Detik-detik waktu berlalu dalam kesunyian. Yang terdengar hanya detak jantung Yoana yang berdegup kencang karena ketakutan yang amat sangat dan desah nafas Asher yang memburu. Asher kini seperti hewan buas yang menandai mangsa dengan sorot matanya yang biru seolah hendak menghunus mata indah Yoana yang berkaca-kaca. Yoana sendiri sekarang merasa dirinya sedang dalam ambang kematian. Dia berpikir sebentar lagi Asher akan menghunuskan pisau ke dadanya seperti yang pria itu juga lakukan pada pria berjas rapi dua malam yang lalu.
Yoana tak tahu, Asher tidak membawa pisaunya ke kamar ini. Bahkan sedikitpun dia tidak pernah berniat untuk membunuh Yoana seperti yang ada dalam pikiran Yoana. Dia menangkap Yoana karena menginginkan gadis itu menuntaskan kegelisahannya yang tiba-tiba datang sejak mereka bertemu.
Ditatap sedetail itu oleh Asher, Yoana yang sudah memucat sejak tadi, kini kian gemetaran. Bahkan bibir mungilnya yang tidak pernah tersentuh lipstik ikut bergetar. Dan itu tidak luput dari tangkapan mata biru Asher. Benar-benar bibir yang memikat.
"Tatap wajahku, Yoana." Titah Asher. Suaranya lembut tapi membuat jantung Yoana seperti akan lepas dari rongganya. Sejak tadi dia memang mengalihkan pandang ke bawah demi menghindari bertemu pandang dengan Asher.
Yoana diam. Dia tidak mengindahkan perintah Asher. Dia sangat takut dengan mata biru Asher.
"Kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan tadi? Lihat wa-jah-ku!" Asher mengulang titahnya.
Yoana menelan salivanya. Telapak tangannya sudah sedingin es. Rasanya dia ingin berlari ke arah pintu mendengar perintah itu. Tapi Asher begitu dekat di depannya. Tangan kekar Asher juga berada di samping kanan kiri wajahnya. Dia tidak bisa lari. Kalaupun berlari akan langsung tertangkap.
BUG!
"KALAU AKU SURUH TATAP YA TATAP!"
Sikap Yoana tenyata membuat Asher kesal. Dia langsung memukul dinding yang ada di samping kiri Yoana hingga membuat Yoana terlonjak kaget dan otomatis menatap Asher bersamaan dengan sebulir bening yang mengalir dari kedua sudut matanya. Matanya yang bercahaya itu seketika bertemu dengan mata biru Asher yang berkilatan dengan kemarahan. Tapi saat itu juga kilatan kemarahan di mata Asher langsung meredup.
'Benar-benar mata yang indah. Mengapa baru sekarang aku menemukan mata yang seperti ini?' batin Asher penuh kekaguman.
Karena Asher tadi marah dan berteriak, Yoana langsung menyatukan kedua tangan di depan d**a. Dia takut kemarahan Asher berlanjut ke perbuatan yang kejam. Kalau sampai pisau Asher keluar, maka tamatlah riwayatnya.
"Tu-tuan, a-apa yang aku ucapkan tadi tidaklah bohong. A-aku menepati janjiku untuk tidak menceritakan peristiwa di malam itu kepada siapapun. Sungguh. Percayalah. Karena itu tolong jangan apa-apakan aku. Tolong bebaskan aku."
Asher menyeringai. Yoana benar-benar polos dan lugu sampai mengira dirinya dibawa ke rumah ini berhubungan dengan pembunuhan itu. Padahal pembunuhan di malam itu sudah dia lupakan.
"Bagaimana jika aku tidak akan membebaskanmu, hah?" Tanya Asher dengan tatapan lekat.
Yoana menyipitkan matanya. "Ma-maksud anda? Anda akan menahanku selamanya? Apa salahku?" Mata Yoana kembali meneteskan cairan bening. Dia jadi semakin takut. Arti kata tidak akan membebaskan itu bisa jadi antara ditahan selamanya atau tidak akan dibiarkan hidup lagi.
Bola mata Asher yang berwarna biru, bergerak mengikuti sebulir bening yang menggelinding di pipi Yoana. Entah mengapa, tangan kekar dan berotot Asher langsung menggerakkan tangannya ke arah wajah Yoana, hendak menyeka buliran bening itu. Sekaligus ingin menyentuh kulit wajah Yoana yang terlihat lembut dan kenyal.
Menyadari itu, refleks Yoana menepis tangan Asher. Selama ini memang tak pernah ada tangan pria yang dibiarkan menyentuh wajahnya. "Jangan sentuh aku!"
Asher menatap tangan kekarnya yang tadi ditepis oleh Yoana. Ini adalah kali pertama ada seorang wanita yang menolak sentuhannya. Kejutan besar!
Asher tertawa kecil. Tawa yang terdengar begitu merendahkannya. Tapi juga... menakutkan.
"Hahaha! Kamu menolak sentuhanku Yoana? Kamu pikir, kamu bisa melakukan itu? Lihat saja dirimu sekarang! Terdesak dan terkurung di dalam kamar ini. Bersamaku. Hanya kita berdua. Sanggupkah kamu melawanku?"
Deg.
Yoana terhenyak. Dia mulai membaca maksud lain dirinya ditangkap dan dibawa ke rumah ini. Mungkinkah ini tidak ada hubungannya dengan pembunuhan itu?
"Jadi, kenapa anda menangkapku?"
Tawa kemenangan Asher terhenti seketika. Dia kembali menatap Yoana lekat. "Karena kamu bersalah telah hadir dalam hidupku dan mengganggu pikiranku." Ucap Asher lirih tapi penuh penekanan.
Yoana meremas jemarinya yang lentik. Dia mencurigai hal buruk lainnya dari apa yang disangkanya. "Ma-maksud anda?"
Wajah Asher kian mendekat. "Aku...mau...kamu..."
Bagai tersambar petir Yoana mendengar itu. Lagi-lagi dia berbuat refleks. Dia mendorong d**a Asher sekuat tenaga hingga pria itu sedikit terdorong, lalu berlari sekuat tenaga menyebrangi kamar dan mencapai pintu.
BRAK! BRAK! BRAK!
"BUKA! BUKA PINTUNYA! AKU MOHON BUKA! KELUARKAN AKU DARI SINI SEKARANG! BUKA! AKU MOHON BUKA!"
Yoana berteriak-teriak sembari terus menggebrak pintu. Dia sudah tahu maunya Asher sekarang. Asher menginginkan tubuhnya. Demi Tuhan, Yoana tak mau itu terjadi. Tubuhnya hanya untuk suaminya kelak. Sungguh dia tidak mau kehilangan kesucian sebelum menikah.
Sementara itu, Asher hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Yoana dengan bersedekap. Ini kejadian yang sangat unik. Yoana menolaknya di saat semua perempuan di luar sana mengidamkan sentuhannya dan ingin merasakan kegagahannya. Lihat saja, Yoana bahkan tampak begitu ketakutan dan panik.
Tapi itu justru membuat Asher gemas. Ini seperti sebuah tantangan yang menarik. Hasratnya pada Yoana justru semakin menggebu. Dia ingin mencoba melakukan hal itu dengan wanita yang menolaknya.
"Bagaimana Yoana? Adakah yang menolongmu disini?"
Yoana yang mulai lelah menjerit-jerit meminta dibukakan pintu, langsung terdiam begitu mendengar suara Asher. Perlahan dia membalikkan tubuhnya. Dia memandang Asher yang berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri sekarang. Kedua telapak tangannya yang terasa sakit karena memukul-mukul daun pintu dia satukan di depan d**a.
"Aku mohon tuan, lepaskan aku. Tolong jangan apa-apakan aku. Aku mohon. Biarkan aku pergi. Tolong perintahkan orang untuk membukakan pintunya."
Alis Asher yang tebal terangkat ke atas. "Apa kamu bilang? Melepaskan kamu? Kamu tidak tau ya kalau aku adalah orang yang tidak akan melepaskan mangsa. Apalagi sudah di depan mata."
Yoana menelan salivanya. "Jangan perlakukan aku seperti mangsa, tuan. Aku mohon. Biarkan aku pergi..."
"Apa kamu tuli, Yoana?" Asher melangkahkan kaki ke arah Yoana. "Aku sudah bilang bukan kepadamu bahwa aku tidak tidak akan melepaskanmu. Jadi berhentilah memohon. Meskipun kamu menangis darah meminta untuk dibiarkan pergi, itu tidak akan terjadi jika aku masih menginginkan kamu."
Yoana melangkah ke samping. Dia tidak mau terkukung lagi oleh tubuh Asher seperti tadi. Makanya dia menghindari dinding dan pintu.
"Tapi kenapa harus aku, tuan? Anda bisa mendapatkan gadis lain di luaran sana yang cantik dan tubuhnya bagus." Yoana mencoba untuk bernegosiasi sembari terus melangkah mundur. Barangkali Asher akan mempertimbangkan ucapannya dan kemudian melepaskannya.
Asher menggeram. Dia tidak suka dengan orang yang suka memohon-mohon. Asher pun melangkah cepat ke arah Yoana. Yoana pun melangkah mundur dengan cepat menjauhi Asher. Tapi tentu saja perempuan dan laki-laki tidak sebanding. Dalam waktu singkat, Asher berhasil memeluk pinggang Yoana dan mengangkat tubuh gadis itu dengan mudah.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku!"
Bruk!
Asher melempar Yoana ke atas tempat tidur empuk di kamar itu.
Bersambung...
Sudah pada tap love belum sih? Kalau belum silahkan tap love, follow aku, vote, dan follow Ig aku. Thanks.