Bab 01. Tawaran Atau Jebakan?

840 Words
"Astaga ... kemana lagi duit gue?" Gina Utami, melirih ironi melihat keadaan dompetnya yang sudah kosong. "Naura!" Tersangka utama pun Gina teriaki. "Lo nyuri duit gue lagi?" Segera Gina menyentak begitu sang adik tengah asyik menghias kuku di atas kursi di depan teras. "Apaan, sih? Dateng-dateng marah-marah. Enggak jelas banget." Naura Senja, adik satu-satunya Gina itu menggerutu. "Enggak jelas, enggak jelas! Lo nyuri duit gue lagi 'kan?" Urat kemarahan Gina mencuat menggarisi leher. Naura berdecak keras. "Dikit doang! Pelit banget, sih, lo lagian!" "Pala lo dikit doang! Semua duit gue di dompet, di celengan, di bawah pakaian. Semuanya lo ambil!" Tak dapat lagi menahan amarah, akhirnya Gina mendorong kepala Naura perlahan. "Aw! Mama! Kakak main kasar!" Naura menjatuhkan diri secara sengaja dari kursi, berlakon seolah Gina mendorong kasar badannya. Gina mencebik. Sudah biasa melihat drama sang adik yang sering melebih-lebihkan keadaan. "Kakak dorong aku dari kursi!! Aww! Kaki aku sakit banget." Rintih sakit menguar dari Naura, bergerak perhatikan kakinya yang seolah rasakan sakit. Gina perhatikan setiap drama melankolis yang diperankan Naura, kepalanya menghitung mundur kedatangan sang ibu yang akan menghakiminya dan percaya bahwa dia benar-benar mendorong Naura hingga jatuh, walau faktanya dia hanya mendorong kepala Naura. "Gina!" Datangnya lengkingan suara sang ibu buat Gina berdecak. "Cuih, najis banget." Gina berdecih, sebelum sang ibu hampiri mereka, ia lebih dulu angkat kaki keluar dari rumah, enggan mencecoki telinga dengan omelan cempreng sang ibu yang selalu menghakiminya. *** Sudah satu tahun ini Gina menyandang status pengangguran. Dengan uang simpanan, Gina pikir dia bisa menjalani hidup tenang setelah resign dari jabatannya sebagai sekretaris CEO, karena lelah terus dieksploitasi oleh orang tuanya berkedok menjadi anak yang bakti selama bekerja. Sayang, angan-angan Gina untuk istirahat dan hidup tenang tanpa bayang-bayang teror dari atasan atau keluarga yang selalu minta uang, tanpa peduli bagaimana hidupnya di tengah kerasnya kota besar, tak dapat dipenuhi karena Naura dan sang ibu selalu diam-diam mengambil uang simpanannya. Dan kini, tempat menenangkan bagi Gina adalah cafe sepi di tengah kepadatan kota kecilnya. "Bayar pake Qris, ya, Mbak." Gina otak-atik layar ponselnya, bersyukur dia menyimpan sebagian uangnya di e-wallet. "Mohon maaf, Kak. Kami hanya menerima pembayaran melalui cash saja." Ungkapan sang kasir mengejutkan Gina. "Astaga, Mbak. Kopinya udah saya minum, saya juga gak bawah cash." Gina melirihkan suara. "Di sana ada tulisannya, Kak. Kami tidak menerima pembayaran melalui e-money." Sebuah tulisan yang Gina abaikan pun ditunjukkan, buat Gina menegak saliva. "Bol—" "Biar saya aja yang bayar." Sebuah tangan besar nan kekar milik seorang laki-laki menjulur di sisi Gina. Spontan Gina menoleh, terkejut menyergap mendapati sosok yang telah dia hilangkan dalam pikirannya berdiri dengan wajah datar. Sejenak pandangan mereka bertemu, kala Gina sendiri masih mencerna penglihatannya. "Pak Nathan?" Bibir ranumnya bergerak menggumamkan nama mantan atasannya. "Apa kabar?" Nathan Raeksha Abigail, pria dengan kaos polos dipadukan celana cargo selutut itu memandang mantan sekretarisnya tanpa riak. "Bapak ngapain ada di sini?" Suara Gina meninggi, terkejut mendapati manusia yang sangat enggan dia temui. Alis kanan Nathan bergerak naik. "Gak boleh?" Gina hendak menjawab. Namun, dia urungkan saat melihat kopi pesanan Nathan sudah diberikan. "Kita ngobrol di sana aja," kata Nathan, menunjuk kursi paling pojok. Keduanya berlalu, menempati sebuah kursi di sudut kafe. Masih dengan sarang tanya di kepala, Gina ikuti langkah Nathan hingga mereka menduduki kursi saling berhadapan. Mata Gina memindai setiap riak di wajah Nathan, berupaya menembus pikiran mantan atasannya yang super duper rese itu. Namun, tiba-tiba datang ke kotanya entah untuk apa. "Kenapa Bapak ada di sini?" Kembali mengulang tanya, rasa penasaran menggerogoti Gina. Punggung tegap Nathan bersandar pada kursi, iris hazelnya berporos pada sang dara, seolah ingin menyelinap ke setiap lapisan pikiran mantan sekretaris yang satu tahun lalu tiba-tiba mengajukan resign seolah ingin menghindarinya. "Kamu tanya saya mau ngapain?" Lelaki berwajah tanpa riak itu mengulang tanya Gina. Kening Gina mengukirkan kerut. Kendati tujuh tahun menjadi sekretaris Nathan, nyatanya tidak membuat Gina mudah membaca tindak-tanduk mantan atasannya. "Iya," jawab Gina lugas. "Saya mau nikahin kamu." Pernyataan Nathan buat cairan di tenggorokan Gina nyaris terdorong kembali ke mulut sebelum tersemburkan. Kelopak mata Gina spontan melebar, rasa terkejut menghantam tepat sebelum dia menegak minumannya. "Ma-maksud Bapak." Kata-katanya tersangkut di tenggorokan, sulit diutarakan dengan suara normal saat terkejut tiba-tiba menghantam. "Saya mau nikahin kamu," kata Nathan datar. "Kurang jelas?" Pertanyaan berikutnya justru membuat Gina ingin membenturkan kepala Nathan. Pria itu terlampau enteng mengajak nikah seorang perempuan yang bahkan enggan sekali untuk membangun rumah tangga. Apalagi partner rumah tangga itu sendiri adalah Nathan Raeksha Abigail, laki-laki paling cerewet sejagat raya. "Pak, maaf. Tapi 'kan Bapak tau sendiri menikah itu bukan passion saya." Gina korek kembali keinginannya yang dulu sempat ditanyakan oleh Nathan. "Itu makanya saya pilih kamu." Pandangan lelaki itu berporos lurus, membidik Gina dalam pandangan datar. Namun, tertera hal mutlak nyaris absolut. Pernyataan Nathan membuat Gina semakin kebingungan. Wajah gadis itu tak lagi tenang, dia membentuk riak muka yang menjadi khasnya: bibir mencebik ke atas, pandangan skeptis seolah pernyataan Nathan adalah lelucon. "365 hari jadi istri saya, saya kasih lima milyar sebagai kompensasi. Saya bayar di muka." Pria itu kembali merajutkan pernyataan dengan muka datar mengandung kekuasaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD