Menyakiti Jari Telunjuk

1187 Words
Yoana menelan salivanya. Dia tidak mungkin melompat dari tempat setinggi ini. Nekad sama dengan mati. Dia sebenarnya bukan takut mati. Tapi selain mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri itu dosa, dia belum bisa meninggalkan Yohan yang masih sangat bergantung kepadanya. Yoana menghela nafas berat. Lalu apa yang harus dia lakukan untuk bisa pergi dari rumah ini? Malam ini dia bisa selamat dari Asher. Tapi bagaimana dengan besok atau besoknya lagi? Terlalu berbahaya untuknya tetap tinggal bersama pria itu di rumah ini. Sementara itu, di dalam kamar utama yang terletak beberapa kamar dari kamar Yoana, Asher belum mengantuk. Kegagalannya menikmati Yoana membuatnya gundah. Yoana adalah gadis yang lemah, tapi memiliki perisai tak kasat mata untuk melindungi diri dari kebuasaannya. Dia hanya bisa berharap besok gadis itu menyerah dengan barang-barang mewah yang akan diberikannya. 'Ah, tak ada wanita yang tak silau oleh kemewahan'. Begitu pikir Asher. 'Termasuk Yoana.' Meski begitu, rasa gundah masih ada. Bagaimana kalau Yoana berbeda dengan wanita kebanyakan dan tidak menerima barang-barang mewah darinya? Sepertinya Asher perlu udara segar untuk menenangkan diri. Memikirkan Yoana membuat dadanya sesak. Dengan sebelah tangan di dalam kantung celana, Asher membuka pintu balkon. Kemudian, dia melangkah beberapa langkah ke balkon. Dia menghirup udara malam banyak-banyak. Ada sedikit rasa plong yang lalu dia dapatkan. Namun tiba-tiba, Asher terhenyak. Dia seolah melihat bayangan manusia di sebelah kirinya, di salah satu balkon kamar. Asher pun langsung menoleh dan mendapati bayangan itu adalah sosok Yoana. Tapi kenapa gadis itu ada di balkon dan pandangannya ke arah bawah. Rahang Asher mengencang seketika menduga satu kemungkinan. Yoana akan bunuh diri. "Syit! Aku tidak akan membiarkan dia melakukan itu!" Asher hendak berlari ke kamar Yoana dari arah dalam dengan mata merah menyala karena marah ketika dia mengurungkan langkahnya begitu melihat Yoana mendengus kecewa. Di titik ini dia sadar kalau Yoana barusan bukan hendak bunuh diri melainkan sedang mencari jalan melarikan diri. Asher pun menghela nafas lega saat itu juga. "Benar-benar gadis yang menarik. Aku semakin tertarik padamu, Yoana. Aku tidak akan melepaskanmu atau membiarkanmu mati sebelum aku mendapatkanmu." Asher menyeringai jahat. *** Klak. Yoana menutup pintu balkon dengan wajah putus asa. Dia tidak bisa melarikan diri dari balkon itu karena terlalu tinggi. Seprei yang ada di kamar ini tidak bisa dijadikan tali untuk turun ke bawah karena panjangnya tidak setinggi letak kamar ini dari tanah. Yoana duduk di tepi tempat tidur. Dia tercenung di sana. Tidak mudah untuk keluar dari rumah ini. Kalaupun dia berhasil turun ke tanah lewat balkon, memangnya dia bisa melewati pintu gerbang yang berpenjaga? Mana tubuh penjaga gerbang sama besarnya dengan tubuh Asher. Deg. Mengingat nama Asher, jantungnya kembali berdegup kencang. Jarinya yang lentik langsung menyentuh bibirnya yang mungil. Dia kembali ingat bagaimana Asher mengambil ciuman pertamanya dengan paksa. Padahal ciuman pertamanya hanya ingin dia serahkan pada pria yang kelak akan jadi suaminya. Tapi sekarang bibirnya sudah ternoda. Asherlah yang menodai bibirnya yang suci ini. "Mengapa secara tiba-tiba aku harus bertemu dengan pria itu, Tuhan? Dia membuatku sangat takut. Dia sedang berusaha mengacaukan hidupku. Selamatkan aku dari keganasannya. Singkirkan jauh-jauh dia dari hidupku." Ucap Yoana sembari menatap langit-langit kamar yang bentuknya sangat rumit dan bertingkat-tingkat. Selesai berdoa, Yoana menggeser duduknya dan bersandar di penyangga tempat tidur. Dia merasa begitu lelah dan mulai merasa mengantuk. Dia butuh tidur untuk menghilangkan kelelahannya. Perlahan, Yoana membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Rasa kantuknya semakin menjadi begitu tubuhnya bersentuhan dengan tempat tidur itu. Begitu empuk dan nyaman. Seumur hidup Yoana, baru kali ini dia merasakan tempat tidur senyaman ini. Meski begitu, dia justru merindukan kasurnya yang keras dan sudah banyak tambalan di sana-sini. Kalau mengandalkan gaji bekerja di rumah makan tempatnya bekerja selama ini yang hanya pas-pasan untuk makan dan sekolah Yohan, entah kapan dia bisa membeli kasur yang baru. Tapi Yoana bahagia dengan hidupnya. Dia merasa nyaman dan tenang. Tapi ketenangan itu tiba-tiba diusik dengan kedatangan Asher yang seenaknya membawanya ke rumah ini dan menginginkan tubuhnya. Deg. Yoana langsung bangun seketika. Dia tidak mau tidur ataupun tertidur. Bagaimana jika ketika dirinya sedang tidur Asher datang merenggut kesuciannya? Tidak. Dia tidak boleh tidur. Dia harus tetap bangun dan tersadar. Yoana pun menyandarkan punggungnya di penyangga tempat tidur kembali dan memeluk kedua kakinya. Karena dingin, dia menarik selimut dan menyelimuti diri dengan selimut itu. Tapi tubuhnya yang lelah tentu tak bisa berbohong. Dia merasa begitu mengantuk dan kedua matanya seperti ingin memaksa untuk mengatup. Yoana tidak menyerah. Dia lalu berpikir bagaimana caranya agar tetap terbangun. Terbersit satu ide dalam benaknya dan dia harus melakukannya meskipun sakit. Yoana mengangkat jari kanannya ke depan wajahnya. Dia mengamati kelima jarinya dengan seksama. Dia harus memilih salah satu dari jari-jarinya yang lentik itu untuk disakiti. Pilihannya pun jatuh pada jari telunjuk. "Ma-maafkan aku jariku. Aku terpaksa melakukannya." Yoana mendekatkan jari telunjuknya ke mulut dan mengigitnya sekuat tenaga. Dia meringis menahan sakit. Tapi Yoana terus melakukannya hingga setetes darah jatuh dari jari telunjuknya itu. Yoana menghela nafas lega setelah melepaskan gigitannya. Rasa sakitnya berkurang meskipun tidak hilang. Setidaknya, kini tidak mengantuk lagi karena harus merasakan perih dijari telunjuknya. *** Klak. Pintu terbuka. Yoana yang masih di posisinya semula menoleh ke sumber suara. Dua orang pelayan wanita masuk dan kemudian menaruh sebuah pakaian lengkap dengan dalamannya ke atas nakas. "Nona Yo, ini pakaian ganti untuk anda, silahkan mandi sekarang. Selama anda mandi, kami akan membersihkan kamar." Yoana melirik kedua pelayan itu tanpa berniat untuk menuruti perintah mereka. Entah karena semalaman tidak tidur, atau karena jarinya yang terluka, dia merasakan badannya agak demam. "Nona Yo, kami minta kepada anda sekali lagi untuk mandi sekarang. Kalau tidak menurut, kami akan memaksa anda karena Tuan Asher Asher akan datang ke kamar ini sebentar lagi untuk sarapan bersama anda." Mendengar itu, Yoana terhenyak seketika. "Apa? Dia akan sarapan di sini?" "Iya. Karena itu silahkan anda mandi." Wajah Yoana langsung memucat seketika. Begitupun dengan jantungnya, tiba-tiba saja berdegup tak terkendali. Dia tidak mengerti mengapa pria jahat itu harus sarapan bersamanya di kamar ini? Jika bisa protes, dia ingin pria itu tidak sarapan di kamar ini. Bagaimana tidak, dia sudah merasa trauma untuk berdekatan dengan Asher ataupun berada satu ruangan dengannya. "Apalagi yang anda tunggu, nona? Apa anda benar-benar ingin kami mandikan?" Yoana menggeleng cepat. "Ee, tidak. Aku akan mandi sendiri." Yoana langsung berdiri. Dia mengambil pakaian yang dibawa oleh pelayan tadi dan kemudian melangkah masuk kamar mandi. Selesai mandi, dia melihat kamarnya sudah rapi. Bahkan sepreinya pun diganti. Dua pelayan itu lalu mendekati Yoana dan menarik Yoana duduk di depan meja rias. Rambut Yoana dikeringkan dan wajah Yoana diberi sedikit sentuhan make up. Yoana tidak sempat menolak karena kedua pelayan itu bergerak cepat. Dengan sentuhan make up yang sedikit itu, Yoana langsung tampak berbeda. Sangat cantik seperti peri bunga. Dua pelayan itu tersenyum puas. Keduanya lalu keluar kamar dan kembali dengan dua nampan berisi sarapan. "Mari nona, silahkan duduk di kursi ini. Tuan Asher sedang dalam perjalanan ke kamar ini." Deg. Yoana menelan salivanya. Nama Asher begitu menakutkan di telinganya. Klak. Baru saja pelayan itu mengatakannya, pintu kamar terbuka. Dari baliknya Asher muncul dengan dengan setelan jas berwarna abu-abu. Jas itu begitu pas di tubuhnya seolah memang dibuat khusus untuknya. Asher tampak begitu tampan dan gagah dengan jas itu. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD