Tubuh Yang Gemetaran

1239 Words
Bruk! Asher melempar Yoana ke atas tempat tidur empuk yang ada di kamar itu. Tapi gadis itu cukup sigap. Begitu tubuhnya mendarat dengan empuk di atas tempat tidur itu, dia langsung bangun dan menyeret tubuhnya ke sudut tempat tidur yang memepet di dinding kamar. Wajahnya basah oleh airmata. "Jangan lakukan apapun padaku, tuan. Aku mohon, jangan lakukan apapun." Ucap Yoana dengan suara dan tubuh yang gemetar. Dia sedang merasa sangat ketakutan saat ini. Dia tahu kalau Asher memaksanya, tak banyak yang bisa dia lakukan untuk menyelamatkan diri. Asher tampak seperti pria yang sangat kuat. Asher menyeringai. Permohonan Yoana seolah lelucon bagi seorang Asher. Bagaimana bisa seorang pria kejam seperti Asher mengindahkan sebuah permohonan? Asher naik ke atas tempat tidur. Tubuhnya yang berat membuat tempat tidur itu langsung cekung ke bawah. Dia bergerak mendekati Yoana. Melihat hal itu, Yoana tidak tinggal diam. Dia bergerak cepat meninggalkan sudut tempat tidur agar tidak terkukung oleh tubuh Asher yang besar. Sayang sekali, Asher dengan mudah menangkap tubuhnya dan dalam waktu sekejap, Yoana sudah berada di bawah tubuh besar Asher. "Lepaskan aku! Lepaskan aku!" Yoana meronta. Dia sangat berusaha menarik kedua tangannya dari cengkraman tangan Asher yang kuat. Sementara kakinya, nyaris tak bisa bergerak sedikit pun karena dihimpit oleh kedua paha Asher yang kokoh. Asher menatap wajah Yoana yang menyemu merah karena mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari cengkramannya meski usaha itu tampak sia-sia. Bulir-bulir bening terus berjubelan keluar dari sudut mata Yoana yang indah. "Tuan tolong lepaskan aku. Aku mohon..." Yoana kembali menghiba. Saat mengucapkan itu, bibir merah gadis itu justru membuat Asher menelan salivanya. Bibir yang begitu memikat. "Berusahalah untuk melepaskan diri dariku sebisamu jika kamu mampu." Balas Asher lirih tapi penuh penegasan. Mata indah Yoana melebar mendengar apa yang diucapkan oleh Asher. Bagaimana mungkin dia bisa melepaskan diri dari Asher jika Asher tak melepaskannya. Tenaganya tak cukup untuk melawan Asher. "Aku tidak akan bisa me-- emhmp..." Tiba-tiba saja, bibir Asher sudah menyerang bibirnya dengan ganas. Yoana mencoba untuk memberontak sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkraman Asher. Tapi semakin dia mencoba, cengkraman Asher semakin kuat. Tenaganya yang tidak sebanding itu bahkan seperti pergerakan kecil yang tidak berarti. Asher terus menyerang bibirnya tanpa ampun. "Emhmp...emhpm..." Yoana ingin mengatakan 'tolong hentikan semua ini', tapi bibir Asher terus menyerangnya dan tidak memberi kesempatan untuk membuka. Hingga akhirnya Yoana kehabisan tenaga dan membiarkan Asher melahap bibirnya sampai puas. Setelah puas, Asher menempatkan kedua lengan Yoana dalam satu genggaman kuat tangannya di atas kepala gadis itu. Sedang tangan kekarnya yang lain sudah berada di kerah baju Yoana, bersiap untuk ditarik. "Tuan, tolong berbelas kasihanilah kepadaku sedikit saja. Jangan lakukan itu padaku. Aku mohon dengan sangat kepada anda. Sekali lagi aku mohon dengan sangat." Yoana kembali memohon. Kali ini suaranya terdengar lemah. Yoana sudah kehabisan tenaga meski hanya untuk bersuara. Dia terlihat begitu menyedihkan. Seketika itu hati Asher bergetar oleh rasa iba. Hatinya ikut sedih begitu melihat Yoana sedih. Perasaan yang begitu aneh dan membuatnya frustasi. Dengan rasa tidak ikhlas, Asher terpaksa melepaskan cengkramannya dan kemudian bergerak turun dari atas tempat tidur. "Hari ini aku membebaskanmu, tapi aku tidak jamin esok hari. Baiknya, kamu mempersiapkan diri untuk itu." Yoana bergerak bangun sembari mencengkram kerah bajunya yang tadi hampir dirusak oleh Asher. "Ka-kapan anda akan membebaskanku?" "Berhentilah memohon! Selama aku menginginkanmu, aku tidak akan membebaskanmu." Asher berbalik dan kemudian keluar dari kamar. John yang sejak tadi menunggu di depan pintu, mengikuti langkah Asher menuju kamar utama. Begitulah John. Sebagai kepala pelayan di rumah ini, dia tidak akan tidur sebelum Asher tidur. Selama Asher ada di rumah, pria itu tidak akan jauh dari Asher. Klak. Asher membuat pintu dengan kesal. Dia begitu ingin menikmati tubuh Yoana, tapi kenapa dia tidak tega. Malam itu pun begitu. Ketika dia memergoki Yoana menjadi saksi mata atas pembunuhan pria tua itu, sedikitpun dia tidak tega melukai Yoana. Andai saja itu bukan Yoana, pasti sudah bernasib sama dengan pria tua tersebut. Yaitu mati terbunuh. Asher meremas rambutnya. Dia kesal dengan dirinya sendiri yang tak mampu menyalurkan hasratnya pada Yoana hanya karena tidak tega. John memperhatikan sikap Asher tersebut. Dia sudah menduga apa yang sudah terjadi di dalam kamar tadi. "Tuan anda belum..." "Aku tidak bisa melakukannya!" Sela Asher cepat. Dia sudah tahu apa yang akan dikatakan John. "Aku tidak bisa melakukannya! Betapa bodohnya aku malam ini!" "Tapi kenapa tuan? Selama ini anda tidak punya masalah dengan keperkasaan. Lalu apa yang membuat anda tidak bisa melakukannya?" Asher berbalik cepat. Dia yang semula membelakangi John, kini menghadap John. "Itulah yang membuat heran diriku sendiri. Kenapa aku bisa merasa kasihan ketika dia menghiba?" John tercenung. Ini memang aneh. Asher itu kejam. Asher tidak pernah merasa kasihan dengan siapa pun. Jika Asher sudah marah dengan seseorang, maka dia akan melampiaskan kemarahannya itu sesuai dengan keinginannya. Maka sangat mengherankan jika Asher yang menginginkan tubuh Yoana tidak bisa melampiaskannya hanya karena rasa kasihan, iba, atau tidak tega. "Kalau begitu anda bisa melakukannya jika Yoana juga bersedia." Ucap John kemudian. "Dan itu hanya lelucon." Sahut Asher cepat. "Yoana tidak seperti wanita yang lain yang akan menyembahku hanya untuk merasakan tidur bersamaku. Jangankan untuk bersedia melakukan itu denganku, melihatku saja dia seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan. Dia begitu ketakutan." "Kalau begitu dia harus mau dulu kepada anda, baru anda bisa melakukannya." "Dan caranya?" "Gunakan cara yang biasa anda pakai jika menginginkan seorang wanita. Beri dia barang-barang yang mewah." Asher terdiam. Yang dikatakan oleh John masuk akal. Wanita itu perhiasan dunia dan mereka menyukai sesuatu yang berbau kemewahan. Asher menghela nafas panjang. Hatinya kini sedikit lega. Jika malam ini dia tidak mendapatkan Yoana, maka malam besok dia dapat melampiaskan hasratnya yang tertunda. "Ya, aku rasa yang kamu katakan benar. Kalau begitu siapkan barang-barang mewah untuknya. Lalu suruh dia datang ke kamarku besok malam." John mengangguk kecil. "Baik tuan. Aku mengerti." *** Sementara itu di kamar yang sebelumnya, Yoana tampak memeluk dirinya sendiri dengan kedua kaki terlipat. Tubuhnya masih gemetar karena hampir saja dia diperkosa oleh Asher. Jika malam ini dia selamat, bagaimana dengan malam besok? Rasanya itu sebuah kemustahilan. Apalagi selama Asher menginginkannya, pria itu tidak akan melepaskannya. Itu artinya dirinya akan terkurung disini dalam waktu yang lama dan menjadi b***k seks. Tidak. Yoana tidak mau. Meskipun dia hidup dalam kesulitan dan serba kekurangan, itu lebih terhormat daripada menjadi b***k seks. Jika dirinya sudah tidak suci lagi, pria baik mana yang akan menikahinya. Lalu impian membina sebuah rumah tangga yang bahagia kelak, tidak akan dia dapatkan. Sekali lagi tidak. Yoana tidak mau hidup yang seperti itu. Dia ingin hidup secara terhormat dan hidup normal seperti selama ini. Yoana mengurai pelukan pada kedua kakinya. Dia lalu menyandarkan punggungnya di penyangga tempat tidur. Dia melempar pandang ke sekelilingnya. Kamar ini begitu mewah dan besar. Lantainya saja dialasi karpet beludru tebal. Tapi Yoana tidak menikmati kemewahan kamar ini. Dia justru rindu rumahnya yang reyot dan sering bocor kala hujan datang. Dan Yohan... "Yohan, maafkan kakak. Kakak belum bisa pulang. Apakah kamu sekarang sudah makan? Atau justru kamu sedang menahan lapar?" Tiba-tiba Yoana mengalihkan pandang ke pintu balkon. Dia seperti menemukan cahaya di antara kegelapan. Yoana turun dari tempat tidurnya. Dia melangkah cepat menuju pintu balkon. Dia menggerak-gerakkan kuncinya. Bisa. Pintu terbuka. Yoana pun langsung melangkah ke balkon. Angin malam yang dingin langsung menembus pori-pori kulitnya hingga menggigilkan. Tapi Yoana tidak perduli itu. Dia terus melangkah mendekat pagar balkon. Dia melihat ke bawah. Sangat tinggi. Sepertinya dia tengah berada di lantai tiga rumah ini. Yoana hanya berpikir dirinya akan mati jika melompat dari balkon ini. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD