Prilly menggeram karena tidur nyenyaknya terganggu oleh usapan dan kecupan ringan di area perutnya. Tanpa membuka kedua matanya dia bergumam, "Raihan, Mama masih ngantuk jangan ganggu Mama dulu. Raihan tidur lagi sini sama Mama."
Detik selanjutnya, Prilly bernafas lega karena sang putera tidak lagi mengecup dan mengusap perutnya. Dia kembali terlelap. Namun kedamaian yang hendak dia raih dalam tidurnya kembali terusik ketika lehernya mendapat kecupan bertubi-tubi yang lagi-lagi dia sangka puteranya lah pelakunya.
Prilly berdecak. Kedua tangannya menjauhkan kepala yang dia yakini milik puteranya untuk menjauh dari area lehernya. Namun pada saat kedua tangannya hendak menjauhkan kepala yang dia yakini sebagai kepala puteranya, dia terdiam karena ukuran kepala yang saat ini diraba oleh kedua tangannya begitu besar --seperti bukan kepala puteranya.
Mencoba berpikir positif, dia membuka matanya dan melihat siapa pemilik kepala yang saat ini diraba oleh kedua tangannya.
"Raiha.... ALI!"
Prilly kontan duduk tegap dan menatap sosok mantan suaminya itu dengan tatapan tajam. Dia terkejut, pasti. Bagaimana tidak terkejut jika tidur nyenyak nya diganggu oleh seseorang yang dia yakini puteranya dan ternyata mantan suaminya lah pelakunya.
"Ngapain kamu disini?!" tanyanya dengan tatapan waspada dan tubuh yang bergerak mundur, memberi jarak.
Ali tersenyum miring, tatapannya jatuh pada tubuh Prilly yang tidak disadari oleh mantan istrinya jika saat ini mantan istrinya itu tidak mengenakan pakaian satu pun, telanjang bulat.
"Menikmati sesuatu yang memang seharusnya untuk aku nikmati," tatapan Ali tidak lepas dari d**a mantan istrinya yang terpampang jelas dua gundukan yang beberapa jam lalu menjadi surga bagi mulutnya.
Prilly mengerut dalam. Tidak mengerti arah pembicaraan mantan suaminya itu yang dia rasa 'aneh'. Kedua matanya memicing menatap raut wajah suaminya, ah... mungkin lebih tepatnya mengikuti kemana arah pandang suaminya yang mengarah pada.....
Oh astaga! Dadanya!
Dan... oh ya, kenapa dia bertelanjang bulat!
Kontan kedua tangannya mengambil gerakan menutupi buah dadanya yang sedari tadi menjadi tontonan gratis mantan suaminya. Sumpah demi apapun! Dia yakin kedua pipinya saat ini memerah menahan malu dan emosi sekaligus. Kurang ajar!
Sialnya, kenapa dia bisa lupa jika tadi dia dan mantan suaminya itu melakukan.... ah, dia malu untuk mengatakan jika dia dan mantan suaminya melakukan sesuatu untuk mencapai suatu kenikmatan dunia dalam penyatuan tubuh yang sama-sama terbakar oleh hasrat.
"Jangan ditutupi. Aku sudah melihatnya, bahkan telah menjilat, menyesap dan merasakan cairan yang....."
Plak
"Pergi dari sini!" teriak Prilly tanpa rasa takut karena telah menampar wajah tampan mantan suaminya.
Bukannya marah, Ali justru tersenyum miring. Memangkas jaraknya dengan Prilly namun sayangnya sang mantan istri terus bergerak mundur dengan kedua tangan menyilang menutupi dadanya.
"Jangan mendekat!" desis Prilly sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya.
Ali menulikan pendengarannya. Dia tetap mendekat dan Prilly terus bergerak mundur. Namun di detik selanjutnya dia bergerak cepat dan kedua tangan besarnya kontan memeluk tubuh mantan istrinya yang nyaris jatuh terjungkal dari tempat tidur. Dia menenggelamkan wajah mantan istrinya ke d**a bidangnya dengan kedua tangan mengangkat tubuh telanjang berbalut selimut tebal milik mantan istrinya ke atas pangkuannya.
Ali tersenyum miring melihat raut terkejut Prilly saat tatapannya bertemu dengan tatapan sang mantan istri.
Ali mengeratkan cengkeramannya pada pinggang Prilly saat mantan istrinya itu berontak turun dari pangkuannya.
"Lepaskan aku!"
"Tidak semudah itu sayang," jawab Ali dengan seringai yang demi apapun membuat Prilly takut dengan d**a berdebar.
Prilly menggeram. Dia mencoba menarik kedua tangan mantan suaminya menjauh dari pinggangnya. Sayangnya, bukannya terlepas, tubuhnya justru semakin dirapatkan pada tubuh bagian depan mantan suaminya itu dan sukses membuatnya meletakkan kedua tangannya di dadanya agar bagian dadanya tidak bersentuhan langsung dengan d**a bidang mantan suaminya.
"Apa maumu? Kita tidak terikat apapun dan kamu sudah memiliki Renata," geram Prilly.
Ali menunduk menatap iris mata mantan istrinya dengan tatapan dalam penuh misteri. Satu tangannya bergerak mengusap pipi Prilly yang langsung ditepis kasar oleh sang empu.
"Jangan sentuh aku!"
Ali terkekeh. Tangan yang baru saja hinggap di pipi mantan istrinya itu perlahan turun dan menyusup masuk ke dalam selimut tebal yang membungkus tubuh telanjang Prilly.
Prilly tersentak saat tangan kekar berada di perutnya. Dia menatap Ali tajam dengan kedua tangan yang menjauhkan tangan Ali yang berada di perutnya.
"Jauhkan tanganmu dari perutku!" sentaknya yang mencoba menarik tangan Ali menjauh dari perutnya.
Ali diam dan tangannya tetap berada di perut Prilly meskipun sang empu telah menarik tangannya agar menjauh.
"Jauhk..."
"Aku hanya sedang memanjakan calon anak kita."
Prilly membeku. Gerakannya yang hendak menjauhkan tangan Ali dari perutnya mendadak terhenti. Tatapannya mengarah pada Ali yang menatapnya dengan seringai tajam yang seolah mengibarkan bendera kemenangan.
Mulutnya kelu, tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Yang jelas, dia terkejut. Dan, demi apapun, hatinya mencelos mendengar perkataan mantan suaminya itu.
Bibirnya bergetar dengan kedua mata yang berkaca-kaca menatap mantan suaminya.
"A... apa mak... maksud kam..."
"Kamu mengandung anakku, apalagi? Selama ini hanya aku yang menabur benih pada rahimmu dan aku tidak sabar menantikan kehadirannya ke dunia sebagai penerus keduaku."
Tubuh Prilly melemas dan secara tiba-tiba kesadarannya hilang. Dia pingsan dalam pelukan Ali, menyisakan tawa sinis Ali yang menatap wajah pingsan Prilly dengan tatapan menerawang ke kejadian yang telah dilaluinya bersama sang mantan istri.