Prilly terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati sosok Ali dan seorang wanita yang begitu dia sayangi meski tak ada ikatan berarti. Beberapa menit dia membuka mata, Ali yang semula duduk beranjak dari tempatnya dan meninggalkannya bersama wanita yang dia rindukan.
Prilly tidak bisa untuk tidak terkejut melihat mantan mertuanya --Mama Ali berada di ruangannya dengan raut cemas. Mencoba bangun dari posisi berbaring, dia mengulurkan tangan kanannya untuk meraih tangan kanan sang mantan mertua untuk dia kecup punggung tangannya.
"Mama, apa kabar?" Sapanya sebagai kalimat pembuka setelah beberapa hari tak bertemu.
Risma, wanita berumur 51 tahun itu menatap Prilly sendu dengan senyum tipis yang menghiasi bibir merahnya. Tangannya yang mulai keriput mengusap pipi Prilly dan turun mengusap pundak. Ada banyak kesedihan yang terpendam melihat menantu yang disayangnya tampak lemah seperti ini. Tubuh yang dulu ideal terlihat lebih kurus sejak putranya dengan bodohnya membawa Renata ke dalam rumah tangganya. Putranya memang bodoh dan tak berperasaan. Dia sebagai ibu dari Ali merasa malu pada menantu kesayangannya itu karena tidak becus mendidik Ali menjadi pribadi yang baik.
"Maafkan Mama, Nak. Andai pada saat itu Mama berhasil membuat Renata pergi jauh dari kalian, mungkin sampai sekarang kalian tetap bersatu."
Tersenyum tipis, Prilly mengusap lengan Risma. "Ini takdir Prilly, Ma." Jawabnya seadanya.
Risma menggeleng tidak terima. Dari awal, Risma merupakan orang yang paling tidak menyetujui Ali dan Renata menikah. Risma juga menjadi orang pertama yang menentang perceraian Ali dan Prilly. Alasan Risma tidak menyukai Renata sangat simple. Menurut Risma, secantik atau sebaik apapun seorang perempuan jika berhubungan dengan suami orang, paras dan sikapnya tetap hina. Penggoda tetap penggoda, tidak akan pernah berubah menjadi si baik berhati malaikat.
"Kamu berhak bahagia, Nak. Kamu tidak pantas mendapat ketidak adilan ini. Mama ikhlas jika kamu pergi jauh dari putra Mama asalkan kamu mendapatkan keadilan itu. Meskipun Mama sangat berharap kalian kembali bersatu. Bersama-sama merawat dan membesarkan Raihan. Tapi, Mama tidak mau berharap lebih. Menurut Mama, kamu harus bahagia, Nak. Kamu tak pantas menjadi bayang-bayang Ali. Kamu berhak bahagia... kamu harus bahagia... kamu..."
"Tenangkan diri Mama," Prilly mendekap tubuh mantan mertuanya yang bergetar hebat karena menangis sesenggukan. Racauan mantan mertuanya itu sukses membuat hatinya tercubit. Sesuatu dalam dirinya berontak, ingin pergi jauh dan merasakan kebebasan dalam meraih mimpinya untuk hidup bahagia. Tapi, bisakah dia melakukan itu? Apa dia sanggup?
Risma melepas pelukannya. Wanita paruh baya itu menggenggam kedua tangan Prilly erat-erat dengan berlinang air mata. "Maafkan Mama yang tidak bisa mendidik Ali dengan baik. Seharusnya... setelah kalian bercerai, Mama menyembunyikan keberadaan kamu dari Ali bukan malah memilih pindah ke luar kota. Lihat, karena kebodohan Mama, kamu kembali dijangkau olehnya. Maafkan mama, Nak... Ali terlalu dalam melukaimu. Kamu kembali hamil dan itu karena kebrutalan Ali. Maafkan Mama..."
"Mama tidak bersalah. Prilly yang bodoh, Ma. Seharusnya Prilly menolak pemberian Ali dengan iming-iming sebagai pertanggungjawabannya atas Raihan. Seharusnya Prilly menolak saat Ali mengajukan akan menafkahi Prilly meski sudah bercerai. Andai Prilly menolak itu semua, mungkin tidak akan seperti ini pada akhirnya."
Entah sejak kapan Prilly ikut menangis. Yang jelas, luka itu kembali menganga lebar. Sesuatu yang ingin dia lupakan kembali teringat. Kebodohannya benar-benar membawa sengsara baginya.
"Ali yang salah, Nak. Dan kamu, kamu pantas menyetujui permintaan Ali pada saat itu karena kamu berpikir itu masuk akal sebab hak asuh Raihan jatuh padamu. Putra Mama yang salah, Nak. Putra Mama menjebakmu dibalik kata 'tanggung jawab', putra Mama yang salah," racau Risma dengan air mata yang turun dengan derasnya.
Tersenyum pedih, Prilly menghapus jejak air mata di wajah mantan mertuanya. "Setidaknya Raihan mendapatkan hak nya, Ma. Prilly rela menderita asal Raihan tetap mengenal baik sosok Papanya. Bagaimanapun juga, Raihan butuh sosok Papa di masa pertumbuhannya."
Bodoh! Mungkin kata itu yang kini pantas diberikan kepada Prilly. Dan Prilly sendiri mengakui jika dirinya bodoh karena tetap bertahan di dekat Ali meski lelaki itu berbuat kasar padanya. Tapi, percayalah, dia melakukan itu untuk anaknya. Dia rela tersiksa untuk anaknya. Sebagai seorang ibu, dia ingin membuat anaknya bahagia dengan limpahan kasih sayang.
Dengan tatapan memohon, Risma meremas kedua tangan Prilly. "Jika kamu ingin pergi dari Ali, Mama siap membantumu, Nak. Mama juga akan membawa Raihan turut serta bersamamu. Mama siap membantu. Mama turut sakit hati dan sedih melihat kamu terluka seperti ini. Mama mohon, untuk kali ini saja, kamu terima pertolongan Mama. Mama ingin kamu bahagia, Nak. Mama mohon...."
Prilly tertegun. Namun tak urung sesuatu dalam dirinya tergiur atas tawaran yang mantan mertuanya ajukan. Pergi dari Ali dan hidup bahagia bersama putranya. Sesuatu yang ingin dia raih tapi...
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Kedua wanita berbeda generasi itu kontan menoleh ke arah pintu yang terbuka secara tiba-tiba dimana sosok Ali berdiri disana dengan Raihan yang terlelap di gendongan Ali. Setelah Risma datang, Ali memang langsung ke ruangan Renata untuk menemani istrinya itu dan putranya yang bersama Renata. Ali kembali ke ruangan Prilly setelah putranya tertidur dan.... sebuah keberuntungan baginya karena bisa mengetahui rencana busuk Mamanya yang ditawarkan pada mantan istrinya yang mengandung calon penerus keduanya itu.
"A... Ali," Prilly menggigit bibir bawahnya saat Ali mendekat dengan aura yang menyeramkan.
Ali berdiri menatap Mamanya dan mantan istrinya dengan tatapan tajam. "Sampai kapanpun, aku tidak akan melepaskan Prilly. Dan, untuk Mama, aku tidak akan membiarkan Mama mencampuri urusanku dan Prilly. Aku tidak segan-segan menyingkirkan Mama, sekalipun Mama adalah orang yang melahirkanku."
Risma beranjak dari duduknya dan mendekati putranya dengan tatapan yang bisa dibilang tatapan kecewa seorang ibu melihat putra yang dilahirkan dan dirawatnya bertindak diluar batas.
"Kamu harus buka mata kamu lebar-lebar. Bukan Prilly pelakunya. Renata, perempuan itu jatuh dengan sendirinya, Prilly tidak pernah melakukan sesuatu kepada wanita jalangmu."
Ali tertawa hambar mendengar penuturan sang Mama. Mamanya memang selalu begitu, membela Prilly dan berusaha menutupi kesalahan yang mantan istrinya lakukan.
"Lebih baik Mama mengunjungi kuburan Papa dan meminta maaf kepada beliau karena kelakuan Mama. Sepertinya Mama harus sadar diri siapa yang jalang sebenarnya," sahut Ali dengan kalimat penuh penekanan yang sukses membuat mulut Risma terkatup rapat. Seolah yang Ali katakan merupakan kalimat yang membuat sesuatu dalam dirinya melemah. Nyatanya, itu semua benar. Dia... Ah! Dia tidak mau mengingat kejadian yang telah berlalu.
"Papamu memaafkan Mama, satu tahun setelah kejadian itu. Dan kamu, seharusnya kamu tidak perlu mengungkit kejadian yang telah berlalu. Mama telah merawatmu dan memilih kembali kepada papamu."
Ali berdecih. "Dan seharusnya Mama tidak perlu ikut campur urusanku dan Prilly! Apalagi sampai membawa Prilly pergi dariku."
"Lebih baik, Mama segera pergi dari sini. Untuk malam ini aku sudi menampung Mama di rumahku. Sopirku telah menunggu di parkiran." Lanjut Ali menatap lurus iris sang Mama yang menatapnya kecewa. Mamanya kecewa padanya? Dia tidak perduli.
Mendengkus dan memilih mengalah, Risma akhirnya menuruti ucapan putra semata wayangnya. Sebelum pergi, dia berpamitan kepada mantan menantunya dan berpesan kepada Prilly untuk rutin meminum s**u hamil agar kandungannya tidak kenapa-kenapa.
...
Pagi kembali menyapa. Sudah dua hari Prilly dirawat di rumah sakit. Tubuhnya sangat lemah sehingga yang bisa dia lakukan hanya tidur dan makan. Sesekali bermain dengan putranya, tapi tidak terlalu lama karena Ali langsung membawa putranya bermain bersama Renata yang belum juga pulang padahal perempuan itu tidak sakit parah. Sangat berlebihan.
Seperti saat ini, dia sendiri di ruangannya. Putranya baru saja dibawa oleh Ali ke ruangan Renata. Padahal dia masih ingin berlama-lama dengan putranya. Dia merindukan putranya karena pada awal dia masuk rumah sakit, Ali sangat membatasi pergerakannya. Apalagi setelah Ali mendengar percakapannya dengan sang mantan mertua. Lelaki itu menjadi sering menjaganya, takut-takut Risma datang dan membawanya pergi.
Masalah tawaran Risma, sebenarnya ada keinginan untuk menyetujui. Tapi dia masih ragu. Ada sesuatu dalam dirinya yang tidak rela berjauhan dengan Ali. Entah kenapa, mungkin bawaan dari calon anaknya yang masih berada dalam perutnya ini.
Tiga puluh menit berlalu, tidak ada kegiatan berarti yang dia lakukan. Perut kenyang dan kedua matanya sedang malas untuk terpejam. Pikirannya bercabang. Dan dia bimbang, memilih pergi atau bertahan? Jika dia pergi dari Ali, lalu apa kabar dengan nasibnya? Meski dia sendiri bisa menghidupi anak-anaknya dengan bekerja menjadi apa saja, tapi mantan suaminya itu selalu memiliki cara untuk membuatnya kembali pada genggaman Ali. Jika dia bertahan, rasanya hatinya tidak kuat menerima tiap luka yang Ali torehkan. Ini pilihan yang sulit dan dia benar-benar ingin merasakan kebebasan. Dua pilihan yang sangat bertentangan dan menjadi beban pikirannya.
Menarik nafas panjangnya, dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Ini hari minggu dan tentu saja putranya tak sekolah.
Dia ingin sekali menghabiskan banyak waktu dengan putranya. Bukan malah melamun seperti saat ini, sedangkan sang putra bersenang-senang dengan Ali dan Renata.
Turun dari brankar, dia melangkahkan kakinya menuju ruangan Renata yang tak jauh darinya. Dengan satu tangan menarik tiang penyangga infus dia berjalan dengan pelan menyusuri tiap ruangan di rumah sakit.
Selang beberapa menit, kakinya berhenti melangkah di depan pintu ruangan yang tertutup rapat. Menarik handel pintu dengan sangat pelan dan tanpa menimbulkan suara, dia mengintip keadaan di dalam sana dan melihat sang putra tertidur pulas di samping Renata. Sedangkan Ali, lelaki itu duduk di dekat Renata dengan meletakkan kepala Renata di d**a bidangnya. Dua orang dewasa itu memadu kasih dengan tatapan penuh cinta, tidak tahu tempat seolah dunia milik mereka berdua.
Menahan sesak di d**a, dia tetap berdiri --seperti seorang penguntit. Menahan keinginan untuk masuk dan membawa anaknya.
Malas menjadi penonton diam-diam acara romantis menjijikkan Ali dan Renata, dia memilih meninggalkan ruangan Renata. Namun, percakapan antara Ali dan Renata menyita perhatiannya membuatnya kembali ke posisi semula --tetap mengintip.
Memasang pendengaran baik-baik, dalam diam dia mendengarkan percakapan Ali dan Renata yang membawa-bawa namanya.
"Kabar baik untukmu."
"Apa?" Renata menatap Ali dengan kening mengerut.
"Prilly hamil."
Renata terkejut. "Bagaimana bisa?"
"Prilly mengandung anakku."
Renata semakin terkejut mendengarnya dan menatap Ali tak percaya. "Ka...kamu memiliki niatan untuk kembali padanya?" Lirih Renata yang langsung mendapat gelengan tegas dari Ali.
"Tidak akan. Aku mencintaimu. Kamu kekasihku yang pada akhirnya menjadi istriku."
"Lalu... kenapa... kenapa kamu menghamilinya? Bukankah itu pelecehan? Kalian telah bercerai!"
"Aku melakukan ini untukmu. Dia telah membuatmu keguguran dan tidak bisa hamil lagi. Sebagai gantinya, aku menghamilinya. Setelah dia melahirkan, anak dia untuk kita, aku dan kamu. Biarlah Raihan aku berikan pada Prilly."
Renata menggeleng. Tidak terima mendengar penuturan Ali. "Ali... kamu keterlaluan. Bu... bukan Prilly pelakunya!" Desis Renata.
Ali berdecak dan mengecup kening Renata singkat. "Sayang, bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika yang mendorongmu saat itu adalah Prilly. Aku percaya padamu. Di rumah saat itu hanya kalian berdua, kan? Jadi, kamu jangan berusaha membelanya. Ingat, gara-gara dia, kamu sempat depresi dan membuatku ketakutan setengah mati melihat kondisimu," Ali memeluk Renata erat dengan sorot mata takut kehilangan orang yang dicintainya untuk kedua kalinya.
Renata menangis. Dalam tangisnya, Renata membuka suaranya, "Ali, dia tidak bersalah!"
"Stop membelanya. Yang jelas, kabar baiknya adalah kita akan mendapatkan keturunan. Setelah ini, aku akan menyusun rencana agar dia bersedia memberikan anaknya untuk kita dan aku mudah membuangnya tanpa ada orang tahu bahwa dia pernah menjadi istriku."
"Aku tidak butuh keturunan! Kamu jika ingin memiliki keturunan, kembali padanya dan ceraikan aku. Aku rela. Aku tak pantas untukmu. Aku perusak hubungan kalian. Seharusnya aku memutuskan hubungan kita setelah mendengar kabar pernikahanmu dengannya. Aku....."
Prilly tidak mau mendengar lagi perdebatan kecil itu. Hatinya kelewat hancur. Saat ini yang ada dalam pikirannya adalah, pergi. Pergi sejauh mungkin dan jangan kembali. Terus melangkah sampai kedua kakinya menapak di jalan raya yang ramai oleh kendaraan bermotor dan mobil.
Air matanya tumpah ruah. Sudah! Semua telah usai. Kebodohannya telah berakhir dan dia tidak mau terlihat bodoh hanya karena ancaman sialan dari Ali. Ali memang berusaha menjauhkannya dari anaknya. Menjadikan anaknya sebagai anak mereka ---Ali dan Renata. Dia tidak akan membiarkan itu terjadi.
Dia harus pergi. Pergi jauh yang tak dapat digapai oleh Ali dan orang-orang yang berhubungan dengan Ali.
Dia harus menata hidupnya sendiri tanpa campur tangan Ali. Dia harus terlepas dari jeratan mantan suaminya itu.
Dia berhak bahagia.
Jalan satu-satunya adalah, pergi jauh, sejauh-jauhnya.
Untuk Raihan, putranya, setelah ini dia akan menyusun beberapa rencana untuk membawa putranya bersamanya. Hidup bahagia bersamanya dan calon anaknya.