Firasat

1996 Words
Aku sangat gembira hari ini karena mendapat panggilan telepon dari Mas Rafi. Sudah lama aku merindukannya. Entah mengapa akhir-akhir ini rasa rinduku kerapkali tidak bisa berkompromi. Tapi untuk menghubunginya lebih dulu, aku cukup mengerti bahwa dia sedang bergelut dengan tugasnya. Aku tidak ingin mengganggunya. “Assalamualaikum,” sapanya di telepon begitu meneduhkan. Suara lembut yang selalu aku rindukan. “Waalaikumussalam,” jawabku sudah mulai senyum sendiri padahal baru awal salam. “Apa kabar?” tanyanya. “Alhamdulillah baik.” “Keluarga? Ayah dan ibu?” tanyanya lagi. “Alhamdulillah baik juga, Mas. Kamu sendiri apa kabar?” “Alhamdulillah aku juga baik-baik saja di sini,” jawabnya. “Mas kapan pulang?” rengekku mulai seperti anak kecil. “Sebentar lagi. Masih ada urusan yang harus aku selesaikan dulu di sini,” kata Mas Rafi. “Kalau aku pulang, kamu mau oleh-oleh apa?” tawarnya. “Aku nggak mau oleh-oleh apapun. Aku hanya ingin Mas Rafi segera pulang dengan selamat. Aku sudah sangat merindukanmu. Pulang dari Surabaya dengan harapan besar bisa bertemu denganmu. Ternyata sampai di sini kamunya malah ke luar kota. Terkadang jarak dan waktu sebercanda itu ya,” ujarku. “Sabar saja. Kita pasti akan bertemu nanti. Aku janji akan bawakan sesuatu untukmu,” ucapnya.  “Bagaimana pekerjaannya di sana?” tanyaku. “Alhamdulillah semuanya lancar. Aku merindukanmu tapi tidak memiliki banyak kesempatan untuk bisa menghubungimu. Aku begitu ingin bisa menggapai surga bersama-sama denganmu, Syaifa. Tapi aku takut aku tidak bisa,” ucapnya dengan nada suara yang berbeda sungguh membuatku mulai khawatir. “Apa maksudnya tidak bisa, Mas?” tanyaku. “Sudahlah lupakan saja.” Kata-katanya yang menggantung benar-benar membuatku khawatir. Tidak biasanya dia berbicara seperti itu dan aku tahu betul itu bukan sebuah candaan. Namun dengan segera Mas Rafi mengalihkan pembicaraan. Obrolan terus berlanjut dari satu topik ke topik lain. Mengobati rindu karena lama tak bisa berkomunikasi. Dia mengatakan memiliki waktu cukup senggang saat itu karena sedang waktu istirahat. Sebenarnya aku menyuruhnya untuk mengakhiri telepon dan beristirahat saja. Aku tahu di tengah pekerjaan beratnya tentu dia sangat membutuhkan istirahat. Namun dia menolak dengan alasan masih merindukanku. Akhirnya obrolan pun berlanjut membicarakan tentang proses skripsiku. Memang hal yang paling aku rindukan darinya adalah ketika aku bisa mengadukan segala keluhanku dan dia akan dengan sabar mendengarkan dan memberikanku solusi. Aku suka dia yang seperti itu. Aku mengatakan bahwa sebentar lagi aku juga harus menjalani KKN. Sebenarnya kami sudah membicarakan tentang pernikahan. Keluarga kami pun sudah mengetahui rencana itu. Rencananya kami akan melangsungkan pernikahan setelah aku wisuda nanti. Kami juga sudah membicarakan bahwa Mas Rafi akan tetap memberiku izin jika aku ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang magister setelah kami menikah. Hal itu juga yang aku sukai darinya. Dia sangat mendukung segala impianku. Komunikasiku dengan Mas Rafi terhenti saat ibu datang ke kamarku. Aku berpamitan dan meminta Mas Rafi untuk istirahat saja. Aku sangat malu jika harus berbicara dengan Mas Rafi di depan ibu. “Sya, kamu sudah tahu kabar tentang ibunya Rafi, ibu mertuamu?” tanya ibu saat menemuiku. “Kabar apa, Bu?” tanyaku penasaran. “Ibunya Rafi sakit.” “Astaghfirullah…sakit apa, Bu?” tanyaku terkejut. “Ibu juga belum sempat menjenguknya. Katanya sih banyak pikiran karena terlalu mengkhawatirkan Rafi yang sedang bertugas di luar kota. Makanya ibu datang ke sini untuk memintamu menjenguknya besok. Setidaknya kamu harus berusaha menghibur dan menenangkan ibu mertuamu ya. Kasihan dia pasti dia sangat mencemaskan Rafi. Besok kamu sendiri ke sana ya. Ibu tidak bisa ikut menjenguk karena harus bantu-bantu di rumah Mbak Emi,” tutur ibu. “Bantu-bantu apa di rumah Mbak Emi?” “Acara aqiqah putranya yang baru lahir,” jawab ibu. “Besok kamu ke rumah Rafi ya. Jangan lupa sampaikan salam ibu kepada mertuamu,” pesan ibu lagi. “Baik, Bu” jawabku. Sesaat setelahnya, ibu pun menutup jendela kamarku dan menyuruhku cepat tidur. Ia kemudian keluar kamar meninggalkanku bersama rasa penasaran yang masih mencemak terkait keanehan Mas Rafi. *** Keesokan harinya, aku pun bersiap untuk berkunjung ke rumah mertuaku. Aku juga sudah menyiapkan buah-buahan sebagai buah tangan. Siapa tahu bisa menambah selera makan ibu mertua. Sebelum berangkat, aku sedikit mematut diri di depan cermin dan memoles sedikit make up pada wajah. Aku jadi teringat ocehan Inka beberapa waktu lalu di telepon. “Tahu gak sih, Sya? Aku tuh selama liburan di rumah bukannya tambah cantik malah tambah kusut gak jelas. Biasanya kan kita make up karena mau ke kampus atau keluar ke mana gitu kan, lah ini di rumah terus jadi gak terawat. Serius aku jadi ngerasa kayak asisten rumah tangga karena banyaknya pekerjaan rumah. Berasa jadi ibu rumah tangga yang sambil kuliah. Aku jadi mikir lho Sya, ngerinya kuliah sambil nikah. Repot bin ribet,” tutur Inka panjang kali lebar. “Ya makanya dikelarin satu-satu. Kalau kuliah ya kuliah aja dulu, nikah ya nikah. Tapi kalau mampu sih sebenarnya nggak apa-apa. Asal bisa saling pengertian aja sama suami dan bagi tugas,” jawabku saat itu. “Eh kok kamu ngomong gitu sih? Atau jangan-jangan kamu ada rencana kuliah sambil nikah ya?” selidiknya. “Ya nggak juga. Aku Cuma ngomong aja.” “Ya siapa tahu aja. Kamu kan udah punya calon. Siapa tahu aja udah gak sabar pengen bersanding dengan dokter ganteng seperti Mas Rafi,” kata Inka mulai menggoda. “Yang kamu sebut ganteng itu tunanganku lho,” ancamku bercanda. “Wow iya Non, cemburuan amat. Kamu juga masih punya cadangan kandidat Pak Arif lho,” ledek Inka. “Astaga … Pak Arif lagi. Atas dasar apa sih selalu ngegodain aku sama Pak Arif?” tanyaku heran. “Ya beda, Sya. Belakangan ini ada yang aneh dengan cara dia melihat kamu, caranya bersikap ke kamu. Pokoknya beda. Aku aja ngerasain hal itu. Kalau diibaratkan kategori kolektibilitas nasabah perbankan tuh kamu berada pada kategori dalam perhatian khusus,” celoteh Inka mulai membawa-bawa materi kuliah perbankan. “Berarti status kolektibiltasnya tidak lancar donk?” tanyaku semakin bingung. “Iya. Kisahmu dengan Pak Arif juga tidak lancar karena statusmu sudah jadi tunangan Mas Rafi,” jawab Inka sambil tertawa puas. “Oke terserah kamu deh,” jawabku singkat. “Cieee pakai make up karena mau ke rumah ibu mertua nih ya,” seru adikku membuatku tersadar dari ingatan tentang obrolanku dengan Inka. “Mbak nggak pakai make up kok. Cuma bedak dikit aja,” elakku. “Pengen dibilang menantuku yang cantik ya,” ejeknya lagi. Akhirnya aku membalasnya dengan melemparkan botol hand body ke arahnya. Coba saja aku tidak sedang bersiap-siap ke rumah ibu mertuaku, pasti aku akan mengejarnya sampai tertangkap. Aku memang masih sering bercanda lari-larian dengan adikku. Kadang ibu pun menasihati agar aku menghentikan bercanda seperti anak-anak karena sudah mau menikah. Padahal itu sangat seru. Setelah siap, aku langsung berangkat menuju rumah ibu mertuaku. Untuk sampai ke sana butuh waktu sekitar setengah jam dengan mengendarai sepeda motor. Jalanan yang cukup lengang membuatku bisa memacu kendaraan lebih cepat. Tak butuh waktu lama aku pun sampai di rumah ibu mertuaku. Aku mengucap salam dan disambut jawaban ramah dari Mbak Rin yang membukakan pintu. Mbak Rin adalah saudara perempuan Mas Rafi. Ia sudah menikah dengan Mas Lukman. Ia sebenarnya memiliki tempat tinggal sendiri bersama Mas Lukman, namun karena kondisinya yang sedang hamil tua dan Mas Lukman sering ditugaskan ke luar kota, maka Mbak Rin tinggal sementara di rumah ibu mertuaku. Seperti Mas Rafi, Mbak Rin juga orang yang sangat baik. Ia bekerja sebagai guru di salah satu sekolah menengah atas tapi sedang mengambil cuti melahirkan. Mbak Rin menyambut kedatanganku dengan ramah dan menyuruhku masuk. Aku pun menanyakan kabar ibu dan menyatakan tujuan kedatanganku untuk menjenguk ibu. “Ibu sakit apa, Mbak?” tanyaku. “Ibu terlalu banyak pikiran sehingga jarang mau makan. Jadilah kondisi kesehatannya drop. Tapi kemarin sudah diperiksa dokter,” jelas Mbak Rin. “Boleh aku menjenguk ibu, Mbak?” pintaku. “Kamu ini seperti orang asing saja. Ya tentu saja boleh. Ayo mbak antarkan ke kamar ibu,” kata Mbak Rin sembari mendahului langkahku. “Iya, Mbak.” Aku pun mengikuti langkah kakak iparku itu. “Oh iya, Sya, Mbak minta tolong hibur ibu ya. Mungkin dengan kehadiran kamu bisa sedikit mengurangi kecemasan ibu. Belakangan ini ibu selalu khawatir memikirkan Rafi. Aku sendiri tidak mengerti kenapa ibu tiba-tiba merasa sangat khawatir seperti itu. Ibu tidak mau menceritakan apapun padaku,” jelas Mbak Rin juga menyiratkan kekhawatiran yang tidak jauh berbeda. “Iya, Mbak. Aku akan coba menghibur ibu,” kataku. Tak lama kemudian aku sudah sampai di depan kamar ibu. Mbak Rin membukakan pintu dan memberitahu ibu tentang kedatanganku. Aku dipersilahkan masuk sementara Mbak Rin kemudian keluar memberikan ruang bagi aku dan ibu. Aku melihat ibu mertuaku yang tampak lebih pucat sedang istirahat dengan posisi bersandar pada kepala tempat tidur. Sejenak aku menjabat tangannya untuk bersalaman. Ibu tampak tersenyum meski tak dapat menyembunyikan kesedihan di wajahnya. Aku juga melihat figura berisi foto Mas Rafi berada dalam pangkuannya. “Bagaimana kabar ibu?” tanyaku. “Ibu tidak apa-apa, Syaifa” ucapnya bergetar diikuti setetes air mata yang kembali meluncur di wajahnya yang mulai keriput. Aku tidak mengerti arti tangisan ibu yang begitu tiba-tiba. “Ibu…, ada apa?” tanyaku sembari menggenggam erat tangannya berusaha menenangkan. “Ibu bermimpi tentang Rafi. Firasat itu tidak baik,” tuturnya tak dapat lagi menahan tangis.  “Mimpi? Ibu bermimpi apa?” tanyaku mulai ikut gemetar. “Ibu tidak menceritakan tentang mimpi ini kepada siapapun. Kamu tahu kakakmu Rin sedang hamil tua, ibu tidak mau dia stress jika mendengarnya. Ayah mertuamu juga punya penyakit jantung, ibu tidak mau kesehatannya bermasalah. Oleh karena itu ibu menyimpannya sendiri. Tapi hari ini, karena kamu adalah bagian dari masa depan Rafi, maka ibu akan menceritakannya padamu,” kata ibu semakin membuatku takut. “Lalu apa mimpi ibu itu?” tanyaku lagi. “Ibu bermimpi kehilangan Rafi untuk selamanya,” tutur ibu lemah. Tubuhnya berguncang karena menangis. Mulutku terkatup tak mampu berkata apapun lagi mendengar hal itu. Tanpa terasa air mataku ikut menetes. Aku merangkul ibu dan merasakan kekhawatiran yang sama. Sekarang aku pun bingung, bagaimana aku bisa menenangkan ibu jika aku saja masih belum bisa tenang setelah mendengar penuturan ibu tadi. Terlebih hal itu adalah firasat seorang ibu. Meski aku berusaha tetap husnudzan, tak dapat dipungkiri bahwa aku mulai dilanda kekhawatiran. Aku berusaha untuk tetap terlihat tenang di hadapan ibu betapa pun keadaan hatiku telah kalut semenjak mendengar penuturan itu. Aku berusaha menenangkan ibu yang di sisi lain juga sebenarnya menenangkan diriku sendiri. Aku menghibur dan mengatakan bahwa itu hanya sekedar mimpi. Aku membujuk ibu untuk makan dan menyuapinya. Awalnya ibu tidak mau, tapi saat aku bujuk dengan mengatakan bahwa ibu harus menjaga kesehatan karena Mas Rafi di sana pasti tidak ingin ibu sakit, akhirnya ibu pun mau kusuapi makanan. Aku juga mencoba mengalihkan pikiran ibu dengan membicarakan hal lain. Membicarakan kuliah dan seputar kehamilan Mbak Rin. Hari sudah cukup sore ketika aku pamit pulang kepada ibu. Sebelum pulang aku berpesan agar ibu menjaga kesehatan dan mau makan agar cepat sembuh. Mbak Rin mengantarku sampai depan pintu. “Jujur aku sangat khawatir dengan kondisi ibu, Sya” tutur Mbak Rin sebelum aku pergi. “Wajar, Mbak. Seorang anak pasti merasa khawatir dengan kesehatan orang tuanya. Tapi mbak juga harus pikirkan kesehatan mbak. Sebentar lagi mbak juga mau melahirkan. Aku Cuma bisa menyarankan agar pikiran ibu dialihkan dengan hal lain sehingga tidak terlalu terfokus mengkhawatirkan Mas Rafi. Mungkin mbak bisa sering mengajak ibu mempersiapkan keperluan adik bayi nanti. Semoga hal itu sedikit menghibur dan mengalihkan pikiran ibu,” saranku pada Mbak Rin. “Iya, Sya. Apa yang kamu katakan ada benarnya juga. Aku akan coba saran kamu ya,” kata Mbak Rin. “Iya, Mbak. Kalau begitu Syaifa pamit dulu ya, Mbak. Assalamualaikum,” ucapku. “Waalaikumussalam,” jawab Mbak Rin sembari tetap memandangiku yang mulai mengendarai sepeda motor dan melaju keluar dari halaman rumah. Meninggalkan rumah itu dengan perasaan kalut yang tak tentu arah. Firasat buruk ibu mertuaku seakan-akan mengafirmasi keanehan sikap Mas Rafi saat terakhir kali berbicara denganku di telepon. Aku hanya berharap semuanya baik-baik saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD