Ponselnya berteriak-teriak di nakas dekat ranjang. Aliza memilih mengabaikan daripada kepala yang seakan berputar-putar makin pusing mendengar suara galak Gibran. Seolah memiliki kemampuan meramal, tebakannya benar kalau yang menelepon berkali-kali tanpa etika pastilah suami menyebalkan. Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang dimiliki. Ia berjalan berpegangan pada dinding tembok. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, bibir mungil yang biasa berwarna merah jambu sekarang sepucat tembok rumah sakit. Mendadak kepalanya makin berat, ia memegangi keningnya ingin cepat rebahan. "Pusing banget," gumamnya meraba-raba tembok seperti nenek renta saat akan menggapai ranjang empuknya. Dia menggeser pandangan yang sudah tidak jelas ke jendela demi melihat air hujan membasahi dari luar. Jend

