DENDAM 13

3300 Words
Enggar Teguh Orlando Pranoto, atau ETO nama tenarnya ketika dirinya masih muda dan sering tampil dalam berbagi ajang perlombaan renang antar sekolah dan turnamen internasional. Dibesarkan di keluarga Pranoto, keluarga dengan kekayaan yang melimpah, beberapa rumah sakit pribadi milik keluarganya berdiri di kota-kota besar di nusantara. Bahkan kini mereka sudah mempunyai rumah sakit di luar negeri dan tentu saja semuanya tidak lepas dari peran orang tuanya, ayah dan ibunya yang ramah dan baik tentu juga menjadi penunjang kesuksesan bisnis keluarga itu. Hal itu tentu terlihat sangat menyenangkan dan seolah-olah dirinya menjadi orang yang paling beruntung bagi sebagian orang. Ingin apapun selalu terpenuhi, ingin kemanapun bisa terlaksana dan pastinya selalu tak lepas dari kata-kata sanjungan yang sempurna. Namun hal itu justru membuatnya menjadi seorang anak kecil yang tumbuh sendiri menjadi remaja tanpa teman. Meskipun ada, mereka hanya mengharapkan uang atau ketenaran keluargannya saja. Hal itu membuat nya benci dan semakin marah dengan keadaannya. Dia begitu mencintai kedua orang tuanya yang selalu menyempatkan waktu padanya dan menyayanginya, tapi dia selalu saja merasa sendiri ketika berada di luar jauh dari keluarga ataupun di sekolahnya. Dia memiliki satu sahabat yang sama nasibnya dengan dia tapi dia lebih mengenaskan karena orang tuanya berada jauh darinya dan dia tinggal di Indonesia bersama neneknya. Meski sendirian dia selalu berprestasi, hingga pada saat awal masuk SMA dia berhasil menjuarai berbagai turnamen bidang olahraga renang, untuk pertama kalinya dia merasa senang dan bahagia, karena orang lain mengenal namanya tanpa adanya embel-embel orang tua. Dan sejak saat itu dia memutuskan untuk tidak membeberkan siapa dirinya. Menyembunyikan identitas papa dan mamanya. Dia semakin di kenal luas bahkan seantero negeri, sejak dia menyabet 5 medali emas di Olimpiade Beijing,China pada tahun 2008. Usianya yang saat itu masih 20 tahun membuatnya menjadi idola dan pujaan para wanita dengan pesonanya tanpa mereka tau siapa keluarganya. ETO adalah nama panggilannya, pemuda tampan dengan tinggi 185 cm, tubuhnya atletis, manik mata hitam dengan rahang menonjol semakin menambah pesona nya. Merupakan atlit renang kebanggaan pada masanya, hingga usianya mencapai 25 tahun dirinya masih berkiprah disana bahkan sering menjuarai turnamen, baik di dalam maupun luar negeri. Berbagai penghargaan pun berhasil dia peroleh, namun pada akhirnya dia memutuskan untuk mundur, dia merasa tidak nyaman dan tidak tenang, karena media sudah mulai mempertanyakan tentang privasi hidupnya. Dengan berbagai pertanyaan mengenai keluarganya yang sudah sejak lama dia sembunyikan. Dia senang berbagi mengenai apapun, terutama masalah cabang olahraga renang dan karir atau pun mimpi-mimpinya, namun dia akan mulai merasa terganggu jika para wartawan mulai mengusik masalah keluarganya. Karena disisi lain dirinya masih merasa belum siap dan masih merasakan trauma dengan berbagai gunjingan serta celaan masyarakat bahwa dirinya hanya mengandalkan uang kedua orang tuanya untuk mencapai kesuksesan, atau dia sebenarnya sama sekali tidak berbakat, jika bukan karena kekayaan orang tuanya. Hal yang sama masih dia takutkan dari kecil hingga dia sudah dewasa. Kemudian diapun memutuskan untuk pensiun dan menjadi seorang pelatih untuk para atlit pendatang baru lalu mulai merintis karirnya di bidang lainnya. Hingga pada waktu itu dia bertemu dengan Calista, seorang wanita cantik yang baik, memiliki senyum manis hingga berhasil meluluhkan hatinya. Dan dari kekagumannya pada Calista, muncul lah ide dalam dirinya untuk mendirikan wahana bermain. Enggar POV~ Satu minggu sebelum kecelakaan Sebuah catatan wajib dan harus di patuhi, bahwasannya setiap minggu minimal harus ada satu hari bagiku untuk berkunjung dan makan malam bersama mama dan papa. Dulu aku sangat menyukai hal itu, karena aku bisa ngobrol dan bersantai dengan mereka namun tidak dengan sekarang, apalagi setelah tuntutan mama padaku untuk segera menikah dan memiliki anak. Malas rasanya untuk datang namun, aku tak bisa lepas dari ancaman dan rengekan mama. Dan malam ini adalah malam yang sangat tidak aku sukai itu. Aku, mama dan papa sudah berkumpul di meja makan, berbagai menu kesukaanku telah di hidangkan dan siap di santap. Kami memulai acara makan malam dengan obrolan ringan dan santai. Namun suasana mulai menegang setelah mama mulai dengan semua pertanyaan yang memojokkan ku dan membuatku galau. "Gar ... gimana permintaan mama itu?" Ucap mama antusias, sedang aku pura-pura tak paham. "Jangan sok gak ngerti ya, mama tau kamu sudah punya kekasih dan mama mau kamu segera mengenalkannya dengan kami!" Perintah mamaku yang terdengar memaksa. Aku memutar bola mataku, mencoba menghindar dari drama panjang yang bakal mama ciptakan setelah pembicaraan pertamanya.'huh'. Aku menghela nafas dalam hati. Mencoba mengukir senyum termanis yang ku miliki. "Iya ma ... nanti ya, pasti bakal Enggar kenalin kok, mama yang sabar aja dulu ya!" jawabku asal, berusaha mencari alasan, namun belum aku temukan. Maklum saja semua alasan sudah aku pakai, dan aku dalam keadaan tidak punya stock kata-kata. Wajah mamaku mulai merah padam, karena kesal. Sedang papaku mengelus punggung mama pelan, mencoba menenangkan Beliau. Masih menahan amarah kepada ku. "Ayolah sayang ... kenalin sama Mama calon kamu itu!" Pinta mama di buat manja. Papaku hanya diam tanpa komentar. Sudah berulang kali memang, mama meminta ku untuk mengenalkan kekasih ku tapi aku tolak. Aku sebenarnya kasian, tapi juga tak punya pilihan. Aku mencintai mama dan ingin memenuhi keinginannya, tapi disisi lain aku juga mencintai Calista, sangat cinta dan tak ingin mendesak nya. Calista ku, dia adalah wanita yang cerdas, cantik dan mandiri, dan yang membuatku sangat mencintainya adalah dia seorang pekerja keras dan mencintai sesamanya. Dia wanita yang hebat, seorang sosialita dan brand ambasador terkemuka, kadang aku merasa sangat beruntung bisa mencintainya. Ya ... walaupun kadang-kadang permintaannya sangat absurd. Dia maunya hanya makan di restoran-restoran mewah, belanja barang-barang kesukaannya sepuasnya, berlibur dan jalan-jalan ke luar negeri saat hari ulang tahunnya, dan maunya di belikan barang-barang branded yang mewah. Aku tidak keberatan karena aku rasa dia perlu itu semua dan untuk penunjang karirnya. Toh aku bekerja juga untuk membahagiakan nya. Namun, sudah lebih dari satu tahun yang lalu dia jarang minta sesuatu padaku ataupun sekedar minta di traktir, tapi aku lihat beberapa kali dia juga memakai barang baru yang bukan pemberianku, aku rasa dia beli sendiri karena aku yakin gajinya pun juga besar. Karena kesibukannya juga aku masih enggan mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orang tuaku selama lima tahun hubungan kami, hingga mama semakin tidak sabar dan terus mendesakku akhir-akhir ini. Alasan lain yang membuatku menunda adalah, dua tahun lalu ketika aku berusaha melamarnya dan mengungkapkan keinginanku untuk menikahinya, Calista beralasan masih ingin fokus dengan karier nya dan masih belum memikirkan untuk menikah. Kali ini, aku sendiri sebenarnya sudah berencana untuk melamarnya lagi secara langsung saat hari ulang tahunnya bulan depan. Dan aku rasa saat itu adalah saat tepat untuk mengenalkannya kepada mama dan papa. Namun sepertinya mama tidak sesabar itu, aku paham juga keinginannya tapi aku gak mau mengecewakan kekasihku juga. "Pleasee ... kasih waktu ya ma!" Jawab ku memelas. Menghela napas berat. Lagi-lagi mamaku harus menahan kecewa atas penolakan ku."Sampai kapan Gar? Sampai mama sudah gak ada?" "Ma ... mama, gak baik loch ngomong kayak gitu. Kata mama kan setiap ucapan kita itu adalah do'a, iya kan?" Tanpa peduli ucapanku mama kembali menimpali ku dengan pertanyaan."Kalian pacaran sudah berapa lama? Lima tahun Gar, dan itu bukan waktu yang singkat tapi kamu gak pernah ngenalin ke Mama siapa calon mu itu. Apa mama dan papa sangat memalukan ya?" Ujar mamaku penuh kekecewaan. "Bukan gitu ma," jawab ku singkat. "Trus apa? Mama sangat ingin melihat kamu nikah dan punya anak lalu mama bisa gendong cucu, sebelum mama gak ada." Lagi-lagi ancaman mama terdengar di telingaku. "Mama, bukannya aku gak mau ngenalin ke mama dan papa, tapi mamang belum saatnya aja." Jawabku frustasi, sambil mengacak rambut. "Emang kenapa? Apa calonmu itu takut sama mama atau papa? Atau dia merasa minder?" Tanya mama penasaran. "Bukan ma. Dia masih belum mau dikenalin, katanya waktunya masih belum tepat dan dia belum siap." Bela ku sedikit berbohong. 'Huh,'mamaku kembali menghela nafas panjang."Selalu saja, itu dan itu apa gak ada alasan lain ya?" "Tapi Ma, dia beneran belum siap, please Ma, ngertiin kami ya!" "Apa lima tahun belum cukup?! Lima tahun Gar, Mama dan Papa menunggu dan memberi pengertian sama kamu. Lalu kamu ingin kami menunggu berapa tahun lagi. Gar, Papa dan Mama itu sudah tidak muda lagi, dan kami ingin segera menimang cucu. Kamu taukan kebahagiaan ke dua orang tua itu apa?" Mama melihat ku yang mengangguk menjawab pertanyaannya. "Ya, kamu benar. Kebahagiaan kami para orang tua itu adalah, apabila sudah melihat anak mereka menikah, hidup bahagia dan memberikan mereka cucu. Kamu ingatkan janji mu pada kami waktu itu? Apa perlu mama ulangi lagi kata-katamu waktu itu?" Masih terus memandangku dengan intens, dan membuatku hilang nafsu makan. Siapa juga yang akan bisa lupa dengan janjinya, jika setiap seminggu sekali selalu di ulang-ulang. Janjiku ketika aku meminta mama dan papa untuk mengijinkanku berkarir di dunia renang untuk meraih mimpiku menjadi orang sukses dengan caraku sendiri, meminta mereka untuk tidak ikut campur. Namun sebagai gantinya mama dan papa memintaku untuk segera menikah lalu memiliki anak setelah aku berusia 25 tahun. Mama dan papa ingin anakku menjadi penerus rumah sakit yang mereka bangun dari nol. Selain itu juga, karena aku tidak mau masuk dan bersekolah di bidang kedokteran. Mama masih belum mau melepaskan ku. "Kamu yakin dia cinta sama kamu? Kamu udah tanya ke dia langsung. Mama jadi ragu sama dia Gar." "Mama ... Dia cintalah sama aku. Dia juga sayang kok sama aku." "Och ya? Kalo gitu bujuk dan ajak dia kemari! Kenalin sama Mama! Sabtu ini Mama tunggu kalian di restoran biasa jam 08.00 jangan sampai telat. Kalo kamu sampai telat apalagi gak bawa dia ketemu sama Mama berarti kamu harus putus sama dia. Mama dan Papa akan carikan wanita lain buat kamu. Final. "Cerocos mama memaksa. "Yah, mama, Kok mendadak gitu sich Ma?" Protesku tak terima. "Gak ada yang mendadak, yang ada kamu selalu menolak." Memalingkan muka, mama berucap dengan penuh penekanan, mengungkit penolakan ku saat di undang makan malam bersama. "Ihh ... mama kok maksa? Gak bisa gitu donk ma. Enggar yakin kok dia sayang sama Enggar, dan Enggar juga sayang banget sama dia." Kembali menatapku dengan tatapan penuh amarah."Gar ... kamu itu kalo di bilangin mama ya mbok sekali-kali nurut gitu lo! Mama dan Papa gak mau kalau kamu sampai salah pilih, trus nantinya kamu akan terluka." Ucap mama memberiku pengertian. Sementara aku hanya mendengus kesal, pengen menjauh dan pergi secepatnya. Aku itu seorang pria muda dan tampan tentu saja, pesonaku pastinya akan membuat setiap gadis-gadis bertekut lutut padaku. Apa mama lupa, bahkan sejak aku masih sekolah dulu. Dan aku paling benci bila harus di atur apalagi masalah pernikahan, karena aku punya rencanaku dan aku bukan laki-laki tak laku. Pikiranku memprotes. "Kamu itu laki-laki Gar jangan pasrah dan ngalah aja, jangan jadi bodoh dan lembek. Kamu harus tegas! Putuskan dan jangan sampai kamu nantinya menyesal bila telah berlalu lama." Lanjut mama menesehatiku. Aku mendengar dengan perasaan kesal sembari mengunyah makananku lebih lama. "Iya. Papa setuju dengan yang di katakan Mama mu." Kata papa yang kini ikut menimpali. "Iya Pa, Pa aku tau kok dan Enggar yakin kami saling mencintai," jawabku penuh keyakinan. Kedua orang tuaku hanya geleng-geleng kepala. "Gar ... jangan terlalu yakin, apalagi ini belum jelas. Kalo kalian sama-sama saling cinta tentu ingin segera meresmikannya, kalo Mama lihat dia sama sekali tak mencintai kamu dan hanya kamu saja yang sangat naif dan polos nya mencintai dia dengan tulus. Apa kamu lupa, kalau dia kekasih pertamamu bukan? Mama jadi sanksi dengan pilihanmu, tapi Mama juga salut sama kamu, karena kamu bisa bertahan selama ini dengan nya. Kalo memang dia juga tulus pasti dia juga mau segera meresmikan pernikahan kalian, ia kan? jadi, kenapa harus tunggu lama-lama? Lagian mama dan papa juga fine-fine aja." Kata mamaku panjang kali lebar. Ada benernya juga ucapan mama. Calista adalah kekasih dan cinta pertamaku, wanita baik hati yang kutemui di Fantasy Club, dunia bermain air. Pertemuan pertamaku yang membuat aku jatuh hati padanya. Dan sejak saat itu hanya ada namanya di hatiku, biarin saja jika di katakan bucin. Karena begitulah aku, aku selalu mengagumi kebesaran cinta papa pada mamaku, dan aku berharap bisa memiliki cinta seperti itu. "Kalo dia juga cinta sama kamu ya syukurlah," kata mama sebal, namun ekspresi wajahnya kini melembut. Hatiku sedikit lega. "Ya maa ... " "Tapi kalo dia gak beneran sayang sama Enggar kan percuma. Kamu juga bakal broken heart. Lebih cepat tau lebih baik kan, sebelum kamu jatuh sakit terlalu dalam." "Baiklah ma. Enggar paham, Enggar sayang sama Mama dan Papa tapi kan Enggar juga gak mau menyakiti kekasih Enggar." Jujur ku pada mereka. Merekapun hanya bisa mengelus d**a. Aku sangat cemas dan bingung harus bagaimana membujuk kekasih hatiku itu untuk mau ketemu dengan keluarga ku, sekedar kenalan dan makan malam. Pasalnya sejak dulu berbagai alasan selalu di buat olehnya agar tidak jadi bertemu dengan keluarga besar ku. Entah apa alasan sebenarnya, dan itu membuat ku bingung. Setahuku, setiap wanita butuh kepastian dan menginginkan menikah lalu membina rumah tangga bahagia, tapi hal yang berbeda terjadi pada Calista, dia seolah takut dengan komitmen dan kepastian, atau aku saja yang selama ini sering mendesaknya. Lagi-lagi aku bergulat dengan pikuranku sendiri. Dan berbagai alasan sudah aku coba untuk mengenalkan nya pada keluargaku tapi terus gagal. Selain satu cara satu itu yang belum aku coba. *** Dua hari sebelum kecelakaan Hari sabtu telah tiba, sejak hari senin Enggar sengaja tidak menghubungi Calista kekasih nya itu. Tapi anehnya dia juga tidak mencari nya bahkan lewat pesan WA sama sekali tak ada. Sekarang jam 03.00 sore waktu setempat. Weekend seperti ini biasanya Calista berada di rumah sedang maraton nonton drakor favoritnya, dan tentu saja tak mau di ganggu. Tapi,karena selama satu pekan ini Enggar tidak menghubunginya jadi dia berharap Calista mau menemuinya hari ini. Semoga siasatnya berhasil. Lima jam lagi waktu yang dia butuhkan untuk membawa kekasih hatinya itu makan bareng kedua orang tuanya. Enggar menelponnya lalu mengajaknya jalan dan ketemuan untuk makan malam, dan dengan alasan karena kangen sudah sepekan tidak ketemu, jadi dia meminta waktu untuk ketemuan. "Hallo ... Sayang ... Miu-miu ? Aku kangen banget nie sama kamu. Nanti malam kita ngedate ya." ... "Iya kita makan dulu trus terserah kamu aja deh." ... "Okay. Aku jemput kamu sekarang ya? Sudah kangen berat nie." ... "Mmmmm ... okay. Ku tunggu di mall biasa ya. Love you" ... "Da ..." Entah ada angin apa hari ini hingga kekasihnya itu mau diajak jalan. Tentu saja dia merahasiakan tentang rencana makan malam dan pertemuan itu. Pembicaraan telponnya tadi membuatnya bahagia. Enggar ingin menjemputnya tapi dia tolak. Dia akan pergi sendiri ke mall itu katanya. Karena benar-benar kangen dan ingin ketemu dengan kekasih hatinya itu, akhirnya Enggar memutuskan untuk memberi kejutan padanya. Sampailah Enggar di bawah tempat tinggal kekasih nya. Siapa sangka dia mendapati kekasihnya keluar dari pintu rumah di ikuti oleh seorang pria yang menggenggam erat tangannya dan merangkul pinggangnya dengan posesif, bahkan mereka sesekali tertawa dan mencium pipi Calista dengan mesra. Dan kekasihnya itu sepertinya merasa nyaman dengan perlakuan itu bahkan sesekali tersenyum manis pada nya. Mereka berdua akirnya masuk ke mobil cowok itu, mobil mereka berjalan membelah jalanan ibu kota menuju mall dimana Enggar mengajaknya janjian. Mata Enggar membola, kaget dan marah. Enggar berada di dalam mobilnya mengikuti laju kencang mobil mereka dengan amarah yang berkecamuk, dia mencengkram roda setir dengan kuat lalu memukulnya beberapa kali mengutuk dan menyumpahi kekasih sialannya itu dalam hati. Kekasih yang dia puja dan dia bela. Tidak pernah terpikir selama menjalani pacaran kurang lebih lima tahun. Yang dia percayai dan yakini sangat bahagia itu dirinya harus merasakan kekecewaan. ketika dia telah memantapkan hati akan menjadikannya pendamping hidup dan teman masa depannya, dia malah harus terluka dengan sebuah penghianatan. Dia menguatkan diri ingin di pastikannya hubungan mereka agar dia tak salah langkah. Apalagi dia belum tau apa hubungan mereka hingga sedekat itu. Naifnya Enggar, yang masih mempercayai kekasihnya dan membohongi dirinya sendiri. Mana ada seorang laki-laki dan perempuan dewasa dengan mesra berjalan bersama begitu nyaman bila tidak ada hubungan special. Setibanya di mall mereka memarkir mobil di dalam basement. Enggar melihat kekasihnya itu keluar dari mobil di ikuti oleh cowok yang bersamanya tadi, Enggar tak tau siapa tapi seperti pernah mengenalnya. Ingin rasanya Enggar meninju cowok itu dan menghajarnya tapi dia tahan. Dia menelpon kekasihnya, untuk mencari tau. Enggar semakin terkejut, ketika Calista mengaku masih berada di rumah. Satu lagi kebohongan tercipta dari mulut kekasihnya dalam sehari. Hal yang sungguh sulit dia percaya, yang membuat dunia Enggar seperti terbalik 360 derajat, sungguh dia tidak mengenali siapa Calista. Sebelum Enggar keluar dari dalam mobil, dia melihat mama dan papa nya mendekati dua orang itu. Enggar jadi bingung kok mama dan papanya bisa kenal sama dia. Kemudian melihat mereka ngobrol. Sampai masuk ke dalam lift bersama. Enggar langsung menelpon mamanya lalu menyuruhnya berhenti di dekat lift itu. Setelah berjumpa dengan mamanya enggar bertanya tadi itu siapa. Enggar kaget. Dia adalah teman sekolah Enggar, dan pernah satu club renang dengan nya. Sedang wanita itu yang diketahui oleh bu Pranoto, bahwa dia adalah seorang model ternama,dan dia merupakan pacar dari laki-laki itu atau lebih tepatnya tunangan, merekapun sebentar lagi akan menjadi orang tua. Tapi mamanya agak kurang suka dengan perempuan itu, karena bagi mamanya, sikap Calista sedikit sombong, sok sosialita, dan omongannya terlalu muluk-muluk serta pakaiannya kurang sopan dan agak terbuka meskipun memakai blazer tetap terlihat kemana-mana. Enggar sekali lagi tertegun dan tidak percaya. Atau mungkin itu kembaran Calista. Dia berusaha menenangkan hatinya, mencoba mempercayai kekasihnya, walau hatinya kini bertanya-tanya. Sekarang masih jam 06.00 dia menelpon kekasihnya lalu berlalu meninggalkan mama papanya yang bengong dengan kelakuan anaknya. "Jangan lupa jam 08.00 Gar!"Mama nya kembali mengingatkan. Enggar hanya mengendikkan bahunya. Dia berlari menuju baby shop seperti yg tadi mamanya bilang. Dan dia menemukan kekasihnya disana. Berbincang mesra di dalam salah satu baby shop. Memborong berbagai keperluan baby. Sekali lagi Enggar mencoba menelpon kekasihnya. Dengan jawaban masih sama yaitu masih dirumah. Enggar mengikuti mereka. Hingga pada toko baju dewasa. Kekasihnya mengganti kaos V-neck rendah dan rok pendek berbalut blazer panjang yang dia kenakan dengan dress warna pink yang cantik dan menonjolkan b****g serta payudaranya karena ketat meski tidak terkesan terbuka. Enggar kembali kaget. Bagaimana mungkin kekasihnya yang pendiam dan baik hati bak bidadari itu kini berubah seperti rubah siluman. Berganti wujud dalam hitungan jam. Jam 08.00 malam. Enggar menanti kekasihnya di sebuah coffe shop, lalu mengajaknya untuk nonton dan sekedar jalan-jalan. Yang sebelumnya dia telah mendapat omelan dari mamanya karena membatalkan makan malam mereka. Enggar sudah yakin dia di permainkan, dihianati, dan dibohongi. Diapun mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan mamanya. Lalu mengajak kekasihnya ke diskotik untuk minum dengan alasan merayakan proyek baru yang Enggar peroleh. Enggar memesan Frozen Margarita, minuman kesukaan kekasihnya itu, namun dia menolak. Dengan alasan sedang PMS takut sakit perut jadi dia hanya memesan sparkling water.Enggar hanya tersenyum miring melihat kebohongan kekasihnya. Enggar menghabiskan beberapa botol minuman keras untuk melupakan sakit hatinya hingga dia tak sadarkan diri dan kekasihnya membawanya ke apartment nya. Pagi harinya ketika dia bangun dia melihat perlengkapan bayi di apartment Calista. Kekasihnua hanya bilang itu adalah barang belanjaan temannya. Enggar menginap di apartment Calista hingga keesokan harinya dia semakin murka dan tidak bisa menahan amarahnya apalagi barusaja dia sempat mendengar perbincangan Calista dengan orang lain yang mengatakan bahwa dirinya bodoh dan mudah di perdaya. Senin pagi Enggar keluar dari apartmen Calista dengan tubuhnya yang agak sempoyongan, pengaruh minuman keras yang dia minum kemaren malam sudah hilang namun sakit hatinya masih meradang. Dia menjalankan motor kesayangannya yang kemaren malam di bawa oleh teman Calista ke apartment nya. Sedangkan mobilnya sudah dibawa pulang oleh sopir pribadinya yang mengantarkan motor nya ke diskotic Dengan perasaan kacau dan hati yang terluka dia menjalankan motornya dengan kecepatan tinggi membelah ibu kota, hingga tanpa dia sadar ketika dia memasuki daerah padat penduduk dia tidak bisa mengontrol sepeda motornya, rem nya blong dan pada saat lampu merah akhirnya dia menabrak seorang ibu hingga dirinya sendiri terseret beberapa ratus meter dan berakhir di UGD. *** Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD