| Ex Husband • 08 |

1140 Words
Saat kedua matanya terbuka, tatapannya langsung jatuh pada selang infus yang menancap di punggung tangannya. Tanpa bertanya siapa yang membawanya ke tempat yang berbau obat-obatan ini, dia menggerakkan tangan kirinya yang terbebas dari selang infus untuk melepas infus yang menancap di tangan kanannya. Namun, baru saja tangannya mulai mengambil ancang-ancang menarik infus di punggung tangan kanannya, tiba-tiba tangan kekar mencengkeram lengan kanannya dan satu ringisan lolos dari mulutnya. Dia mendongak dan tatapannya jatuh pada mata elang milik lelaki yang telah membuatnya seperti saat ini, hancur dan tak ternilai. "Lepas!" Gumamnya dengan suara lemah. "Berhenti bertingkah bodoh yang berdampak buruk bagi calon penerus keduaku!" Mendengar bentakan dari Ali, Prilly menelan salivanya dengan d**a sesak. Jadi... itu semua nyata? Bukan mimpi? Dia... dia benar-benar mengandung benih mantan suaminya. Ini menyakitkan, tapi dia juga merasa bahagia karena akan kembali dipanggil dengan sebutan 'Mama'. Tapi... apa dia tetap bahagia meski keadaan tidak seperti dulu lagi? "Bagaimana bisa?" Lirihnya dengan pandangan lurus ke depan. Tersenyum sinis, Ali menjauhkan tangannya dari lengan Prilly dan melipat kedua tangannya di depan d**a. Tatapannya tajam dan terus menyorot wajah pucat sang mantan istri. Dia merasa... dia telah berhasil menggenggam semua yang dimiliki mantan istrinya. Berhasil membuat hidup mantan istrinya hancur melebihi Renata, istrinya. "Tentu saja bisa. Sebelum kita bercerai, bukankah kita sering melakukan hubungan intim? Apalagi yang perlu dipertanyakan? Semua sudah jelas dan kamu... cukup jaga baik-baik calon penerus keduaku." Prilly tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang jelas, rasa sakit itu terus menghantamnya dan mendorong air matanya untuk jatuh dari pelupuk matanya. Dia menangis dengan tatapan kesakitan tak terdefinisi. Jika dalam keadaan normal, mungkin dia akan sangat bahagia mengandung benih dari lelaki setampan Ali. Tapi sekarang... keadaan berbeda. Semua tidak berpihak padanya. Mencoba tegar, dia mengarahkan tatapannya ke arah mantan suaminya yang tersenyum penuh kemenangan. Sudah dia duga, mantan suaminya memang berencana membuatnya kembali hamil. Mirisnya, dia tahu alasan mantan suaminya membuatnya kembali hamil. Karena kesalahpahaman di masa lalu yang berdampak buruk baginya. Dia tidak bersalah tapi dia menjadi tersangka utama. Ini menyakitkan dan tidak adil. "Berapa usianya?" Membasahi bibir bawahnya, Ali mencoba mengingat berapa usia kandungan mantan istrinya yang dia ketahui kemarin, tepat di saat sang mantan istri pingsan karena tak sengaja dia cekik. Tak sengaja? Ah, sepertinya bukan, lebih tepatnya, dia niat mencekik mantan istrinya karena telah membuat Renata nya kembali terbaring lemah di rumah sakit. "Jalan 5 minggu," jawabnya singkat dengan satu tangan mengusap perut datar sang mantan istri. Sedangkan Prilly, dia tercenung. 5 minggu? Selama itu? Dan dia, baru tahu ini sekarang? Bagus! Sepertinya mantan suaminya memang benar-benar merencanakan ini dari awal. "Dimana Raihan?" Tatapannya menyapu ruangan bercat putih yang dilengkapi satu sofa panjang dekat pintu, televisi, dan kamar mandi. "Raihan bersama Renata." Prilly tersentak. Putranya bersama Renata? Tidak! Dia tidak terima putranya bersama perempuan yang telah memasang badan sebagai ibu bagi putranya. Demi apapun, dia tidak mau Renata mencoba dekat dengan putranya. Ibu Raihan hanya dirinya seorang. Dengan d**a bergemuruh hebat, dia menarik lengan baju yang Ali kenakan dengan tatapan memohon. "Tolong bawa Raihan kemari. Dia putraku dan hanya aku ibunya, yang melahirkannya dan merawatnya." Ali menghempas kasar tangan Prilly dan menatap mantan istrinya tajam. "Mencoba protektif, eh? Perlu aku ingatkan siapa yang telah membuat istriku keguguran?!" "Argh..." Prilly meringis dan mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ali di pipinya. Matanya kembali berkaca-kaca. Rasa sakit itu, masih terasa sakitnya dan efeknya luar biasa membuatnya hancur. Ali kembali mengungkit kejadian di masa lalu. Dimana dia menjadi tersangka dan Renata menjadi korban. Kejadian masa lalu yang membuat hidupnya sengsara seperti saat ini, menjadi pemuas ranjang mantan suaminya dan lebih menyakitkan, dia mengandung benih mantan suaminya. "Gara-gara kamu, istriku keguguran dan tidak bisa kembalikan hamil. Gara-gara kamu, istriku tersiksa dan terluka. Kamu telah merenggut impian dan kebahagiaan istriku!" Teriak Ali tepat di depan wajah mantan istrinya yang langsung memejamkan matanya setelah mendengar teriakannya. Ali mengabaikan tangisan mantan istrinya. Dia emosi karena bisa-bisanya mantan istrinya itu melarang puteranya dekat dan akrab dengan istrinya. Kalau saja istrinya tidak keguguran atau bisa kembali hamil, mungkin dia tidak akan sudi terus berdekatan dengan mantan istrinya ini. "Bukan... bukan aku yang melakukan itu." Ali menggeram. Setelah sekian tahun, mantan istrinya itu tetap tidak mau mengaku. Terus menyangkal bahwa bukan dialah pelakunya. Padahal semua sudah jelas, sejak satu hari kejadian itu terjadi, terbukti Prilly lah pelakunya. Di rumah pada saat itu hanya ada mantan istrinya dan Renata. Apalagi yang perlu diragukan? Semua sudah jelas. "Berhenti mengelak! Aku muak mendengar omong kosongmu." Disela isakannya, tangan Prilly menepuk tangan Ali yang masih mencengkeram pipinya. Pipinya berdenyut nyeri dan tubuhnya saat ini sangat lemah sehingga pergerakannya sangat terbatas. "Kamu memang tidak pernah mempercayaiku dan aku terlalu lelah meyakinkan kamu bahwa bukan aku lah pelakunya. Saat kejadian, aku ada di kamar, aku tidak berada di dekat Renata seharian itu." Ali melepas cengkeramannya. Satu tangannya bergerak menarik tengkuk mantan istrinya dan mengarahkan tatapan mantan istrinya untuk menatapnya. Rahangnya mengeras dan dia benar-benar muak mendengar omong kosong mantan istrinya itu. Sudah terbukti bersalah, tapi masih mengelak. Perempuan macam apa itu? "Aku tidak bodoh. Kamu pasti sengaja membuat Renata keguguran karena kamu tidak terima Renata tinggal satu rumah denganmu dalam kondisi sama-sama mengandung dan usia kandungan yang sama. Aku masih ingat jelas, kamu tidak mau aku menceraikan mu karena aku mencintai Renata, bukan kamu." Untuk kalimat terakhir yang Ali ucapkan, Prilly tidak bisa mengelak. Dia memang tidak terima Ali menceraikannya karena harapannya sejak Ali resmi menjadikannya sebagai istri sah lelaki itu adalah, hidup bahagia bersama anak-anak mereka kelak. Tapi, siapa yang terima mendapati suaminya membawa pulang perempuan dengan perut buncit ke rumah dan dengan santainya mengatakan perempuan itu adalah selingkuhannya yang tengah hamil dan usia kandungannya sama seperti dirinya. "Kenapa kamu menjadikan aku istrimu kalau pada akhirnya kamu menyakitiku dan tidak mencintaiku?" Lirihnya. Ali tertawa sumbang. Tawa yang mengundang banyak misteri. "Karena kamu adalah wanita bodoh yang gampang untuk aku hancurkan." Jawaban menyakitkan itu sangat melukai batinnya. Bibirnya bergetar seiring dengan air mata yang terus menetes. Satu tangannya meremas kuat baju bagian dadanya, dadanya sangat sesak mendapati kenyataan menyakitkan ini. Sedangkan satu tangannya lagi meremas lengan Ali. "To... tolong... lepaskan aku... aku... juga ingin bahagia," lirihnya parau. Mendengar itu, tatapan Ali menggelap. Dengan rahang mengeras, dia melumat kasar bibir mantan istrinya dan menahan kedua tangan mantan istrinya yang memukul dadanya. "Aku tidak akan pernah membebaskan mu sebelum kamu merasakan kehancuran seperti yang Renata rasakan!" Bisik Ali tepat di depan telinganya dengan nafas memburu setelah puas melumat kasar bibirnya. Dan yah, semua yang terasa gelap perlahan terang. Mantan suaminya menyakitinya hanya sebagai bentuk 'balas dendam' atas nama istrinya itu, Renata. Mantan suaminya ingin membuatnya turut merasakan kehancuran yang Renata rasakan. "Aku tidak bersalah," lirihnya untuk yang kesekian kalinya dengan harapan yang sama sekali tidak membuahkan hasil. "Berhenti mengelak. Kamu harus menerima konsekuensinya." Setelah mengucapkan itu, Ali dengan tatapan tajamnya mendorong tubuh lemah Prilly untuk berbaring dan menarik selimut sampai sebatas d**a. "Kandungan mu lemah. Kamu harus banyak istirahat dan aku tidak mau calon penerus kedua ku kenapa-kenapa." Setelah mengucapkan itu, Ali pergi meninggalkannya sendiri dengan tatapan sedih. Dia memandangi pintu ruangan cukup lama hingga tanpa sadar bibir tipisnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyum tipis. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD