Chapter 7

1476 Words
--Happy Reading— Almaher dan Alzidan baru saja ke luar dari dalam kamar, untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang menunggu mereka. Senyuman terukir indah dari sudut bibir Silviana, ketika melihat kedua putranya yang tampan itu berjalan mendekat ke arahnya. “Ayo, duduk sini, sayang!” seru Silviana mengajak kedua putranya untuk segera duduk di sampingnya. “Ya, Mih!” sahut Maher dan Zidan bersamaan, sambil menarik kursi tersebut. Kedua putranya pun duduk mengapit Silviana. Silviana pun mengambilkan sajian makan malam kedua putranya tersebut dan menaruhnya di hadapan mereka. “Selamat makan malam, sayang!” Maher dan Zidan pun segera meraih piringnya, lalu segera menyantap sajian makan malam yang nampak menggugah selera. “Eem… tadi Mami mau bilang hal penting kepadaku, bukan? Kalau boleh tahu, apa itu, Mih?” tanya Maher disela makannya. Albert yang sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Silviana hanya mengulum senyum. Sedangkan Zidan hanya menyimak saja percakapan mereka. Meskipun Zidan sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh sang mami kepada kakaknya. Zidan yakin, sang kakak mampu mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. “Mami ingin kamu segera menikahi pacar kamu, sayang!” ucap Silviana dengan senyuman terbaiknya. “Aku tidak punya pacar, Mih!” Silviana dan Albert pun tercekat dengan ucapan sang putra sulung. Sementara, Zidan hanya mengulum senyum dan tidak terkejut dengan perkataan Maher. “Haah? Apa yang kamu katakan, Dude?” tanya Albert tidak percaya. “Ck! Lantas, Lady Michela itu kamu anggap apa selama ini, sayang? Bukan ‘kan dia pacar kamu, huem?” tanya Silviana kali ini tidak percaya dengan apa yang baru saja ke luar dari mulut sang putra kesayangan. “Aku sudah putus dengannya, Mih!” ungkap Maher mantap. BRAKK! Albert menggebrak meja makan dengan begitu keras, kemudian bangkit dari tempat duduknya. “TIDAK BISA, KAMU HARUS SEGERA MENIKAHINYA!” tegas Albert mengambil keputusan sepihak. “Aku tidak akan pernah menikahi Lady Michela, Pih! Dia itu telah berkhianat di belakangku, Pih! Dia selingkuh! Tapi, dia tidak terima dengan keputusan yang aku ambil. Dia pun menjebakku dengan obat sialan yang membuat hasratku naik dan tubuhku tersiksa karena hal itu, Pih!” Glek! Albert dan Silviana pun merasakan tercekat dan dadanya tiba-tiba terasa begitu sesak mendengar penjelasan Almaher. Tubuh mereka pun mendadak lemas, dengan perasaan yang begitu hancur, jika sang putra telah dikhianati. Zidan yang sudah mendengar cerita langsung dari sang kakak, beberapa saat yang lalu di kamar Maher, langsung membantu sang kakak berbicara. “Semua yang dikatakan oleh Kak Maher, benar. Jadi, batalkan saja perjanjian kerja sama kalian dengan kedua orang tua Lady Michela.” “K-kamu, sudah tahu, Dude?” tanya Albert kepada sang putra kesayangannya, dengan suara terbata. “Ya, Pih! Aku pun baru tahu, beberapa saat yang lalu.” Silviana hanya bergeming, air matanya sudah mengalir membasahi wajahnya yang masih nampak cantik, meskipun sudah tidak muda lagi. Begitu juga dengan Albert Zilquin, tidak bisa berucap lagi saat mendengar fakta yang begitu menyakitkan bagi sang putra. Hubungan kerja sama yang baru saja akan ditandatangani oleh kedua orang tua Lady Michela, mau tidak mau harus segera di batalkan. *** Di kediaman Dokter Zoya Mariana. Zoya mampu membujuk Aleandra dengan kemampuannya bicara dari hati ke hati dengan Aleandra. Dengan tulus dan lembut, tutur kata Zoya saat berbicara dengan Aleandra, mampu meyakinkan hati Aleandra jika dirinya hanya ingin menolong dan bukan menjebak atau memanfaatkannya seperti orang-orang yang selama ini telah berlaku jahat dan kejam kepadanya. Erix Angelo yang tidak bisa menolak permintaan sang mami untuk mengajak Aleandra tinggal bersamanya pun, hanya bisa pasrah dan menuruti apa yang dimintanya. Satu bulan tinggal bersama Zoya dan Erix Angelo, Aleandra mulai mengenal sifat dan prilaku mereka yang memang memiliki hati sangat baik. Dirinya begitu nyaman tinggal bersama mereka, dengan penuh kehangatan dan cinta kasih yang begitu indah. Meski kerap sang mami selalu meminta ini dan itu kepada Erix Angelo, putra semata wayangnya. Kekaguman Aleandra bukan hanya sekedar melihat Zoya dan Erix Angelo yang bersikap baik dan hangat terhadapnya. Akan tetapi, Zoya yang berprofesi sebagai Dokter umum di sebuah rumah sakit besar di pusat ibu kota Boston pun ternyata seorang wanita yang kuat dan tangguh. Bagaimana tidak, Zoya yang selama ini membesarkan sang putra seorang diri tanpa suami yang membantunya. Ya, Zoya telah ditinggal pergi untuk selamanya oleh sang suami yang telah menghadap sang pencipta, lima tahun yang lalu. Meski Zoya wanita yang sangat cantik dan mandiri. Namun, dirinya terlihat nyaman menjalani hidupnya tanpa kasih sayang seorang pria baru sebagai pengganti almarhum suaminya. Dia pun lebih senang menghabiskan waktunya untuk mengabdikan diri sebagai seorang Dokter dan seorang single parent. Untuk melepas kejenuhan dan kepenatan yang Zoya lewati selama satu minggu bekerja di rumah sakit, dia pun selalu meminta Erix Angelo untuk menemaninya berlibur dan berjalan-jalan. Terkadang, Zoya pun menginginkan sang putra untuk mengenalkan calon kekasih atau calon istri kepadanya. Namun, hingga detik ini pun keinginan Zoya tidak pernah terlaksana. Erix pun selalu meminta tenggang waktu dan selalu menghindar jika Zoya selalu bertanya tentang pernikahan. “Mami mau, kamu menjalin hubungan dengan Nak Aleandra, sayang!” Deg! Jantung Aleandra dan Erix pun tersentak bersamaan, atas apa yang Zoya katakan. “Mih, jangan mengada-ngada deh!’ tolak Erix menahan debaran jantungnya, sambil ekor matanya melirik ke arah Aleandra yang sedang duduk di samping sang mami dengan wajah nampak tegang. Aleandra akui, jika perhatian dan sikap Erix Angelo satu bulan ini sangat baik dan santun. Tidak seperti pria-pria yang sering melecehkan dan menganggap rendah harga dirinya. Usia Erix Angelo yang terpaut tujuh tahun lebih tua dari Aleandra, membuat Zoya yakin jika hubungan keduanya sangatlah cocok dan sudah pasti mereka akan sangat bahagia. “Mami tidak mengada-ngada, kok! Mami itu serius, sayang,” bantahnya. “Kamu mau ‘kan sayang jadi menantu Mami?” tanya Zoya pada Aleandra seraya menggenggam jemari Aleandra dengan erat. Erix bergeming, tanpa melepas tatapannya ke arah Aleandra. Jujurly, ada ketertarikan dari hati Erix terhadap Aleandra. Namun, nyali Erix tidak sebesar rasa perhatian yang kerap kali dia tunjukkan kepada Aleandra. Sementara Aleandra hanya bisa menundukkan kepalanya pasrah. Dirinya merasa tidak pantas menikah dengan pria baik dan tulus seperti Erix Angelo. Pasalnya, dirinya merasa kotor dan tidak bisa menjaga kehormatan yang paling berharga miliknya. Zoya yang sedikit gamang dengan sikap putra dan gadis yang selama ini tinggal bersamanya, mau tidak mau harus menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan-pelan. Kedua orang itu membuat Zoya sedikit kesal. “Sebelum menikah, kalian ‘kan bisa berkencan dahulu. Tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?” Zoya tidak menyerah mencoba memberikan solusi. Menurutnya, jika mereka bisa dekat lewat berkencan untuk saling mengenal lebih dalam, sudah pasti rencananya berhasil untuk menjadikan Aleandra menantunya. Erix Angelo menoleh ke arah Zoya sambil menggelengkan kepalanya pelan. Dirinya mengacungi jempol tangannya untuk usaha Zoya yang begitu gigih. Namun, tentu saja hal itu hanya ada di dalam hatinya. Tidak mungkin Erix melakukannya dengan terang-terangan di depan Zoya dan Aleandra. Pikiran Aleandra semakin resah dan gelisah, manakala wanita yang telah menampung dan merawat dirinya selama ini memintanya untuk menikahi putra satu-satunya itu. “Pikirkanlah, apa yang Mami katakan!” ucap Zoya dengan menatap serius ke arah Erix dan Aleandra bergantian. Setelah itu Zoya pun bangkit dari tempat duduknya untuk meninggalkan mereka berdua, memberi waktu untuk berbicara dan memikirkan apa yang baru saja dia katakan. “Mami istirahat dulu, ya! Akhir pekan ini Mami tidak ingin ke mana-mana. Mami berharap, kalian bisa berkencan secepatnya.” Erix dan Aleandra pun saling bersitatap, meski hanya sekilas. Ada perasaan yang bergejolak di hati keduanya. *** Satu minggu, dua minggu dan satu bulan sudah, Almaher selalu dirundung rasa penasaran di mana Aleandra dan flashdisk miliknya berada. Perusahaan keluarga yang dia jalani sekarang banyak kendala yang menghadang. Apalagi, Almaher sudah tidak bisa beralasan lagi atas hilangnya flashdisk tersebut kepada Albert Zilquin dan Silviana. “Mengapa kamu menyembunyikan masalah yang sangat penting itu, Dude? Apakah kamu tahu resikonya, jika Flashdisk itu sampai jatuh ke tangan orang yang tidak bertanggung jawab, huh?” tanya Albert Zilquin dengan nada geram, rahangnya nampak mengetat dengan urat-urat di wajahnya yang nampak ke luar. Silviana hanya bisa menahan emosi Albert Zilquin dengan mengusap punggungnya pelan, agar kemarahan sang suami tidak kalap dan berapi-api. Anak kesayangannya memang telah melakukan kesalahan yang teramat fatal. Silviana pun tidak bisa berbuat banyak untuk mencegah kemarahan suaminya. “M-maaf, Pih, Mih! A-aku pikir, aku akan menemukan Aleandra,” ucap Maher keceplosan, dengan suara terdengar lirih. “Aleandra? Siapa Aleandra itu, Dude? Apa hubungannya Aleandra dengan Flashdisk itu, huh?” tanya Albert merasa aneh. Silviana pun tidak tahu menahu rahasia sang putra selama ini, dia pun menyorot tajam ke arah sang putra sulung, putra kesayangannya. Alzidan yang mendengar obrolan mereka pun, ikut menanggapi hal itu. “Jujur saja, Kak! Toh, pada akhirnya akan ketahuan juga apa yang kita rahasiakan.” Lagi-lagi Albert dan Silviana tercekat dengan kedua putranya tersebut. Sangat pandai menyimpan rahasia yang akhirnya menjadi boomerang pada dirinya sendiri. Bagaimana tidak, banyak rahasia yang disimpan dan disembunyikan oleh kedua putranya. --To be Continue--
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD