DENDAM 12

1484 Words
Sesaat kemudian acara bincang-bincang mereka harus mereka tunda karena dua daun pintu kayu yang menutup ruangan itu tiba-tiba terbuka. Semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ingin tau siapa yang tiba. Mereka berdiri untuk menyambut kedatangan mempelai perempuan agar acara akad nikah bisa segera di selesaikan. Namun mereka malah bergeming di tempat, sesaat tertegun melihat pemandangan di depan mereka, seorang bintang iklan dan model ternama yang sering berlalu lalang di media masa maupun elektronik dengan lincahnya dan gaya centilnya masuk melalui pintu itu tanpa permisi. Busana mini warna merah V-neck kurang bahannya yang memperlihatkan sebagian payudaranya itu membuat semua orang mengelus d**a. Entah karena senang atau karena takut dosa. "Puppy (nama panggilan sayangnya) sayang ... jangan tinggalin aku!" Teriakan perempuan itu penuh manja memenuhi ruangan. "Enggar sayang .... kami datang menjemputmu." Sapanya sekali lagi , sembari memandangi isi ruangan dan berusaha masuk karena tidak menemukan apa yang dia cari. Sebelum dia berhasil masuk, langkahnya terhenti karena dia melihat Enggar tengah duduk di kursi roda yang sedang di dorong oleh dr. Adi serta ditemani oleh dr. Saino mendekati ruang tamu kamar itu. Tanpa tau malu, segera saja perempuan itu menghambur kedalam pelukan Enggar. Lalu menangis mengeluarkan air mata rubahnya. Dengan terisak dan merayu. "Enggar maafkan aku, aku salah, jangan tinggalin aku ya pleeaseee!" Rengeknya, namun Enggar tidak merespon. Dia memilih diam. "Sayang ... kita pulang ya, aku akan merawat mu dan anak kita dengan baik. Aku janji gak akan lagi pergi tanpa pamit, aku janji mau untuk dikenalkan dengan orang tuamu. Aku janji melakukan apapun yang kau mau asal kau kembali padaku. "Suaranya parau tidak terdengar jelas. Enggar mengajaknya bicara 4 mata di kamar utama. "Sayang ... puppy sayang ... kamu kok diem aja sih ... kamu lihat kan ini aku Calista, kamu gak lupa ingatan kan?" Selidiknya. 'Apa dia bener-bener lupa ingatan kalo iya berarti ini kesempatan baik untuk ku, enak saja dia membekukan kartu kredit yang dia berikan padaku, kalo benar kata Dony dia hilang ingatan dan dia anak orang kaya, maka aku tidak akan melepaskan kesempatan emas ini. Enak aja dia selama ini membodohiku, jangan harap aku akan melepaskanmu dengan mudah kali ini.' Perempuan itu tersenyum dalam hati mendengar monolognya sendiri. 'Lupa ingatan, oh ... jadi kau mengira aku lupa ingatan. Baiklah mari kita bermain rubah sialan.' Enggar berbicara dalam hatinya. 'Dasar rubah setan, tak tau malu, mengaku hamil anakku.' Lagi, dia bermonolog dalam dirinya dan tidak mendengarkan apa yang gadis itu ucapkan. Enggar tersadar dari alam lamunanya. Mencoba menguasai keadaan dan masih membiarkan perempuan itu bercerita. "Apa maumu?" Suaranya yang dalam dan tegas menggema, mengalihkan perhatian perempuan itu yang sejak tadi mengagumi kamarnya dan menceritakan kerinduan palsunya pada Enggar. "Aku mau menikah dengan mu, demi cinta mu dan anakmu yang ada dalam kandunganku," jawabnya sambil mengelus perutnya yang masih terlihat rata. Enggar tersenyum miring dengan jawaban itu. "Lalu apa kau rela ... ?" Menggantungkan pertanyaannya. "Maksudmu?" "Apa kau rela untuk terus bekerja setelah kita menikah nantinya?" 'Huh ... got you. Rupanya kau masih saja sama, tetap Enggar lama yang mudah ku rayu dengan sedikit belaian benar-benar naif.' Gumamnya dalam hati. "Tentu sayang, tentu aku akan melakukannya," jawabnya mantap. Matanya cerah dan hatinya bahagia. 'Ternyata merayu Enggar tak sesulit yang dia kira.Tentu saja aku akan terus bekerja dan mencari mangsa.' Gumannya dalam hati penuh kemenangan. "Tapi, aku tak bisa menikahimu sekarang," sela Enggar. "Maksutmu?" tanyanya bingung, harapannya yang telah mekar kini seolah gugur dengan paksa, tidak terima. "Aku akan menikahi wanita pilihan mamaku hari ini dan aku akan bisa menikahimu setelah aku bercerai, jadi kau harus sabar menungguku." Jelasnya. "Tapi, aku sedang hamil Gar, dan kandunganku pasti akan terlihat membesar sebentar lagi." "Tentu saja aku tau, dan untuk itu kau tetap boleh tinggal bersama ku," ucapnya. 'Dan akan kulihat apa rencanamu padaku," lanjutnya dalam hati. Senyum miring tercetak di bibirnya. Perempuan itu mengangguk dan menyetujui. Brak. Suara pintu yang dibuka dengan paksa. Bu Pranoto berjalan tergopoh-gopoh menghampiri anaknya. Plak. Sebuah tamparan telak mendarat di pipi Enggar. "Kau benar-benar mengecewakan Mama dan Papa! Kami tidak pernah mengajarkanmu berbuat zina. Apa ini balasanmu pada kami," teriak mama nya keras. Beliau kaget luar biasa setelah hendak masuk kamar Enggar dan dia mendengar percakapan mereka di luar pintu dengan sengaja. "Mama tidak akan memaafkanmu Enggar. Mama KECEWA!" Jeritnya sembari meninggalkan kamar itu menuju ruang tamu. Enggar kaget karena mendapat tamparan mamanya, dia takut mamanya akan histeris, dia mengayuh kursi rodanya menghampiri sang mama dan di peluknya dengan erat. Dia memang membenci mamanya dan aturan nya tapi dia juga tak ingin mengecewakan mamanya. Perempuan bernama Calista itu menyusul mereka ke ruang tamu dengan senyum kemenangan di hatinya. Papanya yang marah menepis tangan Enggar. Meraih bahu mamanya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. "Pernikahan ini harus tetap terjadi apapun alasannya Mama tak akan membatalkan." Seperti sebuah ultimatum, suara nu Pranoto membuat semua orang takut saat mendengarnya. "Cepat laksanakan ijab qobul itu!" Titahnya sekali lagi. "Mama akan berbicara denganmu setelah ini." *** Yayu POV~ Aku mematut diriku di depan cermin. Aku seperti tak mengenali diriku lagi, benar yang dikatakan para perias itu 'cantik' batinku berkomentar. Melihat pantulan diriku dalam kaca. Aku tersenyum sumbang. Aku memantapkan hatiku untuk menempuh jalan ini, aku hanya perlu merubah keyakinanku, bahwa dengan ini aku bisa mendapatkan kembali rumah dan sawahku, di tambah aku akan dengan mudah membalaskan dendam dan sakit hatiku. Sehingga aku akan bisa bertahan dalam pernikahan yang tidak aku terima ini. Setelah selesai mendandaniku mereka kembali menggiringku. Kini bu Pranoto memegang tanganku dengan lembut dan erat seolah dia takut aku akan pergi. Orang yang sempat aku maki-maki waktu itu, sepertinya dia memang tulus dan mengharapkan ku menjadi menantunya. Entahlah, aku tidak mau terus menebar harapan karena dendamku masih belum tersalurkan. Disinilah kami berada, lagi, lantai 20 rumah sakit Fajar Medical. Tempat dimana orang yang bernama Enggar itu akan mengucap ijab qobul padaku. Tiba-tiba hatiku terasa ngilu, tubuhku menegang, aku menghirup udara dalam-dalam lalu mengeluarkannya berulang kali. Senyum ibuku kembali terbayang. Namun aku telah mengeraskan hatiku agar air mataku tak kan tumpah, aku tak mau menjadi seorang perempuan yang cengeng di depan laki-laki pembunuh yang belum kutau wajahnya itu. Aku menoleh pada bu Pranoto, wajahnya berseri dan senyumnya merekah. "Sudah siap?" tanya Chaca membuyarkan lamunanku. "Bukalah!" perintah bu Pranoto padanya. Chaca dan mbak Tuti berdiri pada salah satu bagian daun pintu besar itu, mendorong nya secara bersamaan. Saat kami memasuki ruangan, kami menemukan semua orang berkumpul di ruang tamu, mereka seperti tak menyadari kedatangan kami, suasana ruangan itu terasa menegangkan tapi bukan karena adanya akad nikah yang akan dilangsungkan. "Eghmmm ...," suara bu Pranoto berdehem, mengagetkan semua orang yang ada disana. Sontak mereka menoleh ke arah kami dan berdiri memandang kami. Mata mereka tertuju padaku, tatapan kagum dan senyum merekah tersungging dari bibir mereka. Entahlah mungkin hanya bayanganku saja karena pada detik berikutnya, mataku sudah tertunduk tidak berani beradu tatap dengan mereka, dan jajaran lantai yang mengkilat sepertinya tampak lebih indah untuk aku pandang. "Cantik sekali." Ungkapan kagum keluar dari mulut pak Pranoto. Aku semakin tertunduk malu, untung saja pipiku sudah di blus on jadi tak akan tampak kemerahan. Bu Pranoto menepuk tanganku. Dia tersenyum saat aku mendongakkan wajahku. Semua orang masih memandangku dengan senyuman merekah. "Bisa kita mulai akad nikahnya pak?" tanya bu Pranoto yang di balas dengan gelengan dari pak Pranoto. "Ada apa sih pa?" tanyanya lagi. "Eng ... anu ma ... itu anakmu Enggar." Sambil menunjuk ke arah kamar . "Ang.eng.ang.eng ngomong yang jelas lah pa!" "Mama lihat sendiri aja lah, papa gak mau nambah dosa." "Mmmm ... papa gimana sich." Bu Pranoto melepas genggaman tanganku lalu berjalan menuju ke arah kamar yang di tunjuk, namun dia tidak memasuki kamar itu tapi, dia berdiri mematung di ambang pintu yang engselnya telah dia buka dan kiranya suara dari dalam dapat dia dengar. Lima menit berlalu bu Pranoto membuka pintu itu secara paksa hingga terdengar suara keras dari pintu itu. Lalu satu tamparan terdengar dari luar dan bu Pranoto berlari ke luar, kemudian menangis sesenggukan di sofa ruang tamu. Sedang Pak Pranoto memeluk dan menenangkan istrinya yang sedang emosi. Semua orang terpaku melihat pemandangan itu. Sepertinya mereka sudah tau apa yang terjadi hanya aku dan kedua sahabatku yang bingung dan saling beradu pandang. Tidak lama kemudian seorang laki-laki yang memakai baju pengantin lengkap dengan kopyah khas acara akad nikah keluar dari kamar menggunakan kursi roda. Mata kami sempat beradu tak lama, karena aku segera mengalihkan pandangan kemudian menunduk. Di belakangnya berjalan seorang wanita cantik, yang ku tau dia adalah seorang model terkenal saat ini, dengan pakaian sexy nya melenggak lenggok di belakang laki-laki dengan kursi roda itu, dengan senyum mengembang yang seolah dia tahan. Laki-laki itu mendekati bu Pranoto lalu memeluknya erat sebelum tangan pak Pranoto menepisnya dan bu Pranoto menyuruh untuk melaksanakan ijab qobul itu secepatnya. 'Ada hubungan apa mereka? Atau sebenarnya mereka adalah sepasang kekasih?' Pikirku dalam hati. Belum menyadari siapa orang yang aku nikahi. *** Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD