Chapter #01 Wujud Menggetarkan Bumi

1731 Words
Jalegong, Lereng Selatan Gunung Ungaran Bulan belum sempurna menjemput malam. Semburat sinarnya yang keperakan bercampur kelabu tampak di punggung awan yang berarak perlahan di sebelah Barat. Sebagian sinar rembulan itu menerobos ke celah gerumbul pohon pinus yang bergoyang-goyang perlahan, tertiup angin lembah lereng gunung Ungaran. Bayangan gerumbul pohon pinus itu kemudian jatuh bersama sebagian sinar rembulan di pelataran Candi Sembilan di Jalegong; membentuk bayangan hitam dan menambah suasana mistis malam itu. Kerisik dedaun pohon yang saling bergesekan oleh hembusan angin lembah, dan suara burung Bulbul sesekali terdengar di kejauhan. Waktu seperti berjalan lambat di tempat itu. Malam telah larut, tetapi pagi masih jauh dari jangkauan. “Akan kucari Bapaku. Dan kupertemukan ibu dan bapaku kelak di suatu tempat agar ibuku bahagia, utuh sebagai keluarga”, tekad Baruklinting kepada dirinya sendiri. Dia baru saja meninggalkan ibunya. Dengan bulat hati dia memutuskan untuk mencari bapanya, yang konon sedang bertapa di Gunung Merapi. Sebenarnya dia bisa dengan mudah memakai kesaktiannya untuk memulai perjalanannya itu. Misalnya dengan menggunakan ajian Kantong Macan yang dikuasainya, dia bisa menghilang di tempat itu lalu muncul dan menampakkan diri lagi di suatu tempat lain yang dia kehendaki. Bersama daya kesaktian Kantong Macan menjadikan dia mampu berteleportase atau berpindah tempat dalam waktu yang cepat. Tetapi tidak. Baruklinting tidak memakai ajian Kantong Macannya. Cara lain yang bisa dipakainya adalah terbang memakai pelepah daun kelapa, lalu meluncur di angkasa melayang seperti kepakan seekor elang, atau seperti gerakan nenek sihir terbang bersama sapu ajaib seperti didongengkan oleh para orangtua ke anak-anak di desa. Ajian terbang naik pelepah pohon kelapa itu, disebut ajian Blarak Sineret Bayu. Baruklinting sebenarnya mampu melakukan hal itu. Tetapi tidak. Cara itu pun tidak. Baruklinting tidak memakai ajijaya kawijayan Blarak Sineret Bayu, walaupun jika dia mau Baruklinting bisa melakukannya dengan mudah. Maka dalam pada itu, Baruklinting telah memantapkan diri berangkat mencari bapanya dengan cara tak lazim di kala itu, yaitu memakai ajian Sawer Tiwikrama. Ajian ini kuno dan sangat jarang orang di tanah Jawa yang menguasai ilmu kesaktian ini. Sejurus kemudian Baruklinting duduk bersila di sebuah batu besar di pinggir hutan Sumowono perbatasan Jalegong. Dia bersedekap dan wajahnya menatap ke langit. Mulutnya mengucap suatu mantera kuno. Dia memateg mantera ajian Sawer Tiwikrama. Sawer artinya ular, Tiwikrama artinya perubahan wujud raksasa. Perubahan wujud ular raksasa yang dia kehendaki. “Hyang Siro. Sun amateg aji sawer tiwikrama. Wadag iro jagad royo, jagad royo wadag iro. Dadya kanyasan digdya iro. Sawer tiwikromo yo iro. Branah srampah catu langin. Ingsun dityakala sawer dadya gede sak gede gunung anakan. Saka kersaning Gustiku, Gusti iro”. Ujar Baruklinting sambil menarik udara dalam satu tarikan napas dalam. Maka sejurus kemudian, tubuh pemuda itu mengeluarkan asap putih melalui pori-pori kulit tubuhnya. Asap putih itu bergerak semakin banyak menyelimuti sekujur tubuhnya yang bersila di atas batu besar itu. Secara perlahan tetapi pasti, tiba-tiba kulit tubuhnya telah berubah dipenuhi sisik-sisik kulit seekor ular. Lapisan kulit sisik ular itu berkilauan berwarna kuning kemerahan terkena pantulan cahaya rembulan malam itu, mirip lapisan sisik seekor Golden Red Arwana dalam kolam raksasa. Setiap sisik ular itu pun membesar ukurannya, seiringan dengan tubuh Baruklinting yang kemudian melar, memanjang seperti karet gelang, berubah wujud sebagai sosok seekor ular. Sosok ular itu menggeliat, memanjangkan ukuran tubuhnya hingga sampai sepanjang ukuran tiga kali pohon kelapa tua, dengan garis tengah seukuran tampah anyaman bambu yang biasa dipakai petani memilah padi saat panen di sawah. Sisik-sisik ular itu pun telah dalam ukuran sempurna sebanding tubuhnya, berwarna kuning kemerahan dengan garis warna hijau kebiruan melintang dari sepanjang ekor hingga mendekati tulang rahangnya yang kokoh dan keras. Kedua bola matanya bulat besar berwarna merah dalam garis lingkaran hitam, melihat kesana kemari; membuat ciut nyali siapa saja yang mencoba bertatapan mata dengannya. Pada kepala ular itu terdapat sepasang sungut yang panjangnya satu depa lebih, yang bergerak-gerak tak henti, seperti gerakan sungut seekor jengkerik raksasa. Sebuah genta atau kelintingan menggantung sebagai kalung di leher ular besar itu. Bunyi genta itu bergemerincing terdengar setiap kali ular itu menggerakkan kepalanya. Kelak orang menyebut genta itu sebagai Genta Baruklinting! Mulut ular itu memiliki sepasang taring panjang di bawah moncong dekat hidungnya. Mulut itu menganga menjulurkan lidahnya yang ujungnya bercabang berwarna merah, menjulur julur keluar seperti cahaya kilat di waktu malam. Di antara kedua bola mata ular itu, tepat di keningnya, terdapat batu pemata biru warnanya. Pancaran cahaya batu permata itu berpendar kesana-kemari terkena pantulan sinar rembulan malam itu. Kelak orang menamai batu permata ular itu sebagai Batu Mustika Baruklinting! Baruklinting benar-benar telah berubah wujud sebagai ular Naga raksasa. Dia mendesis-desis, menimbulkan perasaan ngeri atau nggegirisi pada siapa pun mahkluk yang mendengar suara desisan ular itu. Bahkan jin dan bangsa prajineman di Gunung Ungaran tak mungkin berani mendekati Baruklinting. Para prajineman itu akan seketika merasa ciut nyalinya, seperti segerumbul daun tanaman putri malu beringsut tersentuh tangan pejalan kaki yang melintasinya. Bumi seperti bergetar ketika Baruklinting telah sempurna sebagai wujud seekor ular raksasa. Baruklinting telah mampu berubah wujud berkat daya kesaktian yang dia miliki sedari lahir itu. Dengan wujud sebagai ular, Baruklinting lalu bergerak mencari bapanya. Konon orang tuanya itu adalah seorang petinggi di suatu tanah perdikan di daerah pesisir Laut Selatan, dan orang itu sekarang sedang bertapa di Gunung Merapi. Baruklinting selalu teringat pada pesan ibunya, kala itu: “Bapamu adalah orang penting di suatu perdikan pantai Laut Selatan. Temuilah. dia sedang bertapa di Merapi”. Sekonyong-konyong tubuh ular dengan sisik-sisik yang keras sekeras lapisan baja itu menggeliat, lalu masuk amblas ke dalam bumi. Bergemerincing bunyinya, berasal dari genta yang melingkar di lehernya. Permukaan tanah mendadak bergetar dan retak mengelupas keluar bagaikan lapisan tanah yang terkelupas habis dibajak oleh sepasang kerbau di sawah. Baruklinting seperti membuldoser apapun yang ada di depan jalur perjalanannya. Pohon-pohon besar dan kecil bertumbangan. Bebatuan cadas rata dengan tanah. Sebagian terbelah berkeping keping, terlindas lintasan ular Naga sakti yang tengah mencari bapanya itu. Baruklinting bergerak dari Sumowono turun ke lembah arah Banyubiru. Di sepanjang jalur yang dilaluinya, terbentuk alur sebuah sungai. Kelak sungai itu dinamai orang sebagai sungai Kali Panjang, dari kata Panjangka artinya tekad untuk mencapai suatu maksud atau tujuan. Sungai Kali Panjang terdapat melintas di desa Kerep, desa Panjang, dan membelah kawasan Ambarawa. Desa Aran, Jalegong Dewi Ariwulan masih bersedih. Baru saja dia melepas kepergian Baruklinting. Dia tidak mampu mencegah tekad putra yang dikasihinya itu untuk pergi mencari bapanya. Putri gunung ayu rupawan dari desa Aran daerah Jalegong, lereng Gunung Ungaran itu merasa sangat kehilangan. Sebab rasanya baru kemarin sore dia menimang bayi Baruklinting, dan kini anak itu telah pergi meninggalkannya. Dewi Ariwulan teringat pada kenangannya bersama buah hatinya itu. Waktu kecil, anak itu dia beri nama Joko Baru. Anak itu sering merepotkan. Sebab Joko Baru memiliki kemampuan linuwih dibanding anak seusianya. Dan dia sering bertindak di luar nalar. Orang-orang desa Aran menyebutnya anak itu sebagai Bocah Mbeling! Sebagai bocah yang suka bermain, Joko Baru lebih sering bermain sendirian dengan cara yang tak lazim dan cenderung berbahaya, di kala itu. Adakalanya dia tampak membawa keranjang bambu, berada di tebing sungai Sumowono kemudian menceburkan diri ke air, menyelam dalam waktu lama, bahkan terlalu lama tidak muncul ke permukaan air. Tentu saja hal ini membuat beberapa orang yang tengah terlihat mencuci di pinggir sungai itu menjadi sangat cemas. Mereka khawatir terjadi sesuatu yang mengancam keselamatan anak itu. Tetapi tidak. Tak lama sesudah itu, Joko Baru muncul dari penyelaman di sungai Sumowono itu sambil mengangkat keranjang berisi penuh ikan wader ijo berukuran besar dan kecil. Orang-orang di pinggir sungai itu lega. Bahkan mereka senang karena Joko Baru membagi hasil tangkapan ikannya itu ke mereka untuk dijadikan lauk makan di rumah masing-masing. Di Waktu lain, Joko Baru terlihat dengan gesit memanjat pohon besar yang tinggi, bergelantungan bersama belasan monyet yang menggerombol, bahkan turut berlompatan seperti para monyet itu dari dahan ke dahan, seperti sedang mencari makanan buah-buahan. Joko Baru sangat riang bermain bersama gerombolan monyet itu. Gerakannya begitu lincah, bahkan seperti sangat ringan tubuhnya terlihat melenting, meloncat dan berayun dari pohon-pohon tinggi di lereng Gunung Ungaran. Ada kalanya, Joko Baru terlihat mengendap-endap seperti bersiap memburu sesuatu di padang savana Jalegong. Benar saja. Sedetik kemudian dia telah melesat, berlari sangat cepat, sambil berteriak mengejutkan sekawanan rusa yang tengah merumput di tempat itu. Sontak saja sekawanan rusa itu berhamburan lari tunggang langgang. Joko Baru tertawa kegirangan melihat polah rusa-rusa yang berlarian ke segala arah itu. Tak jarang di hari lainnya, Joko Baru terlihat memanjat pohon tinggi. Mungkin itu pohon trembesi atau mahoni. Di dahan yang melengkung, kepalanya melongok mengamati sarang burung Prenjak yang menyimpan anak-anak burung menciap ciap mencari induknya. Dia bisa berlama lama di dahan pohon itu, terayun ayun tubuhnya tertiup angin. Sesekali dia mengambil biji bijian jewawut dari saku kantung bajunya dan memberikan jewawut itu sebagai makanan ke anak-anak burung yang menurutnya sedang kelaparan itu. Hutan, lembah, sungai dan lereng Gunung Ungaran adalah alam liar yang luas. Kawasan itu adalah ruang bermain setiap hari yang menyenangkan bagi Joko Baru. Tetapi justru akibatnya tak jarang ibunya Dewi Ariwulan benar-benar cemas dan sulit menemukan di mana anak itu berada. Maka suatu ketika perempuan itu memanggil Joko Baru dan memeluk putra yang dikasihinya itu. “Darimana saja kau bermain, hari ini ngger. Ibu cemas kalau kamu tak ibu ketahui keberadaanmu.”, kata Dewi Ariwulan. “Aku pergi memberi makan ke anak-anak burung yang tinggal di beberapa sarang mereka di pepohon pinus di samping pelataran candi gedong, ibu”. Jawab Joko Baru. Matanya berbinar. Ibunya tersenyum. Lalu perempuan itu memasang sesuatu ke kedua telinga anak itu. “Ngger, Joko Baru. Ini ibu pasang sepasang sumping ke telingamu. Jangan kau lepaskan sumping ini dari telingamu, sebab jika ibu memanggilmu, kamu bisa mudah mendengar suara panggilanku”, kata Dewi Ariwulan. Joko Baru mengangguk. “Dan ini. Kukalungkan genta atau kelintingan pada lehermu. Jangan kau lepas genta ini dari lehermu. Sebab genta ini akan gemerincing bunyinya jika kamu ada di suatu tempat. Suara genta itu memudahkan ibu tahu kamu sedang di mana”, kata perempuan itu sambil memasang genta yang berbentuk kalung itu ke leher putranya itu. Sepasang sumping dan genta itu sebenarnya adalah benda pusaka Dewi Ariwulan yang diberikan kepada anak satu-satunya itu. Benda pusaka itu memiliki daya kesaktian seperti yang diutarakannya pada Joko Baru. “Dan sejak ini, karena kamu selalu memakai kelintingan di leher, namamu kuganti dari Joko Baru menjadi Baruklinting, ngger”, kata Dewi Ariwuan sambil mengelus kepala putranya itu. Joko Baru senang dengan nama pemberian ibunya itu. Baruklinting! Dewi Ariwulan termangu, sendirian dalam kubangan alam lamunan dan kenangan ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD