"Bude, ivon jemput abang itu jam sebelas malam. Dan hampir jam dua belas abang baru keluar dari rumah ibunya. Apakah itu belum larut? Dan bude, bang Beri semenjak menikah dia selalu pulang ke rumah setiap hari sepulang kerja. Dan selalu jam sebelas malam baru pulang. Jadi wajar kan kalau Von jemput dia ke sana? Karena Ivon selalu ditinggal." ceritaku tanpa henti.
"Ooh jadi begitu. Kenapa mertuamu ceritanya belum larut ya nak? Kalau jam segitu pulang nya setiap hari ya aneh aja menurut bude." budeku menilai.
"Ada yang ingin Ivon ceritakan bude, bolehkan?" ucapku karena aku memang butuh kawan curhat. Aku malu untuk bercerita pada orang tuaku. Nanti kepikiran sama mereka. Karena rumah tanggaku yang benar - benar masih seumur jagung.
"Apa itu ndhuk?" tanya bude lembut.
Dan kemudian aku menceritakan keanehan yang aku lihat dan alami.
"Kira - kira menurut bude itu wajar gak?" tanyaku minta pendapat.
"Ya... gak wajar sih nak. Tapi bisa jadi juga dia masih merasa berat untuk melepaskan anaknya." Pendapat budeku
"Kalau dia masih berat melepaskan anaknya kenapa dia kepengen anaknya segera menikah waktu itu bude? Sampai minta cariin ke bude?" aku bertanya lagi.
"Iya itulah anehnya, ya sudah kamu yang sabar aja ya nak, semoga rumah tanggamu adem ayem aja, Aamiin." ucap bude lagi.
"Ya udah kalau begitu. Nanti kalau ada apa - apa hubungi aja bude. Jangan sungkan, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam bude." jawabku menutup pembicaraan di telepon.
Aku heran kenapa mertuaku berkata seperti itu pada budeku. Karena menurut hal yang wajar aku menjemput suamiku yang selalu berlama - lama di rumah ibunya setelah pulang kerja. Jika sekali dua kali sih bagi ku biasa saja. Tapi karena ini setiap hari jadi membuatku penasaran. Aku memutuskan untuk tidak mengambil pusing masalah ini.
"Bang, maaf aku mau bertanya. Gaji abang kan kata ibu belasan juta. Kenapa untukku cuma dua juta saja?" aku beranikan diri bertanya karena sudah lima bulan menikah suamiku memberi jatah belanja dan kebiasaan mengunjungi ibunya juga tidak pernah berubah.
"Kata ibu sudah cukup uang belanja segitu. Sisa gaji ku ibu yang pegang. ATM dan buku tabunganku juga ibu yang pegang." jawab suamiku tanpa merasa bersalah.
"Bang, aku ini istrimu. Kenapa ibu yang pegang buku tabungan dan ATM mu sih bang?" tanyaku pelan takut suamiku marah.
"Biarkan sajalah. Aku gak mau ibu marah." jawabnya lagi.
Aku hanya bisa pasrah dan bingung. Bagaimana harus bertindak. Karena hak ku direbut mertuaku.
"Von, ada kejadian apalagi kamu dengan mertuamu?" tanya bude lagi di telepon.
"Gak ada apa - apa bude, ada tho?"
"Itu tadi mertuamu menemui bude. Katanya kamu marahin suamimu meminta gajinya" ucap budeku yang sukses membuatku kaget.
"Kok begitu jadinya cerita nya ya bude? Apakah Ivon salah kalau bertanya gaji suami bude?" tanyaku.
"Karena abang memberikan gaji cuma dua juta. Seperti yang bude dengar waktu keluarganya datang, ibunya cerita gajinya sampai belasan juta. Lagian Ivon hanya bertanya bude. Bukan marah. Bagaimana menurut bude. Suami yang gajinya semua ditahan sama ibunya. Dari buku tabungan dan ATM? Sementara istrinya tidak pernah tau?" ujar ku.
"Hmmm... jadi begitu ceritanya? Sepertinya mertuamu terlalu berlebihan ya dalam menceritakan mu." budeku menilai dan akhirnya mengakhiri percakapan.
"Abang cerita apa sih sama ibu? Kok ibu cerita ke bude aku marahin abang soal uang gaji?" tanyaku masih pelan. Aku masih menjaga perasaannya jangan sampai marah.
Tapi dia diam saja tidak menjawab. Membuatku tidak puas. Harus bagaimana caranya ini?
Suamiku semakin lama semakin aneh. Kadang seperti orang bingung. Kadang seperti orang normal saja. Pernah ada tetangga yang melihat dan mengatakan.
"Von, tadi aku lihat Beri. Dia tadi bawa motor setelah itu langsung balik lagi. Kemudian mutar lagi sampai beberapa kali seperti orang bingung. Ada apa dengan dia Von?"
"Haaa.... masa sih mba? Perasaan selama ini dia baik - baik saja." ujar ku tak percaya.
Karena memang sudah lama aku tidak pergi bersama suamiku. Kami hanya jalan masing - masing saja jika ada keperluan.
Saat itu suamiku baru pulang. Dan seperti biasa aku mencium punggung tangannya dengan takzim. Dan saat aku akan mencium pipi kanannya. Suami ku langsung mengelak sambil berkata "Jangan cium pipi kanan ku. Karena kata ibu pipi kanan untuk ibu dan untuk mu pipi kiri ku"
"Haaaa???? Apalagi ini????"