Bab 02. Teken Kontrak

1065 Words
"Ini surat kontraknya. Silakan dibaca dulu." Pria dengan kaos bermerk dengan harga selangit itu menyodorkan sebuah berkas ke arah Gina. Masih dengan pandangan skeptis, serta rasa tidak percaya senantiasa bersarang dalam benak. Gina terima map dari Nathan. Sulit baginya mencerna tawaran Nathan yang sangat menggiurkan. "Bapak benar-benar mau membayar saya lima milyar dibayar muka?" Gina bergumam, jelas tak mempercayai keputusan Nathan. Dengan wajah datarnya Nathan menyahut, "Ya." Tak lagi menempatkan pandangan ke arah Nathan, Gina kembali baca setiap bait kata yang tersusun di atas kertas putih. "Bapak diburu-buru nikah lagi?" Pandangan Gina kembali dipenuhi oleh Nathan, masih tidak percaya hal ini terjadi padanya. "As you know." Tujuh tahun menjabat sebagai sekretaris Nathan, setiap sudut kehidupan Nathan telah Gina hafal. Bahkan dari silsilah keluarga Abigail, Gina sudah hafal di luar kepala. Dan mengenai pernikahan ini, jelas ini adalah siasat agar Nathan dapat memperkuat posisinya sebagai CEO Abigail Elektronik sebagai syarat dari sang kakek. Namun, Gina tak percaya Nathan akan menunjuknya. "Overall saya setuju sama isi kontraknya. Tapi ada hal yang mau saya negoisasikan." Tutur kata yang diuntai sungguh-sungguh itu mendapat anggukan dari Nathan. "Tolong jangan membangun hubungan apapun dengan keluarga saya." Bukan tanpa alasan Gina menginginkan jarak antara Nathan dengan keluarganya. Teringat betapa toxicnya keluarga Gina, membuat Gina enggan menjadikan Nathan ATM berjalan mereka. "Apapun yang kamu mau. Saya akan melakukannya." Garis mata tajam Nathan berpendar penuh keyakinan, seolah ingin meruntuhkan ragu semula mengakar di benak Gina. "Selain itu ... kita harus mengubah cara bicara." Nathan kembali bersuara. "Berbicaralah seperti biasanya, jangan terlalu formal. Orang-orang akan curiga." "Walaupun hanya kita berdua?" Anggukan samar dari Nathan menjawab pertanyaan Gina. "Agar terlihat natural di depan umum." "Oke. Saya tanda tangan sekarang." Bolpoin di tangan pun Gina goreskan tintanya di atas materai. Kini hidupnya bukan lagi tentang teror dari paylater, teriakan sang ibu yang selalu menghakiminya atau bahkan drama melankolis Naura serta sikap abai sang ayah. Namun, sebuah hubungan aneh berkedok pernikahan kelak yang akan Gina jalani bersama seorang yang Gina pikir tak dapat dia jamah sejengkal pun. Nathan Raeksha Abigail. Entah bagaimana Gina mendeskripsikan hidupnya, ini terlalu aneh dan mengejutkan. Namun, di sisi lain dia juga butuh uluran tangan Nathan agar dia lepas dari kehidupan toxic keluarganya. *** "Apa Mami harus bikin petisi dulu biar kamu mau pulang?" Wanita setengah baya berdiri seraya berkacak pinggang tepat di ambang pintu yang hendak Nathan lewati. Telinga kanan Nathan dikorek, merasa suara sang ibu berdenging kencang. "Kenapa sih kamu itu susah banget buat pulang doang? Punya apa emang kamu di penthouse kamu? Ada cewek cantik? Kamu punya pacar? Heh?" Rentetan tanya sang ibu tak begitu Nathan gubris. Wajahnya mempertahankan konsistensi jati dirinya: acuh tak acuh. Tidak ada secercah pun rasa bersalah, bahkan untuk sekadar meminta maaf, tidak dia lakukan. Seolah membenarkan tindakannya, dan bahkan menyepelekan omelan sang ibu yang kerap kali ia terima setiap berkunjung. "Biarin Nathan masuk dulu, Mi." Pria setengah baya hadir di belakang, turut jengkel karena sang putra terlihat sangat enggan mengunjungi orang tuanya. "Padahal Mami gak bakalan makan kamu kalo pulang, Nathan." Jesselyn tetap mengoceh walau tak Nathan gubris. "Mending lah kalau di penthouse kamu ada cewek. Lah ini? Penthouse kamu aja kosong melompong. Tiap hari kamu b******u sama komputer. Sekalian aja kamu nikahin itu komputer." Alasan utama Nathan sangat enggan berkunjung: muak mendengar permintaan keluarganya agar dia segera menikah. "Mami tuh gak masalah kalo kamu gak mau punya anak. Mami khawatir kamu makin tua, kamu enggak ada pasangan. Apa enggak ngenes itu namanya?" Bibir tipis Jesselyn bergerak cepat ketika berbicara dengan satu tarikan napas. Wanita setengah baya mengenakan blouse bermodel V-Line itu menghempaskan tubuhnya di atas sofa, perhatikan betapa bebalnya sang putra. "Jadi kapan kamu kasih Mami menantu?" Tatanan rambut digelung milik Jesselyn terlihat jauh lebih tinggi di mata Nathan saat pertanyaan keramat dilontarkan. "Kakek kamu udah rungsing banget, Nathan. Dia udah ngoceh mulu takut kamu mati kesepian." Valdo Abigail, wakil kepala keluarga Abigail, dia duduk di samping sang istri, menatap lelah putra semata wayangnya yang sulit sekali dihubungi. Kepala Nathan dibawa menyandar di kepala sofa, mendongak menatap lampu gantung di langit-langit ruangan. Dia menormalisasikan tindakannya yang sukar dihubungi. Teringat hubungan mereka memang tak seharusnya sedekat ini bagi Nathan. Di masa-masa Nathan membutuhkan peran mereka, mereka tidak pernah hadir di sisinya. Namun, saat usia Nathan hendak menginjak 30, mereka baru datang dengan pertanyaan yang tidak bisa Nathan jawab: kapan nikah? "Benefit yang kamu dapet juga besar banget kalo kamu nikah." Adalah rayuan Jesselyn agar Nathan segera mencari mempelai saat Nathan sendiri selalu mengacaukan perjodohan dari mereka. "Nathan udah nemu orangnya." Akhirnya Nathan buka suara, tanpa melihat bagaimana riak muka orang tuanya saat ini. "Siapa? Komputer kamu?" cibir Jesselyn, dia sendiri hafal 24/7 kegiatan putranya adalah berhadapan dengan monitor, memantengi bursa saham perusahaan mereka, merangkai strategi terbaru agar anak perusahaan yang Nathan pimpin dapat lebih maju dari anak perusahaan Abigail yang para sepupunya pimpin. "Gina." Nama itu meluncur bernada rendah, nyaris Valdo dan Jesselyn tak dapat mendengar. Alis Valdo menukik, menilik ke belakang nama yang terasa familier itu. "Sekretaris kamu?" Jesselyn lebih dulu menjawab, disusul tawa kecil darinya. "Mimpi aja kamu bisa jadiin Gina, istri kamu." "Kenapa emangnya, Mi?" tanya Valdo, tak tahu betul kehidupan sang putra sebelumnya. "Mami sama Gina 'kan deket banget, Pi. Malah Mami udah anggap Gina anak Mami. Kalian gak tau aja." Telunjuk berhiaskan nail art bermodel stiletto nails Jesselyn menunjuk bergantian putra dan suaminya. "Kita itu sering nyalon bareng, terus saling curhat. Gina pernah bilang ke Mami, kalo jadi istri tuh bukan passion dia. Makanya Mami gak jadi jodohin kalian." "Enggak mau Mami paksa putri Mami nikah sama bujang Mami yang katanya impoten." Saat kata 'impoten' diluncurkan, bibir Jesslyn maju setengah centi, berupaya menyinggung putranya yang berani mengaku impoten hanya untuk menghindari pernikahan satu tahun belakangan ini. "Kenyataannya begitu," kata Nathan, tak peduli bagaimana orang tuanya saat ini. "Kamu kasih apa anak perawan Mami sampe dia mau nikah sama kamu?" Nada suara Jesslyn meninggi. Dia tidak ingin percaya. Namun, selama mengenal Nathan, bujangnya itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. "Yang jelas Nathan udah lamar Gina. Dia juga mau. Besok kita lamaran resmi. Semuanya udah Nathan siapin." Satu kalimat dari Nathan membuat kedua orang tuanya membeku, antara percaya dan tak percaya. "Ya Tuhan! Sial banget Anak Perawanku kalo nikah sama kamu Nathan!" Jesselyn memekik, ada rasa tidak terima karena Nathan Raeksha Abigail lah yang akhirnya meminang Gina. "Cari cewek lain aja! Jangan Gina! Gak ikhlas, gak ridho, Mami kalo kamu nikahin Gina!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD