Menyelesaikan Satu Masalah

1487 Words
Setelah menandatangani surat pernyataan yang memiliki tempo selama satu tahun, Bella membawa uang yang ada di dalam koper itu pergi ke panti asuhan dengan diantarkan oleh Willy. Ia menemui Sonya yang sedang sakit lantaran memikirkan nasib anak-anak di panti asuhan itu. Sambil menggeret koper yang berisikan uang sebanyak 100 ribu dollar, Bella menghampiri Sonya yang tampak berbaring di ranjang tidurnya. “Bella, kau datang ya.” Kata Sonya dengan bibirnya yang pucat pasi. “Ibu, apa yang terjadi? Kenapa tidak memberitahukanku kalau Ibu sedang sakit?” tanya Bella tampak khawatir pada pengurus panti itu. “Tidak apa-apa, mungkin darah tinggiku kumat lagi.” Kata Sonya. “Apa ibu sudah berobat? Ayo kita kerumah sakit!” kata Bella. “Sudahlah, aku sudah minum obat yang biasa aku minum.” Sahut Sonya. Sonya pun berusaha untuk duduk dan bersandar disisi ranjang tidurnya. Ia lantas melirik koper besar yang ada di sebelah Bella. “Kau mau kemana? Kenapa kau membawa koper besar itu? Jika kau tidak bisa membayar uang kos, lebih baik kau kembali tinggal disini saja.” Kata Sonya sembari mengelus wajah Bella dengan lembut. Bella tak berkata apapun. Ia membuka koper itu dan menunjukkan isinya pada Sonya. Wanita paruh baya yang tampak lemah itu langsung kaget melihat uang yang sangat banyak. “Bu, kita akan membeli tanah panti asuhan ini!” kata Bella dengan senyum yang terukir dibibirnya. “Da-dari mana kau mendapatkan uang itu, Bella?” tanya Sonya tak percaya Bella berhasil mendapatkan uang 100 ribu dollar untuk membeli tanah pantai asuhan itu. “A-aku meminjamnya dari seseorang.” Sahut Bella tampak ragu-ragu menjawabnya. Sonya memperhatikan mimik wajah Bella dengan seksama. Ia membesarkan Bella dengan kedua tangannya sehingga ia sangat mengenali karakter Bella dengan baik. “Bella, kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku!” kata Sonya. Bella tampak bingung untuk menjelaskan semuanya. “Katakan, dari mana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu satu minggu?” tanya Sonya mendesaknya. “A-aku mendapatkannya dari seseorang.” Kata Bella. “Siapa?” tanya Sonya. “Seorang pria! Ibu tidak mengenal pria itu.” sahut Bella. Sonya langsung lemas mendengar perkataan Bella yang ia anggap Bella telah menjual dirinya demi mendapatkan uang itu. Sonya sangat sedih dan ia pun langsung menangis bahkan menyalahkan dirinya sendiri lantaran tidak bisa menyelesaikan masalah sehingga harus mengorbankan gadis yang telah ia anggap seperti putrinya sendiri. “Aku benar-benar tidak berguna!” ucap Sonya di sela-sela tangisannya. “Gara-gara permasalahan yang tidak bisa aku selesaikan sendiri, membuatmu menjadi korban dari nafsu b***t pria diluaran sana!” ucap Sonya lagi membuat Bella mengerti kekecewaan yang tengah dirasakan Sonya, namun hal itu hanyalah kesalahpahaman. “Bu, aku tidak menjual diriku!” seru Bella. “Lalu apa? Pria itu memberikanmu uang sebanyak ini hanya untuk menikmati keperawananmu!” kata Sonya tampak emosi sambil menangis. “Sudah kubilang aku tidak menjual diriku, tapi….” “Tapi apa???” tanya Sonya. Bella tampak terdiam sejenak memikirkan jawaban yang akan menenangkan hati serta pikiran Sonya. “Tapi apa??? Jawab Bella!!!” seru Sonya kembali mendesaknya. “Pria itu memintaku menikah dengannya!” jawab Bella membuat Sonya lagi-lagi terkejut olehnya. “Apa? Menikah?” ucap Sonya terkejut sambil menatap Bella. “Iya! Aku akan segera menikah dengan pria yang memberikanku uang 100 ribu dollar itu.” sahut Bella. “Ibu, tenanglah… aku akan menjelaskan semuanya pada Ibu, bagaimana aku bisa mendapatkan uang ini! Aku sama sekali tidak menjual diriku.” Sambung Bella mencoba untuk menenangkan Sonya.   Selang beberapa saat kemudian Sonya pun tampak tenang setelah berhenti menangis. Ia duduk bersandar disisi ranjang itu mendengarkan setiap perkataan Bella dengan seksama. “Pria itu bernama Zayn… dia seorang pebisnis, dia cukup kaya makanya dia bisa memberikan uang ini padaku.” Kata Bella. “Apa kau sudah lama mengenalnya?” tanya Sonya. “Sudah. Kami sudah berpacaran selama dua tahun.” Sahut Bella berbohong. “Kau benar-benar ingin menikahinya? Bagaimana dengan keluarganya? Apa mereka tau kalau kau berasal dari panti asuhan?” tanya Sonya tampak mengkhawatirkan Bella. “Mereka tau siapa aku dan mereka menerimaku dengan baik… mereka menyetujui hubungan kami.” kata Bella tidak memiliki cara lain selain berkata bohong agar Sonya tidak khawatir terhadapnya. “Kalau begitu maukah dia bertemu denganku? Aku ingin mengenal calon suamimu.” Pinta Sonya. “Iya, nanti aku akan bicara padanya.” Sahut Bella. “Aku juga ingin mengucapkan terima kasih padanya karena dia sudah mau membantu kita membeli tanah panti asuhan ini.” kata Sonya lagi. “Iya.” Sahut Bella pasrah. Sonya tersenyum sambil mengusap kepala Bella dengan lembut. “Nak, aku doakan semoga pria itu bisa membuatmu bahagia.” Ucap Sonya pada Bella. “Iya.” Sahut Bella tersenyum tipis. Bella meraih tangan Sonya dan meletakkannya dipipinya. “Ibu, berjanjilah… setelah semuanya berakhir Ibu jangan sakit lagi! Aku sedih melihat kondisi Ibu seperti ini.” kata Bella. Sonya hanya tersenyum menanggapi perkataan gadis itu. “Malam ini aku akan tidur disini menemani Ibu, besok kita akan temui pria serakah itu dan memberikan uang ini padanya.” Kata Bella lagi. “Iya,” sahut Sonya. Tengah malam Sonya menatap wajah polos seorang gadis yang terlelap di sebelahnya. Air matanya berlinang lantaran ia tak mudah untuk dibodohi oleh gadis itu. Ia mengusap lembut rambut Bella sambil terisak pelan. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang terjadi kepada Bella. “Walaupun kau merahasiakannya, tapi aku tau kalau kau sudah mengorbankan harga dirimu demi anak-anak panti asuhan ini.” Ucap Sonya dalam hatinya lalu mengecup kening Bella dengan lembut.   Keesokan harinya pria serakah itu datang untuk ketiga kalinya menemui Sonya. Ia ingin menagih janji yang harus ditepati Sonya hari itu. Pria itu duduk sambil mengangkat kakinya dengan tatapan matanya yang memperhatikan setiap lekuk tubuh Bella yang berdiri di sebelah Sonya. “Bagaimana? Apa uang yang aku minta sudah ada? Aku minta kalian tidak memohon lagi padaku seperti kemarin… memintaku memberikan kalian tempo yang hanya akan membuang-buang waktuku saja!” kata Pria itu pada Sonya dan Bella. Pria itu lantas menyeringai saat melihat bentuk tubuh Bella yang menonjol dan membuat pikirannya liar entah kemana-mana. “Tawaranku juga masih berlaku untuk gadis ini, nyonya.” Kata Pria itu lagi pada Sonya tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Bella. “Huh, aku tidak sudi menjadi binatang peliharaanmu!” gerutu Bella kesal pada Pria itu. “Huh, dari pada jadi wanita simpananmu, lebih baik aku menjadi wanita simpanan tuan Zayn… dia tampan dan kaya raya, walaupun rasanya aku ingin sekali menyumpal mulutnya dengan cabai apabila dia sedang berbicara mencibirku!” gerutu Bella dalam hatinya. “Tuan, apa anda membawa surat tanah ini?” tanya Sonya. “Tentu saja aku membawanya! Aku sengaja membawanya hari ini karena aku yakin kau pasti akan menukarkan tanah ini dengan gadis yang berdiri di sampingmu itu!” kata Pria itu dengan menunjuk kearah Bella. “Jaga sikap anda tuan!!! Sampai matipun aku tidak akan menyerahkan anakku padamu!!!” seru Sonya kesal. “Oh, sikapmu itu menunjukkan kalau kau sudah memiliki uang yang aku minta.” Kata Pria itu. Bella tak tahan lagi dengan sikap pria paruh baya yang sangat menjijikkan. Ia lantas mengambil koper besar dan membukanya lalu menunjukkan isinya pada pria itu. Pria serakah itu langsung tersenyum sumringah melihat uang tersebut. Ketika ia ingin menyentuh uang itu, Bella langsung menutup kopernya dengan cepat. “Kalau kau ingin uang ini jadi milikmu, cepat tanda tangani surat ini!” seru Bella menatap tajam pada Pria itu. “Heh, kau sangat sombong!” gerutu Pria itu tak senang. “Kau mau tidak???” pekik Bella kesal. “Iya, baiklah! Aku akan menandatanganinya! Setelah kupikir lagi uang ini jauh lebih berharga dari pada kau!” seru Pria itu lantas menandatangani surat jual beli tanah panti asuhan itu. “Dasar pria serakah!” umpat Bella dalam hatinya.   Bella akhirnya dapat bernafas lega. Ia duduk di teras panti asuhan itu sambil tersenyum menatap anak-anak yang sedang bermain di halaman. “Haaaah, akhirnya aku bisa menyelamatkan mereka agar tidak terlantar di jalanan.” Ucap Bella dalam hatinya. Ia merasa sangat senang melihat senyum dan tawa yang terukir dibibir anak-anak panti asuhan tempatnya dibesarkan. Kemudian, tiba-tiba saja ponsel Bella bergetar. Ia menatap layar ponselnya yang mendapatkan panggilan telepon dari sang majikan. “Halo?” ucap Bella menerima panggilan telepon dari Zayn. “Kau dimana?” tanya Zayn. “Masih di panti asuhan.” Sahut Bella. “Apa urusanmu sudah selesai?” tanya Zayn lagi. “Iya, sudah.” Sahut Bella. “Kalau begitu sekarang kau datang ke apartemenku!” perintah Zayn. “Iya baiklah,” sahut Bella.   Tut… tut… tut…. Sambunga telepon itu lantas terputus begitu saja membuat Bella jengkel setengah mati pada majikannya tersebut. “Uugghh, dia benar-benar pria yang menyebalkan!” gerutu Bella kesal sembari menggenggam ponselnya dengan erat. Bella pamit kepada Sonya untuk bergegas pergi menemui majikannya yang sedang menunggu di apartemen. Tentu saja Bella meninggalkan alasan yang masuk akal kepada Sonya, walaupun Sonya tau bahwa Bella berbohong kepadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD