Aturan dari ibu mertua yang lagi - lagi harus di patuhi suamiku. Dan aku hanya bisa diam patuh dengan semua aturan ibunya tanpa aku harus tahu harus bagaimana.
Semenjak kejadian aku menjemput suamiku ke rumah ibunya aku memang tidak pernah lagi untuk datang ke sana. Demi menghindari keributan. Aku juga tidak mau sampai ibu mertuaku kemudian membicarakan kepada budeku. Tapi aku selalu berdoa demi kebaikan suamiku. Semoga dibukakan Allah lah pintu hati mertuaku untukku.
Beberapa hari ini suamiku sering di rumah. Jarang ke rumah ibunya.
Setiap hari juga aku memperhatikan tingkah laku suamiku ini di rumah. Banyak keanehan pada dirinya.
Semakin lama suamiku semakin aneh. Aduan dari para tetangga lama kelamaan pun mengusik ku. Aku jadi penasaran apa betul yang dikatakan mereka. Maka aku mencoba mengintai suamiku saat akan pergi kerja. Dan benar saja, saat dia keluar beberapa meter dari rumah kemudian dia memutar motornya untuk balik arah pulang. Aku pikir ada yang ketinggalan dan kemudian dia balik arah lagi akan pergi tapi baru beberapa meter. Dia memutar motornya lagi ke arah pulang. Lalu dia balik lagi begitu terus sampai tiga atau empat kali bolak balik baru dia lurus pergi ke tempat kerjanya. Aku heran dan terkejut dengan ulah suamiku ini. Entah apa yang terjadi pada dirinya. Kenapa dia bisa seperti itu. Banyak tanya di pikiranku. Selain ibunya yang aneh. Sekarang suamiku juga ikutan aneh.
Pernah suatu hari tiba - tiba dia mengaum seperti harimau. Pernah juga saat dia akan tidur membuat gerakan seperti mencakar - cakar kasur. Aku semakin heran dan semakin bingung apa yang terjadi pada suamiku.
Malam itu aku membaca Al Quran seperti biasanya. Saat sedang khusyuknya aku membaca Al Quran. Tiba - tiba aku mendengar ada benda jatuh di atas atap rumahku. Padahal tidak ada pohon di samping rumahku jika ada buah yang jatuh. Jadi itu adalah sesuatu yang seperti di lempar ke atas atap. Setelah benda itu jatuh tiba - tiba saja aku mendengar auman dari kamarku. Gegas aku melihat kedalam. Ternyata suami ku didalam seperti macan. Yang berjalan mondar mandir dan mengangguk anggukkan kepalanya. Cepat - cepat aku mendekat padanya. Dan saat dia menatapku. Aku melihat matanya merah menyala. Dia hanya terdiam melihat ku. Aku membaca ayat - ayat yang aku ketahui kalau itu adalah ayat ruqyah. Aku bacakan terus sampai suamiku tenang dan diam.
Dan kemudian suami sadar dan lemas. Lalu dia memintaku untuk mengambilkan air minum. Setelah dia minum dia ke kasur untuk tidur.
"Ya Allah... ada apa dengan suamiku ini?". Tak habis pikir aku dengan ulah dan tingkahnya yang semakin hari semakin berubah.
Suami dan ibu mertuaku rajin ke mesjid. Setiap shalat lima waktu mereka pasti ke mesjid. Dan setiap aku ke mesjid. Aku selalu mendatangi mertuaku. Dan aku mencium punggung tangannya. Tapi kali ini berbeda. Dia menarik tangannya cepat dengan wajah yang cemberut.
Setiap ke mesjid aku selalu pergi dan pulang bareng dengan suamiku.
Suatu hari suamiku berkata.
"Besok pergi dan pulang mesjid jangan bareng aku lagi. Aku mau sama ibu. Ibu menyuruhku"
"Oh ya sudah kalau begitu bang, biar Ivon pakai motor sendiri" jawabku. Karena aku juga punya motor pemberian ayahku.
"Von.... kamu lagi ada masalah sama suamimu?" tanya budeku siang itu.
"Gak bude, ada apa tho?"
"Itu, tadi bude lihat suamimu selesai shalat jamaah dia langsung keluar tanpa berdoa seperti biasanya. Dan tiduran di teras mesjid." jawab budeku.
"Ooh, mungkin karena udaranya dingin di sana bude, makanya abang, suka tiduran di sana." aku berprasangka baik.
"Hmm...bisa jadi juga ya von. Tapi yang anehnya. Bude sering lihat mertuamu mengintai intai suamimu Von, dan pas ketemu sama Beri. Dia seperti marah - marah gitu sama Beri. Bude gak dengar karena bude di dalam dan mereka diluar. " terang budeku.
"Begitu ya bude. Nantilah Von tanya sama abang. Ada apa dengan dia dan ibunya. Terima kasih ya bude."
Ya Allah... apalagi ini. Sepertinya rumahtangga yang ingin ku jalankan dan ku idamkan tidak berjalan mulus dari aku pertama menikah sampai sudah setahun menikah. Semakin lama malah semakin kacau saja sepertinya.
"Ivon, ada apa dengan rumahtangga mu, ini kenapa ayah dapat telpon dari kantor Beri, kalau dia sudah kena surat peringatan. Karena kerjanya sekarang tidak becus? Kalau memang rumahtangga mu sedang tidak baik. Cerita dengan kami orangtuamu nak. Jangan kamu diamkan saja. Karena kami juga memperhatikan tingkah laku suamimu yang semakin lama semakin aneh kami lihat." tiba - tiba ayahku bertanya dan bercerita pagi itu.
Mungkin ini saat yang tepat untuk aku harus berterus terang kepada beliau.
Sambung besok lagi ya....