"Lina, kamu belum bangun?" Seno pelan-pelan membuka pintu kamar putri sulungnya yang kebiasaan tidak dikunci. Dulu Aliza diberi akses bebas keluar masuk kamarnya, sedekat itu hubungan mereka. Perempuan itu masih meringkuk di kasur, sekalipun sudah pukul tujuh pagi. Biasanya Zelina tidak akan tidur usai salat subuh, ia akan joging di sekitar rumah atau olahraga ringan sehingga wajar bentuk badannya bagus. Paling ia akan tidur sampai siang kalau benar-benar lelah habis pemotretan, tapi seingat Seno kemarin baru saja pulang dari luar kota dan sudah tidur puas sampai sore. "Kamu enggak ada jadwal pemotretan, Sayang?" Seno memasuki kamar anaknya yang masih gelap, jadinya ia menyibak gorden serta membuka jendela agar sinar matahari menerobos masuk. Zelina mengerjapkan mata, menoleh ke papany

