Desa Aran, Jalegong
Sejak saat itu, orang desa Aran di Jalegong melihat anak itu selalu memakai genta atau kelintingan di lehernya, dan sepasang sumping pada kedua telinganya. Orang-orang juga menyebut nama anak itu seperti ibunya memanggilnya, yaitu Baruklinting!
Baruklinting tumbuh sebagai anak yang lincah, kuat dan bertambah sakti, bagai diobong ora kobong disiram ora teles: Dia melebihi kemampuan anak-anak seusianya di masa itu.
Kemampuan linuwih Baruklinting itu memang sudah dia miliki secara alamiah sejak kecil. Sebab menurut tutur para sepuh, hal itu disebabkan oleh pengaruh daya keris pusaka Bethok Budho yang telah menyatu dalam badan wadag anak kecil itu sejak dia masih dalam kandungan ibunya. Keris pusaka Bethok Budho adalah pusaka kuno yang bentuknya sederhana mirip pisau dapur atau seperti bentuk centong nasi.
Dituturkan bahwa awal mula keris pusaka itu berasal dari pemberian suami Dewi ariwulan sebelum dia pergi pamit meninggalkannya untuk bertapa ke Merapi. Suaminya itu berpesan bahwa jangan sekali pun keris itu dipangku. Tetapi wewaler itu tanpa disadari telah dilanggar oleh Dewi Ariwulan.
Suatu hari, karena kerinduannya yang besar pada suaminya, putri Jalegong yang tengah hamil itu menimang keris pusaka Bethok Budho. Tetapi tanpa sengaja keris itu ditaruh dalam pangkuannya. Akibatnya sungguh tak terduga. Keris pusaka itu kemudian berubah sebagai cahaya yang melesat masuk dalam rahim perempuan itu. Dewi Ariwulan lemas badannya, sebab dia baru menyadari dan teringat pada pesan suaminya bahwa “jangan kau taruh keris dalam pangkuan”. Perempuan itu sadar bahwa dia telah melanggar larangan suaminya itu. Tetapi apa boleh buat, semua telah terlanjur menjadi bubur. Dia tak mampu menghindari keadaan itu.
Akhirnya dia hanya berpasrah pada kenyataan, dan menyimpan erat dalam hatinya kejadian hilangnya pusaka yang berubah sebagai cahaya yang masuk dalam rahimnya itu. Tak ada seorang pun yang tahu akan kejadian itu. Ki Hajar Salokantoro pun tidak!
Ki Hajar Salokantoro adalah tetua di desa Aran dan pemimpin sebuah pasraman di Jalegong. Dia adalah kerabat dekat Dewi Ariwulan. Lelaki itu akhirnya tahu bahwa Dewi Ariwulan tengah hamil tanpa didampingi oleh suaminya. Kala itu keadaanya itu bisa disebut aib oleh warga setempat, bahwa ada perempuan telah hamil tanpa suami.
Maka Ki Hajar Salokantoro dengan kecintaan yang besar, dia memberi tempat khusus ke Dewi Ariwulan di suatu tempat asing jauh dari pemukiman warga. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi pergunjingan warga yang semakin meluas tentang diri perempuan yang sedang hamil itu.
Di tempat itu Dewi Ariwulan menjalani masa kehamilannya, ditemani oleh seorang pelayan khusus, seorang abdi perempuan yang setia Putri Biru, namanya. Putri Biru menemani Dewi Ariwulan menjalani masa-masa selama kehamilan di situ. Tempat itu berupa rumah kayu, berada di samping sebuah sendang atau telaga kecil, di kaki Gunung Ungaran. Kelak tempat itu dinamai Tlogo Jembangan Kahuripan atau sendang kehidupan.
Pada malam ketika waktunya telah tiba, Dewi Ariwulan melahirkan di tempat itu. Pada waktu itu Putri Biru yang menemani persalinan terkesima ketika menyaksikan bahwa si jabang bayi yang lahir itu bukan sebagai bentuk anak manusia, melainkan seperti wujud seekor ular kecil bercahaya kuning keemasan. Tetapi penampakan perwujudan itu begitu singkat, sebab beberapa jeda kemudian, wujud seekor ular itu dipenuhi cahaya entah darimana, lalu berubah seketika wujudnya sebagai seorang anak manusia. Wujud bocah bayi laki-laki!
Dewi Ariwulan berlinang airmatanya karena diliputi rasa bahagia. Peristiwa kelahiran bayinya itu kemudian terhembus oleh angin lembah, menyampaikan pesan ke orang-orang desa Aran. Lalu pesan itu berubah sebagai cerita, yang merambat ke kawasan bukit-bukit dan lembah, dituturkan secara lisan, ditambah dan dikurangi isi ceritanya. Lalu mewujud secara perlahan tetapi pasti, ke kawasan Jalegong, Sumowono, Ambarawa, dan Salatiga sebagai tutur tinular, menjadi mitos dan melegenda: “Bahwa telah lahir seekor ular dari rahim ibunya seorang perempuan di Jalegong!”. Walaupun fakta sesungguhnya belum tentu demikian. Hanya orang-orang winasis di kala itu, yang benar-benar memahami fakta sesungguhnya apa yang dialami Dewi Ariwulan dan bayi lelakinya yang ajaib itu.
Seiring waktu berjalan, anak lelaki itu diberi nama Joko Baru. Dia tumbuh sebagai anak yang linuwih sedari lahir. Bahkan banyak orang di Jalegong berdecak kagum padanya. Karena sejak kecil Joko Baru mampu berkata-kata seperti layaknya orang dewasa berbicara. Hanya saja pengucapan mulutnya masih terdengar cadel, atau pelafalan vokalnya belum sempurna.
Anak kecil itu juga memiliki kemampuan diluar nalar, sebab pengaruh daya pamor keris pusaka Bethok Budho yang telah menyatu dalam tubuhnya. Dia mampu dengan mudah menarik benda-benda pusaka dari alam gaib, lalu mewujudkannya dalam alam nyata, lalu mengisi benda-benda pusaka itu dengan pamor, sehingga benda-benda pusaka itu memiliki daya kekuatan yang luar biasa. Daya kemampuan semacam itu amat jarang dimiliki oleh mereka yang mendalami ilmu kadigdayan di kala itu.
Sebaliknya juga, secara alamiah Joko Baru ternyata memiliki daya ajijaya kawijayan yang memampukan dia melebur, melenyapkan atau memusnahkan segala daya kekuatan pamor pusaka sehingga pusaka itu tak berfungsi sama sekali sebagai s*****a andalan pemiliknya.
Ki Hajar Salokantoro menaruh perhatian yang besar pada kemampuan Joko Baru yang membuat kagum semua orang itu. Lalu dia membawa Joko Baru sebagai murid, untuk dilatih berbagai ilmu linuwih di pasraman Jalegong.
Pasraman itu letaknya tak jauh dari Desa Aran di mana ibunya tinggal. Tempat itu adalah pusat gladi kadigdayan dan pusat pelatihan ajijaya kawijayan bagi sekelompok anak-anak muda. Konon anak-anak muda itu dipilih dari mereka yang berasal dari orang sisa-sisa pelarian Majapahit, terutama yang berasal dari Jawa Timur.
Adapun guru atau resi yang sebagai pengajar di pasraman pimpinan Ki Hajar Salokantoro itu konon adalah berasal dari kaum Wong Kalang. Wong Kalang adalah kelompok orang Jawi kuno yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi dan menguasai aneka ilmu linuwih di tanah Jawa. Wong Kalang sebenarnya juga adalah orang-orang yang berasal dari sempalan pasukan khusus kerajaan Majapahit yang melarikan diri setelah keruntuhan Majapahit di tahun 1400 saka. Pasukan khusus itu bersandi Bhayangkara!
Di pasraman Jalegong, terutama di pelataran yang disebut balai Pelataran Gedong Songo atau Gedung Candi Sembilan di lereng Gunung Ungaran sebelah Selatan, kaum Wong Kalang tidak saja mengajarkan ilmu kadigdayaan bagi para murid, melainkan juga mengajarkan ilmu bercocok tanam dengan metode kuno tetapi menghasilkan panen melimpah, mengajarkan tehnik membuat tosan aji, termasuk berbagai ilmu membuat aneka ukiran dan tehnik membuat bangunan candi.
Joko Baru dengan cepat menyerap segala ilmu, terutama ilmu jaya kawijayan yang diajarkan para gurunya di pasraman itu. Ki Hajar Salokantoro dan para guru dari Wong Kalang merasa kagum dan heran pada kemampuan anak kecil itu.
Berbagai tehnik penguasaan ilmu-ilmu ajian Jawi kuno tingkat tinggi dengan mudah dikuasai oleh Joko Baru. Ilmu ajian itu di antaranya: Rawarontek, Gelap Ngampar, Lembu Sekilan, Waringin Sungsang, Saifi Angin, ajian Pancasona, ajian Brajamusti, ajian Inti Lebur Sakethi, Kidang Kencana, Blarak Sineret Bayu, ajian ilmu Karang, Gendam Jiwo, Teluh Wiso, ajian Kantong Macan.
Di antara ajijaya kawijayan itu ada dua ajian pamungkas yang hanya dikuasai oleh segelintir orang saja di tanah Jawa, termasuk Joko Baru. Sebab untuk mendapatkannya, orang harus mampu melewati berbagai ujian dan lelaku tirakat tingkat tinggi. Dan itu tidak mudah dijalani. Untuk mendapat ilmu kuno itu tak jarang orang harus melakukan tapa brata 40 hari, tapa ngidang hanya memakan daun dan minum air putih saja, tapa ngalong berdiam di atas pohon seperti kalong atau kelelawar dengan tubuh menggelantung terbalik ke tanah. Ditambah lagi aneka puasa dan matiraga dengan makan sekepal nasi pada pukul 00.00 dinihari.
Dua ajian tingkat tinggi itu adalah Waringin Sungsang dan Gelap Ngampar. Waringin Sungsang bermakna pohon beringin terbalik. Ajian Waringin Sungsang memiliki filosofi yang sangat dalam. Waringin Sungsang berarti pohon beringin yang terbalik di mana akarnya berada di atas, seperti pohon kalpataru. Pohon waringin sungsang ini bermakna sumber segala kehidupan, sumber kebahagiaan, keagungan, serta sumber asal mula kejadian. Konon, Ajian Waringin Sungsang merupakan ajian paling hebat dalam dunia olah kanuragan di tanah Jawa. Ilmu kanuragan tersebut memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, siapa pun yang terkena serangan ajian ini akan terserap tenaga kesaktiannya kemudian lumpuh tak berdaya seketika.
Adapun ajian Gelap Ngampar berasal dari kata Gelap atinya petir, dan Ngampar berarti menyambar. Gelap Ngampar artinya Petir Menyambar. Gelap Ngampar termasuk sebagai ilmu tingkat tinggi yang bisa diterapkan melalui gelombang suara atau melalui saluran kekuatan telapak tangan.
Jika disalurkan lewat suara, maka yang mendengar bentakan akan langsung tuli. Dan bila ajian ini dibaca di tengah-tengah riuhnya peperangan, siapa pun yang mendengar teriakan dari pemilik ajian ini akan langsung bersimpuh menyerah atau melarikan diri. Bila ajian ini disalurkan lewat telapak tangan, tubuh yang terkena pukulannya akan terasa panas seperti tersambar petir, bahkan gosong tubuh itu jadi arang.
Mantera ajian Gelap Ngampar yang jarang diketahui orang dan cenderung disembunyikan itu adalah sebagai berikut:
“Hong, ingsun amatek ajiku si gelap ngampar, Gebyar-gebyar ana ing dadaku, Ula lanang guluku. Macan galak ana raiku, Surya kembar ana netraku, Durgadeglak ana pupuku, Gelap ngampar ana pengucapku, Gelap sewu suwaraku, hya ingsun si gelap sewu. Gelap ngampar kuwang-kuwang, Midaku raku, Gelap ngampar pengucapku, Nyaut ora nyunduk, Gajah meta, Kala anembah, rep sirep saking kersaning Allah Gustiku”.
Ki Hajar Salokantoro semakin bangga pada muridnya itu. Sebab sekalipun anak itu masih berumur masih sangat muda, tetapi sikap dan perbuatannya selalu rendah hati, dan tidak mau mencelakai orang lain. Apabila ada kawan sebayanya di pasraman berusaha mengusik dirinya, Joko Baru tidak melayaninya melainkan dia pergi menyingkir atau mengalah.
Maka pada saatnya telah tiba, anak itu tumbuh sangat kuat dan sakti. Bocah itu yang kemudian oleh ibunya dipanggil sebagai Baruklinting itu, semakin banyak tahu tentang kehidupan di sekitarnya. Dia juga tahu bahwa orang-orang sesekali mengejeknya karena dia dianggap tidak memiliki seorang bapa, dan ibunya adalah seorang janda.
Baruklinting menyadari keadaannya itu. Terkadang dia membayangkan bahwa betapa bahagianya jika di tengah keluarganya ada seorang bapa disamping ibunya.
Maka suatu ketika dia bertekad untuk mencari tahu siapa bapanya dan di mana dia sekarang tinggal. Baruklinting ingin berada di tengah-tengah bapa dan ibunya.
Dewi Ariwulan tak bisa menahan keinginan anaknya itu. Anak itu benar-benar bertekad ingin bertemu bapanya.
“Ibu, siapakah bapaku. Di mana dia sekarang. Aku ingin bertemu bapa”. Kata Baruklinting.
Dewi Ariwulan sedih hatinya. Sebab dia tahu bahwa kini saatnya dia berterus terang, dan dia akan ditinggalkan pergi oleh putranya itu mencari bapanya. Dewi Ariwulan teringat pada pesan suaminya, kala itu: “Jika anakku kelak lahir dan sudah jadi pemuda yang ingin mencari aku, katakan aku bertapa di Merapi. Bawakan keris pusaka Bethok Budho bersamanya, sehingga aku mudah mengenalinya sebagai benar putra kita”.
“Ngger anakku. Bapamu adalah orang penting sebuah tanah perdikan di daerah pantai Laut Selatan. Dan sekarang dia sedang bertapa di Gunung Merapi”, jawab Dewi Ariwulan. “Untuk menemui bapamu, ibu harus membekalimu keris pusaka Bethok Budho. Tetapi keris itu telah tiada dan lenyap menyatu dalam rahim ibu sejak kamu masih dalam kandungan ibu”, ujarnya kemudian. Dewi Ariwulan berlinang airmatanya.
“Biarlah aku berangkat mencari bapaku tanpa benda pusaka itu ibu. Tidak apa”, kata Baruklinting. “Aku ingin tahu siapa bapaku, dan jika mungkin aku ingin kelak ibu dan bapaku tinggal bersama, kita berkumpul sebagai satu keluarga. Aku senang jika mengalami hal demikian”.
Dewi Ariwulan terharu mendengar ucapan anaknya itu. Betapa mulia hati anak itu, pikirnya. Lalu dia mengambil sesuatu benda dan diberikan kepada Baruklinting.
“Simpanlah benda ini, dan berikan kepada Bapamu sebagai tanda bahwa kamu benar-benar putraku. Semoga kelak bapamu tidak ragu, walaupun benda ini hanya mengganti keris pusaka itu”. Benda itu adalah gelang pusaka emas dengan permata merah yang terbungkus di semacam kepompong. Kelak orang menyebut batu mulia itu adalah batu permata Merah Delima.
Konon orang menganggap batu Merah Delima memiliki daya kekuatan gaib yang mampu mewujudkan keinginan pemakainya. Batu permata Merah Delima adalah benda alam yang langka dan sangat jarang ditemui di tanah Jawa.
Baruklinting menerima pemberian ibunya itu dan menyimpan dalam suatu kantung yang dia selipkan dalam pakaiannya.
“Sebelum kamu berangkat. Ibu ingin berpesan”.
“Pesan apakah itu ibu, akan kuingat pesanmu itu”, kata Baruklinting.
“Pesanku. Jika kelak kamu bertemu bapamu, sampaikan bahwa ibu masih menunggu, ingin bertemu, dan berkumpul sebagai keluarga”, kata Dewi Ariwulan.
Baruklinting merasa terharu mendengar ucapan ibunya itu. Dia merasakan kerinduan yang sama yang ditanggung oleh ibunya itu. Maka keadaan itu membuat Baruklinting semakin bertekad untuk bisa mempertemukan ibu dan bapanya kelak, dan tinggal di suatu tempat bersama, dan berkumpul sebagai satu keluarga yang bahagia.
“Kumohon doa restumu ibu. Aku bertekad kelak ibu dan bapa aku pertemukan, dan kita bisa berkumpul sebagai keluarga, walau entah kita harus tinggal bersama di mana”, ujar Baruklinting.
Dewi Ariwulan kemudian memeluk erat putranya itu untuk terakhir kalinya, lalu melepas kepergian anak itu mencari bapanya. Baruklinting pergi dengan lambaian tangan terakhir ibunya, sebelum dia benar-benar lenyap di kegelapan malam itu.
Bunyi genta bergemerincing sebentar, lalu sunyi di tempat itu.
***