--Happy Reading--
Erix Angelo sudah kadung keceplosan saat kata sayang diakhir kalimatnya, dia pun terpaksa mengungkapkan perasaannya. Ditolak atau tidaknya pernyataan cintanya, Erix sudah siap mental untuk menghadapinya.
“A-aku menyukaimu, Nona!” ucap Erix gugup dengan suara lirih.
Deg!
Jantung Aleandra semakin berdebar kencang, tidak percaya dengan pernyataan Erix yang tiba-tiba. Kedua bola matanya yang indah pun, seketika membulat sempurna. Wajahnya pun nampak tegang, begitu shock.
Dengan tersenyum penuh arti, saat melihat wajah Aleandra yang nampak terkejut. Erix pun dengan perasaan dag dig dug, meraih kedua tangan Aleandra yang ternyata begitu dingin saat dia sentuh.
Ssrtt..!
Kedua tangan dingin Aleandra berada dalam genggaman tangan Erix dengan begitu erat. Hal itu membuat Aleandra semakin gugup dan salah tingkah. Apalagi dengan jantungnya, sudah tidak bisa dikendalikan lagi debarannya.
“Dingin sekali tanganmu, Nona!”
“Eeempp…” gumam Aleandra tertahan di bibirnya, sambil menahan debaran jantungnya yang dirinya sendiri pun tidak mengerti, mengapa bisa sekencang itu?
“Jangan takut, Nona! A-ku tidak akan memaksakan kamu untuk membalas rasa sukaku ini.”
Glek!
Aleandra tercekat, semakin tidak bisa berkata-kata. Namun, perasaannya tidak bisa dibohongi, jika dirinya pun merasakan sentuhan hangat dari tangan Erix yang sedang menggenggamnya dengan begitu erat.
Hahahahaha…!
Tawa erix pecah, saat raut wajah Aleandra begitu tegang dan memerah. Hal itu membuat Erix tidak bisa menahan tawanya.
“Menggemaskan…” gumam Erix disela tawanya, kemudian menghujani kecupan di kedua jemari tangan Aleandra dengan lembut.
Cup…
Cup…
Cup..
Sontak saja Aleandra semakin terkejut dan membeku, tidak berdaya dengan perlakuan Erix Angelo yang di luar perkiraan.
Selama tinggal di rumah Zoya, sikap Erix memang baik dan perhatian terhadapnya. Namun, sangat dingin dan menjaga jarak dalam hubungan dekat.
“K-kak E-erix…” gumam Aleandra memanggil nama Erix dengan terbata dan gemetar.
”Heeem… kenapa, Nona?” tanya Erix, menerbitkan senyuman mengembang.
Aleandra menggelengkan kepalanya pelan, kemudian meringis salah tingkah, sudah memanggil nama Erix.
Erix menautkan kedua alisnya tanda tanya. Apa mungkin, Aleandra tidak nyaman dengan apa yang dilakukannya? Bisa jadi Aleandra sudah menolaknya, dengan dia yang menggelengkan kepalanya. Perasaan Erix sudah berpikir yang tidak-tidak.
Perlahan Erix pun mengurai genggaman tangannya dari jemari tangan Aleandra. Namun, Aleandra dengan cepat menahannya.
“K-kenapa, Kak?” tanya Aleandra gugup saat menahan kedua jemari tangan Erix yang sudah berada di ujung jemari tangannya.
Ada rasa tidak rela dan penuh tanda tanya dalam hati Aleandra, disaat jemari tangan Erix yang ingin lepas darinya.
Erix menggelengkan kepalanya pelan, sambil berucap. “Tidak apa-apa, Nona. Aku takut, kamu tidak nyaman.”
Aleandra pun mengulum senyum saat mendengarkan penjelasan Erix. Kemudian, dia pun ingin rasanya berkata jujur dengan apa yang sudah menimpanya selama ini.
“A-aku ingin berkata jujur, Kak!” ucap Aleandra masih terdengar gugup.
Erix mengerutkan dahinya tanda tanya, sambil menaikkan salah satu alisnya heran. “Jujur?”
“Heeem… mengenai keadaanku yang sebenarnya.” Aleandra mengumpulkan keberaniannya untuk berkata jujur. Rasa trauma yang dia alami memang masih ada. Namun, Zoya mampu membantu dirinya untuk ke luar dari rasa takut yang menghantuinya.
“Maksudnya?” Erix semakin heran dibuatnya.
“S-sebenarnya, a-aku sudah tidak perawan,” ungkap Aleandra dengan suara bergetar dan terdengar lirih. Kedua bola matanya sudah menganak sungai, yang siap terjun bebas, jika tidak mampu dia menahannya.
Bukannya shock atau pun terkejut, justru Erix malah menahan tawa yang siap meledak kapan saja. Di era dunia global saat ini, apalagi Amerika Serikat yang notabennya Negara bebas, sudah barang tentu hal itu dianggap wajar dan bukan masalah baginya.
Exspresi wajah Aleandra seketika berubah aneh, saat mendapati Erix yang seolah tidak terkejut dengan pernyataannya.
“Perawan atau bukan, itu bukan masalah bagiku. Di zaman seperti sekarang ini, sangat jarang menemui seorang gadis yang masih perawan, Nona. Begitu juga dengan laki-laki, tidak jauh berbeda dengan anak gadis, sangat jarang laki-laki yang masih mempertahankan keperjakaannya.”
Seolah-olah Erix sangat mengerti dengan masalah keperawanan dan keperjakaan. Padahal, dirinya sendiri pun belum pernah melepaskan keperjakaannya.
Aleandra yang lugu dan polos, tidak percaya dengan pemikiran Erix yang begitu santai saat mendapati kejujuran orang yang disukainya itu sudah tidak perawan. Memang, Amerika Serikat merupakan Negara Liberal, Negara yang mengatur kebebasan rakyatnya untuk melakukan apa saja yang diinginkannya, dengan catatan tidak melanggar hukum, tidak melukai dan tidak merugikan salah satu pihak. Jika hal tersebut terjadi, maka hukum Negara yang akan bertindak. Namun, selama hal itu tidak terjadi, keduanya suka sama suka dan tidak merugikan salah satu pihak, maka hal itu bebas dilakukan.
“Hi… Nona Aleandra!” panggil Erix mengejutkan Aleandra yang nampak termangu.
“Eeh… ya, Kak!”
“Apa yang sedang kamu pikirkan, huem? Jangan terlalu berat, memikirkan kamu masih perawan atau tidak! Bagiku, hal itu bukan masalah besar, aku akan menerima kondisi apa pun dirimu, Nona. Apakah kamu menyukaiku juga, samahalnya aku menyukai kamu, Nona?”
Aleandra merasa kagum dengan penuturan Erix yang berpikiran sangat dewasa dan bijak. Sungguh, Aleandra tidak sanggup menahan jantungnya yang semakin berdebar tidak karuan. Seolah cinta sudah merasuk ke dalam hatinya saat diketuk oleh seorang Erix Angelo, yang berpikiran dewasa, tidak sempit dan tidak egois.
“A-aku juga menyukaimu, Kak!” ucap Aleandra akhirnya mengakui perasaannya terhadap Erix, dengan kepala tertunduk, sambil menyembunyikan wajahnya yang merona merah, layaknya kepiting rebus.
Meskipun sikap dingin Erix selama ini lebih dominan dibandingkan sikap baik dan perhatiannya. Namun, Aleandra tidak bisa membohongi hatinya yang memang memiliki rasa kagum dan suka terhadap Erix Angelo.
Deg!
Erix kembali merasakan jantungnya berdebar kencang. Kali ini, kekuatannya berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Dia pun tidak mampu menyembunyikan perasaannya lagi, hingga akhirnya dia pun bangkit dari tempat duduknya tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tangan Aleandra.
“Berdiri sebentar, Nona!” ucap Erix dengan lembut.
Aleandra pun mengikutinya dengan patuh sambil mengangguk pelan. “Ya, Kak!”
Erix menghampiri Aleandra, kemudian dia pun meminta izin untuk memeluknya, untuk menunjukkan ekspresi rasa bahagianya saat mendengar Aleandra pun menyukainya. Ternyata, Aleandra merasakan juga, apa yang dia rasakan. “B-bolehkan aku memelukmu, sayang!” bisik Erix disela degup jantungnya yang berdebar sangat cepat.
Hembusan napas hangat dari dalam rongga mulut Erix pun menyapa daun telinga Aleandra. Membuat aliran darah Aleandra seketika berdesir dan membeku. Dirinya pun, hanya bisa mengangguk kecil.
Jarak yang begitu intens, membuat Aleandra seolah mendengar detak jantung Erix yang tidak jauh berbeda dengannya. Hal itu membuat Aleandra semakin percaya, jika ucapan Erix adalah benar, bukan dusta semata.
“Terima kasih, sayang!” ucap Erix sambil menikmati kecantikan wajah Aleandra dalam jarak begitu dekat kurang dari lima centi.
Puk!
Erix menarik tubuh ramping Aleandra masuk ke dalam pelukkannya. Cukup lama mereka meresapi dan menikmati pelukkan yang begitu hangat untuk pertama kalinya.
Debaran jantung mereka yang saling bersahutan, deru napas yang begitu hangat saling menerpa, seolah menjadi bukti ada rasa cinta diantara keduanya.
Air mata Aleandra yang sedari tadi sudah ditahannya, akhirnya meluncur bebas di pipi cantiknya yang mulus dan halus. Rasa haru, sedih dan bahagia menyelimuti hatinya.
Isak tangis yang terdengar oleh Erix dari bibir Aleandra pun, membuat dirinya semakin enggan untuk melepaskan pelukkannya. Aleandra mampu merubah sikap Erix, yang terkenal dingin dan pendiam terhadap perempuan.
Jemari tangan Erix mengusap lelehan air bening di wajah Aleandra dengan lembut, lalu menatapnya dengan begitu lekat dan intens. Gejolak rasa diantara keduanya seakan mendorong keinginan saling memberi dan menerima. Gerakan bibir Erix mendekat untuk mengecup kening Aleandra.
Cup!
Ciuman manis di kening Aleandra yang disematkan, sebagai ungkapan dari rasa suka menjadi rasa sayang dan cinta.
Aleandra tersenyum kecil dan begitu menikmatinya, saat kecupan itu dia terima dari bibir Erix. Wajah tampan Erix semakin terlihat jelas di kedua bola mata Aleandra.
“Menikahlah, denganku!” pinta Erix sudah tidak berpikir panjang lagi. Senyuman indah dari sudut bibirnya terbit untuk Aleandra seorang.
Deg!
Glek!
Jantung Aleandra seperti benar-benar ingin melompat ke luar dari dalam dadanya. Rasanya tidak percaya atas apa yang baru saja dia dengar. Tenggorokkannya pun seakan kehabisan oksigen, begitu tercekat dan shock.
“M-menikah, Kak?” tanya Aleandra mengulang kata.
“Ya, sayang!”
“A-apakah ini tidak terlalu cepat, Kak?” tanya Aleandra terdengar gugup. Dia pun mencoba meyakinkan dirinya jika salah mendengar. “Awwhh…” pekik Aleandra refleks, saat tangannya mencubit sebelah pipinya.
Erix terkekeh melihat salah tingkah dan gugup Aleandra yang nampak lucu dan menggemaskan.
“Lebih cepat, lebih baik.”
“T-tapi, a-apakah Kakak sudah yakin ingin secepatnya menikah denganku? A-apakah Kak Erix, tidak akan menyesal?” tanya Aleandra yang mulai belingsatan.
“Heeem…. Will never!” Erix semakin gemas saat melihat wajah Aleandra yang panik, takut dan khawatir. Perlahan dia pun mengangkat dagu Aleandra dengan lembut.
“T-ta…”
Baru saja Aleandra akan berucap kembali, bibir Erix sudah terlebih dahulu membungkam bibir Aleandra dengan gerakkan lembut.
Mmppt…!
Bibir Aleandra yang sedang terbuka itu pun, secara tidak langsung memudahkan Erix menjelajahi seluruh isi rongga mulutnya dengan lidahnya yang bergerak dengan bebas. Mengabsen barisan gigi putih milik Aleandra, mencecap bibirnya dengan lumaatan lembut dan membelit lidahnya yang menari-nari di dalamnya dengan napas yang memburu.
Erix pun memberikan gigitan kecil di bibir Aleandra, agar Aleandra merespont ciumannya. Benar saja, reaksi itu pun terjadi pada Aleandra, dia pun membalas ciuman Erix dengan lembut untuk pertama kalinya dia lakukan dengan seseorang yang mencintainya. Tidak seperti dengan laki-laki yang membelinya satu bulan yang lalu, dirinya tidak membalas ciuman ataupun sentuhan dari pria yang sangat dibencinya saat ini.
“Aleandra!”
Terdengar suara dari seseorang, yang refleks menghentikan ciuman Erix dan Aleandra.
--To be Continue--