Bab 13

1234 Words
"Dek Fika, maafkan Mas, ya. Tadi Mas berkata keras kepadamu." Aku yang masih menelungkup menahan isakan tetap bergeming. Selama pernikahan kami, ini kali pertama suamiku berucap dengan nada tinggi kepadaku. Memang aku menerima ketidaktepatan sikapku itu, tetapi, seharusnya dia mengerti bagaimana posisiku saat itu. Seandainya aku mengadu ke dia, apakah masalah berhenti seketika? Mas Farhan akan marah. Sedangkan aku akan berakhir menjadi tukang adu saja--menyebabkan pertengkaran antara kakak dan adik. Masih terngiang jelas ucapan Mas Farhan. "Dengan kamu diam, masalah selesai? Tidak, kan? Malah semakin melebar dan semua orang tahu masalah kita. Yang membuat malu, semua orang mengerti kalau aku tidak becus mendidik dan memimpin kalian!" Ucapan itu memang benar, hak dia untuk menegurku, tetapi, bukan dengan mata melotot mengerikan seperti itu. Aku seperti ditempatkan sebagai istri yang bodoh dan tidak punya pikiran. "Dek, anak-anak sudah tidur, itu Mas belikan martabak isi daging dan jamur kesukaanmu," rajuk suamiku sekali lagi. Tadi setelah selesai pertemuan, Dek Hana langsung pulang, begitu juga Santi diantar Mas Farhan sekalian menjemput Lisa dan Fikri. Sedangkan aku, langsung menyelusup di balik selimut menyembunyikan isakan yang semakin keras tadi. "Ayolah, Dek. Ini martabaknya enak, lo," ucapnya sambil menyodorkan sepiring martabak yang ditata rapi. Suamiku ini tahu benar kelemahan istrinya. Aroma yang kusukai menguar di penciumanku, mengusik perut yang belum terisi dari tadi sore. Mengingatkan aku akan rasa lapar, ternyata menangis membuatku melupakan itu. "Krucuk-krucuk." Tiba-tiba perutku unjuk suara yang tidak bisa aku cegah. Sontak, aku dan Mas Farhan tertawa bersama. Dia meletakkan piring di atas nakas, dan mengulurkan kedua tangannya kepadaku. Aku yang merasa malu, tersenyum sekaligus cemberut. Menerima uluran tangan itu untuk membantuku duduk. Mungkin kalau aku bercermin, mukaku ini memerah--ngambek dan nahan lapar, tetapi, perut tidak bisa diajak kerjasama. Duh! Ternyata, menahan emosi dan menangis membuatku kalap. Satu potong yang disuapi oleh Mas Farhan habis, dan menyusul potongan-potongan berikutnya yang kuambil sendiri. "Lapar atau doyan, Dek?" ucap Mas Farhan menggodaku sambil menyenggol lenganku. "Dua-duanya," ucapku kemudian memiringkan badan menghadap ke suamiku ini. "Sayang, kalau diladeni suami tidak dimanfaatkan. Minta minum, Mas." "Kumat manjanya, ya. Tidak apa-apa, yang penting sudah tidak marah lagi." "Siapa bilang, tidak marah?" sahutku sambil melebarkan mata, pura-pura kesal. Mas Farhan malah tertawa, kemudian dia menangkup kedua pipiku sambil berkata, "Maafkan Mas, ya. Mas tadi bicara tegas sebenarnya untuk melindungi Dek Fika. Jadi, kalau ada yang berbuat seperti itu lagi, kamu tidak usah kawatir mengadu ke Mas. Karena, memberitahuku sudah menjadi perintah," ucapnya berhenti kemudian menatapku dengan mata berkabut. Suaranya terdengar bergetar saat berkata, "Suamimu ini tidak mau siapapun menjelek-jelekkan kamu. Mengerti, Dek?" Aku yang menatapnya lekat, mengangguk, mengerti apa yang dimaksud. Hati yang sempat mengeras, perlahan menghangat. Geleyar indah menyelimuti hati, seiring wajah ini yang mulai tidak menegang. "Kalau begitu, kasih Mas senyum, dong. Supaya hati Mas adem kembali." "Senyum aja? Tidak ada yang lain, ya?" ucapku sambil mengerjapkan mataku yang sudah menebal karena terlalu lama menangis. Mas Farhan menanggapiku dengan senyuman. Menyelipkan helaian rambutku di telinga. Perlahan dia mengikis jarak, mengecup kening ini dengan lembut. "Terima kasih, ya. Sudah menjadi istriku dan rela berjuang dengan suamimu ini. Mas sangat mencintaimu, Dek." "Aku juga, Mas. Maafkan aku yang tidak sengaja melukaimu," jawabku mempererat pelukanku, melabuhkan lelah dengan berbagi rasa. Menautkan syukur, hari ini terlewati dan mengakhiri rasa gundah di hati ini. *** Hari ini Santi tetap datang, tentunya dengan langkah yang lebih ringan. Namun, ibu tidak ikut bersamanya. Dia bilang, ibu mertuaku ini ada arisan di kelurahan. Di usia beliau, memang berkumpul dengan orang banyak menjadi hiburan untuknya. Adik iparku ini juga mengirim kabar kalau di marketplace banyak respon positif, bahkan sudah ada pesanan yang masuk. Ini menambah lebar senyum kami. Semangat menjadi membara, ternyata masih ada harapan bagi kami untuk melanjutkan usaha ini. [Fika, aku dan Wiwin siang ini mampir ke rumahmu, ya] [Tidak usah repot-repot. Siapkan saja, kopi, jajan, makan siang, dan bontotan] Pesan w******p masuk dari Nurul, ditutup emoticon tertawa terbahak-bahak. Memang, sahabatku itu suka bercanda. Walaupun mereka termasuk orang yang berhasil, tetapi tetap tidak malu bersahabat denganku. Nurul yang berhasil dengan toko bahan kue, dan Wiwin yang disibukkan menjadi istri pejabat. Aku kembali ke aktifitasku semula, membuat kue semprit. Harus bersabar memang, oven yang masih menggunakan kompor ini mempunyai kapasitas terbatas. Tak apalah, masih cukup untuk orderan saat ini, walaupun menuntut kesabaran menunggu. Santi pun tetap berkutat dengan menjawab chat di marketplace dan di media sosial. Katanya, keaktifan menjawab pertanyaan akan berpengaruh level bintang yang disematkan ke penjual. Memang, sih, ini penting karena termasuk wujud pelayanan terhadap pembeli. "Mbak Fika, Fariz nanti siang juga ke sini. Katanya mau ambil sampel untuk shooting video," ujar Santi mengingatkan aku. "Dia akan membuat konten-konten yang menarik. Katanya dia akan share di youtube." "Apa itu, San? Mbak kok tidak ngerti!" ucapku kemudian duduk disebelahnya. "Konten itu informasi yang disampaikan lewat media. Bisa lewat youtube, f*******:, t****k, atau yang lainnya, Mbak. Konten yang unik dan menarik itu biasanya yang laris," jelas Santi setelah meletakkan ponselnya. Dia menelengkan kepala ke arahku dengan mengeryitkan dahi. Mungkin dia heran dengan tampangku yang menunjukkan ketidakmengertian. Urusan seperti ini, aku hanya bisa mengibarkan bendera putih. Menyerah. "Sudah, San. Mbak Fika kok tidak mengerti. Kamu urus konten-kontenan itu dengan Fariz. ya. Mbak urusan dapur saja," ucapku disambut ajungan jempol Santi sambil tertawa lebar. "Assalamualaikum!" "Waalikumsalam!" teriak kami bersamaan, aku langsung ke depan. Kedua sahabatku itu datang dengan senyum lebar--Nurul dan Wiwin. Dalam sekejap, rumah menjadi ramai. Satu Nurul saja sudah riuh, sekarang bertambah Wiwin--si jago pidato, julukan kami saat sekolah dulu. Santi juga bergabung dengan kami, dia juga mengenal mereka dari dulu. "Jaga Mbakmu ini ya, San. Dia ini walaupun terlihat seperti super women, tetapi cengeng, suka nangis sendirian!" celetuk Wiwin sambil menepuk pundak Santi. "Ya itu, Fika ini diam-diam menghanyutkan. Kebanyakan nangis sampai banjir!" timpal Nurul diakhiri tawa yang berderai. Mereka ini, paling ahli kalau meledekku. Memang dari dulu seperti itu, tetapi mereka sayang dan perhatian kepadaku. Kami pun berbincang terutama tentang bisnis yang aku rintis sekarang ini. Dengan bangga Santi pamer kalau sudah menerima orderan yang lumayan jumlahnya. "Kamu pakai oven kecil ini? Kalau seperti ini tidak efektif, Fik! Kapan selesainya kerjaan? Santipun juga pasti ragu menerima order banyak. Jatuhnya, nanti telat dan dapat komplain!" jelas Wiwin si jago pidato. "Aku ada oven besar di rumah. Dulu pernah dipakai praktek, tapi tidak jalan. Besuk aku kirim ke sini, ya?!" ucapnya seperti perintah. Tegas dan tidak bisa dibantah. "Win, itu tetep aku bayar, ya." "Pake saja dulu. Kalau sudah jadi milyuner, baru kirimi aku mobil!" celetuknya sambil tertawa. "Eh, itu sudah datang!" teriak Nurul sambil melongok ke depan. Mobil pikup parkir di depan rumah. Nurul langsung ke luar memberi perintah. Dua orang turun dari mobil dan masuk ke rumah sambil membawa bahan-bahan kue. Terigu, gula, dan kresek-kresek warna hitam yang aku tidak tahu isinya apa. Aku dan Santi diam, bengong melihat Nurul dan Wiwin mengatur pekerja tadi. "Ini semua yang kamu belanjakan kemarin. Tapi aku kalikan dua puluh kali lipat. Ini sebagai ucapan dari kami, selamat memulai usaha baru. Kamu tidak boleh membantah apalagi menolak!" ucap Wiwin dengan tegas. "Wiwin, Nurul, kalian tidak harus berbuat seperti ini. Aku---" "Sudah aku bilang, kami tidak menerima penolakan. Ya, Rul." "Iya, betul. Sekarang kami pamit dulu. Sukses selalu ya!" ucap Nurul kemudian memelukku. Kami berpelukan bergantian. Hati ini merasa disayangi, bukan karena apa yang diberi. Wujud perhatian dan dukungan yang membuatku kuat. Sahabat bukan seperti bayangan, yang ada saat kita bersinar. Karena sahabat sejati, justru disaat sinar meredup, dia siap menguatkan kita. BERSAMBUNG ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD