Saat ini dia berada di rumah sakit, tepatnya di ruangan dimana Renata terbaring dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya. Wajah Renata pucat dengan pelipis yang dibalut perban. Tapi, percayalah, dia sama sekali tidak merasa bersalah karena telah membuat pelipis Renata berdarah. Justru, dia semakin membenci Renata. Perempuan licik dengan segala drama menjijikkan yang dimainkannya.
Tatapannya lurus ke arah Renata yang terlibat obrolan menyenangkan bersama putranya. Jujur, dia tidak terima melihat anaknya begitu dekat dengan Renata. Apalagi setelah mendengar panggilan dari anaknya untuk Renata, bunda.
Dia yang mengandung, melahirkan dan merawat Raihan. Dia tidak rela jika Renata memasang badan di depan anaknya sebagai ibu. Dia tidak terima! Hanya dia yang menjadi ibu Raihan, bukan Renata!
"Aku memberimu waktu selama satu jam untuk meminta maaf kepada istriku. Tapi satu jam lebih kamu buang cuma-cuma dan melamunkan hal bodoh dalam otakmu."
Prilly menoleh ke sisi kanannya dimana sosok Ali duduk di sofa yang sama dengannya. Saat tatapannya beradu dengan tatapan Ali, kontan dia melengos.
Dia marah. Seharusnya saat ini dia dan Raihan berada di apartemen dan menikmati malam dengan serangkaian kegiatan yang biasa dia lakukan bersama putra tersayangnya itu. Bukan malah berada di rumah sakit dan menyaksikan adegan menyakitkan, dimana putranya yang begitu akrab dengan Renata.
Ali memang tidak memiliki perasaan. Saat dia tersadar dari pingsannya, dengan tidak berperasaan Ali menyeretnya ke rumah sakit. Padahal saat itu kepalanya pening. Dia nyaris muntah karena Ali yang langsung mendorong tubuhnya untuk masuk ke mobil.
"Aku tidak bersalah dan aku tidak akan meminta maaf atas apa yang tidak aku lakukan," jawabnya dengan raut tenang. Tidak berpengaruh dengan tatapan tajam yang Ali hujamkan.
Dia menunggu respon Ali. Dia juga siap jika Ali membentaknya di hadapan Renata dan Raihan. Dengan begitu, dia bisa melepaskan diri dari Ali dan Raihan tahu seperti apa sifat asli papanya. Sekali-kali dia memisahkan anak dan ayah itu. Toh, dia mampu mencarikan papa baru untuk Raihan. Ya, dia mampu dan melakukan apa pun untuk anaknya.
Sayangnya, yang dia harapkan tidak terjadi. Justru, Ali berjalan mendekati Renata dan Raihan. Dia melongo dan menatap dalam diam apa yang akan Ali lakukan. Yang jelas, saat ini tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak. Senyum miring yang Ali lemparkan padanya membuatnya was-was.
"Raihan senang bermain dengan bunda?" tanya Ali sembari mengusap puncak kepala Raihan dan melempar senyum manisnya ke arah Renata.
Raihan yang tidur tengkurap di samping Renata mendongak, menatap sang ayah dengan tatapan polosnya dan mengangguk ceria. "Raihan senang, papa."
Ali tidak menoleh ke arah Prilly yang mulai tidak nyaman di posisinya. Keningnya mengerut dalam dan jemarinya meremas ujung bajunya menantikan ucapan Ali berikutnya. Demi apa pun, dia tidak mau kehilangan Raihan.
"Kalau papa ajak Raihan tinggal di rumah papa dan bunda Renata, Raihan mau gak?"
Bocah lelaki berusia empat tahun itu menatap Renata yang tersenyum padanya dan menatap sang papa yang juga tersenyum ke arahnya. Lalu tatapannya jatuh kepada sang mama yang duduk di sofa sendiri. Bocah lelaki berumur empat tahun itu menatap ketiga orang dewasa di dekatnya satu per satu, seolah mencari tahu sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Tinggal itu apa, papa?" tanyanya polos yang mengundang tawa Ali dan Renata karena ekspresinya yang menggemaskan.
"Tinggal itu sama saja Raihan tidur, makan dan bermain di rumah papa selamanya. Gimana? Raihan mau tinggal sama papa dan bunda?"
"Sama mama?" pertanyaan polos itu terlontar begitu saja dari bibir mungil Raihan. Tatapannya mengarah kepada sang mama yang berjalan mendekatinya.
"Raih..."
"Raihan, ayo kita pulang." ucapan Ali terhenti disaat Prilly mendekat dan langsung membawa Raihan ke gendongannya.
Tatapannya menajam melihat kelakuan Prilly yang tidak menghargainya sebagai Papa Raihan. Ya, tidak menghargai, karena dia juga memiliki hak atas Raihan dan dia pantas membawa Raihan untuk tinggal bersamanya dan Renata.
"Mama," Raihan tiba-tiba mengulurkan tangan mungilnya untuk mengusap wajahnya. Ah, lebih tepatnya mengusap air matanya yang entah sejak kapan mulai turun dengan derasnya.
Ini yang dia takutkan. Ali memisahkannya dengan Raihan. Ingat, pada saat hakim memukul palu, Ali sama sekali tidak memedulikan Raihan yang pada saat itu menangis dan memanggil nama pria itu. Bahkan, Ali menyerahkan hak asuh Raihan sepenuhnya padanya.
"Kita pulang," sahutnya sembari menjauhkan tangan mungil Raihan dari wajahnya.
"Raihan di sini bersamaku dan.... Renata!"
Saat dia hendak melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan yang membuat dadanya sesak, tiba-tiba Ali menahannya. Ali mencengkeram kuat lengangnya dengan tatapan tajam.
Dia mendekap Raihan dan membawa kepala Raihan ke lekukan lehernya, menyembunyikan wajah anaknya.
"Raihan putraku dan aku berhak atas Raihan," ujarnya dengan tatapan tajam, membalas tatapan Ali.
Ali terkekeh. "Bodoh! Dia juga putraku!" desis Ali tajam.
Prilly tertawa sumbang mendengarnya. "Putramu? Haha... sepertinya kamu di sini yang bodoh! Aku bantu ingatkan, hak asuh Raihan jatuh ke tanganku dan kamu tidak memiliki hak atas Raihan. Kamu tidak lebih sebagai figur papa bagi Raihan, bukan seseorang yang berkuasa atas putraku!"
Rahang Ali mengeras. Tatapannya memerah dan andai saat ini tidak ada Raihan dan Renata diantara mereka, mungkin dia memberi pelajaran kepada wanita di hadapannya ini.
"Apa kamu lupa siapa yang selama ini menanggung kebutuhan Raihan?! Aku! Bahkan kebutuhanmu sendiri, aku yang nanggung! Sadar diri, bodoh!"
Prilly menghapus kasar air matanya. Tatapannya mengarah pada Renata yang duduk di brankar dengan tatapan cemas melihatnya dan Ali ribut.
"Jaga emosimu. Kamu pasti tidak mau membuat istri tersayangmu ketakutan. Kepala istrimu masih diperban dan aku tidak mau ambil resiko jika istrimu geger otak." ujarnya sembari menatap Ali berani.
Ali mengikuti arah pandang Prilly dan benar, Renata tampak ketakutan melihatnya emosi. Tapi, dia tidak memedulikan Renata dan ketakutannya. Karena saat ini yang menarik perhatiannya adalah wanita yang berstatus sebagai mantan istrinya dan putranya.
Ali sengaja mengajak Raihan tinggal bersamanya dan Renata agar Prilly segera meminta maaf kepada Renata. Itu saja. Tapi, mantan istrinya itu memang keras kepala. Sehingga rencananya tidak berjalan dengan lancar. Sial.
Lihat, sekarang dia dan Prilly memulai pertikaian yang tidak akan ada habisnya.
Dengan wajah yang mengeras menahan emosi, Ali menarik Prilly keluar dari ruangan Renata. Bahkan, dia mengabaikan Renata yang mematung di tempatnya dengan raut cemas.
"Lepas!" Prilly menyentak tangan Ali yang mencengkeram lengannya. Satu tangannya menahan kepala Raihan agar tetap berada di lekukan lehernya. Dia tidak mau putranya melihat wajah menakutkan Ali.
Ali menghentikan langkahnya dan menatap Prilly tajam.
"Aku akan mengantarkanmu pulang," sahut Ali dengan wajahnya yang mengeras, menahan emosi yang siap meledak.
Prilly melengos. "Aku tidak mau. Aku bisa naik taksi," tolaknya tanpa menatap Ali yang mulai memejamkan matanya menahan emosinya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Ali mengulurkan tangannya mengusap puncak kepala Raihan dan kontan membuat Raihan mendongak dan menjauhkan wajahnya dari lekukan leher sang ibu.
"Raihan mengantuk, papa." rengeknya pada Ali sembari menguap.
Ali tersenyum kecil dan menatap Prilly yang menatap Raihan iba dan rasa bersalah.
"Kamu dengar kan, Raihan mengantuk dan kamu harus secepatnya sampai ke apartemen. Apa kamu tega melihat Raihan yang menunggu taksi terlalu lama hingga digigit nyamuk? Kalau sampai putraku kenapa-kenapa, aku akan memberikan hukuman yang setimpal untukmu."
"Aku bisa memesan taksi online," sahut Prilly, masih keras kepala.
Ali yang memang tidak memiliki kesabaran lebih, pada akhirnya mengambil tindakan dengan mengambil alih Raihan dari gendongan Prilly. Tanpa menghiraukan protesan Prilly, Ali membawa Raihan memasuki mobilnya.
Saat hendak membuka pintu mobil, lengannya ditahan Prilly.
"Dia putraku! Biarkan kami pulang sendiri dan lebih baik kamu jaga istri tersayangmu itu!" teriak Prilly yang sukses membuat Raihan yang berada di gendongan Ali terperanjat mendengar teriakannya.
Ali yang sadar akan itu kontan menunduk dan mengusap lembut puncak kepala Raihan. "Kau membuat Raihan takut," desis Ali tajam membuat perhatian Prilly teralihkah pada putranya yang memeluk Ali erat.
Raut wajahnya kembali melembut dan merasa bersalah karena telah membuat anaknya ketakutan.
"Raihan, mama..."
"Raihan mengantuk, mama." sela Raihan dengan wajah menghadap d**a Ali, seolah enggan menatapnya.
Dengan tatapan tajamnya, Ali menatap Prilly penuh peringatan. "Ikut aku pulang, atau aku akan membawa Raihan bersamaku untuk selamanya."
Prilly tersenyum sinis. "Hak asuh Raihan jatuh ke tanganku. Kamu... tidak akan bisa membawa Raihan."
Ali menatap mantan istrinya dengan tatapan merendah. "Wanita bodoh! Uang bisa membuat segala sesuatunya berubah."
Prilly tertegun. Dia lupa, mantan suaminya itu memiliki segala-galanya. Apa yang Ali mau, semua bisa terwujud. Bagi Ali uang bisa mengubah segalanya. Termasuk hak asuh Raihan.
"Jadi, ikut atau..."
"Kita pulang." Prilly mendorong tubuh Ali dan langsung memasuki mobil Ali dengan wajah yang pucat pasi. Dia sedari tadi menahan sakit di kepala dan perutnya. Ditambah lagi dia harus melewati sesi debat bersama mantan suaminya itu. Rasanya dia tidak tahan menahan rasa sakit yang menyerangnya, tapi dia tidak mau terlihat lemah di hadapan mantan suaminya itu.
...
"Cepat pergi dan temani istri tercintamu di rumah sakit. Kamu tentu tidak mau istri tercintamu terluka sedikit pun." usir Prilly terang-terangan saat mereka sampai di depan pintu apartemen miliknya.
"Raihan tertidur di gendonganku dan biarkan aku membawa Raihan sampai ke kamar."
Tatapan Prilly jatuh pada sang putra yang tertidur lelap di gendongan Ali. Ada kesedihan yang terpancar. Putranya tidak mau digendong olehnya dan memilih digendong Ali sehingga pria itu mengemudi dengan Raihan di pangkuannya. Putranya terlihat takut padanya karena kejadian di parkiran rumah sakit.
Menghela nafas panjangnya, dia mempersilakan Ali masuk. Tubuhnya lengket dan dia memilih membersihkan tubuhnya ke kamar mandi. Membiarkan Ali menidurkan Raihan. Setidaknya, setelah ini Ali segera pulang dan dia bisa leluasa menenangkan dirinya serta melupakan kejadian menyakitkan di hari ini.
Beberapa menit kemudian, Prilly selesai dengan kegiatannya di kamar mandi. Beruntungnya dia membawa baju ganti ke kamar mandi sehingga selesai mandi dia langsung ke kamar dan merebahkan tubuhnya ke atas kasur yang saat ini menghantui pikirannya. Dia benar-benar lelah dan tubuhnya butuh istirahat.
Saat dia membuka pintu kamar mandi, matanya membulat. Raut wajahnya berubah kesal melihat Ali yang masih berada di apartemennya dan memeluk putranya yang terlelap.
"Bukankah aku sudah bilang padamu untuk segera pulang. Istri tercintamu sendirian di rumah sakit. Kamu pasti tidak mau istrimu kenapa-kenapa." ketusnya sembari mendekati ranjang dan duduk di sisi tempat tidur yang berada di sisi kiri Raihan.
Tanpa menjawab ucapan Prilly, Ali turun dari tempat tidur dan mendekati Prilly. Menekuk tubuhnya di samping Prilly yang duduk di tempat tidur. Satu tangannya meraih tengkuk Prilly dan dalam hitungan detik bibirnya melumat bibir Prilly.
Prilly hendak berontak. Tapi, sesuatu terjadi. Tidak ada lumatan kasar yang biasa lelaki itu lakukan. Lelaki itu melakukannya dengan lembut dan penuh gairah yang sukses membuatnya terbuai dan berakhir menikmati lumatan lembut tersebut.
Ali semakin memperdalam lumatannya dan semakin menarik tengkuk Prilly. Tak lama setelah itu Ali sendiri yang menghentikan lumatan saat sadar Prilly yang mulai kesusahan bernafas. Dia melihat wajah Prilly memerah dengan nafas tersengal-sengal. Ibu jarinya mengusap sudut bibir Prilly yang terdapat bekas lumatan.
Ditatapnya Prilly yang mulai mengatur nafasnya. Kedua tangannya melingkari perut Prilly dan menyembunyikan wajahnya di perut Prilly. Kecupan ringan Ali hujamkan pada perut Prilly.
Lagi. Prilly hendak berontak, akan tetapi perlakuan Ali membuatnya mengurungkan niatnya dan sialnya, lagi-lagi dia menikmati moment yang dulu pernah Ali lakukan padanya. Dulu, saat dia dinyatakan hamil.
Air matanya menetes dan tanpa sadar tangannya terulur, mengusap puncak kepala Ali.
"Kenapa?"
Ali mendongak saat dia melempar tanya. Mengerutkan kening, Ali menatapnya bingung. "Apa?"
"Kenapa kamu memperlakukanku seperti ini?" lirihnya dan mengusap air matanya.
Ali berdiri. Membungkuk di hadapannya dan mengangkat dagunya sehingga tatapannya beradu dengan mata Ali.
"Aku pulang. Renata takut sendirian."
Ali mengecup bibirnya dan beranjak keluar apartemen. Meninggalkannya dengan tetes demi tetes air mata.