Hati Yang Berdesir

1370 Words
Rumah makan tempat Yoana bekerja, geger. Itu karena penyiar berita yang berkoar di telivisi tengah menyampaikan berita yang sangat mengejutkan orang-orang yang ada di dalam rumah makan tersebut. Berita itu tentang sesosok mayat yang ditemukan mengapung di sungai. Ternyata setelah diselidiki, mayat itu adalah direktur dari sebuah perusahaan garmen ternama di kota itu. Yoana yang mendengar berita itu, jantungnya langsung berdegup kencang dengan tubuh menegang seketika. Dari gambar yang dia lihat di telivisi yang tertempel di dinding itu, jelas mayat yang ditemukan di sungai tersebut adalah pria yang dibunuh oleh pembunuh bermata biru tadi malam. Andai saja Yoana tidak mendapatkan ancaman dari si mata biru, tentu kini dia telah melapor ke kantor polisi. Menceritakan dengan detail kejadian semalam dan ciri-ciri pembunuh. Tapi dia tidak cukup berani untuk melanggar janji. Ancaman pria bermata biru itu terlihat nyata dan tidak main-main. Selain itu, Yoana masih harus mengurus dan menyekolahkan Yohan. Kalau dia mengingkari janji dan pria bermata biru itu benar-benar membunuhnya, siapa yang akan mengurus dan menyekolahkan Yohan? Tidak. Yoana harus tetap bertahan hidup demi Yohan adiknya. Dia lalu berdoa dalam hati agar polisi bisa segera menangkap pembunuh bermata biru tersebut. Karena hanya dengan tertangkapnya si pria bermata biru itulah, maka hidupnya akan kembali aman dan tidak cemas lagi. "Yoan! Kenapa kamu berdiri saja di situ?! Sini! Pekerjaan menunggu di dapur!" teriak Rere di pintu dapur sambil melambaikan tangan ke arah Yoana. Yoana mengalihkan pandang dari televisi ke Rere. "Iya, iya, aku ke sana." Dengan berat hati, Yoana bergerak ke dapur. Sebenarnya masih ingin menonton berita tadi. Dia ingin tahu apakah polisi sudah mengidentifikasi sang pembunuh atau belum. Tapi setumpuk pekerjaan menunggunya. Kalau tidak segera dikerjakan, maka sang pemilik rumah makan akan memarahinya. "Kamu serius sekali menonton berita tadi?" tanya Rere sembari mengiris bawang merah. "Memangnya kamu tau siapa pembunuhnya?" Yoana tersenyum kecut. "Ah, sembarangan kamu. Mana mungkin aku tau pembunuhnya." Yoana sendiri sedang mengelupas kulit bawang merah. "Ya, mungkin saja. Soalnya aku perhatikan dari tadi, tatapan kamu itu lain ke televisi. Wajahmu tampak cemas dan ada aura ketakutannya." Deg. Jelas saja dia cemas dan takut. Dia menyaksikan sendiri bagaimana pria bermata biru itu dengan kejamnya menghunuskan pisau ke jantung korban. Bahkan dia sendiri hampir jadi korban berikutnya. "Sudah ah jangan membahas tentang berita itu lagi. Aku memang takut." "Tapi kok ada ya orang yang sekejam itu? Sampai menghilangkan nyawa orang lain lagi? Apa si pembunuh tidak punya rasa belas kasihan ya? Aku memukul kucing saja tidak tega apalagi membunuh manusia." Yoana tercenung. Pembunuh bermata biru itu sepertinya memang tidak punya hati. Dia teringat bagaimana wajah tampan sang pembunuh. Auranya sangat dingin seperti vampir. Dan matanya, tajam setajam mata elang. "Kalau aku ya, ih jangan sampai punya suami seorang pembunuh. Naudzubillah." Rere masih terus berbicara. Yoana menghela nafas berat, mencoba menghilangkan kecemasan yang membuat dadanya sesak. Dia berharap tidak akan bertemu lagi dengan pria bermata biru itu seumur hidupnya. *** Sementara itu di sebuah ruangan yang didesain khusus untuk pria dan terkesan maskulin dengan perpaduan warna coklat serta krem, Asher melempar setumpuk berkas yang ada di atas meja kerja. Dalam sekejap lantai menjadi kotor oleh hamburan kertas-kertas tersebut. Michael, assisten pribadinya terhenyak. Lalu menelan ludah. Dia sangat paham bagaimana seorang Asher kalau sudah emosi. Diamnya saja, pria itu sudah tampak mengerikan. Tak pernah ada senyum yang melengkung di wajah tampannya. Dan Asher selalu saja marah kepada bawahannya hanya untuk kesalahan sepele. Rahang Asher mengencang. Wajahnya merah padam karena kemarahan sedang berkobar-kobar di kepalanya. Bagaimana tidak, seharian ini dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya. Wajah Yoana terus saja terbayang-bayang di benaknya. "Sial! Kenapa dia selalu terlihat di mana-mana?! Tidak sedetik pun dia enyah dari benakku?!" Asher kembali memaki. Entah siapa yang sedang dimakinya. Takut-takut Michael melirik Asher. "Maaf tuan kalau saya terkesan lancang. Dia siapa yang anda maksud? Apa saya harus menghabisinya agar anda tenang? Sepertinya orang ini sangat mengganggu pikiran anda sejak pagi." Akhirnya, Michael bertanya juga. Dia tidak pernah melihat Asher segelisah ini. Tuannya itu selalu terlihat tenang karena yakin semua permasalahan pasti bisa dia atasi. Tapi tidak dengan hari ini. Asher sangat berbeda. Sejak masuk ruangan, Asher tampak gelisah tidak jelas. Satu lagi, biasanya tuannya akan segera memberi instruksi jika ada sesuatu. Namun pagi ini, Asher seperti orang yang bingung untuk memberi instruksi. Asher jadi kehilangan sikapnya yang cepat dan tegas. Dia terkesan lamban. Asher mengalihkan pandang pada Michael. "Meskipun aku bercerita, kamu tidak akan mengerti dengan apa yang sedang aku pikirkan! Jadi diamlah!" balas Asher dengan nada tegas, membuat Michael kembali menundukkan wajahnya. Dia takut kemarahan Asher kian menjadi-jadi karena kelancangannya barusan. Asher beranjak dari duduknya dengan tergesa. Disambarnya ponsel dan langsung menghubungi seseorang. "Leo kamu jemput aku sekarang!" Tanpa menunggu jawaban dari orang yang ditelponnya, Asher mematikan ponselnya. Pria itu lalu berjalan terburu ke luar ruangan. Tentu saja itu membuat Michael bingung dan kembali bertanya. "Tuan mau kemana?" "Aku mau pergi bersama Leo. Kamu tetap di sini gantikan aku." Michael mengangguk cepat. "Baik tuan." Satu jam kemudian, Asher sudah tiba di lokasi. Mata tajamnya menatap rumah makan yang ada di seberang mobilnya. Rumah makan itu mulai sepi pembeli karena hari sudah mulai sore. "Oh, jadi di sini gadis itu bekerja?" tanya Asher pada Leo yang duduk di belakang kemudi. "Ya, tuan. Namanya Yoana." "Yo-a-na." Asher melafadzkan nama itu lirih. Hatinya bergetar saat menyebut nama itu. "Ceritakan lebih banyak tentang dia." "Yoana yatim piatu, tuan. Dia tinggal di sebuah rumah kecil dan reot bersama adik laki-lakinya yang bernama Yohan. Adik laki-lakinya itu berusia tujuh belas tahun dan masih bersekolah. Dulu Yoana menjadi pemulung untuk menghidupi dirinya dan adiknya. Tapi sudah dua tahun terakhir dia bekerja di rumah makan ini." Asher menatap rumah makan itu lebih lekat. Meski begitu, dia mendengar semua cerita Leo. Entah mengapa, kini dia malah ingin melihat sosok gadis yang bernama Yoana itu lagi. Leo mengamati Asher dengan kening mengerut. Dia tidak mengerti sebenarnya tuannya ini akan melakukan apa pada Yoana. Selama ini Asher adalah orang yang bertindak dengan cepat dan sangat benci dengan kelambanan. "Hm, apa anda akan memintaku untuk melakukan sesuatu pada Yoana?" Asher tak menjawab. Dia sendiri bingung harus menyuruh Leo melakukan apa pada Yoana. Saat ini dia hanya sangat ingin melihat Yoana. Sedetik kemudian, keinginannya terkabul. Dari pintu samping rumah makan, keluar seorang gadis yang tak lain adalah Yoana dengan menjinjing sebuah plastik besar berisi sampah. Plastik itu kemudian Yoana masukkan ke dalam tong sampah yang ada di depan rumah makan. Deg. Jantung Asher berdetak tak menentu. Wajah gadis itu tampak begitu menarik perhatiannya. Yoana menatap langit sore dengan wajah sedikit mendongak. Gadis itu benar-benar tidak sadar jika pembunuh bermata biru yang sangat dia takuti dan membuatnya gelisah sejak semalam, tengah memperhatikannya. Ketika Yoana berbalik hendak masuk ke dalam rumah makan, seorang pengemis tua mengulurkan mangkok kecil ke hadapannya. "Sedekah, nak. Bapak belum makan sejak kemarin..." Yoana tersenyum. Tanpa pikir panjang, Yoana merogoh saku celananya dan mengeluarkan dua lembar uang ribuan. "Ini sedikit uang untuk bapak. Tapi bapak jangan pergi dulu. Aku akan mengambilkan nasi untuk bapak." Pengemis tua itu mengangguk. "Baik, nak. Bapak akan tunggu di sini." Yoana masuk ke dalam rumah makan, tapi tak lama kemudian dia kembali keluar dengan sebuah bungkusan nasi di dalam sebuah plastik kecil hitam. Plastik itu lalu dia berikan pada pengemis tua itu. "Ini nasinya pak." Mata pengemis tua itu tampak berbinar. "Terima kasih ya, nak." Yoana tersenyum. Dia tidak tahu kalau senyumnya barusan membuat hati Asher yang sedang memperhatikannya dalam mobil, berdesir hebat. "Iya, pak. Sama-sama." "Boleh aku makan di sini?" Pengemis itu menunjuk pelataran rumah makan. Yoana mengangguk. "Boleh kok pak. Silahkan." "Sekali lagi terima kasih ya, nak. Kamu baik sekali. Orang sebaik kamu, pasti akan diberi hidup bahagia oleh Allah." tutur pengemis tua itu sembari mengambil duduk di pelataran. Sekali lagi Yoana tersenyum. Lalu masuk ke dalam rumah makan dan tidak keluar lagi. "Tuan! tuan!" panggil Leo lirih. Leo semakin bingung dengan gelagat Asher. Pria itu sejak tadi terus memandang Yoana dengan penuh seksama. Asher terhenyak, lalu menoleh. "Ya." "Apa tuan masih mau di sini? Atau mau memintaku melakukan sesuatu?" Asher menghela nafas berat. "Sepertinya aku memang harus memintamu melakukan sesuatu." "Apa itu tuan?" "Bawa Yoana kepadaku malam ini juga! Aku menginginkannya!" Leo mengangguk. "Baik tuan." Bersambung... Aku akan lanjut ke bab selanjutnya jika sudah 50 loves. Jadi bantu share ya kak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD