Hari ini aku kembali berkutat dengan tugas skripsiku. Liburan ini rasanya tidak menyenangkan. Namun sebenarnya yang lebih menyebalkan adalah karena aku harus mencari sinyal untuk bimbingan dengan dosen pembimbing melalui aplikasi zoom. Maklum, di daerahku memang sedikit susah sinyal. Jadi bimbingan melalui daring terasa lebih sulit. Aku memang sudah mengajukan judul dan mendapatkan dosen pembimbing skripsi. Selama liburan ini dosen pembimbingku memberikan keringanan bahwa bimbingan bisa dilakukan secara online agar aku tetap bisa pulang kampung. Resiko ingin cepat lulus maka aku harus mengorbankan waktu liburanku untuk mengerjakan tugas akhir.
Setelah berkeliling mencari sinyal, akhirnya aku bisa terhubung dengan dosen pembimbingku melalui aplikasi zoom. Layar ponselku menampilkan sosok dosen muda yang tergolong lumayan killer itu. Bapak Arif Rahman Rahmadi, seorang mantan praktisi perbankan syariah yang kini memilih menjadi dosen di kampusku. Sekedar informasi bahwa aku mengambil prodi Ekonomi dan Keuangan Syariah. Jadi setelah judul skripsiku tentang perbankan syariah mendapat persetujuan dari kepala prodi, maka aku pun direkomendasikan untuk dibimbing oleh Pak Arif.
Sebenarnya Pak Arif adalah dosen yang baik, selalu detail baik dalam menjelaskan atau pun mengoreksi tugas, disiplin sesuai deadline, dan terkenal selalu memberi tugas pada mahasiswa yang diajarnya. Intinya, mahasiswa yang bimbingan kepadanya mau tidak mau harus menjadi rajin. Kata teman-teman mahasiswa mungkin hal itu pengaruh karena Pak Arif belum memiliki pasangan sehingga dia terlalu fokus mengajar dan sering memberi tugas agar ada kesibukan. Oh ya, lupa aku beritahukan bahwa Pak Arif adalah salah satu dosen muda yang banyak dikagumi mahasiswi di kampus. Kali ini bukan karena intelektualnya melainkan karena wajahnya yang katanya tampan.
Setelah satu jam akhirnya konsultasi skripsiku selesai. Mendapat beberapa catatan itu sudah biasa tapi cukup membuatku mencak-mencak tidak jelas. Pak Arif menyarankan atau lebih tepatnya menekankan padaku untuk menambah objek penelitian. Awalnya aku hanya mengambil satu lembaga keuangan syariah sebagai objek penelitian. Tapi kemudian dosen angker itu mengatakan agar aku menambah objeknya dan membuat penelitian komparasi. Aku mengerti tujuannya tidak lain adalah untuk menjadikan penelitianku lebih baik. Tapi tetap saja itu berarti aku harus mengajukan permohonan penelitian ke lembaga lainnya lagi.
“Tujuanmu menulis skripsi ini untuk apa sih? Kamu ingin memiliki kontribusi yang jelas atau hanya sekedar menulis asal-asalan supaya cepat lulus dan bisa segera menikah begitu?” ujarnya terasa sangat menyebalkan saat aku mengajukan sedikit keberatan dengan sarannya itu. Akhirnya aku pun pasrah dan mengikuti saja apa yang diarahkan dosenku itu.
Setiap kali merasa kesal dengan tugas kuliah biasanya aku sering mengungkapkan keluh kesahku pada Mas Rafi. Tapi entah mengapa nomornya tidak bisa dihubungi. Sejak pulang dari Surabaya aku juga belum pernah menemuinya. Dia sedang pergi ke luar kota untuk sebuah tugas, begitulah pesannya. Selain Mas Rafi, orang penting dalam hidupku adalah Inka, teman baik satu jurusan yang berasal dari Mojokerto. Dia juga menjadi salah satu tempatku berbagi cuitan. Seperti hari itu aku langsung menghubungi Inka habis bimbingan dengan Pak Arif.
“Ada apa? Kali ini Syaifa mau cerita apa? Pasti tentang Pak Arif lagi ya?” tebak Inka langsung sesaat setelah menjawab panggilan teleponku.
“Kamu meramal atau menghafal sih, In?” tanyaku disertai tawa.
“Udah ketebak aja. Akhir-akhir ini kan emang topik pembicaraanmu tidak pernah lepas dari Pak Arif. Sampai-sampai aku pikir mungkin kamu juga udah kepincut sama dosen muda yang ganteng itu,” kata Inka langsung nyerocos.
“Huss … ngawur deh. Mas Rafi mau aku kemanain?” ucapku.
“Ya kali aja buat cadangan. Kayak pengajuan judul skripsi tuh harus nyiapin judul lain sebagai cadangan takut-takut yang satunya ditolak,” jawab Inka sedikit sensitif. Aku tahu dia sedang frustasi karena pengajuan judulnya baru saja ditolak.
“Udah, In. Semangat cari judul baru lagi,” ucapku yang dibalas hembusan nafas berat dari seberang sana.
“Terus ada apalagi nih sama Pak Arif?” tanya Inka.
“Ya biasa tadi aku habis bimbingan lagi. Seperti biasa dia selalu detail dan kali ini malah menyarankan aku untuk menambah objek penelitian. Otomatis aku harus melakukan permohonan penelitian lagi ke lembaga lain dan itu pun belum tentu disetujui. Kalau begini kapan selesainya ini urusan,” jawabku.
“Dia emang rese’ sih menurutku. Seneng banget itu dosen nyusahin mahasiswa. Makanya aku menghindari banget dapat dosen pembimbing dia,” cerocos Inka lagi.
“Kok gitu ngomongnya, In?”
“Iya emang bener. Bukan cuma bimbingan tugas akhir, kuliah biasa pun rajin banget ngasih tugas tiap pertemuan. Itu pun harus dikumpulkan hari itu juga atau kalau mau ditunda mungkin cuma sampai keesokan harinya, gak ada istilah tugas dikumpulkan sampai minggu depan. Katanya dia nggak mau ngoreksi tugas saat sudah di kelas,” cerita Inka yang sudah pernah diajar mata kuliah Pak Arif.
“Perfeksionis kali ya,” imbuhku.
“Bukan perfeksionis tapi kurang kerjaan. Bayangin aja tiap minggu dikasih tugas. Mungkin bawaan masih jomblo kali ya. Sampai temen-temen tuh pada bilang cariin istri aja biar ada hal lain yang dia perhatiin sehingga gak ngeribetin mahasiswanya terus.”
“Ada-ada aja kamu, In. Emangnya kalau udah punya istri terus gak rajin ngasih tugas lagi gitu?” tanyaku.
“Ya kali aja dia terlalu rajin biar ada kerjaan dan gak ngerasa kesepian,” jawab Inka sekenanya.
“Huss … jangan ngomong gitu lho. Itu dosenmu. Nanti kualat skripsimu gak jadi-jadi,” ucapku.
“Duh iya-iya deh … na’udzubillah,” kata Inka.
Tidak hanya masalah bimbingan skripsi. Kami juga banyak bercerita tentang kuliah kerja nyata yang sebentar lagi akan dilaksanakan. Nantinya kami harus kembali ke kampus lebih cepat untuk mengikuti pembekalan. Selain itu kami juga harap-harap cemas dengan pembagian Dosen Pembimbing Lapangan. Berharap mendapatkan DPL yang baik hati, pengertian pada mahasiswa dan tidak menyusahkan tentunya. Inka juga bercerita bahwa Elisa, salah satu teman kuliah kami baru saja menikah.
“Mikir apa si Elisa itu. Mahasiswa yang lain lagi bingung dengan tugas KKN dan skripsi supaya cepat lulus, eh dia malah nikah” komentar Inka di telepon.
“Ya setiap orang punya rencana, target dan prioritas yang berbeda-beda kan, In” jawabku.
“Iya sih. Tapi kok bisa gitu lho. Nanti kalau dia harus berangkat KKN ke luar kota terus suaminya mau ditinggal sama siapa?” kata Inka lagi.
“Suaminya kan bukan anak kecil yang harus selalu bergantung pada Elisa. Pasti mengerti lah untuk memberi ruang bagi kewajiban Elisa sebagai mahasiswa. Mas Rafi juga begitu padaku. Bahkan selama ini kamu juga harus menjalani LDR.”
“Yah ... Mas Rafi lagi. Iya deh yang udah punya tunangan,” timpal Inka. Setahuku sampai saat ini dia belum punya pasangan. Sebenarnya pernah satu kali keluarganya ingin menjodohkan Inka. Kisah lucu itu sudah mengendap dalam ingatanku. Inka menolak dijodohkan dan mengancam akan bunuh diri dengan menenggak parfum. Akhirnya selama beberapa hari dia harus dirawat di rumah sakit.
Untung saja dulunya aku tidak sempat berbuat nekat seperti Inka. Meskipun di bawa ke rumah sakit sekalipun ujungnya tetap akan bertemu dan dirawat oleh Mas Rafi. Setelah sekitar setengah jam berbincang-bincang, kami pun mengakhiri pembicaraan. Meski pun aku tidak mendapat motivasi seperti saat mengadukan keluh kesah pada Mas Rafi. Setidaknya mendengar kelucuan Inka yang suka ngerocos tanpa batas sedikit menjadi hiburan bagiku di tengah kerumitan mengerjakan skripsi dan kerinduan yang tak terobati pada Mas Rafi.