"Bu haji, tolong cariin calon istri dong untuk anak laki-laki terakhirku." Ucap bu Kar sebelum menjadi mertuaku kepada teman bude yang dituakan di daerahku ini.
" Yang seperti apa mau nya bu Kar?" Tanya bude.
"Yang sholehah, pakai gamis dan jilbab besar bu"jawab bu Kar.
" Oooo, ada bu. Ponakan saya. Nanti saya kabari dia ya. Namanya Ivon." Ucap bude riang.
"Oh, pas lah bu haji. Kalau dari keluarga bu haji saya yakin pasti anaknya baik." Ucap bu Kar bahagia.
Kenalkan aku Ivon. Anak ke dua dari tiga bersaudara. Umurku sudah 32 tahun tapi belum menikah.
Saat bu Kar bertemu dengan bude ku. Bude langsung kepikiran untuk menjadikan anak bu Kar menjadi calon suamiku. Nama anak bu Kar ini adalah Beri.
Saat nya keluarga bu Kar datang ke rumah orangtuaku untuk berkenalan denganku. Saat aku melihat Beri. Aku melihat dia seorang pria yang alim. Pendiam dan alhamdulillah ganteng. Di tambah bonus dengan pekerjaan yang mapan. Dengan gaji belasan juta setiap bulannya. Itu yang aku dengar dari pembicaraan bu Kar mempromosikan anak laki-laki nya.
"Bagaimana Von, apakah kamu setuju jika menjadikan Beri suamimu?" tanya ayah dan ibuku setelah kepulangan keluarga Beri.
Karena memang sudah beberapa laki-laki yang aku tolak karena tidak sesuai dengan kriteria ku.
Tapi entah kenapa melihat Beri tadi aku merasa. Dia lah jodohku. Maka aku menjawab "Bismillah, iya ayah. Aku mau Beri jadi suamiku."
" Alhamdulillah, akhirnya naaak. Senangnya hati ibu!" teriak ibuku senang sambil memeluk dan mencium keningku.
"Besok kita undang lagi keluarga bu Kar untuk makan malam bersama disini ya bu?" tanya ayahku meminta persetujuan ibu.
"Iya ayah, ibu setuju saja." Jawab ibuku.
Keesokan harinya ayah menelpon bu Kar tentang rencana untuk mengundang keluarganya makan malam bersama.
"Bapak dan ibu Ivon, sekalian saja malam ini saya mewakili keluarga besar Beri melamar Ivon untuk menjadi menantu kami." Ucap pakde Beri yang mewakili keluarga Beri. Karena ternyata ayah Beri sudah meninggal.
"Baik pak, bu. Alhamdulillah anak kami Ivon bersedia untuk menjadi istri Beri." Jawab ayahku
" Alhamdulillah......" Ucap keluarga Beri bersamaan.
"Jadi kapan kita adakan acara pernikahan anak-anak kita ini?" Antusias bu Kar bertanya.
Dan akhirnya disepakatilah hari pernikahanku dan Beri.
Saat acara pesta pernikahanku berlangsung aku melihat wajah bu Kar yang sudah menjadi mertuaku itu cemberut saja. Aku pikir mungkin bu Kar kecapekan.
Beberapa hari setelah pernikahanku. Aku dan Beri memutuskan tinggal di rumah yang sudah diberikan ayah untukku.
Dan saat kami pergi mengunjungi bu Kar. Aku melihat wajah bu Kar seperti tidak senang dengan kedatanganku.
Dan saat aku tidur di pangkuan Beri saat menonton televisi. Mertuaku lewat dan melihat kami. Spontan saja mertuaku itu menghentakkan kakinya dan berlalu masuk ke kamarnya. Tanpa ku duga. Suamiku langsung berdiri berlari mengejar bu Kar dan meninggalkan aku yang terkejut dengan perlakuannya. Kenapa bang Beri tiba-tiba berlari meninggalkanku yang masih berpangku di paha bang Beri?
Salahkah tingkahku sehingga mertuaku berbuat seperti itu? Kalau salah dimana letak salahnya? Bukankah biasa saja suami istri begitu? Kenapa mertuaku seperti nya marah dan ngambek?
Terlalu banyak tanya di kepalaku melihat sikap ibu mertua dan suamiku.
Next