| Ex Husband • 04 |

1221 Words
Keadaan semakin kacau dan buruk. Prilly tidak sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia mendorong Renata hingga kepalanya membentur ujung meja dan berakhir dengan pelipisnya berdarah. Dia masih berdiri mematung, tanpa memiliki niatan membantu Renata yang meringis dan menyeka darah di pelipisnya. Tatapannya datar dan wajahnya memerah, menahan kabut emosi. Dadanya naik turun dan perlahan kepalanya menggeleng. Tidak percaya. Dia shock! Tidak mungkin.... Renata... Ali... dan dirinya... tidak mungkin! "Jangan membuat drama yang menjijikan seperti ini!" Desisnya tajam. Renata berusaha berdiri tegap meski kepalanya terasa pening. Benturan mengenai pelipisnya terasa nyeri dan satu tangannya menekan kuat pelipisnya yang berdarah dengan harapan dapat menghentikan darah yang keluar. Sembari meringis, Renata mencoba melangkah mendekati Prilly yang semakin menjauhinya. Jangan lupakan tatapan tajam penuh kebencian yang perempuan itu berikan padanya. Kepalanya semakin pening, penglihatannya memburam, dan dia merasa tempat yang dia pijaki saat ini berputar dengan dahsyatnya hingga tidak lama setelah itu kegelapan menutup akses penglihatan. Dia jatuh terkapar dengan darah yang mengalir dari pelipisnya, kedua matanya terpejam rapat sebelum pada akhirnya indera pendengarannya menangkap suara yang meneriaki namanya. Setelah itu... semua gelap, tak terlihat. Kesadarannya hilang dan dia tidak tahu lagi apa yang terjadi setelah ini. ... PLAK "b******k kamu, jalang!" Duk Prilly meringis saat Ali tiba-tiba mendorong tubuhnya hingga membentur dinding. Sakitnya bukan main-main, sampai-sampai dia merasakan perutnya seperti ditusuk oleh benda tajam dan punggungnya terasa remuk. Dorongan Ali tidak main-main. Di detik selanjutnya, tubuhnya merosot dengan satu tangan menekan kuat pinggangnya saat merasakan nyeri luar biasa di perutnya. Tes Ini gila! Ini kedua kalinya Ali mendorong tubuhnya hingga membentur dinding dan dia tidak selemah saat ini sampai-sampai meneteskan air mata. Sial. Saat dia hendak menghapus air matanya, tiba-tiba kedua pipinya dicengkeram begitu kuatnya hingga bibirnya maju ke depan. Rahangnya sakit karena cengkeraman Ali tidak main-main. Kasar dan menyakitkan. "Dua kali. Dua kali kamu menyakiti wanita yang aku cinta. Dua kali kamu telah membuatnya terbaring tidak berdaya di rumah sakit. Kalau kamu ingin membalas dendam, jangan padanya. Balas dendamlah padaku! Dia...dia sudah hancur. Dan kehancurannya itu karena dirimu, sialan!" Prilly memejamkan matanya mendengar teriakan Ali tepat di depan wajahnya. Wajah Ali memerah dan rahangnya mengeras dengan urat-urat yang timbul di bagian lehernya. Kedua tangannya terkepal. Tubuhnya gemetar mendapat teriakan Ali dengan emosi yang menggebu-gebu -tidak semenggebu-gebu sebelumnya. Emosi Ali saat ini benar-benar seperti berada di level teratas dan itu membuatnya takut hingga tidak bisa menahan air matanya untuk terus menetes. Dia menangis dengan hati yang remuk redam. Hatinya remuk karena perkataan Ali. Ali tetaplah Ali yang selalu menyalahkannya tentang kejadian lima tahun yang lalu. Tentang Renata dan calon bayinya. "Jangan menangis, bodoh! Dengan kamu menangis sama sekali tidak bisa membuat Renata ku sadar dan kembali baik-baik saja. Sebenarnya...apa mau kamu? Kenapa kamu selalu membuat Renata kehilangan kebahagiaannya? Apa maumu, bodoh?!" Teriak Ali yang kini mengguncang kasar tubuhnya dengan raut marah, frustasi, dan... mata yang berkaca-kaca. Catat, mata yang berkaca-kaca! Sesayang dan secinta itu Ali pada Renata hingga menangisinya meski perempuan itu hanya terbentur meja, bukan kecelakaan maut yang nyaris merenggut nyawanya. "Aku bisa jelaskan." Setelah sekian lama Prilly diam, pada akhirnya dia membuka suara tepat setelah Ali menjauh darinya. Dia menatap Ali yang berdiri menjulang di hadapannya dengan tatapan yang sangat kacau. Dia tercubit melihat itu. Renata segalanya bagi Ali hingga berhasil membuat lelaki yang menjadi mantan suaminya itu berantakan seperti saat ini. Oh... Renata perempuan yang sangat beruntung! "Aku tidak akan mendorongnya jika saja Renata tidak mengatakan sesuatu yang menurutku tidak masuk akal."  "Tidak masuk akal? Renata mengatakan sesuatu tidak masuk akal seperti apa sampai-sampai kamu mendorongnya, hah?! Justru yang tidak masuk akal itu ucapanmu, bodoh!" Ali mencengkeram kedua bahu Prilly dan menatap Prilly begitu tajam. Prilly memejamkan matanya, menimalisir sesak di dadanya melihat Ali yang sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasannya. Ali berpegang teguh pada apa yang dilihatnya, tanpa mau tahu kenyataannya. Tubuhnya benar-benar sakit. Sayangnya, hatinya jauh lebih sakit mendapat perlakuan kasar Ali. Saat ini dia dan Ali berada di kamar milik Ali dan Renata. Beberapa jam yang lalu Ali membawa Renata ke rumah sakit karena tiba-tiba Renata tidak sadarkan diri. Ali memaksanya untuk ikut ke rumah sakit karena dia yang telah membuat Renata pingsan. Putranya? Ah, tiba-tiba saja dadanya semakin sesak. Putranya saat ini berada di rumah sakit bersama pembantu Ali. Dia tidak sempat melihat keadaan putranya setelah melihat Ali yang membentaknya di rumah sakit. Yang jelas, dia mendengar teriakan putranya saat Ali menyeretnya ke parkiran rumah sakit dan membawanya kesini. Terkutuklah dia yang tidak becus menjadi seorang ibu. Pasti putranya saat ini bingung dan sedih melihat papanya yang tiba-tiba membentak mamanya. Apalagi pada saat itu tatapan Ali benar-benar menakutkan. "Air mata buaya!" Prilly mendongak dan menghapus kasar air matanya. Hatinya sakit mendengar nada cemooh yang terucap dari mulut Ali. Dia sadar posisinya saat ini. Dia hanya seorang wanita beruntung yang tanpa sengaja didekati oleh lelaki mapan seperti Ali. Dia dan Ali bersatu bukan karena dijodohkan. Yang jelas, Ali tiba-tiba datang dan mendekatinya. Satu bulan kenal dan dekat satu sama lain hingga Ali datang menemui papanya untuk mempersuntingnya. Entah siapa disini yang benar dan salah. Yang jelas, dia menyesal karena dengan mudahnya mau-mau saja dinikahi Ali. Tapi, disaat dia menyesali apa yang terjadi, dia justru bersyukur karena memiliki seorang malaikat penyemangat hidupnya, Raihan. Dia sangat menyayangi putranya, tidak tahu bagaimana Ali. Dia merasa, Ali mempermainkannya. Menikahinya dan pada akhirnya menusuknya dari belakang. Membawa selingkuhannya yang merupakan Renata ke rumah yang mereka tinggali dan dengan mudahnya mengatakan jika Renata tengah hamil dan usia kandungan Renata sama seperti usia kandungannya. Dia terpukul. Mimpi indahnya direnggut paksa dan dengan derai air mata dia mendapat sebuah kenyataan jika Ali akan menceraikannya setelah dia melahirkan Raihan. Dia menolak tegas keinginan Ali pada saat itu karena dia memikirkan anaknya, Raihan baru lahir dan dia menginginkan anaknya merasakan kasih sayang seorang papa dalam hidupnya. Dengan nada memohon, dia meminta Ali menunda perceraian itu. Ali menyetujui itu. Ali memberi jangka waktu sampai usia Raihan menginjak empat tahun. Semuanya berjalan sesuai rencana. Dan sekarang, dia menepati janji itu. Dia dan Ali resmi bercerai. Tepat Raihan menginjak usia empat tahun. Dimana pada saat itu seharusnya dia dan Ali menyiapkan pesta ulang tahun untuk Raihan, justru menghabiskan waktu di pengadilan. Dan itu, pertama kalinya ulang tahun Raihan tidak dirayakan.  Tapi...dia melupakan sesuatu jika Ali sangat membencinya. Membencinya atas kesalahan yang tidak dia lakukan. Sebuah kesalahpahaman yang membuat hidupnya semakin sengsara. Dia dan Ali resmi bercerai, tetapi Ali selalu melecehkannya. Memaksanya berhubungan intim. Dia menolak, sama saja membuat hidup anaknya sengsara. Dia pasrah karena dia memikirkan kebahagiaan anaknya. Miris. "Aku tidak akan tinggal diam kalau keadaan Renata semakin buruk." Nafas Prilly tercekat saat tangan Ali berada di lehernya. Kedua tangannya menahan tangan Ali yang tiba-tiba mencekiknya membuatnya susah bernafas. Wajahnya memerah dan air matanya tumpah ruah. Dia tidak mau meninggal di tangan Ali. Tidak akan! Dia masih memiliki Raihan dan dia tidak mau Raihan hidup bersama Ali.  Tidak akan! "Le... lepas! Kau... menyakitiku!" Ali tersenyum sinis. "Lalu, apa kabar dengan Renata, istriku? Dia kehilangan kebahagiaannya karena dirimu. Dia terkulai lemah tak berdaya karena dirimu! Dia terluka karena dirimu! Kamu... membuatnya hancur dan tidak memiliki semangat hidup! Istriku tersiksa, bodoh!" Teriakan Ali yang menggelegar membuatnya terkejut. Tapi, tubuhnya perlahan melemah. Kedua tangannya yang menahan tangan Ali lunglai. Perlahan, tatapannya menggelap, kesadarannya terkikis hingga tubuhnya merosot dan jatuh ke pelukan Ali. Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, dia sempat mendengar teriakan Ali yang membuat air matanya menetes di ujung matanya. "KAMU HANYA WANITA SIALAN YANG AKAN AKU HANCURKAN, BODOH!" Setelahnya, semuanya menggelap. Dia tidak sadarkan diri dengan hati yang hancur berkeping-keping. Kepada Ali, selamat, Ali telah berhasil membuat dunianya yang hancur, semakin hancur dan tidak tahu caranya memperbaiki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD