POV Hana
Dulu, hanya ada aku dan Mas Farhan. Sebagai anak bungsu, semua kasih sayang ditujukan kepadaku seorang, apalagi aku anak perempuan yang manis--kata mereka.
Ayah yang sebagai kepala dinas memenuhi segala kebutuhanku. Hanya dengan tunjuk tangan saja, semua bisa aku dapatkan. Aku seperti putri dongeng yang dimanjakan.
Apalagi, Mas Farhan yang sangat menyayangiku. Di sekolah atau dimanapun, dialah yang menjagaku. Jangan sampai ada yang mengganggu atau menjahatiku, kalau tidak akan berhadapan dengan Kakakku tersayang, Mas Farhan.
Kasih sayang mereka mulai terbagi, selama dua tahun berturut-turut aku mendapatkan adik--Santi dan Fariz. Kebiasaanku pun menjadi terganggu. Kasih sayang Ibu dan Ayah tidak utuh seperti biasanya. Tak jarang mereka menegur bahkan memarahiku saat aku berulah, tidak ada belai manja dengan nada membujuk lagi. Aku merasa disaingi dan terbuang.
Syukurlah hanya Mas Farhan yang masih seperti dulu. Walaupun dia sering mengatakan kata-kata yang membosankan, " Dek Hana, kita sudah menjadi kakak. Harus ngalah dan selalu menyayangi mereka."
"Aku tidak mau jadi kakak! Aku mau seperti dulu! Tidak ada Santi dan Fariz!" protesku saat itu.
Tidak seperti Ayah dan Ibu. Kalau aku sudah merajuk seperti itu, Kak Farhan tidak marah justru membelikan es krim--pasti rasa coklat kesukaanku. Dialah satu-satunya yang mengerti aku saat itu.
Ayah dan Ibu tidah henti-hentinya memberi pengertian kepadaku, mencoba mendekatkan aku dengan adik-adik. Aku merasa membebani saja, namun ini aku gunakan sebagai rayuan saat aku menginginkan sesuatu. Aku bersedia bermain dengan mereka asalkan ayah memberikan yang aku mau. Ternyata berhasil.
Awalnya senang, tetapi, setelah aku pikir, berarti ayah memberiku sesuatu bukan karena aku, tetapi karena lebih sayang kepada Santi dan Fariz.
Huuft!
Tambah kesal jadinya.
Namun, tak apalah, yang penting aku tetap mendapatkan fasilitas lebih dari ayah. Saat itu, uang tidak masalah bagiku, asal ya itu, aku bersikap baik kepada adik-adik.
Ini yang aku gunakan untuk bisa bergaul dengan teman-teman yang keren. Tanpa uang, mana ada yang mau dekat dengan kita. Aku terkenal loyal di sekolah, sering mentraktir teman, tetapi khusus teman yang selevel ya. Yang ke sekolah diantar pakai mobil, atau minimal bawa motor bagus ke sekolah. Bagiku, aku merasa bangga saat itu.
Sikapku ini membuat Mas Farhan kawatir. Pernah aku memilih tidak mau sekolah gara-gara mobil ayah masuk bengkel.
"Dek, memang siapa sih, yang peduli kamu diantar mobil atau sepeda motor? Toh, hanya sampai di depan gerbang sekolah?" kata Mas Farhan dengan pasang wajah kesal, setelah bujukan ayah dan ibu tidak mempan.
"Aku sendiri yang peduli! Kendaraan itu menunjukkan level, Mas! Kalau sebelumnya aku diantar mobil dan sekarang motor, berarti aku turun level, dong! Malu, aku ... malu! Apa kata teman-teman?!"
"Itu hanya perasaanmu saja, Dek Hana. Tidak ada teman yang menilai seperti itu, kalaupun ada, itu bukan teman sejati."
"Itu kan teori. Kenyataannya tidak seperti itu!"
"Dek Hana adikku yang cantik, berteman itu karena ini. Hati," ucapnya sambil menunjuk d**a. "Bukan karena harta yang dipunya, karena itu tidak kekal. Hindari berteman model seperti itu. Adikku ini pintar dan cantik, tidak mungkin ada yang menolak jadi temannya," bujuk Mas Farhan.
Dia memang ahli meluluhkan hatiku. Akhirnya, walaupun dengan wajah bersungut-sungut, terpaksa saat itu aku masuk ke sekolah, tetapi, harus diantar Mas Farhan sendiri.
Umur belasan, memang masanya menikmati indahnya cinta pertama. Ada murid baru yang menjadi incaranku, orangnya tinggi bersih, dan terlihat tampan--saat itu. Teoriku yang menentukan level seseorang karena kendaraan, luruh karenanya. Dia ke sekolah menggunakan sepeda gayung, aku melihatnya itu sungguh menawan.
Namanya Arif. Dia ini terkenal cuek dan sepertinya antipati dengan perempuan, termasuk aku. Tidak apa-apa, lah. Aku masih bisa mengaguminya, walaupun dari jauh. Siapa tahu, dia mengubah pendirian dan memilih aku. Masih ada harapan, kan?
Benar yang dikatakan Mas Farhan, harta itu tidak kekal. Semuanya luruh seketika saat ayah meninggal karena penyakit jantung.
Seketika, dunia terbalik.
Karena ayah sudah tidak ada, kami harus menyerahkan semua fasilitas dari kantor, mobil, dan termasuk rumah yang kami tempati ini. Untungnya, masih ada rumah yang sempat dibeli ayah, walaupun jauh sederhana daripada rumah sebelumnya.
Sering kali aku meruntuki diri sendiri, kenapa aku tidak dilahirkan di keluarga yang kekayaannya tidak habis tujuh turunan? Kenapa hanya di keluarga yang langsung jatuh saat ayah tiada?
Apalagi, ibu yang murni ibu rumah tangga, terbiasa menerima uang bulanan dari ayah. Kami benar-benar jatuh tuh sampai dasar.
Mas Farhan lah yang memaksakan diri menggantikan ayah. Kesempatan sekolah di universitas negeri di Bandung, dia abaikan. Dia mengubur keinginannya menjadi sarjana teknik dan berakhir bekerja di bengkel.
Penghasilan tidak seberapa, memaksa Mas Farhan bekerja dobel-dobel. Kebutuhan kami tidaklah sedikit, dua adik yang masih kecil dan aku harus masuk sekolah SMA.
Kesal sekali saat itu. Harga diriku seperti tercabik-cabik. Keinginan untuk masuk di SMA taraf internasional terpaksa harus aku kubur dalam-dalam. Aku menyerah sekolah di negeri dekat rumah. Perkiraanku benar, satu persatu temanku yang 'keren' mulai menjauh dan bersikap tidak kenal lagi denganku. Aku merasa terbuang untuk sekian kalinya.
Selain kerja di bengkel, Mas Farhan juga suplai bahan-bahan pokok, seperti beras, gula, minyak, dan apa saja.
"Pokoknya, Dek. Mas itu palugada apa yang lu butuh, gua ada!" Itu yang dikatakan saat aku bertanya sebenarnya bisnis apa, sih?
Bisnis ini yang membuat keluarga kami mulai stabil. Memang, Mas Farhan tidak mempunyai toko, tetapi, dia mempunyai pelanggan tetap.
Suatu hari, aku ingat sekali, saat itu hari minggu. Mas Farhan ke rumah memperkenalkan seorang wanita ayu, terlihat malu-malu dengan menggunakan blus putih dan rok lebar bermotif bunga-bunga. Namanya Fika, aku disuruhnya memanggil Mbak Fika, katanya dialah yang akan menjadi kakakku nanti--tepatnya mbak ipar.
Dia orangnya baik dan ramah, ibu langsung menyukainya, tetapi, aku terlanjur melabel dirinya sebagai perebut Mas Farhan.
Pernikahan digelar, dan ketidaksukaanku semakin bertambah saat tahu Mbak Fika adalah kakaknya Arif--teman sekolah yang bersepeda gayung itu. Katanya sih, Arif adik beda ibu dengan Mbak Fika. Namun, sama saja, itu memupuskan harapanku yang dulu aku canangkan.
Siapapun pasti sebal, seperti rasaku saat itu.
Mas Farhan dan Mbak Fika mendirikan warung makan. Masakan Mbak Fika yang enak dan kemampuan menjual Mas Farhan yang super, membuat warung berkembang pesat. Mereka juga dikaruniai anak-anak yang lucu. Lengkap sudah, Masku yang dulu benar-benar terenggut dariku. Tanpa sisa.
"Hana, kamu ikut Masmu, ya. Sambil bantu mereka. Bagaimanapun merekalah yang membantu kita dan akan membiayai kuliahmu. Fariz juga ikut ke sana, Santi biar menemani Ibu di sini," pinta Ibu malam itu menambah pikiranku bergulir tak kendali.
Ini, sama saja ibu mengirimku sekadar bisa melanjutkan kuliah. Hati ini terlanjur terframe, aku menjadi pembantu menjual tenaga demi bisa makan dan bisa sekolah.
Kadang, hatiku kesal melihat mereka bercengkrama. Siapa lagi kalau tidak, Mas Farhan, Mbak Fika dan kedua balitanya--Lisa dan Fikri--sialnya Fariz pun ikut bergabung juga. Sering kali mereka memanggilku, tetapi, lebih baik aku di kamar sendiri meratapi nasib.
Saat itulah, aku mencanangkan untuk semangat dan menetapkan level yang tinggi. Kak Farhan hanya memberi uang kuliah dan uang saku yang tidak banyak, mana cukup untuk lebutuhanku?
Aku harus bangkit dan berusaha. Benar, usahaku menjual barang-barang bermerk, laris manis. Ini karena mata dan pilihanku yang tepat. Awalnya, memang Mas Farhan memberiku modal, anggap saja itu bayaranku karena setrika baju--jadi aku tidak punya hutang kepadanya.
Kegigihanku inilah yang menjadikanku berhasil. Setelah lulus kuliah, aku menikah dengan Rendra--kerja di pelayaran-- dan aku menjadi manager marketing di perusahaan fashion terkemuka.
Level yang aku tentukan, memaksaku untuk mempunyai program keuangan yang ketat. Cita-citaku, mempunyai rumah bagus, mobil bagus, dan kehidupan yang tidak masalah dengan uang. Utamanya, segala sesuatu yang terlihat dengan mata. Bahkan, aku pun rela puasa demi mengumpulkan uang muka mobil dambaanku itu. Untungnya, suamiku yang jarang di rumah membuatku leluasa dengan gayaku ini.
Emosiku membuncah, saat aku menahan lapar, Mas Farhan mengirimku pesan w******p.
[Dek Hana, Mas pinjam 300rb atau 500rb. Minggu depan Mas ganti]
Aku diamkan saja, setengah jam kemudian, pesan masuk kembali.
[Atau, berapa saja, Dek.]
Rasa kesalku langsung meledak, pesan kedua terlihat memaksa. Aku menangkap, Mas Farhan menuntutku untuk membayar apa yang dilakukan kepadaku. Padahal aku ini adik kandungnya. Kenapa dia itung-itungan? Kalau tidak iklas, kenapa membiayai kuliahku? Aku dulu tidak minta disekolahkan, kok!
Dengan jari yang gemetar, aku membalas pesan whatsappnya. Enak saja minta uang, walaupun bilangnya pinjam.
Aku saja puasa.
BERSAMBUNG
***