-16 Minggu kehamilan-
"Mas nanti pulang kerja kita ke rumah Mbak Linda yuk? Aku kangen sama Naura." Ajak ku di sela-sela sarapan pagi ini
"Boleh, aku juga mau ngobrol sama Bang Ilham." Bang Ilham itu suami Mbak Linda dia bekerja di suatu perusahaan Arsitektur, mereka udah lima tahun berumah tangga dan dikaruniai Putri cantik Si Naura yang baru berumur tiga tahun
"Emang mau ngobrolin apa? Penting banget ya? Ada masalah?" Tanyaku merasa Mas Fahri akhir-akhir seperti ada yang disembunyikan dariku
"Nggak kok cuma mau nanya - nanya aja." Jawabnya tanpa menatap mataku
"Yaudah, nanti aku pulang kerja mau buat cake dulu buat Naura. Kamu mau di buatin puding nggak?"
"Nggak usah deh, nanti kamu capek. Buatin Naura aja, aku bisa besok-besok. Udah hampir siang Yang, yuk berangkat." Ajaknya lalu beranjak dari kursi
"Kamu ke depan duluan aja, aku mau beresin ini." Jawabku berusaha biasa saja, padahal sebenarnya aku curiga akan sikapnya
---
Huh capek juga pulang kerja aku langsung terjun ke dapur buatin cake untuk Si Naura, udah jam 4 tapi Mas Fahri belum juga sampe rumah biasa hari Jumat gini dia pulang cepet. Akhirnya aku mandi dulu sambil nunggu dia.
Yasmine : Mama udah siap Papa, Papa kok belum pulang?
Suamiku : Bentar ya Mama Sayang. Papa baru otw nih. I Love you ❤️
Yasmine : Hati-hati Sayang. Me too
****
Akhirnya kita sampai dirumah Mbak Linda, langsung di sambut sama Naura. Dia senang banget aku sama Mas Fahri datang soalnya udah dua minggu kita nggak ketemu, dulu sih paling nggak seminggu sekali kita sempetin main entah ke mall atau ke taman bermain tapi karena Mas Fahri akhir-akhir ini sibuk, jadi kita baru bisa main. Entahlah udah dua minggu ini setiap weekend biasanya kita habisin buat santai tapi weekend kemarin dia malah anteng di ruang kerjanya, ya mungkin emang dia banyak kerjaan.
Aku melihat Mas Fahri main dengan Naura membuatku bahagia tanpa sadar aku mengelus perutku dan membatin 'Mama ngga sabar ketemu kamu Nak.'
"Kamu nggak ngrasain mual gitu Yas?" Tanya Bang Ilham yang duduk di sebelah Mbak Linda sambil makan cake yang aku buat tadi.
"Kalau aku nggak sih Bang, malahan yang mual itu Mas Fahri di minggu ke delapan dia mual terus tiap pagi sampai hampir sebulan lah, udah gitu dia yang ngidam juga, biasanya ngga pernah lho, mau makan bubur ayam sekarang malah tiap pagi minta sarapan bubur ayam." Ujarku dan di sahut tawa dari Mbak Linda, karena Mbak Linda jadi saksi keluh kesahku tiap pagi saat dikantor
"Sama kayak kamu kan Pa? Dulu kan waktu aku hamil Naura juga kamu yang teler. Ya nikmatin aja kali ya Yas biar mereka rasain juga, tapi Fahri mendingan lho cuma empat mingguan, Abang kamu dulu sampai aku masuk ke tujuh bulan malahan, dia ngga mau makan kalau nggak ada ayam padahal dia dulu juga anti banget makan ayam, dia kan nggak doyan."
"Berarti gua masih mending dong ya?" Sahut Mas Fahri yang langsung duduk di sampingku sambil memangku Naura
"Ya iyaa lah, gua dulu bener-bener teler banget."
"Ante Yas, dedek bayi nya cewek apa cowok?" Tanya Naura
"Emang Naura mau nya Cewek apa Cowok?"
"Aku sih mau nya Cowok, soalnya kalo cowok itu lucu."
"Kok nggak mau Cewek? Kan nanti bisa main boneka sama Naura?" Tanya Mas Fahri
"Ya nanti kan kalo cowok bial ganteng kayak om sama papa."
"Duh nak kecil, biasa ajaa yaaa."
"Haha ampun omm haha geli ." Jerit Naura saat Mas Fahri mencium seluruh wajahnya.
"Oiya Bang, ada yang mau gua obrolin. Bisa ke belakang dulu?" Ajak Mas Fahri ke Bang Ilham.
"Yaudah, ayok."
Setelah mereka pergi tinggal kami bertiga dan apa yang aku rasakan kalau ada yang disembunyikan oleh Mas Fahri dari aku ini semakin terlihat, entahlah apa mungkin cuma perasaan ku aja yang berlebihan.
"Udah Yas nggak usah dipikirin mereka cuma ngobrol biasa aja kok, laki laki juga butuh ruang buat mereka curhat." Ujar Mbak Linda seolah tau yang aku pikirkan.
"Hehe, nggak sih Mbak cuma aku ngrasa aja Mas Fahri kayak nyembunyiin sesuatu dari aku akhir-akhir ini."
"Mungkin dia lagi banyak kerjaan, udah kamu jangan mikir yang berat mood Mama juga mempengaruhi baby lho. Jangan sampai baby nggak nyaman karena kamu terlalu stres. Fahri kalau ada apa-apa nanti juga bakal cerita ke kamu."
"Iya mbak, makasih ya Mbak udah diingetin."
*****
Setelah pulang dari rumah Mbak Linda, Mas Fahri semakin diam dia cuma fokus pada kemudi walaupun sesekali tetap menggenggam dan mencium tanganku. Akupun enggan bertanya mungkin dia butuh waktu.
Sesampai di rumah aku langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri, aku tidak melihat Mas Fahri di kamar setelah aku selesai berganti baju. Ku putuskan untuk mencari dia ke dapur dan ternyata dia sedang menyeduh air hangat dan ku yakin dia sedang membuat s**u untukku seperti malam malam sebelumnya. Aku pun baru menyadari ternyata dia sudah ganti baju, apa aku terlalu lama di kamar mandi sampai - sampai aku tidak menyadari dia masuk kamar.
"Mas? Aku cariin lho." Ujar ku sambil memeluk dia dari belakang, aku tau dia lagi melamun entah apa yang ada dipikirannya, terbukti dia tersentak kaget saat aku memeluknya.
"Eh Yang, ini aku lagi buatin s**u buat kamu." Dia membalikan badan dan membalas pelukanku namun aku menghindar dan diam menatap dia seolah aku menuntut penjelasan dari dia kenapa dia akhir-akhir ini.
"Kita ngobrol di ruang tengah aja yuk? Aku janji bakal ceritain ke kamu." Ajaknya seolah tahu kecurigaanku lalu dia berjalan sambil menggenggam tanganku dengan tangan kanan nya sedangkan di tangan kirinya sambil membawa segelas s**u untukku.
Setelah menghabiskan segelas s**u aku menyandarkan diri ke sofa dengan melipat kedua tanganku ke d**a dan menatap dia. Mas Fahri terlihat gugup dan entahlah dia seperti bingung.
"So, mau ngomongin apa?" Aku putuskan membuka suara setelah beberapa saat kami saling hening
"Yang, aku mau jujur sama kamu. Tapi aku takut kamu kecewa sama aku."
"Kamu aja belum ngomong lho Mas, gimana kamu tau kalau aku bakal kecewa atau nggak, tapi aku lebih kecewa lagi kalau kamu nggak jujur dan nggak terbuka sama aku."
"Oke, aku sebelumnya minta maaf sama kamu kalau aku terkesan nyembunyiin ini dari kamu. Jadi, salah satu staf aku ada yang namanya Iwan dia tiga minggu lalu pinjam uang ke aku yang nominalnya lumayan nguras uang tabungan pribadi aku ada 35 juta. Dia bilang kalau dia butuh uang cepat untuk biaya pengobatan anaknya, anaknya sakit keras dan dia nggak jelasin ke aku anaknya sakit apa. Bodohnya aku, aku terlalu percaya akhirnya aku langsung iba dan hari itu juga aku kasih uang itu ke dia. Setelah itu tiga hari Iwan nggak masuk kerja karena ijin menunggu anaknya di rumah sakit, akhirnya aku dan anak stafku berniat untuk mengunjungi mereka, tapi di hari ke tiga Iwan ijin itu dia tidak bisa di hubungi sama sekali, lalu Banu yang kesehariannya biasa sama Iwan berniat untuk mengunjungi rumahnya tapi hasilnya nihil kata tetangga samping rumah Iwan bilang mereka sekeluarga sudah meninggalkan rumah sejak sehari setelah aku memberi pinjaman uang dan setahu tetangganya anak Iwan ngga ada yang sakit selama ini." Dia menghela nafas panjang dan aku semakin mengeratkan genggaman tangan kami.
"Jadi ? Dia bohongi kamu? Dan uang kamu di bawa kabur?" Tanyaku pelan-pelan
"Iya, dan sampai saat ini nggak ada kabar dari dia sama sekali. Akhirnya aku mikir aja, udah lah ikhlasin aja mungkin memang belum rejeki aku kan. Tapi bukan hanya uang pribadi ku yang dibawa, ternyata dia juga melakukan penggelapan dana hotel. Makanya akhir-akhir ini aku lebih sering pulang terlambat dan lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjaku, aku minta maaf ya Yank. Bodohnya aku, yang langsung percaya dan semudah itu memberikan uang sebanyak itu." Jelas Mas Fahri meraih tanganku untuk digenggam
"Kenapa sih kamu nggak cerita ke aku, malah kamu pendam ini sendiri?"
"Aku nggak mau kamu kepikiran Sayang, kamu tahu sendiri kan padahal tabungan aku itu rencana buat buka usaha sama Bang Ilham. Bertahun-tahun juga aku kumpulin uangku selama ini, mau marah tapi ini juga karena kebodohan aku, kecerobahan aku sendiri. Aku bisa apa, selain ikhlas?"
Sejak awal menikah Aku dan Mas Fahri memang sepakat untuk tetap memiliki tabungan pribadi selain juga punya tabungan bersama, jadi aku pun sejauh ini tidak mengetahui nominal isi dari tabungannya, karena menurutku itu termasuk privasi masing-masing.
"Terus setelah ini, apa yang akan kamu rencanakan?"
"Huh, entahlah sejauh ini aku masih harus fokus menyelesaikan permasalah kantor. Makanya tadi aku perlu ngobrol bareng Bang Ilham, bisnis kita tetap jalan, namun aku harus tetap beresin masalah kantor dulu."
"Sini, peluk aku. Harusnya kamu cerita sama aku dari awal, pasti capek banget kamu Mas." Bisikku memeluk erat dia dan mengelus punggung tegapnya, seakan menenangkannya
"Lega juga sih, bisa ngomong ke kamu. Maaf ya, bukan bermaksud menyembunyikan ini dari kamu, tapi aku takut kamu malah kepikiran."
"Kepikiran nggak kepikiran Mas, kamu suamiku, kita hadapi bareng-bareng."
"Maafin aku sayang, makasih ya. Malam ini aku mau peluk kamu, cuma pelukan kamu yang bisa menenangkan aku."
"Yaudah peluk aja sampai kamu tenang." Balasku dan memeluk dia tak kalah erat, dan malam ini kami saling berpelukan untuk melepaskan penat yang berminggu-minggu menghantui pikiran suamiku.
❤️❤️❤️