"Kenapa Ibu harus pulang sekarang? Ibu ingin membantu kalian," tolak Ibu saat Santi menyarankan untuk pulang duluan.
"Tapi Bu, Santi lembur sampai malam. Kasihan nanti Ibu sakit. Kan, besuk bisa ke sini lagi." Santi merayu ibunya sambil memijat pundak, kebiasaan dia kalau meminta sesuatu. Biasanya, sih, ibu mertuaku ini luluh.
Begitu juga aku, menyakinkan anakku--Lisa dan Fikri--untuk menemani neneknya sementara waktu. "Kasihan nenek kalau sampai malam di sini. Tante Santi masih lembur. Kalian bawa buku saja ke sana, sekalian belajar atau mengerjakan PR. Nanti dijemput Ayah sekalian antar Tante."
"Nenek tidur saja di sini," usul Fikri membuatku habis akal mencari alasan.
"Mas Fikri ini bagaimana, sih. Trus nenek ganti bajunya siapa? Baju Ibuk kurang besar, apalagi punya Lisa. Masak pinjam sarung Ayah! Mas Fikri ini aneh!" celetuk adiknya dengan nada mengejek. Disambut mata melotot oleh Fikri.
Aku lega rasanya, akhirnya mereka setuju pergi menemani neneknya. Mereka segera bersiap berangkat, dan Santi memesan taxi online.
"Maaf, ya, Bu. Ini lemburnya mendadak. Lain kali kalau lembur lagi, Ibu dan Santi tidur sini saja," ucapku sambil mengantar mereka ke depan saat mobil pesanan sudah tiba.
Sekarang, tinggal kami berdua, menunggu waktu dengan gelisah dan menebak-nebak apa yang akan terjadi nanti.
"Bagaimana Mbak Fika? Mas Farhan kalau marah nakutin."
"Pasrah saja, San. Biarkan yang terjadi, ya terjadilah. Toh kita tidak salah, kok. Kita tidak membalas atau berbuat tidak benar, kan?" ucapku menenangkannya.
Walaupun, kata-kataku ini sebanarnya tertuju untukku juga. Menghibur hati yang mulai gundah. Memang suamiku itu orangnya pendiam, kalem, tetapi, sekali marah semua orang langsung takut. Kalau sudah amarahnya membuncah, dia akan keluarkan semua sampai orang lain tidak bisa berkata-kata.
Yang menjadi beban pikiranku sekarang, apakah sikap diamku dan tidak memberitahu Mas Farhan termasuk perbuatan salah? Ini yang membuatku bimbang dan tanganku berkeringat dingin gemetaran.
*
Tepat sebelum magrib, Mas Farhan datang. Aku langsung menyambutnya seperti biasa, menyuguhkan senyum, walaupun hati masih was-was.
Sebelumnya, aku sudah berpesan kepada Santi, jangan bertanya tentang kasus Dek Hana saat suamiku ini baru tiba. Ini sudah peraturan, siapapun yang baru masuk rumah tidak boleh dicecar pertanyaan ataupun kabar yang mengejutkan.
Siapapun itu.
Karena, orang yang baru datang biasanya emosi dan pikiran belum stabil, gampang tersulut bahkan bisa menjadi kesal.
"Mas, makanan sudah aku siapakan. Akan makan sekarang?" ucapku setelah suamiku ini selesai sholat.
"Masih belum lapar. Kalian kalau ingin makan, duluan saja," ucapnya terlihat berusaha biasa. Namun, sebagai istrinya aku mengerti, dia menahan sesuatu.
"Dek Hana sudah kasih kabar ke sini?"
"Belum, Mas. Coba tanya Santi, mungkin dia kirim pesan," jawabku sambil mengekori dia yang ke luar kamar.
Santi sudah bersiap di ruang tengah, walaupun nonton televisi terlihat tidak menikmati--chanelnya saja diganti-ganti.
"San, Dek Hana hubungi kamu?"
"I-Iya, Mas. Katanya setelah isyak baru berangkat," jawab Shanti kemudian beringsut memberi ruang Mas Farhan yang duduk di sampingnya. Terlihat jelas dia bersikap tak biasa. Santi sama dengan Fariz yang sering bersikap manja ke kakaknya, beda dengan saat ini.
"Santi, kamu yakin mau membantu Mbakmu ini kerja? Nanti kamu punya keinginan sendiri terus dipendam. Mbak Fikamu ini tidak maksa, ya."
"Tidaklah, Mas Farhan. Aku malah seneng ada teman usaha. Kalau sendiri seperti kemarin, itu seperti susah banget. Apa-apa dipikir sendiri. Ke sana mentok, ke sini buntu. Pokoknya pusing, deh! Kalau sekarang ini lebih ringan dan bisa bagi tugas," jawab Santi sambil tersenyum meringis.
"Kamu ini cari enaknya aja. Tapi inget, jangan ngeluh dan harus semangat. Kalau ada uneg-uneg dibicarakan, jangan didiamkan. Nanti seperti bisul, meletus setelah bernanah."
"Siap, Bos!"
"Nah, gitu. Ini baru adik Mas Farhan yang pinter," ucapnya sambil mengajak rambut adiknya itu, dan suasana menjadi cair.
Mereka kemudian berbincang kembali. Aku mendengar apa yang tadi dikatakan Mas Farhan merasa tersindir. Apa itu ditujukan kepadaku? Namun, tidak biasanya suamiku sindir-menyindir. Mungkin hanya perasaanku saja yang sudah ketakutan.
***
Satu jam kemudian Dek Hana datang. Walaupun dia sudah bersuami, tetapi suaminya kerja pelayaran yang enam bulan sekali pulang. Sedangkan anak, belum dikaruniai. Entah memang belum jodoh, atau memang diprogram.
Dia datang dengan mengendarai mobil. Mungkin, itu mobil yang dia baru beli. Bukankah, terakhir dia bilang mengumpulkan uang muka kredit mobil? Aku juga tidak bertanya, kawatir salah.
Setelah aku persilahkan dan Santi menyuguhkan minuman, kami semua berkumpul--Mas Farhan, aku, Santi, dan Dek Hana.
Sekejap, suasana menjadi hening dan aroma keseriusan terasa kental. Apalagi, Mas Farhan memasang tampang datar, semburat senyumpun tidak ada.
"Tadi, aku bertemu Pak Ilham. Dia bertanya ke Mas, apakah keluarga baik-baik dan rukun semua. Mas pun bingung menjawab, karena Mas tidak tahu apapun tentang hal ini. Akhirnya, Pak Ilham menunjukkan status f*******: punyakmu, Dek Hana," ucap Mas Farhan setelah menoleh ke adiknya.
Aku dan Santipun saling pandang, keringat yang tadi hanya lembab sekarang mulai basah. Kalau ini diteruskan, pasti bermuara kepadaku.
Suamiku menarik napas dalam, kemudian meneruskan bicara, "Mas sempat berpikir tidak-tidak, tetapi, hati kecil Mas berkata, tidak mungkin Dek Hana tega berucap seperti itu. Adik yang selama ini tinggal bersama, susah dan senang dinikmati bersama juga, ini pasti akunnya dicuri orang. Itu yang Mas katakan kepada Pak Ilham. Beneran, Mas tadi malu. Maluuu sekali."
Suara Mas Farhan tidak sejernih di awal, sekarang seperti bergetar seakan menahan perih di hati. Aku pun terikut merasakan, tak sadar, mata ini mulai berembun.
"Ini masalah keluarga, kenapa harus sampai didengar orang lain? Sampai kau umumkan ke seluruh dunia. Memang kamu kehilangan uang berapa Dek? Mas hanya pinjam, tidak minta! Itupun tidak jadi!"
Mendengar suara suamiku yang mulai mematik amarah, aku langsung mendekat ke Mas Farhan, mengusap lengannya untuk tidak terbakar emosi. Dek Hana yang menjadi tokoh utama malam ini, hanya diam dan menunduk. Entah apa yang dipikirkan, semoga saja hatinya tersentuh.
"Jawab Mas, Dek Hana. Jangan diam saja dan berkoar-koar di luar sana. Malu! Coba jawab, kenapa kamu seperti itu!"
Perlahan Dek Hana mengangkat wajah, menunjukkan wajah yang menegang.
"Yang aku tangkap saat Mas mengirim w******p, Mas Farhan menagih balasan karena menampungku di sini. Aku merasa harus membayarnya, sedangkan aku sudah mempunyai rencana lainnya."
"Ya Allah, Dek Hana. Kenapa kamu mempunyai pikiran jelek seperti itu!" teriak Mas Farhan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sama denganku, tidak habis pikir dengan apa yang diucapkan. Kok bisa seperti itu?
"Dengar, ya. Dek Hana dan Santi juga. Mas dan Mbak Fika tidak pernah satu katapun menuntut balasan apa yang sudah kami lakukan. Niat pun tidak. Kalian ini adik-adik yang kami sayangi. Melihat kalian bisa mandiri saja sudah cukup. Hanya, saat ini kami memang di posisi sulit, kami hanya minta bantuan, itupun hanya sementara," ucap Mas Farhan kemudian diam. Terlihat suamiku ini menata hati, aku tidak bisa berkata apapun.
"Dek Hana. Kalau kamu masih menganggap Mas ini kakakmu, hapus sekarang juga tulisan di f*******: kamu!"
"Status yang mana, Mas. Ada dua status terbaru," ucap Santi lirih, sepertinya dia ingin mengucapkan kebenaran tetapi takut.
"Ada lagi?!" teriak Mas Farhan terkejut.
"Mas tidak punya f*******:. Hapus semuanya sekarang juga!" perintah Mas Farhan dengan tegas. Santi yang duduk disamping Dek Hana, langsung menyenggol lengannya, memaksanya untuk disegerakan.
Mas Farhan memperhatikan mereka dengan lekat, sorot matanya terlihat menakutkan. Beberapa saat kemudian, pandangam suamiku beralih kepadaku. "Dek Fika, kamu kan punya f*******:. Apakah kamu sudah tahu tentang hal ini?" tanyanya dengan tatapan menyelidik.
Duh! Kena, aku.
Aku menatap sekilas ke arah Santi, setelah hatiku mulai tenang langsung aku jawab, "Maaf, Mas. Iya aku tahu." Jawabanku sengaja tidak menyertakan nama Santi, kalau iya, bisa jadi dia dimusuhi Dek Hana dan dimarahi Mas Farhan juga.
Sontak, Mas Farhan mendongakkan kepala dengan mata terpejam. Seperti berusaha menenangkan hati. Sungguh, saat ini aku merasa bersalah. Aku seperti menghianati suamiku ini.
"Maaf, Mas Farhan. Aku tidak bilang karena tidak mau membuat Mas Farhan kepikiran dan marah."
Dia langsung menatapku dan berkata dengan sorot mata yang membuatku begidik, "Dengan kamu diam, masalah selesai? Tidak, kan? Malah semakin melebar dan semua orang tahu masalah kita. Yang membuat malu, semua orang mengerti kalau aku tidak becus mendidik dan memimpin kalian!"
Duar!
Aku merasa ditampar dengan perkataan Mas Farhan. Tanpa aku sadari, aku mencoreng wibawa suamiku sendiri.
"Ingat, sekarang kalau siapapun yang memasang tulisan aneh, harus bilang kepada Mas. Siapapun itu! Mengerti Dek Fika? Mengerti Santi?" ucapnya mengarah kepadaku dan Santi.
Kemudian, pandangan beralih ke Dek Hana, "Dan, kamu Dek Hana. Bersikaplah sesuai umurmu. Jangan seperti anak kecil. Mas tidak pantas menunjukkan mana yang benar dan tidak. Mas pikir, kamu sudah cukup pintar untuk menentukan sikap!"
Mata mereka mulai berkaca-kaca. Aku yakin walaupun ada masalah, jauh di lubuk hati, mereka saling menyayangi sebagai saudara.
BERSAMBUNG
***