Chapter 1
Kehidupan setelah menikah dan sebelum menikah merupakan perubahan yang besar untukku, mulai dari bangun tidur dan akan tidur lagi yang biasanya sendiri, maka berbeda saat sudah menikah kita akan dipertemukan dengan orang yang sama. Awal menikah dulu aku sempat kaget, bangun pagi-pagi ada seseorang yang tidur disebelahku beruntung seketika aku langsung teringat bahwa aku sudah menjadi istri orang, dan mulai hari itu juga aku harus menjalankan tugas dan kewajibanku menjadi seorang istri dari seseorang yang berhasil membuatku jatuh hati.
***
"Mas..."
"hmm.."
''Mas bangun..."
"Kenapa sayang?" Sahutnya masih memejamkan mata
"Buka dong mata nya, aku mau kasih sesuatu buat Kamu."
"Apa toh? Aku masih ngantuk lho, Yang."
"Yaudah nggak jadi kalo gitu, aku mau masak aja." Jawabku seolah-olah ngambek, namun sepertinya tidak akan berhasil kali ini
"Hmm, nanti aku susul ke bawah." Tuhkan nyebelin banget emang
Akhirnya aku tinggalkan dia, aku putuskan untuk ke dapur membuat sarapan, Mas Fahri emang tipikal orang yang sulit dibangunkan, terkadang aku jengkel dengan sifatnya yang satu ini tapi aku juga memahami karena dia butuh istirahat juga setelah lima hari kerja.
Mas Abiandra Fahri Hamzah, lelaki yang sudah menikahi ku dua bulan lalu, kami telah mengenal selama tiga tahun belakangan ini. Mas Fahri bekerja di salah satu hotel di ibu kota menjabat sebagai Controller. Aku sendiri bekerja di sebuah perusahaan swasta yang menjabat sebagai salah staf keuangan.
Aku dan Mas Fahri mulai kenal karena kami dikenalkan oleh Mbak Linda, kakak perempuan Mas Fahri yang mana dia adalah atasanku dikantor, berawal dari kejengkelan Mbak Linda yang melihat adiknya hampir berumur 27 tahun tetapi belum memiliki kekasih. Karena saat itu aku baru merasakan kerja satu tahun, setelah lulus sarjana akhirnya aku memutuskan untuk membuka diri menerima ada lelaki dihidupku, dan kami merasakan kecocokan yaa berakhirlah kami kepelaminan.
"Yang, tadi mau kasih aku hadiah apa?" Suara Mas Fahri bersamaan dengan suara derap kakinya menuruni tangga
"Nggak jadi, kamu sih lama. Mas cuci muka dulu gih, baru sarapan."
Bukannya nurutin perintahku dia malah memeluk aku dari belakang, emang kebiasaan ini orang.
"Bentar dululah, mau peluk kamu dulu. Kan semalam kamu bobok dulu." Dasar bayi besar, emang sih semalam aku tidur duluan capek pulang kerja disuruh nemenin dia lihat bola.
"Ih jorok belum cuci muka sama gosok gigi main cium-cium aja! Mas yaampun tangannya itu lho!"
"Kenapa sih? Hm, Kan aku mau kasih ucapan selamat pagi sama mainan ku, yang makin hari makin gemesin, lagian juga udah biasakan setiap hari aku gini." Bisiknya sambil senyum jahil, ini nih yang bikin aku selalu melting.
"Kamu mandi gih, nanti aku kasih tau hadiahnya, janji deh." Bujuk ku sambil ngalihin tangannya dari mainan favoritnya.
"Emang apa sih? Bikin aku penasaran, perasaan kita lagi nggak ada perayaan apa apa deh." Bisiknya sambil remas-remas, dih kalo gini caranya aku nggak bakalan kuat
"Emmhh, ya gaa gapapaaah dong aku kasih hadia-ahhh.. Mas! Ih tangan nya itu lho, nggak jadi deh hadiahnya!" Rajukku
"Haha iyaiyaa, cium dulu coba janji habis ini aku mandi, lagian kamu sih udah mandi duluan."
"Salah siapa dibangunin nggak bangun-bangun, nggak ada cium sebelum kamu mandi ya, mandi dulu habis itu dapet cium sama hadiah."
"Iyaiyaa aku mandiii, Baiklah ibu negara saya siap menjalankan tugas."
Cup
"Mas Fahri! Dasar ya!"
Sempat-sempat nya masih mencuri kecupan di bibirku dan dia lari kekamar sambil ke lantai atas sambil tertawa terbahak.
"Iya Sayang, aku juga cinta kamu! Haha!"
***
"Lho kok nyusul ke kamar? Kenapa nggak ke kamar mandi sekalian?" Goda Mas Fahri saat lihat aku lagi duduk di kursi santai di kamar
"Kalo aku nggak menyusul ke kamar, yang ada kamu bakal teriak-teriak minta ambilkan baju ganti, buruan pake baju gih udah aku siapin diatas kasur." Asli aku deg degan banget karena hadiah yang aku maksud aku taruh di balik baju ganti Mas Fahri
"Yang ?" Panggil dia ragu-ragu sambil pegang salah satu tespack yang di balik bajunya
"Hmm .." sahutku sambil berjalan pelan ke arahnya, dia masih menatap tespack itu dengan wajah kaget, gemes banget sih Mas
"Hello Papa." Bisikku sambil memeluk dia dari belakang
"Hei, serius nih? Kok cepet banget ya Yang? Haha , aku kaget lhoo." Dia balikin badan dan meluk aku erat banget
"Kamu senang Mas ?" Tanyaku
Cup ..
Mas Fahri menciumku, hei dia nggak cuma kasih kecupan tapi dia melumat bibirku, lalu menempelkan dahi berdua
"Siapa yang nggak seneng coba dikasih hadiah kayak gini, udah berapa usianya Yang?" Bisik Mas Fahri dengan tangannya yang mengusap ujung bibirku yang basah
"Udah 5 Minggu kata Dokter, jadi minggu lalu waktu Mas tugas ke luar kota aku tu tiba tiba ingat setelah kita nikah kok aku nggak mens, terakhir mens itu waktu kita nikah, lah aku curhat ke Mbak Linda trus disuruh cek pake tespack eh hasilnya positif karena aku masih ragu, jadinya aku di antar sekalian ke Dokter sama Mbak Linda, karena waktu itu Nesya lagi nggak tugas. kamu ngga marah kan?" Jelasku, Nesya itu temanku yang berprofesi dokter kandungan
"Ya nggaklah, ngapain coba aku harus marah ke istriku ini hm? Tapi untuk selanjutnya kalo mau cek ke Dokter harus sama aku ya, aku juga pengen tau keadaan anak kita."
"Iya Mas Suamikkuu, udah sana pakai baju trus kita sarapan, aku lapar tau. Kamu sih mandinya lama."
"Iyaiyaa Bumil, sini aku mau nyapa anak aku dulu." Dia meraih pinggangku ditatap perutku yang masih rata dan dia mendaratkan sebuah kecupan, dan sambil berbisik
"Hai Sayang, ini Papa kamu baik-baik ya di dalam perut Mama, jangan nakal, cukup Papa aja yang nakalin Mama. Papa dan Mama sayang kamu." Kata Mas Fahri sambil mengelus perutku
Cup
Duh si calon Papa kenapa manis bangettt sih, aku hanya bisa ngelus rambutnya sama memandang dia haru
"Iyaa Papa, baby juga sayang Papa dan Mama." jawab aku mewakili baby
"Uuhhh gemes bangettt sih, sini aku gendong kita sarapan." Ujar Mas Fahri lalu menggendongku seperti koala menuju ke dapur.
❤️❤️❤️❤️❤️