Tiga hari yang lalu...
Prilly mendekap tubuh anaknya yang baru saja menginjak usia 4 tahun. Hari ini merupakan hari yang sangat dan paling tidak dia tunggu-tunggu. Dimana tubuhnya yang ramping memangku anaknya dan berhadapan dengan hakim yang baru beberapa menit lalu mengetuk palu, yang pertanda semua urusan telah selesai.
Air matanya mengalir dengan derasnya sambil mendekap erat tubuh anaknya yang juga menangis dengan tangan meraba ke udara serta tatapan mengarah pada sesosok yang selama ini disebut 'papa' oleh anaknya.
"Pa!" Pekik anaknya yang meronta minta turun dari pangkuannya, ingin digendong oleh lelaki yang kini resmi menjadi 'mantan' suaminya tepat saat palu diketuk oleh hakim.
"Raihan, jangan nangis. Nanti mama belikan Raihan permen s**u yang banyak," bujuknya dengan tegar meski hatinya hancur dan tak sanggup menghadapi kenyataan pahit yang menimpanya.
"Ma... Papa...," racau Raihan membuat Prilly mengusap kasar air matanya. Tidak! Seharusnya dia tidak boleh menangis seperti ini. Dengan menangis, tentu saja dia dianggap lemah oleh lelaki yang telah menceraikannya itu.
Tatapannya mengarah pada lelaki yang sama sekali tidak menoleh padanya dan juga anaknya yang menangis menyerukan lelaki yang resmi menjadi 'mantan' suaminya itu. Dadanya semakin sesak melihat kenyataan jika lelaki yang selama ini disebut 'papa' oleh Raihan mengabaikan tangisan Raihan yang mengiris hatinya ini.
Susah payah dia menenangkan Raihan dari tangisnya. Sulit memang, tapi dengan penuh kasih sayang dia membawa Raihan keluar dari pengadilan. Setidaknya mulai dari sekarang dia harus membiasakan Raihan hidup tanpa papanya. Ya, memang seharusnya seperti itu karena sudah tidak ada hubungan apa pun antara dirinya dan mantan suaminya itu. Terlebih, hak asuh Raihan jatuh padanya dan lelaki yang menjadi mantan suaminya itu pun tidak memiliki niatan memperjuangkan Raihan. Darah dagingnya sendiri...
...
Perempuan bersurai panjang yang kini resmi menyandang status janda diusianya yang baru menginjak dua puluh satu tahun tersebut tengah termenung di meja makan. Tatapannya kosong dan kedua matanya bengkak. Dadanya bergemuruh hebat, merasakan sesak yang amat terasa menyakitkan.
Wajahnya pucat bagaikan mayat hidup. Penampilannya tak terurus dengan daster rumahan berwarna biru muda yang panjangnya sebatas lutut dan berlengan pendek.
Sudah tidak ada lagi yang harus dia jaga selain putranya, Raihan. Raihan Aditama Wicaksono. Darah dagingnya, buah cintanya bersama... mantan suaminya, Ali Aditama Wicaksono.
Air matanya kembali jatuh saat pikirannya jatuh kepada sosok yang begitu dia puja dan begitu berarti dalam hidupnya. Itu semua dulu, sebelum ada kata cerai antara dirinya dan dia, Ali.
Kedua tangannya menarik rambutnya dengan perasaan hancur. Semua... semua yang ada dalam dirinya sudah tidak ada harganya! Semuanya... semuanya, tidak ada yang tersisa. Hati dan jiwanya telah hancur dan tidak tahu caranya memperbaiki.
Harapan yang telah dia tanam kini hilang tak tersisa. Kebahagiaan yang dia harap akan terus terjadi rupanya hanya sebuah angin lalu.
Kenapa... kenapa dia harus hidup di dunia jika hanya untuk disakiti dan tidak dihargai sebagai perempuan?!
Dia, seenaknya membuangnya dan seenaknya melukai harga dirinya.
"Mama."
Prilly menjauhkan kedua tangannya yang menarik rambutnya dan menghapus air matanya. Dia berdiri dari duduknya dan menghadap ke arah putranya yang berada di gendongan papanya.
"Raihan sudah bangun?" Tanyanya dengan senyum manis.
Raihan mengangguk dan mengulur kedua tangannya ke arahnya, minta digendong. Tanpa membuang waktu, dia membawa Raihan ke gendongannya. Tatapannya hanya mengarah ke arah Raihan, dia sama sekali tidak memberikan kesempatan retinanya menatap ke arah sosok lelaki yang sedari tadi menggendong Raihan. Tidak akan!
Kejadian semalam... Argh! Dia menganggap yang terjadi semalam hanya sebuah mimpi. Yah, mimpi. Maka dari itu dia menganggap tidak ada sosoknya disini.
"Mama kenapa tarik rambut mama sendiri?" tanya Raihan dengan polosnya membuatnya tercenung.
Bodoh! Seharusnya Raihan tidak melihat kefrustrasian dan kehancurannya. Tidak! Dia tidak ingin mendengar pertanyaan Raihan selanjutnya yang menuntut jawaban jujur darinya. Apalagi, di depannya sosok yang ingin dia hindari menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kepala mama gatal. Digaruk gak mempan, jadi mama tarik aja rambutnya," jawabnya yang kedengaran konyol dan tidak masuk akal.
Tapi beruntungnya Raihan masih belia sehingga mudah percaya dengan apa yang dikatakannya, sekalipun ucapannya tidak benar.
"Mata mama merah. Mama nangis?"
Deg
Lagi. Prilly tercenung. Apalagi saat jemari mungil milik Raihan mengusap pipinya yang terdapat bekas air mata.
Sial! Padahal dia sudah menghapus air matanya. Tapi indra penglihatan Raihan sangat jeli, seperti papanya.
Menatap Raihan dengan tatapan lembut, Prilly tersenyum. "Mama kurang tidur. Raihan mau makan atau mau mandi dulu?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan yang sama sekali membuatnya terjerat dalam tatapan tajam milik lelaki yang memiliki paras seperti Raihan, putranya.
Dia menurunkan Raihan dari gendongannya sesuai apa yang diminta putranya. Dia melihat Raihan menggenggam tangan papanya.
"Ayo pa, kita makan," ajak Raihan menarik tangan papanya mendekati meja makan.
Prilly berdiri di tempatnya dengan tatapan menyorot sosok ayah dan anak yang kini duduk anteng di kursi. Pikirannya menjadi bercabang. Dia ingin menjauhi lelaki yang berstatus sebagai mantan suaminya itu. Tapi, melihat betapa dekatnya putranya dan ayahnya itu membuat sesuatu dalam dirinya tercubit. Andai semuanya berjalan sesuai yang dia inginkan, mungkin keadaannya tidak semenyakitkan ini.
"Sampai kapan kamu berdiri dan melamun disitu? Putraku sudah sangat lapar dan kamu sama sekali belum memasak makanan untuk kami," suara berat Ali membuatnya terperanjat. Dia menatap lelaki yang mengenakan kaos putih polos tersebut dengan tatapan tidak suka. Lalu tatapannya mengarah pada anak kecil yang kepalanya diusap oleh lelaki yang saat ini begitu dia benci.
Dia tersenyum getir melihat adegan anak dan ayah di depannya ini. Ali yang menatap Raihan penuh sayang dan Raihan yang nyaman berdekatan dengan papanya.
"Kalau kamu tidak mau masak, biar kami makan di luar saja. Aku tidak mau anakku kenapa-kenapa karena tidak mendapat asupan di pagi hari."
Kontan Prilly menahan lengan Ali dan menatap memohon. "Jangan. Aku akan memasak," ujarnya yang langsung menjauhkan tangannya dari lengan Ali setelah sadar apa yang dia lakukan baru saja.
Ali tersenyum miring. Dia kembali duduk dengan membawa putranya duduk di pangkuannya. Dia menatap kepergian Prilly dengan tatapan misterius.
"Papa. Papa selamanya tidur di sini kan? Sama Raihan dan mama."
"Pasti. Papa akan tidur di sini bersama Raihan dan... mama."
Prilly yang sedang memotong sayuran kontan menghentikan kegiatannya dan membalikkan badannya ke meja makan.
Saat tubuhnya menghadap meja makan, saat itu juga dia mendapat tatapan tajam dan senyum sinis penuh makna dari Ali.
"Yeee... Raihan sama mama tidak kesepian lagi."
Raihan terlihat bahagia mendengar perkataan Ali dan itu membuatnya merasakan sesak yang menyakitkan. Dia sadar jika selama ini Raihan begitu butuh sosok papa di sampingnya. Peran seorang papa begitu berarti bagi pertumbuhan Raihan. Melihat binar bahagia dan celotehan Raihan panjang lebar membuatnya diliputi rasa bersalah. Bersalah karena telah membiarkan Raihan turut merasakan kesepian dan kehilangan sosok ayah dalam hidupnya.
"Kalau Raihan kesepian, papa akan memberikan seorang adik kepada Raihan supaya Raihan memiliki teman bermain disaat mama dan papa kelelahan karena berolahraga malam."
Ali menatap Prilly dan tersenyum tipis. Tatapannya misterius seolah menyampaikan maksud terselubung melalui tatapan yang dia berikan pada Prilly.
"Adik? Bagaimana bisa?" pertanyaan polos Raihan mengembangkan senyum Ali.
"Hanya Mama dan papa yang tahu caranya," jawab Ali misterius membuat pisau yang Prilly genggam jatuh ke lantai dan mengenai ujung kakinya membuat ujung kakinya berdarah.
Prang
"Apa yang kamu lakukan, bodoh?!"
Prilly terkejut mendengar teriakan keras Ali. Dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menunduk menatap ujung kakinya yang berdarah.
Saat dia hendak membungkuk untuk mengusap darah yang keluar dari ujung kakinya, tiba-tiba saja dia merasakan tangan kekar menahan pergerakannya. Dan detik berikutnya dia merasakan tubuhnya melayang.
"A... Ali," desisnya nyaris tak terdengar karena terlalu terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Ali menatapnya tajam.
"Hanya aku yang boleh melukaimu, bukan yang lain! Termasuk pisau sialan itu!" Desis Ali tajam yang membuat tubuhnya melemas dan air matanya menetes begitu saja tanpa komando.
Benar. Hanya Ali yang berhak melukainya. Dan dia hidup di dunia hanya untuk merasakan kesakitan.