Chapter 8

1423 Words
--Happy Reading-- Di sebuah butik terkenal di kota Boston, dengan pakaian merk ternama dari desainer professional. Aleandra nampak cantik dengan gaun yang dipilihkan oleh Zoya. Gaun berwarna marun, dengan anggun dan elegant, sangat pas melekat di tubuh Aleandra. “Woow… cantiknya, calon menantuku! Erix pasti akan terpukau dengan penampilanmu kali ini, sayang!” puji Zoya saat meneliti penampilan Aleandra yang begitu terpancar kecantikannya. Aleandra tersipu malu mendengar pujian dari Zoya, wanita yang sangat baik kepadanya. “Betapa beruntungnya, jika kamu dan Erix berjodoh. Ah… pasti, pernikahan kalian akan sangat membuat iri semua orang yang melihatnya.” Zoya berkhayal tentang pernikahan sang putra dengan gadis yang berada tepat di hadapannya. Wajah Aleandra semakin merona merah, tidak percaya dengan semua ini. Namun, dalam sekejap harapan itu sirna, saat dirinya kembali teringat atas apa yang telah menimpanya. Wajahnya pun nampak murung dan pucat. “Andai saja Tante Zoya tahu dengan kondisiku yang sebenarnya. Apakah dia akan tetap menginginkan aku menikah dengan Kak Erix?” bathin Aleandra bermonolog. “Ayo, sayang! Kita segera ke salon.” Zoya menggandeng lengan Aleandra ke luar dari butik langganannya menuju salon yang berada tidak jauh dari butik tersebut. Selain memiliki butik langganan, Zoya pun memiliki salon langganan. “Terima kasih, Nyonya Zoya dan Nona Aleandra! Jangan lupa datang kembali,” ucap salah satu pegawai butik dengan ramah seraya mengangguk kecil, yang diikuti oleh beberapa pegawai yang lainnya yang melihat Zoya dan Aleandra hendak meninggalkan tempat butik tersebut. “Sama-sama, Miss! Pasti dong.” Zoya mengangguk kecil, lalu mengacungkan ibu jari tangan kanannya, seraya melemparkan senyuman mengembang. Sementara Aleandra hanya mengangguk kecil dan tersenyum canggung. Meskipun beberapa kali Aleandra pernah datang ke butik itu, hingga para pegawai di butik itu pun mengenalnya. Akan tetapi, Aleandra tetap saja merasa tidak pantas berada di tempat yang menjual pakaian dengan harga selangit. Beberapa pegawai butik itu pun sangat menyukai sikap ramah Zoya yang menjadi pelanggan tetap di butik tersebut. Zoya tidak pernah berpikir dua kali, saat menggelontorkan uangnya demi pakaian yang dia sukai. Prinsip Zoya dalam hidupnya itu harus dinikmati dan disyukuri, selagi kita mampu dan tidak merugikan orang lain. *** Zoya melakukan panggilan telpon kepada Erix Angelo, yang sedang berada di ruangan kantornya. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Zoya yakin, sebentar lagi sang putra akan segera pulang. “Hallo, Mih!” sapa Erix sesaat mengangkat panggilan telponnya. “Hi, sayang! Sepulang dari kantor, jemput calon istri kamu di salon langganan Mami, ya,” Glek! Erix benar-benar sport jantung, jika menghadapi kata-kata sang mami, yang selalu mengatakan Aleandra calon istrinya. “Baiklah!” “Okay!” Tuut…! Zoya pun langsung mengakhiri panggilannya, kemudian menemui Aleandra yang sedang di makeup oleh salah satu pegawai salon yang biasa melayani dirinya. “Dandani calon menantuku ini dengan sempurna, Miss!” pinta Zoya kepada pegawai salon yang sedang merias wajah Aleandra. “Sudah pasti, Nyonya!” sahutnya. “Wajah Nona Aleandra ini sudah cantik secara alami. Jadi, tinggal di poles sedikit saja, kecantikannya akan nampak sempurna,” ujar pegawai salon tersebut. “Waah… good! Kali ini akan aku beri uang tips dua kali lipat dari biasanya,” ucap Zoya dengan melemparkan senyuman. “Terima kasih, Nyonya Zoya. Anda memang pelanggan terbaik yang pernah saya temui,” ucap pegawai salon itu jujur. “Ah, bisa saja kamu! Masih banyak pelanggan yang lebih baik dari saya.” “Baik memang banyak, Nyonya. Tapi, pelanggan yang seperti Nyonya itu sangat jarang ditemui. Selain baik, Nyonya pun begitu ramah terhadap siapa saja,” terang pegawai salon itu yang sudah mengenal lama siapa Zoya. Seketika Zoya pun nampak tersipu malu dengan pujian dari pegawai salon tersebut. Tidak disangka, jika banyak orang yang menyukai sikapnya selama ini. Aleandra yang sedari tadi menyimak pembicaraan Zoya dan pegawai salon yang sedang merias wajahnya pun, ikut menanggapi. “Benar sekali, Kak! Tante Zoya memang orang yang sangat baik dan ramah kepada siapa saja.” “Tuh ‘kan, Nona Aleandra pun setuju dengan ucapan saya, Nyonya!” seru pegawai salon itu. “Heeem… kalian ini membuat saya jadi terhura,” canda Zoya seraya menggelengkan kepalanya pelan dan tertawa kecil. "Terharu, Nyonya!" seru pegawai salon itu cepat. Hahahaha... Zoya tertawa lepas, saat candaannya sukses membuat pegawai salon itu meralat kata-katanya. Sementara Aleandra yang sudah mengenal baik satu bulan bersamanya, hanya menahan tawa. Beberapa saat kemudian, pegawai salon itu pun sudah selesai merias wajah Aleandra. Hasilnya begitu sempurna dan membuat Zoya begitu puas dengan pekerjaan pegawai salon yang menjadi langganannya. “Ini uang tips buat kamu, Miss!” ucap Zoya sambil menyelipkan beberapa lembar uang Dolar lebih banyak dari biasanya. “Waah… terima kasih banyak, Nyonya Zoya. Anda benar-benar sangat baik!” ucap pegawai tersebut, begitu terkejut dengan jumlah uang yang dia terima dari Zoya. Zoya pun mengangguk kecil, kemudian segera melakukan pembayaran di kasir. Setelah itu, Zoya dan Aleandra pun menunggu Erix Angelo untuk menjemput. *** Erix segera memarkirkan mobilnya di depan area parkir salon langganan Zoya yang cukup besar itu. Kemudian, segera turun dari dalam mobilnya dengan langkah gontai. Namun, saat di hadapkan dengan penampilan Aleandra yang begitu anggun dan memancarkan kecantikannya, membuat mulutnya sedikit terbuka beberapa detik. Hingga dirinya pun tersadar, saat Zoya menjentikkan jarinya di depan wajah Erix. “Heeem… tersepona, ya?” Zoya menggoda sang putra. Sontak saja Erik pun terkekeh mendengar candaan sang mami. “Terpesona, Mih! Bukan, tersepona!” ucap Erix disela tawanya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Hahahaha… Zoya tertawa lepas, melihat ekspresi wajah sang putra. Sementara Aleandra hanya mampu menundukkan wajahnya, sambil menahan tawa saat melihat ekspresi wajah Erix yang terlihat shock. “Nah, berhubung Erix sudah datang, Tante pergi dulu ya, sayang!” ujar Zoya. “Ya, Tante!” ucap Aleandra menganggukkan kepala. “Mau ke mana, Mih?” tanya Erix cepat. “Mau ke rumah sakit, sayang. Ada panggilan mendadak,” dusta Zoya sengaja membiarkan sang putra untuk berkencan dengan Aleandra malam ini. Meskipun malam ini baru malam sabtu, Zoya berharap sang putra dan Aleandra bisa menjalin hubungan serius dengan cara pendekatan seperti ini. Erix yang dingin dan sedikit pemalu terhadap wanita, mau tidak mau membuat Zoya yang bergerak cepat. “Jangan pulang ke rumah, Nak! Ajak Nak Alea berkencan malam ini!” titah Zoya, sebelum dirinya melangkah pergi. Erix yang baru saja pulang dari kantor, tidak tahu menahu soal kencan yang sudah diatur oleh sang mami. Dia hanya bisa terkekeh dan menggelengkan kelakuan sang mami yang bersikeras menjodohkan dirinya dengan Aleandra. Sebenarnya Erix belum ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Namun, perasaannya tidak bisa dibohongi. Seiringnya pertemuan dirinya dengan Aleandra setiap hari di rumah, membuat benih-benih cinta pun tumbuh bermekaran di hatinya. “Hati-hati di jalan, Mih!” ucap Erix melambaikan tangannya. “Hati-hati, Tante Zoya!” ucap Aleandra kemudian. “Ya, by… by…!” Zoya pun menghilang dari balik pintu mobil miliknya. *** Erix dan Aleandra saat ini sedang berada di dalam restoran yang cukup mewah dan mahal. Keduanya nampak canggung, disaat pertamakalinya duduk berdua tanpa adanya Zoya diantara mereka. Selama ini, Zoya selalu ada di mana dan ke mana pun mereka pergi. Namun, kali ini tanpa ada Zoya yang senantiasa menghibur dan membuat suasana menjadi hidup dan ramai. Erix dan Aleandra memesan makanan yang sama dengan minuman yang berbeda. Keduanya menikmati makanan dan minumannya tanpa banyak kata, hanya denting pisau dan garpu yang terdengar saling beradu di atas piring mereka. Tidak tahan dengan suasana yang hening dan kaku, Erix pun mencoba membangun komunikasi dengan Aleandra, seperti sang mami yang begitu akrab dengannya. “Eeemmm… apa kamu menyukai makanannya?” tanya Erix begitu gugup saat membuka obrolan, setelah separuh makanannya sudah masuk ke dalam mulutnya. “Y-ya, Kak! A-aku menyukainya,” sahut Aleandra sangat gugup. Namun, sebisa mungkin dia menyembunyikan rasa gugupnya. Aleandra nampak tersenyum kecil, sambil memasukkan potongan daging kecil dari garpu ke dalam mulutnya. Namun, tanpa disadari olehnya, tatapan Erix tidak berkedip melihat ke arahnya. “Kamu sangat cantik, Nona Alea!” gumam Erix pelan memuji wajah Aleandra yang membuat dirinya terpikat, akan tetapi Aleandra mendengarnya dengan jelas. Aleandra pun menghentikan mulutnya yang sedang mengunyah makanannya, membuat Erix tersadar seketika. “M-maaf!” ucap Erix sadar jika gumamannya pasti terdengar oleh Aleandra. “Untuk apa, Kak?” tanya Aleandra mengerutkan keningnya tipis. Bukan menjawab pertanyaan Aleandra, Erix malah bergeming. Perasaannya kali ini sungguh tidak bisa ditutupi lagi, jika dirinya memang sudah mengagumi kecantikan Aleandra yang ternyata mampu menembus kokohnya dinding pertahanan hatinya. “Kak Erix… Kak Erix!” panggil Aleandra pelan, melihat Erix yang terdiam beberapa saat. “Eeh, ya, sayang!” kejut Erix keceplosan memanggil Aleandra dengan kata sayang. Deg! Jantung Aleandra berdebar begitu kencang, terkejut dengan panggilan Erix yang tiba-tiba. --To be Continue--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD