Yoana menatap tangan Asher yang sedang mengobati jari telunjuknya. Dia heran mengapa tangan sekekar itu, bahkan pernah memegang senjata tajam untuk membunuh manusia, bisa dengan lembut mengobati lukanya. Nyaris tanpa membuatnya merasa sakit. “Sudah,__” Asher melepaskan tangan Yoana dengan pelan. “___ aku tidak mau mendapatimu melukai tubuhmu sendiri lagi. Kalau itu masih kamu lakukan maka…” Asher terdiam. Dia tidak tahu akan melanjutkan dengan kalimat apa. Mau menghukum Yoana? Tidak. Sedikit pun dia tidak mau menyakiti Yoana. Set. Asher malah berdiri dari duduknya. “John…” John menganggukkan kepala. “Ya tuan.” “Aku tidak akan melanjutkan sarapanku. Aku akan sarapan di perusahaan. Tapi__” Asher melirik Yoana yang menundukkan wajahnya. Herannya untuk berangkat ke perusahaan pun dia tera

