"Apa wedding dream kamu?" Nathan memberi tanya usai menyempurnakan posisi mobil di parking area.
"Wedding dream?" Raut muka Gina terlihat sekali dia kebingungan atas pertanyaan Nathan.
Bersamaan suara seatbelt terbuka, Nathan menyahut, "Iya."
"Hari ini kita 'kan mau pilih tema pesta pernikahan kita. Biar enak pilihnya, kita diskusikan dulu." Pria itu tak lekas beranjak, tangannya bertempat di setir kemudi, memiringkan tubuh hingga atensi dijatuhkan sepenuhnya pada Gina.
Kening Gina mengkerut. Kepala ditelengkan selama kepala memikirkan jawaban untuk pertanyaan Nathan.
Sementara pria yang kini mempertontonkan garis otot bisep di balik kemejanya itu menunggu dengan sabar. Bagian lengan yang digulung hingga siku, membuat liukan urat tangan saling bertonjolan, memperlihatkan kekarnya tangan itu.
"Aku enggak tahu." Akhirnya jawaban itu Gina lontarkan. "Kan niatnya aku gak mau nikah seumur hidup. Kita liat-liat dulu aja lah. Sambil memutuskan tema pernikahan yang cocok."
"Oke." Pria itu tidak melemparkan protes ketika kesabarannya justru dipermainkan.
Keduanya turun dari kemudi, berjalan beriringan pada sebuah gedung— tempat di mana mereka memilih keperluan pesta pernikahan yang akan diselenggarakan tiga bulan dari sekarang.
***
"Ini contoh dari beberapa konsep yang tersedia. Silakan dipilih." Fania, wedding planner yang dipilh Jesslyn menyerahkan wedding portofolio.
"Mending minimalis enggak, sih? Keliatan lebih simple aja." Gins bergumam selama melihat-lihat konsep pernikahan di portofolio itu.
"Saya ikut kamu aja." Sahutan Nathan akhirnya menjadi keputusan final.
Fania menyunggingkan senyum. Dari banyaknya klien yang dia tangani, Nathan adalah satu dari beberapa pria yang selalu menyerahkan semua urusan pernikahan kepada calon istrinya.
"Gimana? Udah ada yang cocok?" Wanita di usia yang tak lagi muda itu membinarkan haru kepada pria yang dulu dia asuh sebagai putra dari anak sahabatnya, Jesslyn.
"Gimana, Gin?" Nathan malah bertanya pada Gina, sangat kontras dengan dirinya yang selalu pertama mengajukan keputusan.
"Aku suka yang ini, sih, Tan. Simple tapi mewah. Yang mencerminkan Abigail banget, gitu." Telunjuk Gina mengetuk dagunya, pertimbangkan pilihannya sendiri.
"Jangan cuma Abigail doang. Kamu juga harus memilih sesuai selera kamu." Pria itu baru memberi protes, samar dari telaga hazelnya mengilatkan tak suka.
"Kamu sukanya tema pernikahan yang kayak gimana?" Beberapa portofolio, Nathan perhatikan, berikan kepada Gina untuk mempertimbangkan kembali pilihannya.
"Aku suka yang ini. Tapi didesain mewah, elegan, terus simple gitu. Kamu sendiri gimana?"
Ketika dua pasangan itu kembali berdiskusi, Fania hanya diam menyimak. Perhatikan interaksi manis di antara mereka.
Fania masih menyimpan memori interaksi formal dari mereka selama tujuh tahun. Dan melihat interaksi manis, akrab serta harmonis dari mereka, seolah mimpi bagi Fania yang bahkan tidak pernah membayangkan ini.
"Kita pilih yang ini, Tan. Elegan, tapi simple. Ornamennya didominasi warna putih gading sama emas. Apa ... tambahin warna lain enggak, sih? Biar enggak monoton banget?" Gina menoleh ke Nathan, meminta atensi serta saran.
"Kamu suka warna apa?" Pria itu malah memberi tanya, bukan jawaban pasti yang Gina ingin.
"Aku suka warna abu. Tapi emang cocok?" Kerut di kening Gina membentuk dalam, jelas sekali dia sangat pusing memikirkan tema pernikahan yang bahkan tidak pernah hadir sekelabatpun di pikirannya.
"Dari yang saya liat ... lebih bagus kalo putih gading sama emas aja. Ditambahin hiasan bunga putih sama dedauanan hijau sama lampu-lampu warm biar punya kesan yang kamu mau tadi." Setiap halaman Nathan bolak-balik, perhatikan kembali dekorasi yang fiks di benaknya.
"Terus acara weddingnya malem aja. Biar ada kesan yang mendalam dari kesakralan pernikahan kita."
Nathan mengangguk, setuju pada saran Gina.
Tujuh tahun berbagi saran, keputusan, bahkan beberapa kali debat karena perbedaan pendapat, membentuk jalinan batin di antara mereka. Tanpa sadar benang merah itu mengikat mereka, terlihat dari segi selera dan penglihatan.
Fania hanya bisa menyahut sesekali, memandangi mereka yang bahkan terlihat tidak sadar atas kecocokan di antara mereka. Saling melengkapi, tidak ada debat karena perbedaan pendapat, semuanya mengalir lancar sampai tak sadar waktu makan siang tiba.
***
"Mau makan apa?" tanya Nathan begitu mereka memasuki kendaraan.
Bibir Gina disunggingkan sebelum menjawab, "Lagi pengen makan yang berkuah."
Selama tangan sibuk mengggese tuas transmisi untuk mengeluarkan mobil dari parking area, Nathan menyahut, "Ramen gimana?"
"Enak, tuh," sahut Gina selama tangan sibuk mencari suatu hal di dalam tasnya. "Kamu mau makan ramen juga?" Menoleh sekilas, untuk melihat bagaimana gurat di wajah Nathan sekarang.
Tidak ada yang bisa Gina harapkan. Nathan tetap mendatarkan wajahnya, membangun benteng kuat, seolah Gina tidak diberi akses untuk membaca pikirannya melalui riak muka.
"Iya." Pria itu menyahut bersamaan mobil keluar dari basement.
Beberapa saat mobil mereka bergabung dengan kendaraan lain di jalanan, tibalah mereka di restoran Jepang.
"Weh, calon pengantin, nih!" Keduanya serentak membalik badan begitu suara akrab menyapa.
Kerlingan sarat menggoda dari pria bermata monoloid itu membuat Gina dan Nathan bergidik. Mereka jelas tahu jenaka apa yang akan pria itu lontarkan, niatnya terlihat jelas dari bagaimana dia memperlakukan Nathan.
"Congrats, ya. Walaupun belom sah. Gue pengen aja bilang ini lebih dulu." Jan Sbastian, pria campuran China-Indo itu mengerling lagi.
"Ngapain lo di sini?" Nada ketus dari tanya Nathan pun disahuti decihan oleh Jan.
"Jual ginjal, biar bisa kondangan ke married lo," sahut Jan, melirik sarkas sahabatnya itu. "Gimana, Gin? Rasanya jadi calon istri mantan atasan sendiri?"
Gina menarik paksa sudut bibir, membentangkan senyum sebagai bentuk formalitas.
"Ya ... enggak gimana-gimana, sih, Pak." Sebutan formal untuk Jan, sukar Gina hilangkan karena belum terlalu akrab.
"Gue kasih tau aja, ya, Gin—"
"Gak ada yang harus lo kasih tau." Nathan mengambil ancang-ancang untuk menjatuhkan Jan dari Gina.
"Nathan impoten! Lo harus godain dia, Gin, biar terongnya bisa berdiri tegak!" Seruan blak-blakan dari Jan yang telah Nathan dorong untuk menjauh membuat seluruh pipi Gina memerah, malu karena semua mata berporos pada mereka.
"Jangan dengerin." Segera Nathan membawa Gina ke mobil setelah selesai menjauhkan Jan dari mereka.
"Gak aneh, sih." Biarpun Gina bersuara kecil, Nathan tetap mendengarnya.
"Kamu membenarkan perkataan dia?" Karena terkejut, Nathan tidak sadar suaranya sedikit meninggi.
"Kamu 'kan gak pernah ngedate. Selalu sibuk kerja. Bukannya itu gak aneh, ya, kalo kamu ... maaf, impoten." Gina meringis, merasa sangat bersalah telah mengatakan hal itu. "Tapi gak pa-pa, kok. Aku juga gak bakalan sebarin ini ke orang-orang. Aman. Semuanya aman. Kamu juga bisa berobat, aku bantu."
Cengiran tanpa dosa dari Gina terpampang, sebagai bentuk lain dari permintaan maafnya.
"Bantuan jenis apa yang akan kamu lakukan?" Karena perbedaan tinggi badan, membuat Nathan merendahkan kepalanya, menjangkau lebih intens muka Gina.
Gina menegak saliva kasar. Isi kepalanya hanyut begitu saja. Bukan tanpa sebab. Begitu rungunya digetarkan suara rendah Nathan, berikut jarak wajah mereka yang hanya sebatas hela napas, membuat aliran napas mereka saling bersambut, buat Gina membeku di tempat.
Dia sendiri tak memikirkan kelanjutan dari keputusan tiba-tibanya.
"Ya ... ya ... se-sebagai istri apa lagi yang bisa dilakuin? Nga-ngasih support, dong. Of course." Dia tergagap, merasa malu sendiri.
Pertanyaan Nathan melemparkan pikiran ke Gina ke arah yang negatif, menayangkan imaji tak seharusnya di kepala— hubungan suami-istri di ranjang.