Bab 03. Lamaran

1065 Words
Walaupun Nathan telah mengatakan semua persiapan lamaran sudah dihandle, nyatanya persiapan lamaran versi Nathan tidak berlaku bagi Jesslyn. Sebagai Abigail, persiapan lamaran Nathan sangat tidak mencerminkan keluarga mereka: kemewahan, kesakralan dan kemeriahan yang selalu diturun-temurunkan setiap kali Abigail mengadakan acara tertentu. "Kamu ini niat nikahin Gina enggak, sih?" Dan Jesslyn juga tiada henti mengocehi Nathan selama dia turun tangan untuk memperbaiki persiapan ala Nathan. "Nikah yang penting sah," sahut Nathan, sedikitpun niatnya untuk menikah tidak Jesslyn lihat. Nathan terlalu santai, seolah enggan menjalani pernikahan. Bagi Nathan, menikah hanya untuk melakukan kewajiban seorang anak untuk memberi keturunan. Agar bisnis mereka selalu jalan dan tidak jatuh ke tangan orang lain. Juga harus menjadi pemegang saham utama di perusahaan mereka. Tidak ada hal penting lainnya tentang menikah. Karena dunia pernikahan tidak memberi keuntungan berupa material. Untuk kebutuhan biologis, Nathan tidak tertarik. Dia pandangi ibunya yang sibuk mengatur seserahan yang akan dibawa besok. Satu ruangan ukuran 24×15 meter nyaris dibanjiri oleh seserahan untuk Perawannya. Padahal hari itu Jesslyn berteriak tak terima karena akhirnya Nathan lah yang menjadi suami Gina. "Matamu sah!" Jesslyn menyentak, hasratnya untuk melempar sandal ke Nathan telah membumbung tinggi. Jesslyn abaikan beberapa staf yang mengatur seserahan di sana, dia memilih untuk mengomeli putra semata wayangnya. "Pernikahan itu sakral, Nathan! Gak bisa dianggap sepele! Kamu kalo punya niat nikah yang bener! Salah niat aja kamu! Gak sah seumur hidup pernikahan kamu!" Dengan wajah datarnya Nathan menjawab, "Mami bisa menjamin semua barang-barang ini bisa bikin pernikahan Nathan sama Gina langgeng?" "Ngomong gitu lagi, Mami lemparin sendal kulit Mami ke kamu." Ancaman Jesslyn berhasil membungkam Nathan, dia kembali sibuk memberi briefing kepada para perempuan yang akan membawakan seserahan besok lusa. Nathan hanya diam. Ambang pintu menjadi tempatnya bersandar, perhatikan semua seserahan yang telah dihias sedemikian rupa. Telaga hazelnya seolah merekam satu-persatu benda-benda yang dominan keperluan wanita. Selesai memberi briefing, pusat Jesslyn mengarah pada anaknya. "Kamu daripada diem terus, mending bantuin. Atau ngapain ke. Udah kayak mandor aja kamu." Alis kanan Nathan bergerak ke atas, pertanyakan perintah Jesslyn saat semua tugas telah Jesslyn serahkan pada orang-orang di sana. "Bantuin apa?" tanyanya. Sedari awal Nathan sendiri bingung maksud Jesslyn memanggilnya ke ruangan yang Jesslyn khususkan untuk penyimpanan seserahan, dan ternyata hanya untuk mengomelinya yang sedang asyik bermain game. "Ayo ikut Mami. Susah banget emang kamu ini disuruhnya." Wanita setengah baya bersanggul tinggi itu berlalu. Kaki jenjang Jesslyn melangkah terburu, mendahului Nathan. Entah tempat apa yang akan Jesslyn jadikan untuk menyerahkan tugas kepada Nathan. "Nih. Daripada kamu main game, mending kamu pikirin caranya biar lamaran kamu bisa diterima." Sebuah single sofa di ruangan lain menjadi tempat singgah Jesslyn. "Mami bela-belain nanggung malu buat ngundurin lamaran biar persiapannya oke. Lah, kamu? Santai-santai aja Mami liat-liat. Malah lebih sibuk Mami. Cincin aja Mami yang pilihin. Cincin beliin kamu jelek banget." Bibir tipis dibalut lip product peach milik Jesslyn bergerak cepat. "Kamu beneran mau nikah, kan? Bukan karena tuntutan keluarga?" "Niat," jawab Nathan. Namun, keseriusannya tidak nampak di balik wajah datarnya. Jesslyn berdecak, jelas tak dapat mempercayai jawaban Nathan. "Terserah kamu, lah! Kamu renungin lagi! Siap nikah atau enggak! Jauh lebih baik kamu enggak nikah-nikah, daripada nikah karena kepaksa!" *** Tiba di hari lamaran. Rumah Gina tak lagi diramaikan oleh drama keluarga seperti biasanya, melainkan suara-suara saling bersahutan dari para tetangga dan kerabat. Riak antusias terpampang di masing-masing wajah, turut bahagia atas lamaran Gina Utami, seorang perempuan yang lahir dari keluarga sederhana yang beruntung dinikahi CEO, yakni mantan atasannya sendiri. Namun, di balik senyum merekah dari mereka, tak dapat terhantarkan ke Gina. Alih-alih merasa senang akhirnya dia dapat menduduki posisi Cinderalla, Gina justru tersenyum getir. Menikah. Hal tersebut tidak pernah Gina tuliskan di dalam list hidupnya. Keluarga Gina memang terlihat utuh, tapi dari dalam sangat rapuh. Ketidakadilan Gina rasakan sangat jelas. Bagaimana cara ibunya memberi kasih sayang pada Naura, berbanding terbalik dengan Gina yang selalu disalahkan, dan Gina yang selalu mencari uang dari SD hanya untuk menambah biaya hidup keluarganya, alih-alih hidupnya sendiri. Eksploitasi, pilih kasih, playing victim. Segala drama keluarga telah Gina terima, hingga akhirnya Gina telah menetapkan untuk tidak menikah. Terlahir dari keluarga toxic membuat Gina sadar: dia tidak pantas mendapatkan keluarga harmonis atau bahkan cinta dari orang lain. Semuanya runtuh saat Nathan Raeksha Abigail telah menyatakan niatnya untuk memperistri Gina Utami. "Terima kasih Nak Nathan sudah memilih Gina." Ali Sadewa, sang kepala keluarga menimpali niat dari kedatangan keluarga besar Nathan. "Gina memiliki banyak kekurangan, semoga Nak Nathan dapat menerima semua itu." Dari kata-kata yang Ali utarakan, tertera keraguan pekat. Seolah Gina tidak layak diinginkan pria seperti Nathan. "Tidak masalah Pak Ali. Nathan juga sama. Dia bahkan punya lebih banyak kekurangan daripada Gina sendiri." Jesslyn menyela cepat, diam-diam mencubit Nathan yang tidak menunjukkan antusiasme. "Orang seperti Nak Nathan bahkan lebih layak memiliki istri berpendidikan tinggi, tapi Nak Nathan memilih Gina yang bahkan enggak bisa mengurus diri sendiri." Dengan senyumnya kata-kata itu Rani lontarkan. Rani menatap Gina sejenak, melihat Gina yang diam saja, adalah kesempatan untuk Rani membeberkan kekurangannya. "Berbanding terbalik dengan adiknya. Gina juga sulit sekali diberitahu, dia keras kepala. Saya ... saya jadi takut kalau Gina membebankan Nak Nathan." Ketika pembicaraan mereka mengalir yang lebih merujuk ke penghinaan untuk Gina dari orang tuanya sendiri, Gina memilih diam. Untuk meredam rasa malu luar biasa, ujung kukunya menggaruk kasar pinggiran ibu jari, berikan rasa sakit. "Gina bahkan gak bisa masak untuk dirinya sendiri. Maklum, setelah resign dia gak ngapa-ngapain aja, di kamar terus." Sementara Rani masih melanjutkan pembicaraan, para kerabat sekaligus tetangga mulai merasakan adanya atmosfer tak menyenangkan dari respons calon besan. "Saya menikahi Gina untuk dijadikan istri, Bu. Dengan siapnya saja menjadikan Gina istri saya, saya juga telah siap menerima segala kekurangannya." Adalah jawaban Nathan setelah lama bungkam. "Ibu tidak perlu khawatir mengenai kekurangan Gina. Saya akan melengkapinya. Begitu juga sebaliknya. Gina akan melengkapi kekurangan saya. Biar bagaimanapun, saya juga manusia, saya masih memiliki banyak kekurangan." Dari caranya berbicara, terdengar sangat bersungguh-sungguh, tidak seperti sebelumnya yang terkesan enggan menikah. Bahkan Jesslyn terperangah. Mulutnya setengah terbuka, laku sadar responsnya berlebihan. Kembali menutup mulut, Jesslyn bersikap seperti sebelumnya. "Gina pernah menjadi sekretaris saya. Dari situlah saya melihat sendiri kekurangan dan kelebihan Gina. Dengan itu saya yakin, kami bisa saling melengkapi." Tidak ada lagi riak muka ogah-ogahan, telaga hazelnya berpancar penuh kesungguhan, membuat keluarganya sendiri terkejut. Sebelumnya Nathan selalu terlihat enggan melamar Gina, cenderung asal-asalan ketika menyiapkan persiapan lamaran. Namun, sekarang kesungguhannya begitu kuat mereka rasakan melalui nada tegas dari suaranya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD