Prilly pikir, saat pagi menyapa perasaannya yang kacau kembali membaik. Sayangnya, itu hanya keinginannya saja karena pada nyatanya, saat dia terbangun dari tidur nyenyaknya, saat itu juga kedua matanya disuguhkan oleh pemandangan yang tidak terduga olehnya.
Dia nyaris lupa bagaimana caranya bernafas. Sebab, pada saat kedua matanya terbuka, dia melihat Ali yang tertidur sambil memeluk Raihan.
Pertanyaan yang menghantui pikirannya adalah, bagaimana bisa?!
Bagaimana bisa lelaki itu tertidur di apartemennya? Dia ingat betul semalam lelaki itu pergi dari apartemennya dan menemani Renata di rumah sakit. Tapi... kenapa sekarang....
"Mama."
Lamunannya buyar mendengar suara putranya. Dia menoleh, menatap sang putra yang menatapnya dengan wajah bantalnya.
"Papa beneran tidur di sini?" Pertanyaan itu jelas ditujukan padanya. Tatapan putranya terarah pada wajah damai papanya dengan mata terpejam.
"Iya. Raihan senang?" tanyanya dengan senyum hangat sembari mengusap puncak kepala Raihan.
Tanpa menoleh ke arahnya, Raihan mengangguk. "Papa menepati janjinya," sahut Raihan dengan mata berbinar dan tangan mungilnya mengusap pelipis Ali.
Prilly terenyuh melihat betapa sayangnya sang putra kepada papanya. Raihan begitu nyaman berada di dekat Ali dan itu selalu saja sukses membuat hatinya tercubit. Membuatnya mengutuk dirinya sendiri dan takdir yang membuat hidupnya serumit ini.
Mengusap puncak kepala sang putra, Prilly bertanya, "Menepati janji?"
Raihan memusatkan tatapannya pada sang mama dan beranjak dari posisi tidurnya. Raihan duduk di pangkuan Prilly dan memeluk sang mama. "Jangan marahi papa, ma."
Prilly tertegun. Nada suara Raihan menyiratkan kesedihan dan tatapan Raihan yang memohon padanya. Apa ini yang dinamakan ikatan batin antara anak dan ayah? Kalau iya, kenapa ini menyakitkan baginya?
"Papa kemarin janji sama Raihan. Papa bakal temani Raihan tidur. Papa menepati janjinya, mama." ujar Raihan dengan senyum lebarnya.
Dengan senyum pedih, dia mengecup puncak kepala Raihan berkali-kali. Ini menyakitkan. Lelaki yang menyakitinya justru menjadi lelaki yang berarti bagi putranya. Dia tidak tahan terus-menerus berada di dekat Ali. Berada di dekat Ali, sama saja membunuhnya secara perlahan. Tapi, dia bisa apa jika Ali adalah kebahagiaan putranya?
Disaat dia kalut, tiba-tiba suara berat menyapa indra pendengarannya. Dia tertegun. Jantungnya berdebar. Apalagi saat tangan kekar melingkari pinggangnya dengan sangat erat sehingga kepalanya membentur d**a bidang yang dulu pernah menjadi tempat ternyaman baginya.
"Selamat pagi," bisiknya lembut tepat di telinganya.
Ini aneh. Ali tidak pernah bersikap lembut seperti ini, kecuali dulu, sebelum Ali membawa Renata ke hadapannya. Suara lembutnya yang dulu membuatnya tersenyum lebar dan membuat dadanya berbunga-bunga, sekarang justru membuat dadanya sesak. Sesak karena ingatan di masa lalu kembali berputar di kepalanya.
"Selamat pagi, papa." balas Raihan dengan riang. Raihan mendongak, menatap wajah sang papa yang berada di lekukan leher mamanya. Raihan berada di tengah-tengah mereka dan jika orang lain melihat posisi mereka saat ini, mungkin mengira mereka merupakan keluarga yang bahagia.
Sayangnya, yang dilihat oleh mata tidak sesuai dengan kenyataan. Mata hanya bisa melihat tanpa mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Ali menjauhkan wajahnya dari lekukan leher Prilly. Satu tangannya melingkari pinggang Prilly dan tangannya yang lain mengusap puncak kepala Raihan dengan tatapan lembutnya.
"Anak papa gimana tidurnya semalam? Nyenyak?"
Raihan berpindah ke pangkuan Ali dan kedua tangan mungilnya melingkari leher sang papa. Dengan sangat lucunya Raihan mengecup kedua pipi sang papa. "Raihan tidur nyenyak karena Raihan tidur bersama Mama dan Papa."
Ali terkekeh. Dia melirik ke arah mantan istrinya yang tersenyum lembut dengan tatapan tidak lepas dari Raihan.
Cup
"Hah?"
Prilly kontan menyentuh pipinya. Kepalanya menoleh, menatap Ali dengan kedua mata yang melebar, terkejut.
Melihat Ali yang melempar senyum padanya membuatnya geram. Tatapannya tajam dan siap melempar umpatan pada lelaki yang berbuat seenaknya padanya itu. Tapi, tepuk tangan riang yang berasal dari Raihan membuat tatapannya menjadi sendu. Putranya bahagia melihat orang tuanya bersikap romantis.
Raihan tidak tahu apa yang terjadi kepada orang tuanya.
"Aku melakukannya karena ingin membuat putraku bahagia," bisik Ali pelan.
Dan, yah... dia sudah menduganya. Tapi, dia tetap merasa aneh. Karena, semalam Ali memeluknya dan mengecup perut datarnya, padahal Raihan tertidur.
Dia tidak mau ambil pusing. Mungkin saja Ali sedang kalut karena Renata berada di rumah sakit. Ya, mungkin begitu.
...
Prilly bernafas lega karena Raihan berangkat sekolah dan lega karena Ali yang mengantarkan Raihan ke sekolahnya. Setidaknya, setelah mengantar Raihan ke sekolah, Ali tidak lagi ke apartemennya. Sudah cukup dia melakoni drama sok romantis bersama Ali di hadapan anaknya.
Hatinya tidak sekuat itu. Bagaimanapun juga, perlakuan Ali masih membawa efek yang dahsyat baginya. Dan, dia tidak mau lagi terbuai. Dia cukup sakit dan menderita.
Dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang ruang tengah. Menyalakan televisi dan menyantap camilan yang berada di atas meja. Dia terlalu asik dengan tayangan yang tersaji di layar televisi hingga tidak sadar jika lelaki yang dia harapkan tidak lagi kembali ke apartemennya kini berdiri di dekat sofa yang dia tiduri.
Ali. Dia menatap ekspresi serius sang mantan istri. Dia tersenyum kecil, tapi sama sekali tidak membuatnya jatuh hati. Ya, pada dasarnya dia tidak mencintai Prilly. Dia mendekati dan menikahi Prilly karena alasan tertentu.
"Argh... apa yang kamu lakukan! Turunkan aku!" pekik Prilly saat tiba-tiba Ali menggendongnya dan membawanya memasuki kamar.
Perasaannya menjadi tidak enak. Dia berontak agar bisa terbebas dari Ali. Sayangnya, saat itu juga Ali membungkam bibirnya dengan lumatan lembut.
Tubuhnya mendadak melemas. Lagi, Ali mampu membuatnya tidak perdaya hanya karena lumatan lembut yang Ali berikan padanya.
Saat itu juga dia merasakan Ali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan gerakan pelan. Tanpa sadar, kedua tangannya melingkari leher Ali. Dia menikmati sentuhan Ali.
Disaat otaknya ingin menolak, justru hatinya menerima. Dia lemah dan pada akhirnya mengikuti permainan Ali.
Dengan kabut gairah, dia menerima sentuhan Ali. Membiarkan tubuh Ali bersatu dengannya dan bersama-sama mengejar pelepasan yang begitu memuaskan. Nafasnya terengah dengan keringat yang membanjiri wajahnya dan Ali. Tatapan Ali lurus ke arahnya dengan senyum tipis yang menghiasi bibir tipisnya.
Kali ini, tatapan Ali membuat perasaannya menghangat. Kontan bibirnya melengkung ke atas, membentuk senyum manis yang tidak pernah lagi dia berikan pada Ali.
Ali mengecup lama bibirnya. "Terima kasih." ujarnya dengan suara beratnya dan beralih mengecup pelipisnya cukup lama.
Dengan tubuh yang masih menyatu, dia memeluk Ali dan membiarkan kepala Ali berada di lekukan lehernya.
Menikmati sejenak situasi yang entah kenapa begitu berbeda dari biasanya. Ali yang lembut dan terus menatapnya penuh kehangatan. Dan, ini pertama kalinya Ali melakukan hubungan intim dengannya secara lembut. Sangat lembut dan membuatnya terus mendamba sentuhan Ali.
Dia ingin berharap, keesokan harinya ada sesuatu membahagiakan yang dia dapatkan.
Hatinya menginginkan sikap lembut Ali terus berlaku untuknya. Untuk kali ini saja, ijinkan dia bersikap egois. Dia merindukan kebersamaannya dengan Ali.