Dress Mini

1312 Words
Deg. Jantung Yoana berdegup kencang begitu mengingat pembunuh bermata biru itu. “Apa… memang dia yang menculikku?” tanyanya lirih pada diri sendiri. Bagaimana praduga itu tak muncul dalam benaknya. Dia ini siapa sampai diculik. Dia tidak punya uang untuk dimintai tebusan dan dia juga tidak mempunyai harta jika penculikan ini terjadi karena perebutan harta. Jika dia diculik karena faktor dendam, siap yang dendam kepadanya. Selama ini dia selalu memilih mengalah dengan orang. Dia selalu menghindari pertengkaran. Dengan tangan gemetar, seketika Yoana memeluk tubuhnya sendiri. Dia begitu ketakutan jika kenyataannya memang pembunuh bermata biru itulah yang menculiknya. Itu artinya dia sedang dalam bahaya. Tapi jika yang menculiknya adalah pria bermata biru itu, apa alasannya? Dia tidak menceritakan pembunuhan yang dilihatnya kepada siapa pun. Apa pembunuh bermata biru itu menganggapnya sebagai ancaman? "Tuhan, selamatkanlah aku. Kenapa jadinya seperti ini? Kalau aku mati, bagaimana dengan Yohan? Dia belum bisa hidup sendiri." Selama beberapa saat dia begitu. Menikmati ketakutannya yang mencekam dengan segala prasangka buruk di dalam benaknya. Klak. Yoana terlonjak kaget begitu mendengar suara pintu di buka. Dari baliknya muncul dua orang pelayan perempuan dan seorang pria tua berpakaian rapi. Satu pelayan perempuan itu membawa nampan berisi makanan dan satunya lagi membawa pakaian beserta dalamannya. Setelah menaruh nampan berisi makanan dan pakaian ke atas meja, dua orang pelayan perempuan itu keluar kamar. Kini tinggallah pria tua berpakaian rapi yang tidak lain adalah John, kepala pelayan di rumah ini. “Makanlah, dan kemudian mandi. Ini adalah dress untukmu berganti lengkap dengan dalamnya,” kata John lirih tapi tegas sembari menunjuk meja tempat makanan dan baju tidur tadi diletakkan. Yoana membuka pelukan pada tubuhnya sendiri lalu menggeleng pelan. “Tidak, aku tidak mau makan atau pun mandi. Aku hanya mau pulang.” John menghela nafas. “Jangan membantah jika kamu ingin selamat. Tuan Asher akan marah besar jika kamu tidak menuruti perintahnya.” Yoana terhenyak mendengar satu nama asing yang disebutkan oleh John. “Tuan Asher? Siapa Tuan Asher? Kenapa dia menangkapku?” “Kamu nanti akan tau sendiri siapa itu Tuan Asher. Tapi sebelum itu, kamu harus makan dan mandi dulu. Dia akan datang ke kamar ini setelah perut kamu kenyang dan tubuhmu bersih. Yoana mengerutkan keningnya. Mengapa orang yang bernama Asher itu akan datang ke ke kamar ini setelah perutnya kenyang dan tubuhnya bersih? Memangnya dia akan diapakan? Di jual atau bagaimana? Tapi yang paling membuatnya bertanya-tanya adalah tentang Asher itu sendiri. Siapa Asher itu? Apakah pembunuh bermata biru itu? “Aku akan keluar." Kata John lagi. "Tapi tiga puluh menit lagi akan masuk kembali untuk melihat apakah kamu sudah memakan makanan ini dan mandi atau belum. Jika belum, maka kami akan memaksamu.” Tanpa menunggu reaksi Yoana, John keluar kamar dan menutupnya kembali. Sekeluarnya John, Yoana langsung memburu pintu dan memutar-mutar handelnya. Dia berharap pintu itu akan terbuka dengan apa yang dilakukannya saat ini. Tapi kemudian Yoana mendengus kecewa. Pintu itu sudah kembali terkunci kuat dari luar. Yoana menyandarkan punggungnya ke daun pintu, lalu merosot ke bawah. Tangisnya kemudian pecah mengingat takdirnya yang tidak baik. Selain itu, dia juga mengkhawatirkan Yohan yang sendiri di dalam rumah dengan keadaan yang belum terlalu sehat. Adik tersayangnya itu pasti sedang menunggu-nunggu kepulangannya saat ini. Gulai kambing pesanan Yohan, jatuh ketika dirinya ditangkap oleh keempat pria yang membawanya ke rumah ini. "Yohan, maafkan kakak." Yoana menangis tersedu-sedu. Yoana merasa putus asa. *** Seorang pria berwajah teramat tampan dan berjas rapi, keluar dari sebuah mobil yang mewah. Kedatangannya langsung disambut oleh kepala pelayan, John. John mengikuti langkah pria itu menuju kamar utama dan membantunya membuka jas. "Apakah Leo sudah mengirim gadis itu ke rumah ini?" John mengangguk. "Sudah tuan. Baru saja aku menyuruhnya untuk makan dan mandi." Gerakan tangan Asher yang hendak membuka kancing baju, terhenti begitu mendengar jawaban John. Hatinya kembali berdesir seperti ketika dia melihat Yoana di depan rumah makan tempat gadis itu bekerja menyambung hidup. Perasaan yang aneh. Tapi Asher menikmatinya. Dan yang terpenting baginya saat ini adalah Yoana sudah ada di dalam rumah ini. Dia tinggal datang ke kamar Yoana jika ingin menemuinya. Sungguh, dia sudah tidak sabar. "Siapkan air hangat dan makan malamku. Setelah itu aku akan menemuinya. Pastikan dia sudah siap." John mengangguk. "Baik tuan." John bergegas ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat. Setelahnya, dia ke dapur dan meminta para pelayan mengantarkan makan malam sang majikan itu. Yang terakhir John lakukan adalah pergi ke kamar Yoana untuk memastikan gadis itu telah siap. John menuju kamar Yoana bersama lima orang pelayan perempuan yang mengikuti John dari belakang. Fungsi lima pelayan perempuan itu adalah untuk memaksa Yoana makan dan mandi jika gadis itu tidak mendengar perintahnya setengah jam yang lalu. Klak. John membuka pintu kamar Yoana. Dia berharap gadis itu minimal sudah makan malam. Tapi yang didapatinya sungguh membuatnya geram. Makanan yang terhidang di atas meja masih utuh. Dan Yoana masih belum mandi. Gadis itu masih mengenakan baju butut yang sama ketika di bawa ke rumah ini. John menatap lekat pada Yoana yang berdiri di tepi tempat tidur dengan wajah takut tapi terlihat sedang menantangnya. "Kenapa kamu belum makan dan mandi?!" Tanyanya dengan membentak. Yoana meremas jemarinya. "A-aku tidak ingin makan dan mandi di rumah ini. A-aku mau pulang. To-tolong izinkan aku pulang. A-aku punya adik yang sedang menungguku." Jawab Yoana dengan suara yang gemetar. Bagaimana tidak, perasaannya saat ini sedang campur aduk tak karuan. Takut, sedih, bingung, dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. "Berhentilah berpikir untuk pulang. Selama Tuan Asher menginginkan kamu di sini, maka kamu akan tetap berada di sini." "Tapi aku tidak mau di sini, pak!" "Berhentilah bertingkah!" Sahut John cepat. Pria itu lalu bertepuk tangan dua kali. Lima orang pelayan perempuan langsung masuk ke dalam kamar. Yoana hanya melihat itu dengan pandangan tak mengerti. “Sekarang aku beri kesempatan kepadamu sekali lagi," kata John kemudian. “Kamu mau makan dan mandi sendiri atau kami akan menyuapimu dan memandikanmu!” Yoana tersentak. Di tatapnya wajah serius John dan kelima pelayan perempuan di depannya. Ancaman John tampak tidak main-main. Yoana tidak suka dengan pemaksaan. Karena itu dia langsung mengangguk. “I-iya. Aku akan makan dan mandi sendiri." Tanpa menunggu reaksi John, Yoana mengambil duduk di sofa. Dengan terburu-buru, gadis cantik itu memakan makanan yang ada di dalam nampan. Rasanya enak. Namun, Yoana merasa sedang makan sepiring paku. Sakit sekali untuk menelannya mengingat Yohan mungkin kelaparan di rumah. Masih dengan disaksikan John, selesai makan Yoana langsung mengambil dress beserta dalaman yang dibawakan oleh pelayan tadi. Dia kemudian masuk ke kamar mandi. Di sana dia membersihkan diri dengan peralatan mandi yang mewah. Botol-botolnya berwarna emas dan sangat wangi. Tekstur sabun cair dan samponya pun terasa berbeda di tangannya. Sangat lembut. Setelah tubuhnya bersih dan harum, Yoana mengeringkan tubuhnya dengan selembar handuk yang tersedia di dalam kamar mandi itu. Handuknya wangi dan jelas baru dikeluarkan dari lemari karena lipatannya sangat rapi. Baru kemudian dia mengenakan pakaian yang disediakan untuknya. Yoana menatap dirinya di depan cermin. Dress yang dipakainya sangat bagus. Berwarna biru langit dengan motif bunga-bunga besar berwarna putih. Tapi ini dress mini yang menurutnya lumayan seksi karena tidak berlengan dan panjangnya satu jengkal di atas lutut. Seumur-umur, Yoana belum pernah memakai pakaian seseksi ini. Dia selalu memakai celana panjang atau rok panjang. Atasannya juga semua berlengan. Yoana menghela nafas berat. Sebenarnya dia tidak nyaman mengenakan dress yang sekarang melekat di tubuhnya. Tapi mau bagaimana lagi, lima pelayan perempuan yang ada di luar kamar mandi, akan memaksanya Jika dia menolak memakainya. Yoana sedang tidak berdaya saat ini. Dia tidak bisa membantah. Dengan perasaan tidak nyaman karena dress yang dikenakannya dirasanya terlalu pendek, Yoana keluar dari kamar mandi. Dia tidak lagi melihat John dan lima pelayan perempuan di dalam kamar itu. Tapi ketika Yoana menoleh, dia terlonjak kaget setengah mati. Di sofa telah duduk santai seorang pria berwajah tampan yang tidak lain adalah pria bermata biru yang sangat ditakutinya itu. Bersambung... Kalau sudah 200 loves, baru up lagi ya kak. Follow Ig aku: Mayang_noura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD