Diculik Oleh Pria-Pria Asing

1172 Words
"Yo, ada pesan dari Yohan." Bisik Rere ketika mereka beres-beres dapur. Rutinitas yang selalu mereka kerjakan jika akan tutup rumah makan. Di rumah hanya ada satu ponsel. Dan itu lebih sering dipegang oleh Yohan. Jadi kalau di jam kerja begini, adiknya itu akan mengirim pesan pada Rere. Yoana menoleh. "Pesannya apa, Re?" "Dia minta dibelikan gulai kambing katanya." "Oh, iya. Jawab saja nanti aku akan membelikannya." "Memangnya kamu punya uang? Gulai kambing itu harganya mahal lho. Katamu listrik saja belum dibayar." Deg. Memang iya. Gaji harian yang diterimanya selama bekerja di rumah makan ini terkadang tidak mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Ada saja yang harus dikeluarkan karena Yohan masih sekolah. Apalagi untuk jajan gulai kambing pesanan Yohan. "Ada kok. Pakai uang yang akan dibayarkan listrik saja." "Tidak jadi bayar listrik lagi dong hari ini?" "Tidak masalah. Yang penting Yohan sehat. Dia sudah mau makan lagi pun aku sudah sangat senang. Dia segala-galanya buat aku." "Iya, deh. Aku balas dulu pesan darinya." Jemari Rere langsung menari di atas ponselnya. Menulis jawaban atas pesan Yohan. Dia sendiri bukan tidak mau membantu Yoana, tapi keadaannya tak jauh berbeda dari sahabatnya itu. Serba kekurangan. Bisa beli pulsa internet saja untung. "Sudah. Sudah aku balas." "Apa dia mengatakan sesuatu lagi?" Rere menggeleng. "Tidak kok." "Itu artinya dia hanya meminta gule saja. Terima kasih ya." Rere mengangguk. "Oke. Sama-sama." *** Pukul 19.06 Yoana pulang dari tempat kerjanya. Di tangannya ada sebuah bungkusan gulai kambing untuk Yohan adiknya. Tadi siang Yohan memesan ingin dibelikan itu. Keadaan Yohan memang sudah lebih baik, tapi dia masih lemas dan belum berangkat sekolah. Hari belum terlalu malam. Tapi gang tempat jejeran ruko terbakar tetap saja sepi seperti biasa. Orang tidak mau dengan sengaja melewati gang ini kecuali dirinya. Hal itu karena gang ini adalah satu-satunya akses menuju rumahnya. Lagi-lagi seperti biasa -apalagi setelah bertemu dengan pria bermata biru itu-, bulu kuduk Yoana berdiri dan jantungnya berdegup kencang tak karuan ketika dia melewati gang ruko terbakar tersebut. Hawa horor sangat terasa. Bukan lagi takut kalau arwah-arwah orang-orang yang mati terbakar menampakan diri, tapi saat ini dia sangat takut bertemu dengan pembunuh bermata biru itu. Jangan sampai itu terjadi lagi dalam hidupnya. Pertemuan dengan sang pembunuh bermata biru. Kedua kaki jenjang Yoana mulai menapaki setiap jengkel area itu. Tubuhnya mulai bergidik ngeri. Apalagi ketika melangkahi titik di mana pembunuhan pada pria tua berjas rapi itu terjadi. Bola mata biru si pembunuh langsung membayang di pelupuk matanya, membuat jantungnya langsung berdegup kencang. Sorot mata biru itu benar-benar membuatnya takut. “Ya Tuhan, selamatkan aku. Jauhkan aku dari bahaya. Terutama dari ancaman pria bermata biru itu. Jauhkan dia jauh-jauh dari hidupku." Yoana berdoa lirih sembari terus melangkahkan kakinya dengan tergesa. Tapi selesai berdoa, beberapa orang pria berpakaian serba hitam, muncul dari beberapa titik tempat bersembunyi. Mereka melangkah pelan ke arah Yoana. Meskipun tidak melihat, feeling Yoana begitu kuat. Dia langsung menghentikan langkahnya. Dia merasa ada yang mengikutinya di belakang. Tapi ketika dia menoleh, yang didapatinya hanyalah sebuah kesunyian yang mencekam. Tak ada siapa pun. Detak jantungan kian berpacu dengan kencang Yoana mempercepat langkahnya. Dia ingin segera melewati gang ini. Tapi kembali dia merasa ada beberapa orang yang mengikutinya di belakang. Meski begitu, kali ini Yoana tidak mau menghentikan langkahnya lagi. Yoana justru memutuskan untuk berlari. Dia yakin kalau memang ada orang di belakangnya yang bersembunyi di balik dinding-dinding toko. Yoana bisa merasakan pergerakan-pergerakan kecil di sana. Tapi belum sempat gadis berambut panjang itu berlari, beberapa orang dengan cepat membekapnya dan mengangkat tubuhnya menjauhi area toko. Yoana tidak bisa memberontak karena tubuhnya dipegang dengan pria-pria yang bertubuh kekar. Mulutnya pun tidak bisa berteriak karena dibekap. Bungkusan gulai kambing untuk Yohan terlepas dari tangannya. Bruk! Setengah di dorong, Yoana dimasukkan ke dalam mobil. Tangan dan kakinya langsung diikat dengan kuat oleh empat orang pria bertubuh kekar yang mengangkatnya tadi. Selain empat orang itu, ada juga dua pria yang duduk di kursi depan. Total ada enam pria di dalam mobil ini. Lalu apa yang bisa dilakukan gadis lemah seperti dirinya untuk menghadapi enam pria bertubuh kekar? Yoana menatap satu persatu wajah pria yang mengelilinginya. Dua duduk di depannya dan dua duduk di samping kanan kirinya. Semuanya memiliki wajah yang sangar tanpa senyum. Fix, tak ada satu pun yang dia kenal. Lalu kenapa dia ditangkap oleh pria-pria asing ini? “Kenapa kalian menangkapku?” Yoana mencoba untuk bertanya meski saat ini dia merasa takut. Diperkosa oleh enam pria bertubuh sebesar ini, nyawanya tidak akan selamat. Dari wajahnya, pria-pria itu brutal dan tidak memiliki belas kasihan. Keempat pria itu melirik Yoana begitu gadis itu selesai bertanya. Tapi tidak satu pun yang membuka mulut. "Aku tanya, kenapa kalian menangkapku? Siapa yang menyuruh kalian menangkapku? Aku tidak pernah merasa memiliki masalah dengan siapa pun!" Lagi-lagi keempat pria itu hanya melirik tanpa menjawab. Dan hal itu membuat Yoana kesal. "Kalian semua ini bisu apa?!" Mendengar apa yang diucapkan Yoana barusan, keempat pria itu langsung bergerak mengeluarkan perban. Mereka berniat untuk melakban mulutnya. Yoana meronta sebisanya meski pergerakannya tidak berarti apa-apa karena kaki tangannya sudah diikat. Akhirnya perban itu pun menempel juga di bibirnya. Menempel sangat kuat. Yoana pun tidak bisa berbicara dan bertanya lagi tentang alasan mengapa dirinya ditangkap dan siapa yang menangkapnya. Merasa tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Yoana pun hanya bisa meneteskan airmata. Sebenarnya tidak masalah kalau dirinya akan mati dalam penculikan ini. Tapi bagaimana dengan Yohan? Apakah adiknya itu bisa hidup sendiri? Apalagi saat ini Yohan sedang sakit dan belum makan malam. ‘Yohan, maafkan kakak…’ Gumam Yoana dalam hati. *** Tak lama kemudian, mobil yang membawa Yoana sampai di tujuan. Yaitu sebuah rumah yang sangat besar dan megah dengan halamannya yang luas. Rumah itu dikelilingi oleh pagar yang tinggi dan pintu gerbangnya dijaga oleh dua orang security. Yoana menelan salivanya. Bisakah dia melarikan diri dari rumah dengan penjagaan seperti ini. Yoana ditarik turun, masuk ke dalam rumah. Dan di dorong masuk ke sebuah kamar. Ikatan di tangan dan kakinya dibuka. Begitu pun dengan lakban dimulutnya. Setelah selesai semua, para penculik itu tergesa keluar kamar. Tak hanya itu, mereka juga mengunci pintu kamar tersebut. Tak perduli dengan teriakan Yoana di pintu yang meminta untuk dibebaskan hingga gadis itu kelelahan sendiri. Di dalam kamar, Yoana lemas. Dengan nafas yang tersengal-sengal dan wajah yang basah oleh airmata, dia berbalik. Dia langsung melempar pandang ke sekelilingnya. Sebuah kamar yang sangat bagus dengan furniture-furniture yang bisa dipastikan harganya selangit. Tempat tidurnya pun berukuran besar. Yoana baru pertama kali berada di dalam kamar sebagus ini. Tapi ini bukan waktunya untuk mengagumi sebuah kamar. Yoana sendiri tak menikmati ruangan tempatnya berada. Gadis itu menyeka wajahnya yang basah oleh airmata dengan punggung tangannya secara kasar. Karena merasa lelah setelah seharian bekerja dan meronta-ronta, Yoana pun mengambil duduk di tepi tempat tidur besar itu. Sangat empuk tapi lagi-lagi dia tidak menikmatinya. Dia justru merasa kamar ini seperti penjara yang menakutkan. Di sana Yoana tercenung. Bingung mengapa ada orang yang menculiknya seperti ini. Padahal dia merasa tidak pernah mempunyai masalah dengan siapa pun terkecuali dengan pembunuh bermata biru itu. Bersambung... Komen yang banyak akan membuat aku semangat untuk up lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD