wajahnya. Aku mengangguk. Tak ingin bertanya lebih banyak, meskipun berbagai pertanyaan memenuhi kepala ku. "Iya sayang ... kamu ingatkan semuanya?" Selidik mamaku, yang kini merangkulku. Aku hanya diam dan mendengarkan dia berbicara. "Kamu tenang aja ya, semua akan baik-baik saja. Kamu percaya sama Tuhan kan?" "Iya ma." "Sudahlah ... sebentar lagi papamu dan Saino tiba, jangan nangis dan sedih gitu lah kan jadi gak semangat!" Perintahnya padaku. 'Yang nangis dan sedih itu siapa? yang di bilangin jangan nangis dan sedih itu juga siapa? mama ... mama ...' gumamku dalam hati. "Mmmm ... ma ... trus Top gimana ma? Apa dia baik-baik saja?" Tanyaku penasaran. Sudah lama juga tak melenggang dengannya, kangen juga ternyata. Ekspresi wajah mama ku berubah. Dia menggeleng pelan kemudian lebih dalam dan mantap. "Ya ampun ma ... " aku memekik dengan menahan sakit. Jagoanku Top, nama motor ku, iya motor yang aku kendarai waktu kecelakaan. "Huft." Aku menghembuskan nafasku berat. "Ma ... aku udah terbaring disini berapa lama?" Tanyaku kembali. "Trus ibu yang aku tabrak itu gimana ma keadaannya?" Tanyaku tiba-tiba, saat aku mengingat kejadian di lampu merah itu. 'Semoga ibu itu baik-baik saja.' Do'aku dalam hati. Mama terlihat kaget. Diam sesaat. "Empat belas hari sayang. Udah ya kamu istirahat dulu jangan pikir yang macam-macam. Biar cepet pulih. Nanti mama cerita lagi." "Ma ... .ak ..."suaraku terhenti, karena papa dan sepupuku Saino tiba di kamar ku. Sementara mama menghentikan ceritanya. Padahal aku masih penasaran dengan keadaan ibu itu. "Sayang. Kamu baik-baik aja kan?" Ucap papaku. Aku hanya mengangguk. Papaku berlari ke sampingku dan memelukku, aku terbatuk-batuk dan meringis kesakitan. "Pleaser ... jangan lebay papa?" Gurau ku . Papa menoyorku ringan lalu memeriksa denyut nadi dan detak jantungku. Saino memelukku ringan lalu tersenyum melihatku siuman. Papa kemudian menjelaskan prosedur penyembuhanku, rehabilitasi, operasi lanjutan bulan depan, dan lain-lain. **** Enggar POV~ Dua minggu pasca siuman. Aku masih sama, tidur di ranjang kamarku tanpa melakukan apapun, kecuali saat jadwal Fisioterapi, semakin hari aku merasa seperti seorang bayi. Bahkan untuk ke kamar mandi saja aku harus di bantu. Dan semuanya adalah pekerjaan mamaku yang melarangku untuk jangan banyak bergerak. Padahal badan ku pegel semua bila tak di gerakkan. Fisioterapi atau terapi fisik adalah prosedur yang dilakukan untuk memeriksa, menangani, dan mengevaluasi pasien yang memiliki keterbatasan gerak dan fungsi tubuh. Fisioterapi juga digunakan untuk mencegah cacat fisik, serta mengurangi risiko cedera dan gangguan pergerakan yang bisa terjadi di kemudian hari. www.halodoc.com "Ma ... aku udah selesai ni! " panggilku pada mama setelah menyelesaikan acara buang hajat kecil ku. Mama berlari kecil menghampiriku lalu mengambil pispot yang aku letakkan di bawah kakiku. "Gar, minum air yang banyak sayang! Tuh lihat air senimu warnanya pekat banget." Serunya sambil menunjukkan pispot tadi. Menyebalkan dan menjijikkan sekali. "Iya-iya mama ... udah ah cepetan di buang jijik lah ma! Kenapa sich mama gak biarin aku ke toilet sendiri aku kan bukanya bayi ma ... " Protesku pada mama, dia hanya menampakkan ekspresi datarnya. Heran, apa dia gak merasa jijik dengan apa yang dia lakukan. Dengan cekatan dia membereskan nya dan menuju kamar mandi. Mama ku memang paling hebat deh dia adalah seorang ibu rumah tangga, karirnya ya keluarganya. Kerjaannya selalu ikut dengan papa. Menemaninya kemanapun, merawat dan menjaga semua keperluannya dan aku. Makanya aku memutuskan untuk tinggal sendiri, karena sikap over protektifnya juga membuatku jengah tapi, papaku sangat menyukai dan menerima semua perhatian mama, nah ... itu yang membuatku iri sama papa, mereka saling mensuport. Bila senggang dia melakukan bakti sosial atau penggalangan donasi. "Sayang ... kamu tau kan Mama dan papa sebentar lagi mau ke London untuk waktu yang lama." Dia menoleh padaku memeriksa reaksiku. Aku masih malas menanggapi kata-katanya yang aku tau kemana arah omongannya itu. "Mmmmm ...." jawabku asal. Mamaku berdecak. "Enggar? Denger gak apa tadi yang mama bilang?" Suaranya meninggi namun masih terdengar ramah. "Mmm ... iya ma, aku denger kok. Terus?" "Trus, kamu kapan bawa calon menantu Mama itu kemari? Sudah dua minggu lo kamu siuman tapi kekasihmu itu belum pernah menjenguk mu juga." "Lagi sibuk mungkin Ma." "Sibuk sama yang lain, sampai kekasihnya sendiri yang sakit di anggurin?" Aku masih belum bilang sama mama ku kalau kekasih ku itu ternyata sialan. "Ma ... aku gak akan menikah Ma, ya. Minimal tidak untuk saat ini." Kataku pelan namun terdengar jelas di telinga mamaku hingga dia tersedak air yang sedang dia minum. "Loch,Maksud kamu apa?" Tanyanya penuh selidik, cepat-cepat dia mendekatiku, duduk di tepi ranjangku dengan mengerutkan dahinya, merasa tidak percaya dengan yang dia dengar. "Kamu gak sedang bercanda kan sayang? Atau jangan-jangan kamu suka dengan laki-laki?" Celetuk mamaku penuh asumsi. Aku tersenyum simpul mendengar kekhawatiran mamaku. "Ma ... dengerin, aku mau ngomong hal penting sama Mama." Aku terdiam sejenak berusaha menetralkan suasana. "Mama benar, dia bukan perempuan baik-baik ma." ucapku lirih." Dia sudah menghianati Enggar Ma, dia hamil dengan laki-laki lain." Jelasku. Mata mamaku terbelalak, mendengar penjelasan ku baru saja. Dengan segera mama menggenggam erat tangan ku lalu merengkuhku ke dalam pelukannya. Sebuah senyum kecil terbit di sudut bibirnya. Dia mengurai pelukannya. "Good. Bagus itu sayang." Teriaknya dengan lantang. Lalu menepukkan kedua tangannya hingga berbunyi. "Ma ... Enggar itu lagi sedih dan di hianati. Please deh ma! Mama kelihatan seneng banget," umpatku sebal. "Iya dong itu bagus, ini berita bagus," ucap mamaku berulang. "Itu artinya kamu akan menikah dengan wanita pilihan mama. Perempuan itu bodoh, karena sudah menyia-nyiakan kamu. Biarkan saja dia, dan jangan kamu pikirkan lagi. Dari awal Mama sudah gak suka dengan nya. Padahal kita belum pernah ketemu," terang mamaku . 'Mama udah pernah ketemu kok sama dia.' Batinku bersuara. "Ma ... please, jangan mulai lagi soal pernikahan ya! Mama lihat sendiri kan gimana keadaanku. Untuk sekarang aku gak mau nikah dulu Ma ...." mataku menatap kaki ku nyalang . Mamaku hanya mengangguk lalu tersenyum senang seolah mendapat undian berhadiah milyaran. "Okay. Kita bicarain ini nanti ya. Kamu udah waktunya minum obat kan, nah ini cepet diminum!" Perintah mamaku yang tengah menyodorkan beberapa butir obat dan air putih padaku. "Pahit ma ... gak mau ah." Tolak ku dengan merengek. Mama ku melotot dengan mengepalkan tangan padaku. Paling malas memang bila sakit dan harus minum obat, makanya bila sakit aku jarang minta di kasih obat, mending di suntik aja. Karena selain rasanya pahit aku susah menelannya karena rasanya bikin mau muntah saja. Ingatkan diriku untuk menghilangkan habit ini. Sehabis minum obat dengan drama ringan yang kubuat untuk sedikit menghibur mamaku, akhirnya aku berbaring dalam ranjang tidurku. Aku mengambil ponsel di nakas dan menghubungi seseorang. ... 'Hallo ... San? Gimana persiapannya?' ... 'Bagus, lakukan sesuai dengan rencana!' ... 'Kita lihat nanti. Semoga aku bisa pergi. Kau sendiri tau kan mamaku?' ... 'Ya ... aku percaya padamu. Info yang kemaren aku minta apa sudah kau dapat.' ... 'Good. Kirim ke E-mail ku.' ... 'Mmmm ... okay ... makasih banyak.' Tut. Ponsel ku matikan, aku memejamkan mata tapi tidak sampai tertidur. Mamaku sudah keluar mau membeli seduatu katanya. Aku merasa hopeless, marah, serta stress. Apalagi ketika mengingat Calista atau tanpa sengaja teringat dirinya, amarahku langsung memuncak. Hanya dalam hitungan jam kepercayaanku selama lima tahun padanya hilang tak bersisa. Yang ada tinggal kebencian dan amarah. Dalam hitungan detik, kamar menjadi rusak tak bersisa, sudah lebih dari tiga kali aku mengamuk dan merusak semua barang yang mampu ku gapai. Emosiku masih belum stabil, mama hanya bisa menangis ketika tak mampu menenangkanku. Mama sebenarnya wanita yang kuat namun dia sangat rapuh bila keluarganya, orang yang dia cinta, atau orang lain terluka di depan nya. *** Sehabis melakukan pemeriksaan dan Fisioterapi Enggar meminta kepada ibunya untuk di bawa ke rooftop rumah sakit. Pemandangan disana sangat indah. Dan nyaman. "Ma tolong ambilkan kanvas dan cat warnaku ya!" Rengekku pada mama. "Mmmm ..." "Ma ... sama snack nya juga ya!" Suruhnya memohon. Mamanya hanya mengangguk lalu melangkah pergi meninggalkannya. Dua puluh enam hari setelah dia siuman.Enggar sudah merasa lebih baik, menerima semua keadaannya. Meskipun masih melakukan perusakan pada kamarnya. Mamanya tak ambil pusing. Selama itu pula dia tidak menemui mantan kekasihnya atau mengabarinya. "Ini snack mu trus ini kanvas sama cat warnanya." Ucap mamanya mengalihkan perhatiannya pada pemandangan kota Jakarta. "Ma sini deh! Iya sini! duduk aja ya di sini. Nanti mama jangan banyàk bergerak." Pintanya. "Mmm .... ok, kamu mau nglukis mama ya, jadi Mama jadi model nya ni beruntungnya Mama?" Mamanya merasa sangat senang mengingat anak kesayangannya itu sangat pandai melukis. Selain itu mamanya juga berharap Enggar bisa melupakan kekecewaannya untuk cepat move on dan meniti hidup barunya dengan melukis. Enggar mengangguk membenarkan ucapan mamanya. "Eghmmm ...." Suara berat yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Enggar mengalihkan perhatiannya. Papanya berjalan dengan menenteng sebuah plastik dengan aroma khas kesukaan Enggar. "Mamy ... Papa kuuangen." Dipeluknya tubuh istrinya itu dengan erat, Enggar hanya diam melihat dengan mengerucutkan bibirnya padahal tangan nya sudah dia buka agar papanya memeluknya. "Ma cepetan lah kita pulang, jangan disini terus Papa sudah kangen berat sama Mama." Ucapan papanya di buat semesra mungkin biar di dengar oleh anak laki-lakinya. Enggar hanya membuang muka , kesal. Memang begitulah Mama dan Papa Enggar yang tidak merasa segan atau canggung menunjukkan kemesraannya di depan anaknya atau klien-kliennya. sehingga menjadi idola banyak rekan bisnis dan menjadi contoh bagi kehidupan rumah tangga mereka. "Iya Papa sayang ... sebentar ya. Tu anakmu saja sampek cemberut belum kamu peluk, sudah minta pulang." Ucapnya sambil menunjuk Enggar. Pak Pranoto hanya nyengir lalu menyerahkan kantong plastik yang tadi dia bawa." Ni, Enggar peluk ini aja deh. Mama ini punya ku." Ledek papanya sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya. "Makanya kamu cepetan kawin, biar ada yang di peluk-peluk. Eh ralat ya, nikah! baru boleh kawin ya!" Tambahnya menggoda. Enggar terlihat murka dan wajahnya mulai masam. Papanya tergelak senang. Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah dua laki-laki kesayangannya yang tidak mau akur itu. "Papa ... sudah ach, jangan becanda mulu, awas aja nanti malam gak dapat jatah." Ancam mamanya . Papanya langsung memohon dengan menjewer kupingnya sendiri dan berlutut di hadapan mamanya. Enggar melotot senang mendengar perkataan mamanya lalu mengejek ayahnya. "Kasian ... bisa kedinginan tuh dedek nanti malam." Kata nya dengan nada menggoda yang mendapatkan tatapan tajam dari papanya. Sesaat kemudian papanya menghambur dan memeluk Enggar untuk menggodanya. "Eh ... dedek nya papa gak bakalan kedinginan kok, kan nanti ada mas Enggar." Guraunya yang sontak membuat mamanya tertawa dengan keras karena ekspresi jengah Enggar saat ini. "Udah ach Papa ... jangan becanda lagi. Sini-sini duduk sama Mama biar kita dilukis." Pinta mamanya seraya menepuk kursi di sampingnya. Enggar yang melihat papanya merangkul pundak mamanya dengan posesif merasa begitu iri. Kapan dirinya bisa semesra itu dengan pasangannya atau tak kan pernah lagi karena hatinya sudah dia kunci. Wanita yang berhasil melyluhkan hatinya dengan kehangatan cinta yang dia tunjukkan pada sesamanya hingga membuat Enggar jatuh hati, dia jugalah yang kini telah berhasil membekukan hati Enggar, hingga menutupnya rapat-rapat dengan gembok besi. "Oh ya sayang dua hari lagi akan ada dokter jaga baru untukmu, kasian Saino harus melayanimu terus, dia juga butuh istirahat." Ucap mamanya, mengalihkan konsentrasi nya melukis . Lalu mengangguk. "Iya ma. Terserah mama saja," jawabnya pasrah. Lalu meneruskan lukisannya. 'Mungkinkah cintaku akan datang?, atau mungkinkah masih bisa kutemukan cinta sejatiku suatu hari nanti?' Tanyanya dalam hati. *** Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD