| Ex Husband • 02 |

1034 Words
"Apa yang kamu mau? Kenapa kamu berusaha keras untuk membuatku hancur? Kita sudah bercerai, Li! Sudah tidak ada ikatan berarti antara kita." Prilly jatuh tersungkur dengan derai air mata. Dia sudah tidak bisa menahan kekesalannya. Ali benar-benar kurang ajar! Memperlakukannya seperti seorang jalang yang haus akan belaian. Ali mendekati Prilly dan membungkuk di hadapan mantan istrinya dengan tatapan datar. "Aku.mau.kamu!" Jawabnya penuh penekanan di setiap kalimatnya. Prilly menggeleng. "Kita sudah bercerai, Li. Sesuai yang kamu inginkan. Aku pergi dari kehidupan kamu dan membawa Raihan." Ali tersenyum sinis. "Bercerai bukan berarti aku tidak bisa menyentuh dan mencicipi tiap inci dari tubuhmu, baby." Tangis Prilly pecah saat tangan besar Ali mengusap pipinya dengan gerakan sensual. "Kamu jahat!" Desis Prilly, menepis kasar tangan Ali yang berada di pipinya. Mendapat perlawanan dari Prilly, Ali pura-pura memasang wajah terkejut sebelum pada akhirnya rahangnya mengeras. Kedua tangannya meremas bahu Prilly dan menatap Prilly tajam. "Kamu lupa, kamu itu sudah tidak ada artinya! Seharusnya kamu berterimakasih ke aku karena telah sudi menghamburkan uang untuk kelangsungan hidupmu dan Raihan! Sadar diri!" Ali mendorong tubuh Prilly hingga punggungnya membentur dinding yang mengundang pekikan kesakitan dari Prilly. Berdiri dari posisi membungkuk, Ali bersedekap d**a menatap Prilly angkuh. "Jangan coba-coba berontak, atau aku akan membuat kamu dan Raihan luntang-lantung di jalanan." Melupakan nyeri akibat benturan yang dilakukan Ali, Prilly menggeleng disela isak tangisnya. Ali dan ancamannya, sukses membuatnya tidak berkutik. Kelemahannya adalah Raihan, putranya. Dan Ali menjadikan Raihan umpan untuk menghancurkannya. Dia ingin hidup bebas, tapi Ali dan kekuasaan yang dimilikinya tidak mampu dia lawan. Dia hanya hidup dibawah kuasa Ali dan dikendalikan oleh sebuah ancaman. Andai saja dahulu dia.... Argh! Mengingat kebodohannya jelas-jelas tidak mendapatkan hasil yang baik karena hati Ali telah keras dan sulit untuk dia gapai. Ahh... seharusnya dia sadar diri. "Kamu telah memiliki segalanya, kenapa... kenapa kamu masih bersikeras menghancurkan ku? Aku sudah hancur melebihi dia, Li." Dengan nada suara yang nyaris tidak terdengar, Prilly mencoba meyakinkan Ali meski itu tentu saja sia-sia karena Ali dari awal tidak mempercayainya. Percuma! Ali menatap Prilly lama. Tatapannya tajam dan tersimpan ribuan rahasia di dalamnya. Melihat Prilly yang berantakan dan terlihat... hancur, membuatnya merasakan bahagia dan... sakit hati?! Tidak! Ini tidak benar! Sudah seharusnya dia bahagia melihat mantan istrinya itu menderita. Ya, seharusnya begitu. "Kamu pikir aku peduli? Apa yang aku lakukan padamu belum setimpal dengan apa yang kamu lakukan ke Renata!" Teriak Ali dengan emosi yang menggebu-gebu. Ali mencengkeram kedua bahu Prilly dan menariknya hingga membuat Prilly berdiri lemah di hadapannya dengan derai air mata. Tatapan matanya menggelap melihat bibir bergetar Prilly dan dalam hitungan detik dia menghempas tubuh lemah Prilly ke atas kasur dan menindihnya dengan nafas memburu. "Gara-gara kamu, Renata selalu murung! Tidak ada lagi binar bahagia di matanya. Kamu b******k! w************n!" Prilly terisak dan mencoba berontak. Tubuhnya berada di bawah Ali. Dia mencoba mendorong kuat-kuat d**a bidang Ali, namun sayangnya tenaganya tidak sebanding dengan Ali. Akhirnya yang dia lakukan hanya menangis dengan cicitan minta dilepaskan. Demi apapun, detik ini dia rasanya ingin menghilang dan tidak dipertemukan dengan lelaki seperti Ali. "Gara-gara kamu, Renata tidak bisa... argh!" SREK "Ali... jangan... aku mohon." "Persetan Prilly!" "Jangannn...... Ali!" Jerit Prilly dengan segala upaya agar terlepas dari Ali. Percuma, Ali telah merobek dress yang dikenakannya hingga membuat dress yang dikenakannya tidak layak pakai. Prilly memiringkan kepalanya ke samping, menghindari ciuman kasar Ali di bibirnya. Tangisnya semakin deras saat Ali menggeram karena ciuman yang akan Ali arahkan ke bibirnya mengenai pipinya. Dengan wajah yang memerah, Ali mencengkeram pipinya dan tanpa mengulur waktu, Ali melumat kasar bibirnya. Dia berontak dan percuma! Karena pada akhirnya dia pasrah. Pasrah disaat Ali menikmati tiap inci tubuhnya. Menyemburkan cairannya di inti tubuhnya dan melakukannya dengan kasar tanpa jeda dan tanpa kelembutan. ... Hari beranjak siang. Prilly mengerjap dan perlahan membuka matanya lebar-lebar. Melirik ke arah jam dinding, kontan dia langsung duduk tegap. Pukul sebelas dan dia lupa tidak menjemput Raihan yang menempuh pendidikan di taman kanak-kanak. Seharusnya Raihan pulang jam sembilan. Gawat! Pasti putranya itu akan menunggu dirinya datang menjemputnya. Dengan perasaan was-was dan takut anaknya kenapa-kenapa, Prilly mengambil gerakan turun dari tempat tidur. Namun, gerakannya seketika terhenti saat tangan kekar melingkari perutnya, begitu kuat sehingga membuatnya susah turun dari tempat tidur. Dia melupakan sesuatu. Tadi... dia dan Ali... Kepalanya menoleh ke samping tempat tidur dimana sosok tampan terlelap dengan damainya. Ketampanannya semakin bertambah dua kali lipat, seolah tidak memiliki keburukan satu pun. Susah payah Prilly meneguk salivanya. Tatapannya beralih ke d**a bidang Ali dan seluruh tubuh Ali yang bertelanjang bulat. Selimut tebal hanya menutupi sampai sebatas perutnya dan...dia malas mengakui jika Ali terlihat lebih seksi. Sial! Beberapa detik kemudian, tatapannya yang lembut perlahan berubah muram dan tersimpan banyak kesedihan di dalamnya. Sudah dua hari Ali berada di apartemennya dan selama dua hari itu juga Ali menyiksanya. Memperlakukannya layaknya wanita pemuas nafsu dengan bayaran tinggi. Tatapannya memburam. Matanya berkaca-kaca saat lagi dan lagi rasa nyeri di dadanya kembali terasa. Dia meneliti tubuhnya sendiri yang juga bertelanjang bulat. Banyak bercak memenuhi seluruh tubuhnya. Ada juga lebam kebiruan di lengannya, bekas pukulan Ali. "Kekasihku tengah mengandung. Usianya sama seperti kandunganmu." "Kekasih?" Dia menatap suaminya tidak percaya. Ini benar-benar mengejutkan. Suaminya... diam-diam selingkuh di belakangnya dan jujur padanya setelah kekasihnya mengandung! "Aku mencintainya. Sangat. Dia kekasihku, sebelum kamu resmi menjadi istriku." "Ali...." Dia tidak berkata apa-apa. Dia terkejut. "Aku mencintainya. Dan kamu harus tahu alasan aku menikahimu dan terpaksa berpisah dengan kekasihku." Ucapan dengan nada datar sukses membuat air matanya tumpah ruah mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan ini. Nghhh... Prilly tersentak merasakan pergerakan di sebelahnya. Saat dia menoleh, tatapannya bertemu dengan tatapan tajam Ali sehabis bangun tidur setelah menghabiskan beberapa jam yang panas di atas ranjang bersamanya. Dia menatap Ali takut saat mata dengan iris hitam tajam itu menatapnya intens. Dia salah tingkah, menyadari dirinya bertelanjang bulat dengan bercak merah di sekujur tubuhnya. Wajahnya memanas saat Ali mendekat ke wajahnya dan mengambil kecupan di bibirnya. Ali melumat kasar bibirnya membuatnya susah bernafas. Saat tangannya hendak mendorong d**a Ali, Ali lebih dulu menghentikan ciumannya dan menatapnya datar. "Raihan bersama Renata di rumahku." Ujar Ali kemudian sebelum pada akhirnya bergegas turun dari tempat tidur dan mengenakan pakaiannya kembali. Dia tertegun. Putranya... bersama Renata! Matanya berkaca-kaca. Bersama Renata? Renata... kekasih Ali yang sekarang resmi menjadi istri Ali, penggantinya! Demi tuhan! Apakah Ali memiliki rencana memisahkan dirinya dengan Raihan? Kalau iya, demi apapun dia tidak akan terima jika putranya hidup bersama Ali dan Renata. Hidupnya telah hancur. Dia tidak mau hidupnya yang hancur semakin hancur karena melepaskan putranya hidup bersama Ali dan.... istrinya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD