Awan mendung tak menyurutkan langkah kaki gontai itu untuk terus melangkah mendekati gundukan tanah yang diatasnya ditumbuhi rerumputan liar. Angin yang berhembus kencang menerbangkan dedaunan kering yang berjatuhan. Sunyi menyapa dan suara hembusan angin menjadi pengiring suasana yang sepi. Disinilah Ali berada, di tempat peristirahatan Papanya. Matanya berkaca-kaca menatap batu nisan yang bertuliskan nama sang Papa. Menekuk kedua lututnya, dia menggerakkan tangannya untuk mengusap batu nisan itu. Bibirnya bergetar seiring isak tangis yang terdengar mengisi kesunyian. Bayang-bayang kebersamaannya bersama sang Papa tersimpan apik di ingatan. Semua ucapan Papanya yang selalu dia turuti serta kalimat terakhir papanya sebelum berpulang pada sang pencipta. Yang dia sesali, dia tak dapat menu

