Demam Tinggi

1137 Words

Ponselnya berteriak-teriak di nakas dekat ranjang. Aliza memilih mengabaikan daripada kepala yang seakan berputar-putar makin pusing mendengar suara galak Gibran. Seolah memiliki kemampuan meramal, tebakannya benar kalau yang menelepon berkali-kali tanpa etika pastilah suami menyebalkan. Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Ia berjalan berpegangan pada dinding tembok. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, bibir mungil yang biasa berwarna merah jambu sekarang sepucat tembok rumah sakit. Mendadak kepalanya makin berat, ia memegangi keningnya ingin cepat rebahan. "Pusing banget," gumamnya meraba-raba tembok seperti nenek renta saat akan menggapai ranjang empuknya. Dia menggeser pandangan yang sudah tidak jelas ke jendela demi melihat air hujan membasahi dari luar. Jend

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD